Sabtu, 13 Februari 2016

Assalamualaikum Istanbul


“Eh, tiket kita business class,” kata Lambang mengejutkan.
Saya hentikan langkah dan melihat tiket yang terselip di dalam passport. Betul, ada tulisan business class di situ. Kita saling berpandangan dan tersenyum lebar. Alhamdulillah, sebuah kejutan awal yang menyenangkan.

Tak berhenti di situ, perjalanan lanjutan usai umrah yang seharusnya ke Mesir, ternyata atas izin Allah harus berbelok ke Istanbul. Dan lagi-lagi, saya dikejutkan dengan tiket business class Saudi Arabia Airlines, Jeddah-Istanbul.

Ah, kejutan demi kejutan, membuat perjalanan umrah akhir tahun 2015 ini menjadi perjalanan yang penuh warna.
_____________________

Udara dingin menyambut kedatangan saya di Atatürk International Airport, Istanbul. Sambil mendorong koper-koper besar yang berat, saya dan Lambang celingak-celinguk mengamati deretan para penjemput yang menanti di balik ralling besi.

Seorang perempuan muda berkacamata membawa kertas bertuliskan Mr. Herlambang. “Itu…,” seru saya sambil menunjuk ke arahnya. Saya lemparkan senyum dan melambaikan tangan. “Hi, I’m Herlambang,” kata Lambang, yang disambut perempuan itu dengan ramah, “Bagaimana penerbangan kalian?”

Setelah lebih dekat, baru terlihat kalau perempuan ini memiliki kecantikan khas Turki Eropa. Kulitnya putih, rambutnya kemerahan, wajahnya mungil, perawakannya sedang. Sekilas tampak seperti artis Nikita Willy. “My name is Nalan…,” katanya memperkenalkan diri. Ia jelaskan kalau seharusnya kita makan malam di sebuah Chinese restaurant, tapi karena sudah lewat pukul 21.00 malam, sepertinya waktunya tidak keburu.
Is it halal?” potong saya setelah mendengar kata Chinese food.
Off course,” jawab Nalan, seperti bingung mendengar pertanyaan itu. Nanti, setelah melakukan perjalan beberapa hari di Turki, barulah saya tahu jawabnya.

Nalan lalu mengajak kita ke Simit Sarayi, sebuah franchise bakery yang sangat terkenal di Turki. Bahkan saya juga sempat melihatnya di Grand Zam-Zam, Mekkah. Makanan yang paling populer di sini namanya Taptaze simitler, semacam pretzel yang empuk. Lambang memilih itu, sedang saya meminta sandwich dan secangkir teh panas.

Malam ini kita langsung ke hotel Hilton Garden, tempat kita menginap, yang berada di Golden Horn. Nalan meminta kita segera beristirahat, karena besok pagi akan melakukan perjalanan darat ke Edirne, sejauh 240 km,  yang memakan waktu kurang lebih tiga jam.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, saya melihat hiruk pikuk Istanbul yang modern. Gedung-gedung tinggi, manusia yang sibuk, jalanan yang macet, serta warna-warni signboard mengepung kota. Mendekati selat Bosphorus, Nalan menunjukkan beberapa bangunan kuno, seperti tembok Konstantinopel. “Besok, kalian bisa melihatnya lebih jelas,” katanya

Istanbul adalah kepingan sejarah yang tercatat dengan tinta emas. Daulah Ustmani menorehkannya selama lebih dari 600 tahun. Usman Bey sang pemula, dengan gagah berani  menghancurkan pasukan Tartar. Ditaklukkannya Bursa di tahun 1317, lalu satu per satu negeri-negeri di sekelilingnya.

Perjuangan Usman Bey dan keturunannya: Orkan I, Murad I, Bayazid, Muhammad I, Murad II, semuanya untuk mewujudkan nubuwat Rasulullah. Tercatat dalam tarikh, di perang Khandak, Rasulullah menghentakkan tembilangnya pada sebuah batu. Benturan keras antara besi dan batu itu memancarkan cahaya sebanyak tiga kali. Sebanyak itu pula manusia mulia itu bertakbir, hingga para sahabat yang menyaksikan bertanya, “Ada apa gerangan?” Dijawab, bahwa pada percikan cahaya yang pertama dilihatnya negeri Yaman, percikan kedua Kisra di Persia dan yang ketiga adalah istana Konstantinopel. “Sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan yang akan menaklukkan Konstantinopel.”

Nubuwat itu menjadi pelecut semangat bagi siapa saja untuk mewujudkannya. Sejak para sahabat, yang dibuktikan oleh Abu Ayub Al Anshari yang berjihad hingga tembok Konstantinopel, sampai Usman Bey dan keturunannya. Sejengkal demi sejengkal negeri di sekitar Konstantinopel berhasil ditaklukkan. Hingga datanglah Sang Al-Fatih, Muhammad II Sang Penakluk. Bersama pasukan terbaiknya, setelah mengepung dari hari Jumat, 6 April 1453 hingga Selasa, 29 Mei 1453, akhirnya ia berhasil mewujudkan nubuwat itu.

Tak berhenti sampai di situ. Mereka adalah keturunan darah Turan, bangsa pengembara yang perkasa, tak gentar panas, tak takut salju. Perlahan, satu per satu negeri-negeri yang jauh disatukannya. Mesir, Hijaz (Mekkah-Madinah), Yaman, Irak, Palestine, Maroko, Tunisia, Aljazair, Bulgaria, Hongaria, Polandia, bahkan Sultan Sulaiman Al-Qonuni dua kali mengirim pasukannya hingga batas kota Wina, Austria.

Dua per tiga wilayah di dunia tunduk pada Daulah Ustmani. Kekuasaannya ke Timur sampai Malaka dan Nusantara. Aceh berulang mendapat bantuan dari pasukan Turki Ustmani saat mengusir Portugis. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, menuliskan, pengaruh Daulah Usmani itu sangat terasa. Bahkan sampai sekarang, di dusun-dusun di Ulu Palembang, Tanah Bugis, Minangkabau, terutama di Aceh, masih banyak yang menggantung gambar-gambar Sultan Turki dan para pahlawannya, seperti Anwar Pasha dan Ibrahim Adham Pasha.

Lebih mengejutkan lagi, kalau sungguh-sungguh mencari, pada khutbah kedua shalat Jumat (Na’at) di surau-surau di kampung-kampung itu, masih banyak yang mendoakan khalifah Ustmani! Bahkan salah satu lambang kerajaan Minangkabau adalah sebuah cap Daulah Ustmani yang bernama Thaghraii. Benda itu masih disimpan oleh anak cucu kerabat kerajaan di Pagaruyung.

Kegemilangan demi kegemilangan yang telah ditorehkan, harus berakhir di tangan anak bangsa sendiri. Mustafa Kemal Atatürk, pada tanggal 29 Oktober 1923 mendirikan Republik Turki yang berhaluan sekuler. Mencabut panji-panji Islam yang pernah menggetarkan dunia dan menghapus segala hal yang berbau syariat Islam. Melarang perempuan-perempuan mengenakan hijabnya ke sekolah atau gedung pemerintahan, mengganti adzan menggunakan bahasa Turki, menutup madrasah-madrasah, dan sederet peristiwa memilukan lainnya.

Apakah Islam hilang dari Turki? Tidak! Saya menyaksikan hangatnya cahaya Illahi di tanah Al-Fatih hari ini.

Assalamualaikum Istanbul


Istanbul, 29 Desember 2015

Senin, 08 Februari 2016

Dari Gurun Berjumpa Salju


... Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. [QS. Luqman: 34]

Kita tidak pernah tahu, satu detik lagi angin akan bertiup ke utara atau selatan. Kita tidak pernah tahu, hari ini berapa helai rambut yang akan rontok. Namun, Allah telah menuliskan semua takdir makhluknya secara rinci di Laufil Mahfudz, lima puluh ribu tahun sebelum bumi diciptakan.

-------------------------

Dalam perjalanan meniti hari, kita juga tidak pernah tahu, dengan siapa akan berjumpa. Seperti, perjumpaan saya dengan Hameed, seorang pria Arab yang sangat baik. Saya dan Lambang diajak ke rumahnya, menikmati jamuan ala Arab, dikenalkan dengan keluarganya, dan dimudahkan menghadapi banyak urusan.

Hameed adalah mitra lokal Khalifah Tour, travel yang membawa saya umrah akhir tahun 2015 ini. Tugasnya mengurus airport handling, alias segala tetek bengek di airport, mulai check-in, bagasi, hingga memastikan kita tinggal melenggang manis ke ruang tunggu keberangkatan menunggu pesawat take off.

Qadarullah, perjalanan lanjutan usai umrah yang semestinya ke Mesir tidak berjalan lancar. Manifes visa yang sudah kita pegang ternyata tidak “berlaku” di Saudi. Padahal kalau kita berangkat dari Jakarta atau mungkin negara lain tidak masalah. Saudi dan beberapa negara di Timur Tengah menjadi sangat sensitif dengan urusan visa karena banyaknya kasus pengungsi Suriah, isu ISIS, terorisme, dan sebagainya. Apalagi belum lama terjadi pengeboman di pesawat Metrojet 9268 milik Rusia di Semenanjung Sinai, Mesir, 31 Oktober 2015 lalu. Burung besi itu meledak berkeping-keping di udara sebelum jatuh ke bumi, 23 menit setelah lepas landas dari Sharm el-Sheikh, Mesir, menuju St. Petersburg.

Hameed yang rasanya kenal dengan semua orang di bandara mengajak kami ke sana-ke mari untuk mengurus keberangkatan, karena sebenarnya kami telah memegang boarding pass: Jeddah-Amman-Kairo. Bagasi kami pun sudah masuk ke pesawat, namun tidak bisa berangkat. Bahkan, kami sampai bertemu dengan staf Kementerian Haji dan Umrah. Semua angkat tangan. Kami harus melengkapi visa itu di Kedutaan Besar  Mesir, dan itu pun tidak bisa diurus di Saudi, melainkan harus di Jakarta! Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.

