Sabtu, 24 Oktober 2015

Menangis di Mezquita


Telah kusaksikan Cordoba untukmu, Pi,
Di sana banyak luka sejarah, rasa pedih yang tak tersembuhkan, bahkan setelah ribuan tahun lamanya.
Islam meninggalkan jejak yg tak terhapuskan: Ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan.
Tapi pendulum sejarah tak bisa diubah,
Mihrab itu kini berada di balik jeruji besi,
Suara adzan tergantikan dentang lonceng,
Aku menangis di Mezquita...

------------------------------------

“Nanti kita keluar melewati patung Ibn Rusyd,” kata Pak Rustam membuka percakapan saat sarapan.
“Lokasinya dekat dengan hotel kita, Pak?” tanya saya. Semalam saya sempat melihat peta di buku Hanum 99 Cahaya di langit Eropa, sepertinya lokasi patung Ibn Rusyd itu tidak dekat dengan patung Maimonides yang ada di sekitar nH Collection Hotel, tempat kita menginap.
“Iya, tadi saya sudah melihatnya,” jelas Pak Rustam.

Pagi ini saya sarapan berlauk rendang Uda Gembul yang dibawa dari Jakarta. Tiap bepergian ke luar negeri, saya selalu membawa “amunisi” cukup. Sulitnya mencari makanan halal, atau setidaknya untuk menghilangkan keraguan, saya memilih membawa rendang atau gudeg kalengan Bu Tjitro. Dalam satu kemasan rendang Uda Gembul ada 2 potong daging yang empuk dengan tingkat kepedasan bumbu dari Level 0-10. Saya memilih Level 5. Pedasnya cukup nendang untuk sarapan di tengah udara dingin seperti pagi ini. Gudeg kalengan Bu Tjitro pun tak kalah nikmat. Dalam satu kaleng yang mudah dibuka, terdapat gudeg, sambel goreng krecek, sepotong kecil ayam dan telur bacem utuh. Saya selalu memilih rasa pedas, untuk mengurangi dominasi rasa manis gudeg Yogya. Saya sangat rewel soal makanan, dalam artian halal-haramnya. Di negara-negara yang mayoritas penduduknya non Muslim, kalau tidak menyantap bekal yang dibawa dari Jakarta, saya hanya mau makan seafood.

Selesai breakfast, rombongan beriringan keluar hotel. Pagi masih agak berkabut, di musim dingin seperti ini, tiap kali membuka mulut, akan disertai asap yang keluar. Jadilah kita berjalan sambil berlari kecil untuk menghalau dingin. Benar saja, di ujung tembok kota tua, terlihat patung pria berjubah dan memakai surban. “Itu ya, pak?“ tanya saya, yang dijawab anggukan kepala oleh Pak Rustam.

Duh, saya senang sekali. Seperti anak kecil yang mendapat hadiah Lego untuk pertama kali. Sewaktu menonton film 99 Cahaya, saya begitu terkesan dengan adegan Hanum dan rangga yang bergandengan tangan di depan patung ini. Bukan karena melihat patungnya, namun berada di tanah yang pernah dipijak oleh Ibn Rusyd, menyaksikan bukti sejarah betapa dunia berhutang pada Islam, membuat hati dipenuhi rasa syukur. Alhamdulillah, Engkau izinkan untuk melihat bumi-Mu yang begitu luas.

---------------------------------------

Dari patung ibn Rusyd, rombongan terus melangkah hingga terlihat jembatan Cordoba yang membelah sungai Al-Wadi al-Kabir, yang dilafalkan orang Spanyol sebagai Guadalquivir. Jembatan yang dikenal dengan nama Al-Jisr dan Qantharah Ad-Dahr ini terlihat sangat kokoh. Panjangnya sekitar 400 meter, lebarnya 40 meter dan tingginya 30 meter. Dalam bukunya Kharidah Al-Aja’ib wa faridah Al-Ghara’ib, Ibn Al-Wardi memberikan kesaksian, jembatan ini tak terbayangkan oleh manusia sebelumnya, dari segi konstruksi, kemegahan dan kecanggihannya.

Jembatan itu dibangun pada masa As Samh bin Malijk Al-Khaulani, yang sezaman dengan Umar bin Abdul Aziz. Artinya jembatan itu dibangun ketika manusia belum mengenal sarana transportasi, kecuali keledai, unta, kuda, dan bighal. Jembatan itu menjadi bukti tingginya peradaban Islam di Andalusia, kekokohannya tak tertandingi. Itu terbukti setelah lebih dari 1.400 tahun, saya masih bisa menyaksikannya pagi ini.

Dari jembatan Al-Jisr, rombongan berjalan menyusuri tembok tebal yang tinggi menjulang. Rupanya tadi dari hotel kita harus keluar dulu dari tembok kota tua, dan masuk lagi dari pintu yang berbeda. Tujuan utama pagi ini adalah Masjid Agung Cordoba atau yang dikenal dengan nama Mezquita, yang dalam bahasa Spanyol berarti masjid. Meski kini difungsikan sebagai katedral, namun nama Mezquita masih disematkan padanya. Sebelum memasuki gerbang Mezquita, rombongan berkumpul dulu di toko souvenir, barangkali ada yang mau ke toilet atau membeli secangkir kopi.

Di toko souvenir ini untuk kesekian kalinya saya menyaksikan jamon, atau paha babi asap yang dijual dengan cara digantung. Jamon ini ada di mana-mana, di restoran, toko souvenir, bahkan kedai kecil di pom bensin. Ada sejarah panjang mengiringi kehadiran jamon di Andalusia. Awalnya, saat Cordoba jatuh ke tangan Issabel dan Ferdinand, hanya ada 3 pilihan bagi umat Islam, dibunuh, dimurtadkan, atau diusir ke Afrika Utara (Maroko, Tunisia, Aljazair, dan sekitarnya). Sejak saat itu Issabel dan Ferdinand membuat peraturan, setiap penduduk harus menggantung paha babi di depan rumahnya, sebagai bukti bahwa tidak ada umat Islam yang tersisa. Tradisi menggantung paha babi itu terus berlanjut hingga kini. Tak hanya paha babi sungguhan, aneka souvenir seperti gantungan kunci, magnet kulkas, bahkan cokelat, banyak yang ditawarkan dalam bentuk seperti jamon.

Dari toko souvenir, kita berjalan memasuki gerbang Mezquita. Kebetulan di selasar sedang ada pameran foto, jadilah sejenak saya melihat foto-foto yang dipamerkan. Masjid ini memang indah sekali. Di halaman depan terdapat sebuah taman yang sangat luas, dengan pohon-pohon jeruk dan delima yang tumbuh rindang. Di tengah taman, sebuah fountain berdiri kokoh. Seperti bangunan Islam pada umumnya, selalu ada fountain yang juga difungsikan sebagai tempat wudhu.

Masjid Agung Cordoba dibangun oleh Abdurrahman Ad-Dakhil tahun 786 M, tak lama setelah ia tiba di Andalusia. Pembangunan kemudian diteruskan oleh putranya Hisyam dan para pemimpin setelahnya. Setiap pemimpin berusaha meninggalkan “jejaknya” di masjid ini. Tak ayal masjid ini terus berkembang, bertambah luas, dan semakin indah. Dalam kitab Ar-raudh Al-Mi’thar, disebutkan bahwa Masjid Agung Cordoba merupakan masjid terbesar, tercanggih, dengan ornamen bercita rasa seni tinggi yang nyaris tanpa cela.

Panjang masjid ini 180 depa, terdapat 14 lengkungan yang disangga 1000 pilar. Penerangannya terdiri dari  13 lentera, di mana setiap lentera memuat 1000 lampu. Seluruh kayunya berasal dari pohon cemara Thurthusy. Atapnya dipenuhi seni ukir yang masing-masing tidak sama, susunannya dibuat sebaik mungkin dengan warna-warna merah, putih, hijau, biru dan hitam. Keindahan ini membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa takjub sekaligus bahagia.

Keindahan mihrab masjid ini tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tekniknya mencengangkan siapa saja, bahkan hingga saat ini. Terdapat mozaik berlapis emas dan kristal. Di dalam mihrab terdapat empat tiang, dua berwarna hijau, dua lagi berwarna violet. Di bagian ujung dipasang marmer, emas dan lazuardi yang tak ternilai harganya. Keindahan mimbar yang ada di sisi mihrab tak kalah menakjubkan, terbuat dari kayu ebony dan kayu wewangian lainnya. Tujuh orang arsitek secara khusus mengerjakan mimbar itu selama 7 tahun.

Terdapat sebuat ruangan kecil tempat menyimpan bejana yang berisi minyak yang terbuat dari emas, perak dan besi. Semuanya akan dinyalakan pada malam ke-27 Ramadhan. Di tempat ini juga tersimpan mushaf Ustman bin Affan yang ditulis dengan tangannya sendiri. Bekas tetesan darah Ustman terlihat di mushaf itu. Mushaf itu berhias sampul dengan ornamen yang kerumitannya bak dikerjakan menggunakan komputer. Setiap pagi, mushaf ini dikeluarkan dari ruangan dan dibaca oleh sang imam.