Setelah dua jam lebih bolak-balik dan pesawat Royal Jordan yang seharusnya membawa kami akan segera boarding, Hameed berkata pelan,  “Ini sepertinya sudah qadarullah, kalian tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Mesir. Situasinya sedang tidak bersahabat. Lebih baik diurus dulu kelengkapan dokumennya, baru terbang ke Mesir. Kalau dipaksakan, nanti terjadi apa-apa di Mesir malah repot,” sarannya. Saya terduduk lemas di ruang tunggu bandara. Bukan saja lelah karena harus berlari ke sana-ke mari mengurus ini-itu, tapi sekaligus sedih, karena perjalanan ke Mesir ini sudah saya rencanakan sejak lama. Bahkan, jauh sebelum ke Andalusia pun, sebenarnya saya sudah meniatkan untuk ke Mesir lebih dahulu. Setelah Masjidil Aqsa, Palestine, saya ingin shalat di Masjid Al-Azhar, Kairo.

Tak lama, Khudori dari Khalifah Tour-Mekkah, menelepon dan menjelaskan sedang dalam perjalanan dari Mekkah ke Jeddah untuk menjemput kami, serta mengatakan telah menyiapkan kamar di Hotel Marriot, Jeddah, untuk istirahat sembari menunggu segala sesuatunya diurus. “Perlu waktu kurang lebih 4 jam untuk mengeluarkan bagasi. Dari pada menunggu di sini, lebih baik menunggu di rumah saya,” tawar Hameed ramah. Lambang memandang saya meminta persetujuan, saya yang sudah lelah berpikir, hanya mengangguk mengiyakan.

Saat berjalan beriringan menuju tempat parkir, saya terkesan dengan keramahan Hameed pada orang-orang yang berpapasan dengan kami. Ia menyapa semua, menyalami, dan memberikan ciuman pipi khas pria Arab, berbasa-basi sebentar, bahkan ada juga yang lebih dari 5 menit. Hampir semua orang yang ditemuinya diceritakan masalah yang tengah kami hadapi. Saya sampai menyeletuk ke Lambang, “Kenapa dia tidak pinjam pengeras suara bandara saja, sih, dari pada cerita satu per satu ke tiap orang?” Dari ruang tunggu sampai parkiran yang jaraknya hanya sepelemparan batu, jadi agak lama, ya, karena keramahan Hameed itu.

“Saya punya dua rumah, yang satu di dekat bandara, yang satu lagi agak jauh,” ceritanya ketika kami sudah berada di dalam mobil double cabin miliknya. “Kalian mau makan apa? Ayam? Kambing? Sapi?” tawarnya saat kami berhenti di salah satu restoran. Rupanya restoran itu letaknya tak jauh dari rumah Hameed. Saya terkesiap saat ia menghentikan mobil dan membunyikan klakson di depan rumah berpagar tinggi. Berkali melakukan perjalanan ke Tanah Suci, saya selalu penasaran dengan rumah-rumah penduduk lokal. Bentuknya yang menyerupai kubus, berpagar tinggi dan tertutup rapat, menyelipkan tanya, seperti apa di dalamnya? Selama ini saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan, tanpa bisa “mengintip” isinya. Dan tanpa diduga, Allah izinkan saya melihatnya hari ini.

Seorang pria muda berkulit legam, dengan ikat kepala dari kafayeh melilit di kepalanya, membukakan gerbang. Hameed memarkir mobilnya sembarangan di balik pagar. “Ayo turun, ini rumah saya. Jangan sungkan,” katanya sambil membukakan pintu. Terlihat ruang tamu yang luas, dengan sofa mengelilingi ruangan, serta karpet yang digelar di lantai. Ia mengatakan sesuatu pada pembantu pria yang tadi membukakan pintu, sambil menyerahkan bungkusan yang dibeli di restoran. Tak lama, Mustafa, nama pembantu asal Yaman itu, muncul lagi sambil membawa nampan besar berisi nasi dengan potongan daging kambing yang besar-besar di atasnya.

Diletakkan nampan itu di tengah karpet. Hameed lalu mengambil piring yang hanya satu dan menyendokkan nasi. Diangsurkannya piring itu pada saya. “Wah, ini terlalu banyak, setengahnya saja,” protes saya demi melihat nasi yang menggunung. “Ambil saja, di Arab, tamu tidak boleh menolak suguhan tuan rumah,” jawabnya. Ia lalu mempersilakan Lambang untuk makan langsung dari nampan besar bersamanya dan seorang menantunya yang baru muncul.

Dijamu keluarga Arab seperti ini, sudah lama saya impikan. Dan tanpa terduga, di antara kesulitan yang tengah saya dan Lambang hadapi hari ini, Allah izinkan saya merasakannya. Sambil makan, Hameed bercerita ngalor-ngidul tentang keluarganya. Ia adalah pensiunan tentara. Istrinya dua, dari istri pertama ia punya delapan anak, dari istri kedua, satu anak. Ia katakan kenal akrab dengan salah satu konglomerat Indonesia yang punya menantu seorang artis. Ia tunjukkan foto-foto keakraban mereka. Sambil mendengarkan ceritanya, saya takjub melihat pria-pria Arab ini menghabiskan makanan satu nampan besar dalam waktu singkat.

Selesai makan, kita berjamaah shalat dzuhur. Setelah itu Hameed menawarkan pada Lambang apakah mau mengisap shisha bersama, yang ditolak dengan mengatakan ia tidak merokok. Tabung shisha itu sangat besar, lebih besar dari tabung LPG 12 kg, setiap kali diisap ada suara bergolak, seperti air mendidih yang dijerang di atas panci. Saya jadi teringat tulisan Andrea Hirata tentang orang Melayu pedalaman yang suka bermalas-malasan di kedai kopi sambil berbual-bual. Pemandangan itu tak jauh berbeda dengan kebiasaan orang Arab. Hanya saja mereka tidak minum kopi, melainkan mengisap shisha. Dalam hal berbual-bual, saya pastikan orang Melayu manapun akan kalah. Orang-orang Arab ini kalau bicara seperti tidak ada jedanya. Merepet tanpa henti. Apa saja diomongkan. Kebetulan menantu Hameed ini sedikit-sedikit juga bisa berbahasa Inggris, jadilah ia ikut dalam obrolan kami.

Berulang saya membaca buku tetang persahabatan gurun, artinya kebaikan orang Arab dalam menjamu tamunya. Beberapa kali pula saya melihat tayangan di channel TLC tentang hal itu. Orang Arab tidak akan menghentikan jamuan sebelum memastikan tamunya benar-benar kenyang dan mendapat bagian terbaik dari makanan yang dihidangkan. Kali ini saya menyaksikannya sendiri ketulusan Hameed dalam menerima kami di rumahnya. Padahal sebenarnya, bisa saja dia mengantarkan kami ke hotel, lalu bagasi dikirim kemudian.

Berkali-kali ia melakukan panggilan telepon ke Indonesia dan ke Mesir untuk mendapat update. “Kalau mau telepon ke keluarga di Indonesia, pakai telepon ini saja ya. Kabarkan kalau kalian baik-baik saja,” katanya yang membuat kami bengong. Ia lalu bercerita, dari bisnis airport handling ini ia mendapat 16 SAR per jamaah. Ada seribuan jamaah yang di-handle setiap hari. Pemasukannya sekitar Rp60 juta per hari. “Tapi itu semua bukan untuk saya. Kalian tadi lihat semua orang yang saya temui di bandara? Mereka semua saya bagi juga,” katanya. “Bukan uang yang menjadi tujuan semata. Saya ingin jamaah yang saya handle mendoakan saya. Doa yang dilakukan diam-diam akan diijabah Allah,” lanjutnya dengan kalem.

Saya tertegun. Pastilah saya dan Lambang bukan orang pertama yang dibantunya. Meskipun awalnya ini adalah bagian dari perkerjaannya, namun yang dilakukan lebih dari seharusnya. Saya yakin persahabatannya dengan salah satu konglomerat Indonesia itupun tulus.

Menjelang Maghrib, kita kembali ke Bandara King Abd Azis untuk mengambil bagasi. Dalam perjalanan, kita melewati Laut Merah. “Kalian ingin jalan-jalan ke pantai dulu?” tawarnya. Ya ampun, orang ini benar-benar menikmati hidup, sepertinya ia tidak pernah menganggap ada masalah di dunia ini. Bagaimana mungkin, saya yang lagi deg-degan setengah mati memikirkan mungkin tidak melanjutkan perjalanan ke Mesir, eh, malah diajak jalan-jalan ke pantai. “No, thanks,” jawab saya.

Tiba di bandara, rupanya Khudori telah menunggu. Setelah mengambil bagasi, kita harus berpisah. Waktu berpamitan, sekali lagi ia mengatakan, “Apa lagi yang bisa saya bantu? Mungkin kalian perlu uang?” Untuk kesekian kalinya saya bengong mendengar ucapannya. “Cukup doakan kami, supaya perjalanan besok lancar, kemanapun kami akan terbang. Semoga Allah mudahkan saya melihat hikmah dari kejadian ini. Dan, saya pasti akan mendoakan kamu sekeluarga, supaya selalu dalam kebaikan,” ucap saya tulus. Hameed tersenyum lebar. Ia lalu bersalaman, memeluk Lambang, dan memerikan ciuman pipi khas persahabatan pria Arab. “Saya dan banyak orang lagi pasti mendoakan kamu dalam kebaikan, Hameed,” batin saya saat mengucapkan salam perpisahan.

Lagi-lagi, Allah punya cara untuk menghibur saya di tengah situasi ini. Sopir yang membawa kita dari bandara ke hotel ternyata seorang pria Palestine warga negara Jordan, bernama Abu Hamdy. Sepanjang perjalanan kita bertukar cerita. Seperti umumnya orang Palestine yang cerdas dan bisa berbahasa Inggris dengan baik, Abu Hamdy menceritakan dengan runut bagaimana Israel mengokupasi desanya, 7 kilometer dari Yerusahlaim. Lalu kisahnya menikahi istrinya yang berasal dari Jaffa, pinggiran Gaza. Bagaimana penduduk desanya mengungsi, hingga kini sangat sedikit yang tersisa. Perjalanan terasa sangat singkat, dan tak terasa kami menjadi akrab. “Abu Hamdy, di mana kamu ingin menghabiskan hari tuamu? Di Jeddah? Jordan? Atau Palestine?” Tanya saya. Agak lama ia terdiam, sampai akhirnya terucap, “Di manapun takdir Allah, di situ tempat terbaik bagi saya untuk menghabiskan hari tua.”
_____________________

Esok paginya, Pak Rustam, pemilik Khalifah Tour yang sedang berada di Andalusia, menghubungi dan menawarkan beberapa alternatif solusi. Salah satu yang ditawarkan adalah me-reroute perjalanan dari Mesir ke Turki. Alternatif ini juga sempat disinggung ustadz Roffi, salah seorang pembimbing umrah, alumnus Al-Azhar, Kairo, yang sempat kita mintai pertimbangan semalam. Saya meminta waktu satu jam untuk mendiskusikannya dengan Lambang.

“Kita tidak membawa perlengkapan musim dingin. Di Turki, bulan Desember begini pasti sedang salju,” ucap saya.
“Ya, hari ini kita beli coat dan perlengkapan lainnya dulu di Jeddah. Sekalian menukar uang pond Mesir dengan lira Turki,” jawab Lambang.
Saya masih bimbang. Perjalanan yang harusnya berada di gurun pasir, kini malah akan berjumpa salju. Tapi, pilihan ini sepertinya yang paling bijak, dari pada saya ngotot ke Kairo tanpa dokumen lengkap. Bila muncul masalah di sana, pasti kami akan merepotkan banyak orang.

Akhirnya, “Bismillah, kita sudah memutuskan untuk memilih alternatif ke Turki: Istanbul-Edirne-Cappadocia, Pak,” tulis saya melalui WA pada Pak Rustam.
Siap, Mbak. Kami urus semuanya sekarang,” balas Pak Rustam.  

Qadarullah wamaa syaa afa’al. Takdir Allah adalah apa yang dikehendakiNya, dan itu pasti terjadi. Kisah ini akan menjadi tulisan panjang dan kenangan yang tak terlupakan.



Jeddah, 29 Desember 2015

Senin, 25 Januari 2016

Flamenco Tarian Duka


Tak… tak… tak…tak tak tak
Suara sepatu itu berdentam-dentam menghantam lantai kayu. Kian lama semakin ritmis. Dentamannya memekakkan telinga. Rasanya panggung kecil itu bisa roboh karena kerasnya goncangan. Cahaya lampu menyorot satu titik di tengah panggung. Perempuan berpinggang sangat langsing itu mengangkat roknya. Terlihat sepatu hitam yang membuat suara bendentam-dentam. Ia terus menari, berputar, sesekali berteriak, “Olee… Olaa…”

Tapi, mengapa wajahnya bergurat duka?

-----------------
Setelah menghabiskan siang di Estadio Santiago Bernabéu, sore ini kita melanjutkan perjalanan ke Plaza de Mayor. Salah satu pusat keramaian di kota Madrid. Sejak abad pertengahan, lokasi ini sudah difungsikan sebagai tempat berlangsungnya aktivitas sosial, seperti konsep alun-alun di Jawa. Dari penobatan raja, eksekusi tahanan, hingga pasar, berlangsung di area yang dibangun kembali oleh arsitek Juan de Villanueva tahun 1790, setelah hancur akibat kebakaran hebat.

Kafe-kafe cantik berderet di sepanjang jalan. Rata-rata secangkir kopi atau teh dibanderol 5-10 euro. Di Jakarta, itu setara dengan 3 cangkir cappuccino ukuran sedang di Starbuck. Seperti kafe-kafe di Eropa pada umumnya, tersedia tempat duduk di area terbuka. Sambil menyeruput hangatnya kopi, pengunjung bisa menikmati suasana orang yang berlalu-lalang.

Sore itu kawasan Plaza de Mayor ramai bukan kepalang, mungkin karena lagi musim sale akhir tahun, atau rebajas dalam bahasa Spanyol. Salah satu store brand asal Spanyol, Zara, sesaknya tak kalah dengan Tanah Abang menjelang Lebaran. Antrean di kasirnya mengular hingga terlihat dari pintu masuk. Terlihat beberapa orang berwajah Melayu sibuk memilih barang. Pajak barang mewah yang diberlakukan pemerintah membuat merk-merek seperti ini lebih murah di luar negeri ketimbang di Jakarta.

Saya dan Lambang punya kebiasaan jalan ke supermarket lokal saat berada di luar negeri, untuk membeli teh atau kopi. Beberapa sahabat kami adalah penggemar kopi, sedang saya sangat suka teh yang beraroma. Oleh-oleh teh atau kopi lokal sangat mereka tunggu. Tidak selalu enak, sih. Dari negara-negara yang pernah saya kunjungi, saya paling suka dengan supermarket lokal di Jepang. Barang-barang yang dijual unik-unik. Teh dan kopinya, sekalipun rasanya biasa saja, tapi kemasannya sangat menarik.

Supermarket yang kita datangi ternyata terkoneksi dengan stasiun kereta bawah tanah. “Yuk, mau nyobain enggak? Sampai stasiun pertama saja, lalu balik lagi,” ajak saya. Tapi sepertinya waktunya tidak cukup. “Enggak ada waktunya,” jawab Lambang. Ya, kita memang harus segera berkumpul lagi di salah satu kafe yang sudah disepakati di ujung perempatan. “Wah, ngeborong apa, Mbak?” Tanya Pak Rustam yang telah duduk menunggu. Saya hanya tersenyum kecil.

Usai acara belanja di Plaza de Mayor, Pak Rustam memberi kejutan untuk makan malam terakhir, setelah tujuh belas hari kita melakukan perjalanan bersama. Terbaca tulisan yang terpasang di tembok luar restoran:  Flamenco Salvaje Aqui “El Flamenco Debe Hacer Sentir, No Sold Asombrar”. “Asyik, kita nonton Flamenco ya?” seru rombongan.

Restoran ini, seperti restoran di Spanyol pada umumnya, posisinya lebih rendah dari jalan di depannya. Dari pintu ada beberapa undakan turun ke bawah, lalu belok ke kiri. Di ujung terlihat panggung kecil. Ruangan sedikit temaram, meja-meja panjang berderet di depannya. Saya memilih duduk tepat menghadap ke depan, supaya bisa menikmati pertunjukan.

Menu utama makan malam itu adalah paella, nasi khas Spanyol. Nasi ini dimasak dengan seafood, seperti kerang, udang, cumi, dan dibumbui saffron. Nasinya tak benar-benar matang, ngletis kalau orang Jawa bilang. Tapi memang seperti itu rupa paella, konon kalau nasi paella ini dimasak sampai matang, pembeli akan melempar kuali yang digunakan untuk menghidangkan masakan itu ke tukang masaknya. Waduh!

Begitu piring-piring di meja dibereskan, ruangan menjadi gelap. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan muncul di panggung. Penonton bertepuk tangan. Gitar berdenting, laki-laki berkucir itu mulai bernyanyi. Nyanyian itu… mengingatkan saya pada lagu-lagu Arab, tapi ini berbahasa Spanyol. Tiba-tiba pikiran saya melayang, membayangkan sosok Ziryab.

Fenomena Ziryab selalu dikaitkan dengan kehancuran Andalusia. Ia ibarat anai-anai yang menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman hingga jatuh ke bumi. Mulanya, Ziryab adalah seniman dari Baghdad. Persaingan dengan gurunya yang bernama Ibrahim Al-Mushily, membuatnya terusir dari negeri itu. Dalam pengembaraannya, ia memilih Andalusia.

Andalusia yang bermandikan cahaya pengetahuan menyambutnya. Selain syair, dendang, dan tarian, ia mengajarkan hal-hal yang belum pernah dilakukan manusia sebelumnya, seperti membagi makanan menjadi 3 bagian; appetizer, main course, dan dessert. Etika makan seperti ini masih digunakan hingga kini. Ia juga menciptakan tren fashion berdasar musim; panas, gugur, dingin, dan semi. Kalau sekarang, ia pastilah mendapat gelar seniman multitalenta. Singkat cerita, ia mengajarkan tentang gaya hidup hedonis.

DR. Raghib As-Sirjani dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, menjelaskan sebuah fakta, Ziryab datang ke Andalusia di masa Abdurrahman Al-Ausath, sosok pemimpin yang sangat peduli dengan ilmu pengetahuan. Pada masa itu perekonomian dan peradaban Andalusia sedang berada di puncaknya. Tak ada yang bisa menjelaskan mengapa ia membiarkan Ziryab mengambil tempat di majelis ilmu dan menggantinya dengan dendangan yang melenakan. Perlahan, sangat perlahan, semua itu merasuk ke dalam sanubari umat tanpa seorangpun menyadarinya.

Hingga terjadilah apa yang seharusnya bisa dicegah. Senandung Ziryab membuat para pencari ilmu berpaling dari ulama dan kitab-kitabnya. Masyarakat terlena dengan cerita-cerita anehnya tentang negeri Persia. Apa yang terjadi bila ayat-ayat Allah ditukar dengan dendang lagu dan tarian? Saat itulah pendulum kehancuran mulai bergoyang. Tidak seketika semuanya musnah. Kemunduran Andalusia berlangsung selama 200 tahun, hingga jejaknya benar-benar sirna. Innalillahi wa innailaihi roji’un…

Tak… tak… tak…tak tak tak…
Hentakan kaki penari Flamenco itu terdengar serupa dengan derap kuda pasukan Thariq ibn Ziyad ketika membebaskan semenanjung Iberia. Kalau pasukan terbaik Sang Pahlawan telah membuka tabir hadirnya cahaya hidayah, para penari itu menggantang asap, hingga kabut kegelapan kembali menyelimuti bumi Andalusia. Guratan duka di wajahnya bisa menjelaskan, betapa dendang dan goyangannya membawa kehancuran.