Lengkung-lengkung dalam masjid ini mengingatkan pada lengkung masjid Nabawi saat ini. Namun hati menjadi ciut saat melangkah ke dalamnya, ruangan dalam masjid ini kini terlihat sangat temaram, tak ada lagi benderang lentera. Di setiap sudut kini berhias patung dengan altar besar di salah satu sisinya. Penjelasan Christopher, local guide kita pagi itu membuat kegelisahan saya kian menjadi. Mana pahatan ayat-ayat Allah yang pernah memenuhi bangunan ini? Mengapa sekarang yang terlihat adalah gambar-gambar dan patung? “Is that the Mihrab?” tanya saya begitu melihat sebuah bangunan yang sangat identik dengan Islam. “Yes, Mam,” jawabnya.

Sudut mata saya hangat, hati saya terluka, mihrab itu kini berada di balik terali besi. Sebuah penghalang yang sengaja dipasang supaya orang tidak bisa shalat lagi di area itu. Bukannya tanpa insiden, beberapa kali orang-orang Islam yang datang mencoba shalat di tempat itu, namun ditangkap oleh petugas keamanan dengan alasan membuat onar. Mihrab itu masih menyisakan keindahannya. “Di mana kaligrafi yang terpasang di sekitar mihrab itu?” gugat saya pada Christopher, “Mereka melepaskannya ya?” Suasana hati saya sungguh tidak enak siang itu. Penjelasan Christopher terdengar seperti angin lalu.

Ya Rabb, apa yang terjadi di bumi Andalusia waktu itu? Bagaimana kegemilangan dan sumbangsih mereka pada dunia kini tercampakkan seperti ini? Mezquita adalah masjid. Bangunan ini secara keseluruhan masih terlihat sebagai masjid. Mihrab itu adalah buktinya, kaligrafi kalimat syahadat masih terbaca di atasnya. Saya tergugu sambil memegang teralis mihrab. Kalau sebelumnya saya hanya membaca di buku Hanum 99 Cahaya di Eropa, bagaimana ia bersitegang dengan petugas keamanan saat mencoba sujud di depan mihrab, kini saya merasakan sakit yang sama. Harapan yang sama saya panjatnya, semoga ada pengusaha Muslim yang sangat kaya, yang bisa membeli seluruh bangunan ini dari negeri yang hampir bangkrut karena resesi ini, lalu memfungsikannya kembali menjadi masjid. Amiinn…

Christopher meminta rombongan segera keluar dari Mezquita karena perjalanan masih panjang. Saya melangkah dengan gontai. Keluar dari gerbang, terdengar lonceng yang berdentang dari atas menara. Hati saya bertambah gundah, titik air mata tak dapat saya bendung. Saya mendongak memandang minaret itu. Dulunya bangunan setinggi 100 hasta itu adalah tempat muadzin mengumandangkan adzan. Teknik pembangunan minaret itu sangat mengherankan. Terdapat dua tangga menuju ke atas, dari sisi barat dan timur. Jika ada dua orang yang menaikinya, maka keduanya tidak akan pernah bertemu, sebelum sampai di bagian paling atas. Ukiran indah di minaret itu memenuhi seluruh bangunan, dari atas hingga puncaknya. Kini tak terdengar lagi panggilan muadzin dari atas minaret itu.

Keluar dari kompleks Mezquita saya tidak lagi bisa menikmati pemandangan Calleja de las Flores atau  Flower Street, di mana terdapat deretan rumah-rumah dengan hiasan bunga-bunga cantik, seperti gambar yang sering muncul di postcard. Emosi saya telah terkuras habis. Saya membayangkan majelis-majelis ilmu dan orang-orang yang menderas ayat-ayat Allah yang dulunya selalu memenuhi Masjid Cordoba. Semoga Allah izinkan sejarah kembali berulang.

... Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Ali Imran: 26].

Saya menangis di Mezquita…

Mezquita, 7 Januari 2015

Uttiek Herlambang



Cordoba Kota Sejuta Cahaya


Dari rahim Cordoba lahir para pemikir yang belum tertandingi hingga kini. Sebutlah Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (930-1013) atau di Barat dikenal sebagai Abulcasis. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu, ia sudah mampu menghentikan perdarahan saat melakukan operasi pembedahan tengkorak manusia! Selanjutnya, Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd Al-Qurthubi Al-Andalusi (1126-1198) atau Ibn Rusyd yang di Barat dikenal sebagai Aviroes. Kalau di abad modern ini nama Albert Einstein sering dipadankan dengan kata jenius, sejatinya, apa yang dihasilkan belum ada apa-apanya dibanding torehan sejarah Ibn Rusyd. Tanpa buah pikirnya, bisa jadi Eropa sekarang masih berada dalam belenggu kebodohan dan kegelapan.