Tak… tak… tak…tak tak tak…  
Dentaman itu kian bertalu-talu. Gelak tawa Ziryab, muncul tenggelam, berganti dengan derap pasukan Thariq ibn Ziyad yang mengobarkan jalan jihad. Rabbana, inikah jawab atas tanya, apa yang terjadi di Andalusia? Sudut mata saya basah. Di hari terakhir di Andalusia, saya menyaksikan Flamenco, sebuah tarian duka…


Madrid, 8 januari 2015

Uttiek Herlambang

_______________

Alhamdulillahi robbil ‘alamin…

Tulisan Flamenco Tarian Duka ini merupakan tulisan terakhir dari  12 tulisan Journey to Andalusia. Tepat setahun, saya baru bisa merampungkannya. Ini adalah kumpulan tulisan terlama yang pernah saya buat. Awalnya, saya tidak tahu mengapa begitu lama menyelesaikannya.

Jawaban itu saya dapat ketika melakukan perjalanan umrah akhir tahun ini, dan secara tidak terduga berbelok ke Turki, dari seharusnya meneruskan perjalanan ke Mesir. Menyaksikan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah yang terpahat kuat di gerbang Topkapi Sarayi atau Istana Topkapi, membuat saya memahami; sejarah Andalusia adalah senandung kepedihan, sedangkan Istanbul adalah dendang kemenangan.

Kesedihan yang sangat, membuat saya merasa berat ketika harus menuliskan tentang Mezquita. Bahkan rasa takjub saat berada di Alhambra pun tetap menyisakan rasa pedih di hati. Di Turki, saya menemukan semangat itu kembali. Tulisan ini harus segera selesai.

Salah satu momen yang tak terlupakan adalah ketika Pak Rustam mengirimkan kabar dari Andalusia, ketika saya masih berada di Turki. “… Local guide kami, Abu Bakar, yang lulusan S3 University of Granada, menjelaskan tentang sejarah Masjid Jami Al-Bayajid. Di tempat ini pada bulan Januari 1492 dilaksanakan shalat Jumat terakhir di Granada. Insya Allah, suatu saat nanti bangunan ini bisa digunakan kembali untuk shalat. Dan, saya, Mbak Uttiek, serta Mas Lambang menjadi bagian dari jamaahnya.”

Saya baca pesan yang ditulis melalui media sosial itu dengan rasa haru. Dua hari sebelum menerima pesan itu, saya baru mengunjungi Hagia Sophia atau Aya Sophia. Bangunan simbol emperium Byzantium yang berhasil dibebaskan oleh manusia terbaik dengan pasukan terbaik, Muhammad Al Fatih. Di bulan Mei 1453, untuk pertama kalinya adzan berkumandang dan shalat Jumat didirikan di Aya Sophia.

Konstantinopel berhasil dibebaskan 40 tahun sebelum kejatuhan Andalusia. Tenggelamnya cahaya Islam di pojok Eropa Barat, bertepatan dengan terbitnya cahaya Allah di Eropa Timur. Sungguh, rencana Allah selalu sempurna.


“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan agar sebagian kamu dijadikanNya gugur sebagai syuhada. [QS Ali Imron: 140].

Jumat, 22 Januari 2016

Aku Lihatkan Santiago Bernabéu Untukmu, Diz

“Bisa, Pak, kita ke sana?”
Sejenak Pak Rustam terdiam dan terlihat berpikir, “Nanti bisa diusahakan,” jawabnya sambil tersenyum.
“Tidak apa-apa, Pak, nanti kami naik taksi.”
Di itinerary umrah plus Maroko dan Andalusia ini tidak ada jadwal ke Estadio Santiago Bernabéu. Saya meminta kepastian dari Pak Rustam untuk bisa ke sana barang sebentar saat berada di Madrid.

------------------------------------------------
Saya bukan penggemar sepak bola. Bahkan saya tidak tahu Lionel Messi itu pemain dari mana? Offside itu apa? Dan hal remeh tentang sepak bola lainnya. Pemain sepak bola yang saya tahu hanya David Beckham dan Cristiano Ronaldo. Nama pertama karena saya sering mengedit beritanya sebagai pesohor, bersama istrinya Victoria Beckham. Nama kedua karena kepeduliannya pada Palestine.

Namun, Estadio Santiago Bernabéu mulai terngiang-ngiang sejak saya membaca buku Andrea Hirata yang berjudul Sebelas Patriot. Perjuangannya mendapatkan selembar kaus bertandatangan asli Luis Figo seharga 250 Euro untuk ayahnya, sangat membekas di hati. Sekalipun kisah itu dituliskannya dengan gaya kocak, khas Andrea, tapi buat anak yang cinta mati pada ayahnya seperti saya, kisah itu sangat menyentuh. Entah kenapa kalimat yang ditulisnya, “Figo… Bujang, Luis Figo…,” selalu mengingatkan saya untuk memperjuangkan sesuatu demi membahagiakan Papi.

Pagi itu, kita mengawali hari dengan mengunjungi Plaza de Toros de las Ventas atau yang biasa disebut Las Ventas. Bangunan beraksitektur mudejar ini adalah stadion adu banteng alias tempat pertunjukan matador yang terbesar di Spanyol. Stadion berkapasitas 25.000 penonton ini mulai dibangun tahun 1922 dan digunakan tahun 1931. Beberapa kali sempat ditutup, sampai akhirnya bangunan bergaya peninggalan bangsa Arab di Andalusia yang diarsiteki José Espeliú ini digunakan lagi hingga kini. Tidak ada pertunjukan sepagi itu. Kita hanya berfoto-foto di area stadion.

Dari Las Ventas, bus bergerak menuju Estadio Santiago Bernabéu. Saya senang sekali, karena secara khusus Pak Rustam mengagendakan ke tempat ini, yang semula tidak ada di jadwal tur. Dari luar terlihat tembok menjulang setinggi Stadion GBK di Senayan. Kita tidak masuk ke dalam stadion, melainkan turun di depan pintu kafe. Dengan membayar 15 Euro per orang, pengunjung bisa duduk-duduk di dalam kafe, sambil menikmati secangkir kopi atau teh. Dan kalau beruntung, bisa menyaksikan Christiano Ronaldo, Karim Benzema, Mesut Oezil berlatih.

“Katanya di ruang ganti stadion ini ada mushala yang digunakan Benzema untuk shalat ya?” tanya Lambang pada Carmen, local guide kita di Madrid. “Wah, saya tidak punya informasi tentang itu,” jawabnya. Dari dinding kaca kafe, terlihat pemandangan di dalam stadion. Bangku-bangku penonton bercat biru, bertuliskan Real Madrid. Beberapa pekerja sibuk melakukan tugasnya. Ada mesin-mesin besar semacam mesin pemotong rumput berderet di atas rumput stadion.

Melihat rapinya rumput stadion, lagi-lagi, saya teringat kisah Andrea. Ia harus melakukan tiga pekerjaan dalam satu hari demi selembar kaus untuk ayahnya. Pagi, sebagai tukang cat dan angkut-angkut di toko furnitur, malam sebagai pembantu umum di stadion, yang tugasnya disuruh-suruh oleh siapa saja, termasuk si tukang potong rumput. Dan, sesekali ia ikut mengamen bersama para backpacker di Plaza de Catalunya.

Dari kafe, kita ke Official Real Madrid Store. Toko berlantai dua ini terlihat gemerlap dengan aneka merchandise resmi. Mulai jersey, syal, pin, topi, tas, dan banyak lagi. Di lantai dua, tersedia aneka perlengkapan merk Adidas. Semua dibanderol dalam euro. Saya membayangkan, di tempat inilah Andrea Hirata bertemu Adriana, perempuan baik yang menyimpankan kaus Luis Figo untuknya.  

Selain kisah Andrea, alasan lain yang membuat saya ingin mengunjungi Estadio Santiago Bernabéu adalah karena adik bungsu saya, Farid, yang biasa dipanggil Dudiz di rumah, adalah seorang Madridista, sebutan untuk penggemar Real Madrid. Kalau bukan karena dia, bisa jadi saya tidak akan ngotot ke tempat ini. Saya ambil selembar jersey putih untuknya, lalu beberapa barang lain. Semoga ia sesenang ayah Andrea, saat menerima jersey oleh-oleh ini.

Madrid adalah kota terakhir yang kita kunjungi dalam perjalanan ini. Dari Madrid, besok pagi kita akan bertolak kembali ke Jakarta, setelah transit di Doha, Qatar, terlebih dulu. DR. Raghib As-Sirjani di bukunya Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, secara khusus memberikan catatan pada kota ini. Di sini, tahun 1992 ditandatangani perjanjian antara Palestine dengan Israel, yang tentu saja, kemudian dilanggar sendiri oleh yahudi-yahudi itu. Mengapa dipilih kota ini? Padahal perjanjian serupa umumnya dilakukan di Amerika.

Ternyata di hari yang sama, di kota ini sedang diselenggarakan perayaan 500 tahun Dia de la Toma atau jatuhnya Granada, yang menandai dimulainya genosida pada kaum muslim Andalusia. Sejatinya, apa yang terjadi di Andalusia pada waktu itu adalah apa yang terjadi di Palestine saat ini. Secara bertahap dan sistematis, umat islam diusir dari Tanah Airnya. Bom-bom yang dijatuhkan Israel di tanah Palestine, syahidnya pada syuhada, nestapa berkepanjangan yang dirasakan saudara-saudara kita, sudah pernah tercatat oleh sejarah Andalusia. Seakan ada pesan yang ingin disampaikan dalam perjanjian itu, kami pernah melakukannya 500 tahun lalu, kini pun kami akan melakukannya lagi.

Kekejaman yang dilakukan di Andalusia sungguh tak terbayangkan oleh manusia dan kemanusiaan. Umat Islam terus diburu, mereka yang ketahuan menyembunyikan ke-Islamannya akan disiksa dengan alat-alat penyiksaan yang sangat mengerikan. Bukti adanya alat-alat penyiksaan ini ditemukan oleh pasukan Napoleon ketika menguasai Spanyol. Dalam catatan harian seorang perwira bernama Kolonel J.J. Lehmanowsky, tubuhnya bergetar hebat, bahkan nyaris pingsan, saat menemukan sisa-sisa kengerian itu.

Salah satu alat penyiksaan itu ada yang dinamai Iron Maiden, yang kemudian digunakan sebagai nama band metal asal Inggris. Alat ini adalah peti berbentuk tubuh manusia, yang di dalamnya terpasang senjata-senjata yang sangat tajam dalam jumlah banyak. Mereka yang ketahuan Islam, akan dilempar ke peti ini, lalu ditutup, sehingga tubuhnya terkoyak seperti daging yang dicincang. Ada juga yang dinamai The Rack, yang digunakan untuk menghancurkan tulang manusia, dimulai dari tulang kaki, tulang dada, tangan, kepala, hingga sekujur tubuhnya remuk. Ada lagi The Pillory, The Brank, The Bastinado, dan masih banyak lagi, yang difungsikan dengan cara yang tak kalah mengerikannya. Astaghfirullah…

Issabel dan Ferdinand secara resmi membentuk Dewan Inkuisisi yang tugasnya memburu umat islam. Mereka memata-matai seluruh penduduk Andalusia. Bahkan yang sekadar ketahuan berdoa sambil menengadahkan tangan menghadap ke Timur, akan dibunuh; mereka yang memakai pakain terbaik di hari Jumat, dibunuh; mereka yang ketahuan dikhitan, dibunuh. Mereka yang sudah tua dan lemah, setelah mengalami penyiksaan berkepanjangan, akan dibiarkan hidup, namun harus menyaksikan anak dan cucunya makan babi, minum khamer, hingga mereka meninggal karena nestapa berkepanjangan. Innalillahi wa innailaihi rojiun…

Islam yang pernah menerangi Andalusia lebih dari 800 tahun seakan tak berbekas. Bahkan kini tercatat jumlah penduduk muslim di Spanyol dan Portugal hanya seratus ribu, lebih sedikit dari jumlah muslim di kota Dallas, Amerika, yang tidak pernah dikuasai daulah Islam. Muncul pertanyaan, mengapa hal itu tidak terjadi di negara-negara bekas koloni Barat, seperti Aljazair yang pernah dijajah Prancis selama  330  tahun, Mesir yang dikuasai Inggris selama 70 tahun, atau Indonesia yang pernah dijajah Belanda selama 350 tahun? Cahaya Islam tetap bersinar di negeri-negeri ini dan tak tergantikan.

Genosida yang terjadi di Andalusia belum pernah tercatat dalam sejarah manusia sebelumnya. Baik dalam skala jumlah yang sangat masif, maupun kekejamannya. Salah satu peristiwa memilukan yang masih “diperingati” hingga kini adalah The April’s Fool Day atau April Mop. Di tanggal 1 April 1487, penduduk muslim Andalusia ditipu dengan cara yang sangat licik. Mereka dijanjikan boleh meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke kawasan Afrika Utara dengan membawa seluruh keluarga serta harta bendanya. Begitu sampai di dermaga, ribuan orang tak bersenjata ini harus menyaksikan kapal-kapal mereka  dibakar habis di depan mata, mereka tak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Dengan satu komando, mayoritas perempuan dan anak-anak itu syahid demi mempertahankan aqidahnya. Karenanya, hari itu dirayakan sebagai The April’s Fool Day, hari di mana orang boleh menipu dan memperdaya orang lain. Menyesakkannya, tak banyak umat Islam yang mengetahui sejarah ini dan ikut-ikutan memperingatinya.

Segala hal yang dilakukan, membuat penduduk muslim Andalusia berkurang drastis jumlahnya. Di saat bersamaan, kaum Nasrani dari negeri-negeri yang jauh didatangkan ke Andalusia. Kini, setelah lebih dari 500 tahun, seakan semua terlupakan. Tidak ada lagi yang berpikir untuk membebaskan Andalusia dan mengembalikan kehormatan Islam di sana.

Hal serupa inilah yang sedang terjadi di Palestine. Umat Islam diteror, diusir, dan coba dilenyapkan. Di saat bersamaan yahudi dari seluruh dunia didatangkan ke Palestine dengan iming-iming dan segala fasilitas. Bila umat Islam, terutama generasi mudanya, tak juga segera disadarkan dari “tidur panjangnya”, bukan tak mungkin apa yang terjadi di Andalusia akan terjadi di bumi para Nabi, Palestine. Al-aqsa yang telah diperjuangkan dengan darah dan airmata dari generasi ke generasi, akan bernasib sepilu Mezquita. Percayalah, di titik itu, tangis kita sudah tak lagi berguna…

------------------------

Bus bergerak perlahan meninggalkan Estadio Santiago Bernabéu. Tak sampai seratus meter, Juan menghentikan busnya. Rupanya restoran tempat kita makan siang lokasinya hanya sepelemparan batu dari stadion. Terbaca signboard bertulisakan Omar Restaurante, Cocina Turca, C/ Profesor Waksman 11, Madrid, tel: 913 441 237. Restoran ini terlihat cantik dari luar.

Saya agak terkejut, ternyata ini restoran halal. “Wah, siapa sangka ada restoran halal di dekat Estadio Santiago Bernabéu?” ucap saya pada Lambang. Menu yang dihidangkan adalah masakan Turki. Dibuka dengan sup lentil, menu utamanya lagi-lagi ikan, dan ditutup dessert yang sangat manis khas Turki. Selama di Spanyol, semua makanan dipesankan bermenu ikan, mungkin biar lebih aman.

“Yang tidak menghabiskan makanannya, tidak boleh shalat di sini,” kata manajer restoran demi melihat banyak dessert yang tersisa di meja kami. Tentu saja dia hanya bergurau. Namun tak urung saya semakin terkejut. Ada mushala di basement restoran halal di dekat Estadio Santiago Bernabéu. Issabel dan Ferdinand pastilah menangis di kuburnya saat ini! Mereka berdua boleh saja dengan segala cara coba melenyapkan cahaya Allah dari bumi Andalusia, tapi Allah Sang Pemilik Cahaya, telah menuliskan takdirNya.

 “Aku lihatkan Santiago Bernabéu untukmu, Diz…,” bisik saya dalam hati.


Madrid, Januari 2015


Uttiek Herlambang

Selasa, 22 Desember 2015

Mencari Lembah Barbate


Sejarah mencatat, pertempuran di Lembah Barbate adalah pertempuran terhebat setelah Perang Yarmuk. Pasukan Thariq ibn Ziyad yang hanya 12.000 berhasil mengalahkan pasukan Roderic yang berjumlah 100.000 tepat di gerbang rumah mereka.

----------------------------------------------------------

Bulu kuduk saya terasa meremang. Pemandangan di sore yang gelap ini terasa seperti déjà vu. Jembatan kokoh dengan bastion menjulang, rongga-rongga pemecah arus sungai, udara dingin yang berkabut. Di mana saya pernah menyaksikan pemandangan seperti ini? Saya berusaha keras untuk mengingat, tapi tidak berhasil. Mungkinkah saya pernah ke sini sebelumnya? Tentu saja tidak! Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Eropa. Batin saya terus berbantahan.

Sore belumlah terlalu tua, namun cuaca di musim dingin seperti ini membuat langit lebih cepat gelap. Seorang perempuan jangkung, berambut keriting kemerahan, berdiri di depan pintu bus. Tak lama terdengar suara pintu hidrolik yang dibuka Juan. Keduanya lalu bercakap dalam bahasa Spanyol yang cepat. “Si…si,” kata perempuan itu sambil menghidupkan mic dan mulai memperkenalkan diri. Namanya Carmen, ia yang akan menjadi local guide selama di Toledo sampai Madrid.

Anyone wants to toilet?” katanya sambil menunjuk kafe di seberang jalan yang bisa digunakan. Sekalipun tidak ingin ke toilet, tapi saya tetap turun dari bus dan berdiri di pinggir jembatan. Saya masih penasaran, mengapa rasanya saya pernah berada di sini? Memori ini masih lekat hingga kini dan menyisakan tanya yang tak terjawab. Mungkinkah karena saya sedang mencari Lembah Barbate?

Ya, Lembah Barbate atau Lembah Lakka (Lacca) adalah lokasi pertempuran Sang Pahlawan Thariq ibn Ziyad dengan Roderic penguasa kerajaan Ghotic. Lembah itu posisinya sebelum kota Toledo yang menjadi ibukota kerajaan sekaligus kota terbesar pada masa itu. Sejarah mencatat, pertempuran di Lembah Barbate adalah pertempuran terhebat setelah Perang Yarmuk. Pasukan Thariq ibn Ziyad yang hanya 12.000 berhasil mengalahkan pasukan Roderic yang berjumlah 100.000 tepat di gerbang rumah mereka.

Pertempuran yang berlangsung sejak 28 Ramadhan 92H/19 Juli 711 M itu tak terlukiskan kedahsyatannya. Tiga ribu syuhada menjemput kesyahidannya dengan senyum. Takdir Allah atas kemenangan pasukan muslim seiring suara takbir menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, hari kemenangan. Jatuhnya kota Toledo menandai lapangnya jalan pembebasan semenanjung Iberia. Di sinikah Lembah Barbate? Inikah tanah yang disuburkan dengan darah para syuhada?

Saya mencoba mencari tahu dengan bertanya pada Carmen tentang keberadaan Lembah Barbate. Ia mengernyitkan dahi tanda tidak tahu. Ia hanya membenarkan bahwa Toledo, kota yang akan segera kita masuki sore ini adalah bekas kerajaan Roderic. Saya tersenyum kecut, pengalaman di Granada dan Cordoba kemarin menyadarkan saya, bahwa segala hal yang berbau sejarah Islam coba untuk dikaburkan di sini. Apalagi ini adalah sejarah kemenangan Islam.