-------------------------------------------------------

Juan terdengar menggerutu. Tapi karena diucapkan dalam bahasa Spanyol, jadi tidak ada yang paham. Hari itu sepertinya kita agak kesorean memasuki kota Cordoba. Di sepanjang jalan orang berduyun-duyun menuju satu tempat. Bus berputar-putar beberapa kali, Juan pun sempat menghentikan bus dan bertanya sesuatu pada polisi.
“Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju hotel,” katanya dengan bahasa Inggris terpatah-patah  pada Pak Rustam.
“Ada apa?” Pak Rustam balik bertanya.
Saya dan Lambang yang kebetulan duduk di bangku terdepan dapat mendengar percakapan itu.
 “Gimana, Pak?” tanya Lambang
“Ini parade akan dimulai. Semua jalan menuju hotel sudah ditutup. Saya akan turunkan rombongan di seberang taman, kalian harus berjalan melintasi taman. Tidak jauh, kok,” jawab Juan.

Dan benar saja, rombongan diturunkan di pinggir sebuah taman, lengkap dengan koper-koper besar kita. Semua bergegas melintasi taman yang rupanya sangat ramai karena sedang ada semacam pasar malam.
“Ini perayaan apa sih? Kok semua orang tumpah ruah di jalan?” tanya saya.
Seorang bule yang sepertinya kasihan melihat rombongan orang Asia menggeret-geret koper besar memberi tahu, “Kalian harus segera menyeberang jalan itu. Setengah jam lagi parade akan lewat, dan kalian bisa tertahan sampai jam 9 malam.”
Jadilah kita semua mempercepat langkah, bahkan setengah berlari  sambil membawa bawaan masing-masing yang sangat berat. 

Hari ini kita memasuki kota Cordoba bertepatan dengan perayaan Dia de la Toma yang digelar setiap awal Januari. Setelah kembali ke Jakarta, saya baru tahu kalau perayaan Dia de la Toma adalah untuk menandai peristiwa jatuhnya Kota Granada ke tangan Kristen pada 2 Januari 1492. Perayaan itu masih terus diselenggarakan selama 523 tahun. Meski Dewan Islam di Spanyol sudah meminta supaya perayaan itu dihentikan, namun pemerintah Spanyol tidak memenuhinya.

Setelah berhasil menyeberang jalan dan menyibak kerumunan, terlihat tembok tinggi menyerupai benteng kota tua. Di depannya ada taman yang cukup luas dengan plaza penuh orang yang sedang duduk-duduk menikmati sore. “Posisi hotel kita di dalam tembok itu,” jelas Pak Rustam sambil terus melihat GPS. Jalanan di balik tembok tinggi itu menyerupai labirin, tak seberapa lebar, berkelok-kelok dan beralas conblock. Ada getar aneh yang berdenyut di hati menyaksikan senja yang mulai lindap di dalam kota tua itu.

Di kiri-kanan terdapat rumah-rumah kuno yang sudah dialihfungsikan sebagai toko souvenir, kafe, spa, hingga hotel. Rumah-rumah itu sangat cantik, berpagar besi tinggi, lengkap dengan taman bergaya abad pertengahan di depannya. Saya bagai terlempar ke masa silam. Tiba-tiba langkah saya terhenti menyaksikan sebuah patung besar, sesosok pria mengenakan gamis khas Arab lengkap dengan surban, duduk sambil memegang buku yang diletakkan di pangkuannya. Saya baca keterangan di bawahnya, tertulis Moses Maimonides 1135-1204. “Maimonides itu bukannya Ibn Maymon, teolog Yahudi yang belajar di Universitas Al Qarawiyyin, di Kota Fes, Maroko yang sempat saya kunjungi sebelumnya?” batin saya. Sesampai di hotel saya segera browsing, dan ternyata benar. Pada masa itu segala hal tentang Islam menjadi tren dan lambang kemajuan, tak heran kalau cara berpakaian pun ditiru oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi.

nH Collection Hotel tempat saya menginap letaknya tak terlalu jauh dari patung itu. Serupa dengan bangunan di sekitarnya, hotel ini juga menempati rumah kuno yang sangat besar. Tak hanya taman cantik di bagian depan, di tengah bangunan terdapat patio, lengkap dengan kursi taman dan bunga aneka warna. Saya membayangkan, di patio seperti inilah dulu para ilmuwan Cordoba berdiskusi dan menghasilkan karya cemerlang yang mereka sumbangkan pada dunia.