--------------------------------------------------

Sekarang ini Toledo hanyalah kota tua yang tak terlalu “penting”, setelah ibukota Spanyol dipindahkan ke Madrid. Namun kota kecil ini ibarat Yogyakarta, lekat dengan jejak sejarah dan sangat indah. Bus terus melaju membelah bukit, jalanan berkelok-kelok naik turun, Carmen menjelaskan bangunan-bangunan yang kita lewati, hingga sampailah di depan benteng kota tua. Ia lalu meminta kita semua turun dari bus.

“Subhanallah. Salju,” saya terpekik kecil. Lambang menoleh lalu melihat ke arah rumput yang ada di depan. Terlihat kristal es yang membeku di atas tanah dan bebatuan. Ini adalah kali pertama saya melihat salju sungguhan. Ada desiran aneh tiba-tiba muncul di hati. Sejak lama saya bercita-cita ingin melihat salju pertama kali di Lebanon, namun ternyata Allah pilihkan Toledo. Tapi Biidznillah, suatu hari nanti saya akan melihat salju di Lebanon. Lalu terdengar komentar, “Wah, sudah ada salju.” “Ayo foto dulu di atas salju.” Dingin semakin menusuk tulang.

Carmen mengajak rombongan memasuki gerbang kota tua. Di depan ada escalator yang sangat tinggi, rasanya setinggi bangunan tiga atau empat lantai. Pastilah dulunya ini perjalanan mendaki bukit, tapi sekarang sudah dipermudah dengan escalator. “Ini nanti kalau kita turunnya lewat sini juga, lalu escalatornya pas mati, keren banget nih,” celetuk saya pada Lambang.

Di ujung escalator terlihat plaza yang luas. Banyak orang berkumpul dan menikmati pemandangan di bawah. Jalanan dilapisi bebatuan rapi, sekilas seperti jalanan di film Les Misérables. Carmen terus berjalan cepat sambil menjelaskan ini-itu. Saya berusaha menjajari langkahnya. Ini benar-benar seperti film Les Misérables, jalanan gelap, dingin, dengan bangunan tua di kiri-kanan. Suasana bertambah “seram” karena rata-rata bentuk bangunan di kota tua ini berarsitektur Gothic, laiknya di film-film horor.

“Di Toledo ini dulunya banyak sekali gereja, namun kini sudah banyak yang dialihfungsikan karena kosong, tidak ada yang menggunakan,” tuturnya. Ini adalah fenomena yang jamak di Eropa, rumah ibadah itu ditinggal umatnya dan menyisakan bangunan yang mangkrak, hingga akhirnya harus dialihfungsikan. Tiba-tiba tergelitik tanya, “Carmen, tadi kamu bercerita kalau di kota ini dulu umat Islam, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan dengan damai? Benar, kan? Lalu mengapa Issabel dan Ferdinand memaksa mereka untuk mengubah keyakinannya, bahkan dibunuh atau diusir dari kota ini kalau tetap memilih menjadi muslim atau yahudi?” Hening sesaat. “This young women have a good question,” katanya meminta perhatian rombongan. Saya merasa tidak enak karena semua melihat ke arah kami. “Kenapa, sih, dari kemarin mempermasalahkan hal ini terus?” Mungkin begitu batin mereka.

“It’s all about politic,” lanjut Carmen. Menurutnya, sebagai penguasa, Issabel dan Ferdinand akan mendapat penghormatan lebih ketika bisa menyatukan semua rakyatnya dalam ideologi dan keyakinan yang sama. Saya masih mau protes, tapi mengapa harus dengan cara genosida? Tapi pertanyaan itu urung terucap. Saya sudah bisa menebak arah jawabannya, dan rasanya itu hanya akan menambah kepedihan di hati. Saya coba tersenyum dan mengangguk pada Carmen sebagai respons atas penjelasannya.

Rombongan terus berjalan dan sampailah di deretan toko-toko yang menjual souvenir. Suasananya mungkin sengaja dibuat seperti abad pertengahan. Carmen lalu menarik tangan saya untuk melihat sebuah etalase toko. “Lihat, boneka-boneka itu menggambarkan bagaimana Bangsa Moor mengolah berbagai macam bahan masakan menjadi makanan lezat,” katanya. Sekilas saya melihat diorama boneka yang ada di etalase toko kue itu. “Tentu saja. Bangsa Moor mengajarkan kalian banyak hal. Tanpa itu rasanya kalian tak mungkin semaju sekarang,” tanggap saya yang dibalas dengan senyum kecut Carmen.

Dari toko roti, Carmen menunjuk toko souvenir yang memajang pedang dalam berbagai ukuran. Dari yang sangat kecil yang umumnya digunakan sebagai tusukan buah, hingga yang panjangnya lebih dari satu meter. “Apakah itu benar-benar tajam?” tanya saya penasaran. “Ha ha ha, saya juga tidak tahu,” jawabnya dengan kerlingan lucu. Pada zaman dulu, Toledo juga dikenal sebagai kota penghasil pedang yang berkualitas. Mungkin seperti Cimande di Jawa Barat yang terkenal sebagai penghasil golok.

Rombongan terlihat sudah berpencar. Pemandangan yang sama tiap kali berada di pusat pertokoan. Carmen lalu mendekati saya dan bercerita kalau di Toledo ini dulunya banyak universitas dan menjadi pusat penerjemahan buku-buku dalam berbagai bahasa. Tiba-tiba muncul tanya di hati, seandainya waktu itu kitab-kitab ilmuwan Andalusia tidak diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin, akankah cahaya Islam tetap menerangi Eropa saat ini? Akankah pengetahuan dan kemajuan hanya berada dalam genggaman Islam?

Ah, tentu saja tidak. Para alim itu menghasilkan temuan-temuannya semata untuk membuktikan keagungan Allah. Untuk menunjukkan betapa kerdilnya manusia dibanding keluasan ilmu Allah. Pastilah tidak ada sedikitpun keinginan di benak mereka untuk menyimpan rapat atau memiliki sendiri tanpa mau berbagi dengan yang lain. Mereka akan mengajarkan pada siapa pun yang menginginkan, bukan karena ingin termasyur dan diakui kehebatannya, namun semata mereka mengimani, setelah meninggal, semua amalan anak Adam akan terputus, keculi 3 perkara. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Terbukti, ilmu mereka masih dimanfaatkan manusia hingga berabad kemudian.

Malam semakin gelap. Dingin kian menggigit. Carmen meminta rombongan bergegas mengikutinya karena Juan segera menjemput untuk melanjutkan perjalanan ke Madrid. Di tepi jalan, saat menunggu bus, sebuah pikiran melintas. Jangan-jangan benar, lembah di dekat jembatan yang rasanya sudah sangat saya kenal itu adalah Lembah Barbate.


Toledo, 8 Januari 2015

Uttiek Herlambang


Sabtu, 24 Oktober 2015

Menangis di Mezquita


Telah kusaksikan Cordoba untukmu, Pi,
Di sana banyak luka sejarah, rasa pedih yang tak tersembuhkan, bahkan setelah ribuan tahun lamanya.
Islam meninggalkan jejak yg tak terhapuskan: Ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan.
Tapi pendulum sejarah tak bisa diubah,
Mihrab itu kini berada di balik jeruji besi,
Suara adzan tergantikan dentang lonceng,
Aku menangis di Mezquita...

------------------------------------

“Nanti kita keluar melewati patung Ibn Rusyd,” kata Pak Rustam membuka percakapan saat sarapan.
“Lokasinya dekat dengan hotel kita, Pak?” tanya saya. Semalam saya sempat melihat peta di buku Hanum 99 Cahaya di langit Eropa, sepertinya lokasi patung Ibn Rusyd itu tidak dekat dengan patung Maimonides yang ada di sekitar nH Collection Hotel, tempat kita menginap.
“Iya, tadi saya sudah melihatnya,” jelas Pak Rustam.

Pagi ini saya sarapan berlauk rendang Uda Gembul yang dibawa dari Jakarta. Tiap bepergian ke luar negeri, saya selalu membawa “amunisi” cukup. Sulitnya mencari makanan halal, atau setidaknya untuk menghilangkan keraguan, saya memilih membawa rendang atau gudeg kalengan Bu Tjitro. Dalam satu kemasan rendang Uda Gembul ada 2 potong daging yang empuk dengan tingkat kepedasan bumbu dari Level 0-10. Saya memilih Level 5. Pedasnya cukup nendang untuk sarapan di tengah udara dingin seperti pagi ini. Gudeg kalengan Bu Tjitro pun tak kalah nikmat. Dalam satu kaleng yang mudah dibuka, terdapat gudeg, sambel goreng krecek, sepotong kecil ayam dan telur bacem utuh. Saya selalu memilih rasa pedas, untuk mengurangi dominasi rasa manis gudeg Yogya. Saya sangat rewel soal makanan, dalam artian halal-haramnya. Di negara-negara yang mayoritas penduduknya non Muslim, kalau tidak menyantap bekal yang dibawa dari Jakarta, saya hanya mau makan seafood.

Selesai breakfast, rombongan beriringan keluar hotel. Pagi masih agak berkabut, di musim dingin seperti ini, tiap kali membuka mulut, akan disertai asap yang keluar. Jadilah kita berjalan sambil berlari kecil untuk menghalau dingin. Benar saja, di ujung tembok kota tua, terlihat patung pria berjubah dan memakai surban. “Itu ya, pak?“ tanya saya, yang dijawab anggukan kepala oleh Pak Rustam.

Duh, saya senang sekali. Seperti anak kecil yang mendapat hadiah Lego untuk pertama kali. Sewaktu menonton film 99 Cahaya, saya begitu terkesan dengan adegan Hanum dan rangga yang bergandengan tangan di depan patung ini. Bukan karena melihat patungnya, namun berada di tanah yang pernah dipijak oleh Ibn Rusyd, menyaksikan bukti sejarah betapa dunia berhutang pada Islam, membuat hati dipenuhi rasa syukur. Alhamdulillah, Engkau izinkan untuk melihat bumi-Mu yang begitu luas.

---------------------------------------

Dari patung ibn Rusyd, rombongan terus melangkah hingga terlihat jembatan Cordoba yang membelah sungai Al-Wadi al-Kabir, yang dilafalkan orang Spanyol sebagai Guadalquivir. Jembatan yang dikenal dengan nama Al-Jisr dan Qantharah Ad-Dahr ini terlihat sangat kokoh. Panjangnya sekitar 400 meter, lebarnya 40 meter dan tingginya 30 meter. Dalam bukunya Kharidah Al-Aja’ib wa faridah Al-Ghara’ib, Ibn Al-Wardi memberikan kesaksian, jembatan ini tak terbayangkan oleh manusia sebelumnya, dari segi konstruksi, kemegahan dan kecanggihannya.

Jembatan itu dibangun pada masa As Samh bin Malijk Al-Khaulani, yang sezaman dengan Umar bin Abdul Aziz. Artinya jembatan itu dibangun ketika manusia belum mengenal sarana transportasi, kecuali keledai, unta, kuda, dan bighal. Jembatan itu menjadi bukti tingginya peradaban Islam di Andalusia, kekokohannya tak tertandingi. Itu terbukti setelah lebih dari 1.400 tahun, saya masih bisa menyaksikannya pagi ini.

Dari jembatan Al-Jisr, rombongan berjalan menyusuri tembok tebal yang tinggi menjulang. Rupanya tadi dari hotel kita harus keluar dulu dari tembok kota tua, dan masuk lagi dari pintu yang berbeda. Tujuan utama pagi ini adalah Masjid Agung Cordoba atau yang dikenal dengan nama Mezquita, yang dalam bahasa Spanyol berarti masjid. Meski kini difungsikan sebagai katedral, namun nama Mezquita masih disematkan padanya. Sebelum memasuki gerbang Mezquita, rombongan berkumpul dulu di toko souvenir, barangkali ada yang mau ke toilet atau membeli secangkir kopi.

Di toko souvenir ini untuk kesekian kalinya saya menyaksikan jamon, atau paha babi asap yang dijual dengan cara digantung. Jamon ini ada di mana-mana, di restoran, toko souvenir, bahkan kedai kecil di pom bensin. Ada sejarah panjang mengiringi kehadiran jamon di Andalusia. Awalnya, saat Cordoba jatuh ke tangan Issabel dan Ferdinand, hanya ada 3 pilihan bagi umat Islam, dibunuh, dimurtadkan, atau diusir ke Afrika Utara (Maroko, Tunisia, Aljazair, dan sekitarnya). Sejak saat itu Issabel dan Ferdinand membuat peraturan, setiap penduduk harus menggantung paha babi di depan rumahnya, sebagai bukti bahwa tidak ada umat Islam yang tersisa. Tradisi menggantung paha babi itu terus berlanjut hingga kini. Tak hanya paha babi sungguhan, aneka souvenir seperti gantungan kunci, magnet kulkas, bahkan cokelat, banyak yang ditawarkan dalam bentuk seperti jamon.

Dari toko souvenir, kita berjalan memasuki gerbang Mezquita. Kebetulan di selasar sedang ada pameran foto, jadilah sejenak saya melihat foto-foto yang dipamerkan. Masjid ini memang indah sekali. Di halaman depan terdapat sebuah taman yang sangat luas, dengan pohon-pohon jeruk dan delima yang tumbuh rindang. Di tengah taman, sebuah fountain berdiri kokoh. Seperti bangunan Islam pada umumnya, selalu ada fountain yang juga difungsikan sebagai tempat wudhu.

Masjid Agung Cordoba dibangun oleh Abdurrahman Ad-Dakhil tahun 786 M, tak lama setelah ia tiba di Andalusia. Pembangunan kemudian diteruskan oleh putranya Hisyam dan para pemimpin setelahnya. Setiap pemimpin berusaha meninggalkan “jejaknya” di masjid ini. Tak ayal masjid ini terus berkembang, bertambah luas, dan semakin indah. Dalam kitab Ar-raudh Al-Mi’thar, disebutkan bahwa Masjid Agung Cordoba merupakan masjid terbesar, tercanggih, dengan ornamen bercita rasa seni tinggi yang nyaris tanpa cela.

Panjang masjid ini 180 depa, terdapat 14 lengkungan yang disangga 1000 pilar. Penerangannya terdiri dari  13 lentera, di mana setiap lentera memuat 1000 lampu. Seluruh kayunya berasal dari pohon cemara Thurthusy. Atapnya dipenuhi seni ukir yang masing-masing tidak sama, susunannya dibuat sebaik mungkin dengan warna-warna merah, putih, hijau, biru dan hitam. Keindahan ini membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa takjub sekaligus bahagia.

Keindahan mihrab masjid ini tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tekniknya mencengangkan siapa saja, bahkan hingga saat ini. Terdapat mozaik berlapis emas dan kristal. Di dalam mihrab terdapat empat tiang, dua berwarna hijau, dua lagi berwarna violet. Di bagian ujung dipasang marmer, emas dan lazuardi yang tak ternilai harganya. Keindahan mimbar yang ada di sisi mihrab tak kalah menakjubkan, terbuat dari kayu ebony dan kayu wewangian lainnya. Tujuh orang arsitek secara khusus mengerjakan mimbar itu selama 7 tahun.

Terdapat sebuat ruangan kecil tempat menyimpan bejana yang berisi minyak yang terbuat dari emas, perak dan besi. Semuanya akan dinyalakan pada malam ke-27 Ramadhan. Di tempat ini juga tersimpan mushaf Ustman bin Affan yang ditulis dengan tangannya sendiri. Bekas tetesan darah Ustman terlihat di mushaf itu. Mushaf itu berhias sampul dengan ornamen yang kerumitannya bak dikerjakan menggunakan komputer. Setiap pagi, mushaf ini dikeluarkan dari ruangan dan dibaca oleh sang imam.

Lengkung-lengkung dalam masjid ini mengingatkan pada lengkung masjid Nabawi saat ini. Namun hati menjadi ciut saat melangkah ke dalamnya, ruangan dalam masjid ini kini terlihat sangat temaram, tak ada lagi benderang lentera. Di setiap sudut kini berhias patung dengan altar besar di salah satu sisinya. Penjelasan Christopher, local guide kita pagi itu membuat kegelisahan saya kian menjadi. Mana pahatan ayat-ayat Allah yang pernah memenuhi bangunan ini? Mengapa sekarang yang terlihat adalah gambar-gambar dan patung? “Is that the Mihrab?” tanya saya begitu melihat sebuah bangunan yang sangat identik dengan Islam. “Yes, Mam,” jawabnya.

Sudut mata saya hangat, hati saya terluka, mihrab itu kini berada di balik terali besi. Sebuah penghalang yang sengaja dipasang supaya orang tidak bisa shalat lagi di area itu. Bukannya tanpa insiden, beberapa kali orang-orang Islam yang datang mencoba shalat di tempat itu, namun ditangkap oleh petugas keamanan dengan alasan membuat onar. Mihrab itu masih menyisakan keindahannya. “Di mana kaligrafi yang terpasang di sekitar mihrab itu?” gugat saya pada Christopher, “Mereka melepaskannya ya?” Suasana hati saya sungguh tidak enak siang itu. Penjelasan Christopher terdengar seperti angin lalu.

Ya Rabb, apa yang terjadi di bumi Andalusia waktu itu? Bagaimana kegemilangan dan sumbangsih mereka pada dunia kini tercampakkan seperti ini? Mezquita adalah masjid. Bangunan ini secara keseluruhan masih terlihat sebagai masjid. Mihrab itu adalah buktinya, kaligrafi kalimat syahadat masih terbaca di atasnya. Saya tergugu sambil memegang teralis mihrab. Kalau sebelumnya saya hanya membaca di buku Hanum 99 Cahaya di Eropa, bagaimana ia bersitegang dengan petugas keamanan saat mencoba sujud di depan mihrab, kini saya merasakan sakit yang sama. Harapan yang sama saya panjatnya, semoga ada pengusaha Muslim yang sangat kaya, yang bisa membeli seluruh bangunan ini dari negeri yang hampir bangkrut karena resesi ini, lalu memfungsikannya kembali menjadi masjid. Amiinn…

Christopher meminta rombongan segera keluar dari Mezquita karena perjalanan masih panjang. Saya melangkah dengan gontai. Keluar dari gerbang, terdengar lonceng yang berdentang dari atas menara. Hati saya bertambah gundah, titik air mata tak dapat saya bendung. Saya mendongak memandang minaret itu. Dulunya bangunan setinggi 100 hasta itu adalah tempat muadzin mengumandangkan adzan. Teknik pembangunan minaret itu sangat mengherankan. Terdapat dua tangga menuju ke atas, dari sisi barat dan timur. Jika ada dua orang yang menaikinya, maka keduanya tidak akan pernah bertemu, sebelum sampai di bagian paling atas. Ukiran indah di minaret itu memenuhi seluruh bangunan, dari atas hingga puncaknya. Kini tak terdengar lagi panggilan muadzin dari atas minaret itu.

Keluar dari kompleks Mezquita saya tidak lagi bisa menikmati pemandangan Calleja de las Flores atau  Flower Street, di mana terdapat deretan rumah-rumah dengan hiasan bunga-bunga cantik, seperti gambar yang sering muncul di postcard. Emosi saya telah terkuras habis. Saya membayangkan majelis-majelis ilmu dan orang-orang yang menderas ayat-ayat Allah yang dulunya selalu memenuhi Masjid Cordoba. Semoga Allah izinkan sejarah kembali berulang.

... Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Ali Imran: 26].