Dalam keremangan senja, dari jendela kamar, saya bisa menyaksikan pemandangan di dalam tembok kota tua. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Dari sinilah kebangkitan peradaban bermula. Kota yang terletak di tepi sungai Al-Wadi al-Kabir, yang dilafalkan orang Spanyol sebagai Guadalquivir ini, mempunyai 70 perpustakaan, 50 rumah sakit, 3.837 masjid, 900 pemandian umum, 80.455 pertokoan, 213.077 rumah rakyat, dan sekolah yang tak terhitung jumlahnya. Dengan jumlah penduduk yang hanya 500.000 jiwa, kesejahteraan mereka sangat berlimpah, pendidikan gratis, semua dapat mengakses fasilitas kesehatan yang sangat maju di zamannya. Tak ada satu pun penduduk Cordoba yang buta aksara, semua bisa membaca dan menulis, bandingkan dengan bangsa Eropa yang kala itu hanya 1-2 orang bangsawan atau tokoh agamanya yang bisa membaca.

Ibn Al-Wardi dalam kitabnya Kharidah Al-Aja’ib menjelaskan, “Keistimewaan kota ini lebih hebat dari yang pernah dijelaskan oleh siapapun. Penduduknya adalah tokoh-tokoh terpandang di dunia, orang-orang terdepan dalam ilmu, pengetahuan, dan cita-cita tertinggi. Di sana berkumpul para ulama, pemimpin yang adil, dan pasukan yang dibanggakan.”

Dari rahim Cordoba lahir para pemikir yang belum tertandingi hingga kini. Sebutlah Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (930-1013) atau di Barat dikenal sebagai Abulcasis. Kitab Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif yang ditulisnya sebanyak 30 jilid, berisi kumpulan praktik kedokteran menjadi rujukan utama di sekolah-sekolah kedokteran hingga abad ke-17. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu, ia sudah mampu menghentikan perdarahan saat melakukan operasi pembedahan tengkorak manusia!

Nama lain yang mengubah sejarah dunia adalah Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti (1100-1165) atau yang sering disebut Al-Idrisi. Dari tangannya lah tercipta peta dunia yang rumit dan paling akurat. Selama berabad-abad petanya terus disalin tanpa ada perubahan. Karyanya ini menjadi rujukan Christopher Columbus dan Vasco Da Gama sebelum melakukan pelayarannya, sekaligus menjadi bukti, pelaut muslim Andalusia telah mencapai benua Amerika, jauh sebelum Columbus. Astronomi dan geografi adalah pengetahuan yang lekat dengan umat Islam. Ilmu astronomi dibutuhkan untuk menentukan arah Kiblat dari negeri-negeri yang jauh. Sedangkan pembuatan peta menjadi kebutuhan untuk menunjukkan arah ke Baitullah.

Di abad modern ini nama Albert Einstein sering dipadankan dengan kata jenius. Padahal apa yang dihasilkannya belum ada apa-apanya dibanding torehan sejarah Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd Al-Qurthubi Al-Andalusi (1126-1198) atau Ibn Rusyd yang di Barat dikenal sebagai Aviroes. Tanpa buah pikirnya, bisa jadi Eropa sekarang masih berada dalam belenggu kebodohan dan kegelapan. “Ibn Rusyd adalah bapak renaissance sejati,” kata Hanum di bukunya 99 Cahaya di Langit Eropa. Kebalikan dari ilmuwan modern yang semakin tinggi ilmunya semakin meniadakan keberadaan Tuhan, Ibn Rusyd bisa menjelaskan dengan sangat jernih, bagaimana pengetahuan mengantarkan manusia tunduk pada kekuasaan Allah. Betapa kerdil manusia dibanding keluasaan ilmu Allah. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, bekas rumah Ibn Rusyd hingga saat ini masih digunakan sebagai pusat kajian Islam di Spanyol.

--------------------------------------

“Mau makan malam sekarang?” tanya Lambang menyadarkan saya dari lamunan.
Saya memberi isyarat dengan anggukan. Sebelum menutup tirai jendela, saya seperti menyaksikan keriuhan Cordoba. Para pencari ilmu hilir mudik membawa kitab-kitab. Para alim duduk di kelilingi murid-muridnya. Cahaya pengetahuan berpendar terang dari bumi Cordoba, kota sejuta cahaya.

Rabbi zidni ilman, warzuqni fahman,
Ya Allah tambahkan kami ilmu dan rezekikan kami pemahaman darinya.


Cordoba, 6 Januari 2015

Uttiek Herlambang