Saya menangis di Mezquita…

Mezquita, 7 Januari 2015

Uttiek Herlambang



Cordoba Kota Sejuta Cahaya


Dari rahim Cordoba lahir para pemikir yang belum tertandingi hingga kini. Sebutlah Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (930-1013) atau di Barat dikenal sebagai Abulcasis. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu, ia sudah mampu menghentikan perdarahan saat melakukan operasi pembedahan tengkorak manusia! Selanjutnya, Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd Al-Qurthubi Al-Andalusi (1126-1198) atau Ibn Rusyd yang di Barat dikenal sebagai Aviroes. Kalau di abad modern ini nama Albert Einstein sering dipadankan dengan kata jenius, sejatinya, apa yang dihasilkan belum ada apa-apanya dibanding torehan sejarah Ibn Rusyd. Tanpa buah pikirnya, bisa jadi Eropa sekarang masih berada dalam belenggu kebodohan dan kegelapan.

-------------------------------------------------------

Juan terdengar menggerutu. Tapi karena diucapkan dalam bahasa Spanyol, jadi tidak ada yang paham. Hari itu sepertinya kita agak kesorean memasuki kota Cordoba. Di sepanjang jalan orang berduyun-duyun menuju satu tempat. Bus berputar-putar beberapa kali, Juan pun sempat menghentikan bus dan bertanya sesuatu pada polisi.
“Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju hotel,” katanya dengan bahasa Inggris terpatah-patah  pada Pak Rustam.
“Ada apa?” Pak Rustam balik bertanya.
Saya dan Lambang yang kebetulan duduk di bangku terdepan dapat mendengar percakapan itu.
 “Gimana, Pak?” tanya Lambang
“Ini parade akan dimulai. Semua jalan menuju hotel sudah ditutup. Saya akan turunkan rombongan di seberang taman, kalian harus berjalan melintasi taman. Tidak jauh, kok,” jawab Juan.

Dan benar saja, rombongan diturunkan di pinggir sebuah taman, lengkap dengan koper-koper besar kita. Semua bergegas melintasi taman yang rupanya sangat ramai karena sedang ada semacam pasar malam.
“Ini perayaan apa sih? Kok semua orang tumpah ruah di jalan?” tanya saya.
Seorang bule yang sepertinya kasihan melihat rombongan orang Asia menggeret-geret koper besar memberi tahu, “Kalian harus segera menyeberang jalan itu. Setengah jam lagi parade akan lewat, dan kalian bisa tertahan sampai jam 9 malam.”
Jadilah kita semua mempercepat langkah, bahkan setengah berlari  sambil membawa bawaan masing-masing yang sangat berat. 

Hari ini kita memasuki kota Cordoba bertepatan dengan perayaan Dia de la Toma yang digelar setiap awal Januari. Setelah kembali ke Jakarta, saya baru tahu kalau perayaan Dia de la Toma adalah untuk menandai peristiwa jatuhnya Kota Granada ke tangan Kristen pada 2 Januari 1492. Perayaan itu masih terus diselenggarakan selama 523 tahun. Meski Dewan Islam di Spanyol sudah meminta supaya perayaan itu dihentikan, namun pemerintah Spanyol tidak memenuhinya.

Setelah berhasil menyeberang jalan dan menyibak kerumunan, terlihat tembok tinggi menyerupai benteng kota tua. Di depannya ada taman yang cukup luas dengan plaza penuh orang yang sedang duduk-duduk menikmati sore. “Posisi hotel kita di dalam tembok itu,” jelas Pak Rustam sambil terus melihat GPS. Jalanan di balik tembok tinggi itu menyerupai labirin, tak seberapa lebar, berkelok-kelok dan beralas conblock. Ada getar aneh yang berdenyut di hati menyaksikan senja yang mulai lindap di dalam kota tua itu.

Di kiri-kanan terdapat rumah-rumah kuno yang sudah dialihfungsikan sebagai toko souvenir, kafe, spa, hingga hotel. Rumah-rumah itu sangat cantik, berpagar besi tinggi, lengkap dengan taman bergaya abad pertengahan di depannya. Saya bagai terlempar ke masa silam. Tiba-tiba langkah saya terhenti menyaksikan sebuah patung besar, sesosok pria mengenakan gamis khas Arab lengkap dengan surban, duduk sambil memegang buku yang diletakkan di pangkuannya. Saya baca keterangan di bawahnya, tertulis Moses Maimonides 1135-1204. “Maimonides itu bukannya Ibn Maymon, teolog Yahudi yang belajar di Universitas Al Qarawiyyin, di Kota Fes, Maroko yang sempat saya kunjungi sebelumnya?” batin saya. Sesampai di hotel saya segera browsing, dan ternyata benar. Pada masa itu segala hal tentang Islam menjadi tren dan lambang kemajuan, tak heran kalau cara berpakaian pun ditiru oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi.

nH Collection Hotel tempat saya menginap letaknya tak terlalu jauh dari patung itu. Serupa dengan bangunan di sekitarnya, hotel ini juga menempati rumah kuno yang sangat besar. Tak hanya taman cantik di bagian depan, di tengah bangunan terdapat patio, lengkap dengan kursi taman dan bunga aneka warna. Saya membayangkan, di patio seperti inilah dulu para ilmuwan Cordoba berdiskusi dan menghasilkan karya cemerlang yang mereka sumbangkan pada dunia.

Dalam keremangan senja, dari jendela kamar, saya bisa menyaksikan pemandangan di dalam tembok kota tua. Cordoba adalah sebuah nama, namun bagi bangsa Eropa, Cordoba bagaikan alunan nada-nada indah. Dari sinilah kebangkitan peradaban bermula. Kota yang terletak di tepi sungai Al-Wadi al-Kabir, yang dilafalkan orang Spanyol sebagai Guadalquivir ini, mempunyai 70 perpustakaan, 50 rumah sakit, 3.837 masjid, 900 pemandian umum, 80.455 pertokoan, 213.077 rumah rakyat, dan sekolah yang tak terhitung jumlahnya. Dengan jumlah penduduk yang hanya 500.000 jiwa, kesejahteraan mereka sangat berlimpah, pendidikan gratis, semua dapat mengakses fasilitas kesehatan yang sangat maju di zamannya. Tak ada satu pun penduduk Cordoba yang buta aksara, semua bisa membaca dan menulis, bandingkan dengan bangsa Eropa yang kala itu hanya 1-2 orang bangsawan atau tokoh agamanya yang bisa membaca.

Ibn Al-Wardi dalam kitabnya Kharidah Al-Aja’ib menjelaskan, “Keistimewaan kota ini lebih hebat dari yang pernah dijelaskan oleh siapapun. Penduduknya adalah tokoh-tokoh terpandang di dunia, orang-orang terdepan dalam ilmu, pengetahuan, dan cita-cita tertinggi. Di sana berkumpul para ulama, pemimpin yang adil, dan pasukan yang dibanggakan.”

Dari rahim Cordoba lahir para pemikir yang belum tertandingi hingga kini. Sebutlah Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (930-1013) atau di Barat dikenal sebagai Abulcasis. Kitab Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif yang ditulisnya sebanyak 30 jilid, berisi kumpulan praktik kedokteran menjadi rujukan utama di sekolah-sekolah kedokteran hingga abad ke-17. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu, ia sudah mampu menghentikan perdarahan saat melakukan operasi pembedahan tengkorak manusia!

Nama lain yang mengubah sejarah dunia adalah Abu Abdullah Muhammad al-Idrisi al-Qurtubi al-Hasani al-Sabti (1100-1165) atau yang sering disebut Al-Idrisi. Dari tangannya lah tercipta peta dunia yang rumit dan paling akurat. Selama berabad-abad petanya terus disalin tanpa ada perubahan. Karyanya ini menjadi rujukan Christopher Columbus dan Vasco Da Gama sebelum melakukan pelayarannya, sekaligus menjadi bukti, pelaut muslim Andalusia telah mencapai benua Amerika, jauh sebelum Columbus. Astronomi dan geografi adalah pengetahuan yang lekat dengan umat Islam. Ilmu astronomi dibutuhkan untuk menentukan arah Kiblat dari negeri-negeri yang jauh. Sedangkan pembuatan peta menjadi kebutuhan untuk menunjukkan arah ke Baitullah.

Di abad modern ini nama Albert Einstein sering dipadankan dengan kata jenius. Padahal apa yang dihasilkannya belum ada apa-apanya dibanding torehan sejarah Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd Al-Qurthubi Al-Andalusi (1126-1198) atau Ibn Rusyd yang di Barat dikenal sebagai Aviroes. Tanpa buah pikirnya, bisa jadi Eropa sekarang masih berada dalam belenggu kebodohan dan kegelapan. “Ibn Rusyd adalah bapak renaissance sejati,” kata Hanum di bukunya 99 Cahaya di Langit Eropa. Kebalikan dari ilmuwan modern yang semakin tinggi ilmunya semakin meniadakan keberadaan Tuhan, Ibn Rusyd bisa menjelaskan dengan sangat jernih, bagaimana pengetahuan mengantarkan manusia tunduk pada kekuasaan Allah. Betapa kerdil manusia dibanding keluasaan ilmu Allah. Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, bekas rumah Ibn Rusyd hingga saat ini masih digunakan sebagai pusat kajian Islam di Spanyol.

--------------------------------------

“Mau makan malam sekarang?” tanya Lambang menyadarkan saya dari lamunan.
Saya memberi isyarat dengan anggukan. Sebelum menutup tirai jendela, saya seperti menyaksikan keriuhan Cordoba. Para pencari ilmu hilir mudik membawa kitab-kitab. Para alim duduk di kelilingi murid-muridnya. Cahaya pengetahuan berpendar terang dari bumi Cordoba, kota sejuta cahaya.

Rabbi zidni ilman, warzuqni fahman,
Ya Allah tambahkan kami ilmu dan rezekikan kami pemahaman darinya.


Cordoba, 6 Januari 2015

Uttiek Herlambang