Senin, 09 November 2020

 PRESIDEN AMERIKA, DEKLARASI KEMERDEKAAN DAN ALQUR’AN



"Sudah waktunya untuk menyingkirkan retorika kasar, menurunkan suhu, bertemu lagi, saling mendengarkan, dan untuk membuat kemajuan, kita harus berhenti memperlakukan lawan kita sebagai musuh kita. Mereka bukan musuh kita. Mereka orang Amerika," janji Joe Biden pada pidato pertamanya usai memenangi pilpres AS di Wilmington, Delaware.
Seperti tulisan sebelumnya, hasil pemilu Amerika ditunggu dunia. Karena siapapun yang terpilih akan menentukan segala rupa. Apakah terpilihnya Biden akan membawa kebaikan bagi dunia Islam dan umat Islam? Mari kita saksikan bersama.
Namun yang pasti, terjungkalnya Donald Trump melegakan. Apapun, ia punya dosa yang tak termaafkan dengan mengakui Yarusahlaim sebagai ibukota Israel dan menginisiasi pemindahan Kedubes Amerika dari Tel Aviv ke kota di mana kiblat pertama umat Islam berada. Langkah ini lalu diikuti banyak negara.
Selain itu, ia mensponsori perjanjian yang disebut sebagai “Perjanjian Abad Ini”. Demi pundi-pundi uang yang dijanjikan, akhirnya beberapa negara Islam melakukan normalisasi hubungan dengan zionis.
Trump telah berlalu. Namun semua kedzalimannya atas setiap jengkal tanah Palestine akan kita tuntut di Yaumil Hisab kelak.
Dalam sejarah modern, Trump sebenarnya bukanlah presiden Amerika yang paling Islamphobia. Seperti diungkap Presiden Erdogan dalam beberapa kesempatan, Presiden Amerika yang paling menyimpan kebencian terhadap Islam adalah keluarga Bush.
Bapaknya, George H. W. Bush alias Bush senior adalah presiden Amerika yang mengobarkan Perang Teluk dengan mengirim pasukan tempur ke Irak medio 1990-an.
Setali tiga uang dengan bapaknya, George Walker Bush alias Bush junior meluluhlantakkan negeri-negeri Muslim, mulai dari Afghanistan hingga Irak dengan dalih memerangi terorisme setelah peristiwa 9/11.
Apakah presiden Amerika lainnya “ramah” pada Islam dan umat Islam? Ya tidak juga. Namun setidaknya, di abad modern ini mereka tidak mengirimkan pasukan perang untuk menghancurkan negeri Islam.
Entah membaca sejarah atau tidak, padahal deklarasi berdirinya negeri itu ditulis dengan semangat Alqur’an.
Kok bisa?
Sejarah mencatat, salah satu founding father Amerika, Presiden Thomas Jefferson ternyata sangat tertarik dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Alqur’an.

Thomas Jefferson

Kesetaraan, keadilan, toleransi, konsep itu ia dapatkan dari Alqur’an yang dimilikinya 11 tahun sebelum ia menuliskan Deklarasi Kemerdekaan Amerika.
Pada saat kebanyakan orang Amerika takut terhadap Islam, Jefferson justru melihat Islam sebagai masa depan bangsanya. Ia mempelajari kandungan Alqur’an dan menuliskannya sebagai deklarasi negara.
Bukti-bukti sejarah itu diungkap Denise A. Spellberg, seorang guru besar sejarah dan kajian Arab di University of Texas at Austin, Amerika Serikat, dalam penelitiannya yang kemudian dibukukan dengan judul “Thomas Jefferson’s Qur’an: Islam and the Founders (2013)”.
Isi deklarasi itu sampai sekarang masih terpahat di dinding pualam Jefferson memorial. Di antaranya “…no man shall be compelled or shall otherwise suffer on account of his religious opinions or belief.”
Konon, kalimat indah itu didapat dari makna ayat “Laa Ikraaha fid Diin – tidak ada paksaan dalam beragama” [QS Al-Baqarah: 256]
Lalu ada juga kalimat, “That all men are created equal, that they are endowed by their creator with certain inalienable rights, among these are life, liberty, and the persuit of happiness.”
Yang menegaskan tentang kesetaraan manusia. Sesuatu yang telah tertulis dalam Alqur’an empat belas abad silam.
Sekalipun hingga hari ini perbedaan warna kulit tetap menjadi isu krusial di Amerika. Tidak seperti yang diimpikan Bapak Bangsanya.
Alqur’an milik Jefferson itu hingga kini masih disimpan di Perpustakaan Kongres. Kitab Suci tersebut seakan menjadi simbol dari hubungan yang kompleks antara dirinya, Amerika dengan Islam.
Bahkan kalau mau ditelisik lebih jauh lagi, berabad sebelum itu, para pelaut yang membawa kapal Columbus sampai ke benua yang sekarang bernama Amerika adalah para pelaut Muslim dari Spanyol.
Mereka yang dikenal dengan sebutan bangsa Moors atau Moriscos itu lalu menikah dengan penduduk lokal atau suku Indian dan beranak-pinak.
Keturunan mereka ini disebut Melungeon. Salah satu Melungeon yang juga menjadi founding fathers Amerika adalah Presiden Abraham Lincoln.

Abraham Lincoln

Tanpa pelaut bangsa Moors, entah kesasar sampai mana lagi kapal Columbus yang sedianya akan berlayar ke India mencari sumber rempah itu. Dan bisa jadi hari ini tak ada nama Amerika di peta bumi.

Jakarta, 9/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Jumat, 06 November 2020

 MUSLIMAH PENOREH SEJARAH



“Saya bangga menjadi seorang Muslim dan darah Palestine yang mengalir dalam diri saya,” ucapan itu disampaikan Imam Jodeh.
Seorang perempuan Muslim berdarah Palestine yang terpilih menjadi anggota legislatif dari negara bagian Colorado dalam pemilihan umum yang baru digelar Amerika Serikat.
Hasil pemilu Amerika ditunggu dunia. Karena siapapun yang terpilih akan menentukan segala rupa. Termasuk sikap terhadap Islam dan Palestine.
Jodeh lahir di Colorado dari dua orang tua Palestine yang berimigrasi ke Amerika pada 1974. Ia akan menjadi legislator Muslim pertama dalam sejarah negara bagian.
Di sebuah wawancara dengan Arab News (31/5) ia menceritakan pengalaman masa kecilnya menjadi Muslim di Amerika.
Ia mengingat, di bulan Ramadhan ia menulis surat yang dilengkapi dengan kop surat masjid untuk guru-gurunya. Isi suratnya, "Selama 30 hari ke depan, Muslim berpuasa. Jadi jika murid Anda kelihatan kelelahan, maka Anda tahu alasannya," kenang Jodeh.
Setelah peristiwa 9/11, ia memutuskan kuliah jurusan ilmu politik. “Saya ingin membela agama saya," tegasnya.
Sebelum terjun ke dunia politik praktis, Jodeh aktif membela hak komunitas Muslim dan isu Timur Tengah. Ia juga mengajar tema konflik Palestina-Israel di Universitas Denver.
Bukan hanya Imam Jodeh Muslimah yang berhasil duduk sebagai anggota dewan. Tercatat nama Rashida Tlaib dan Ilhan Omar sebagai Muslimah yang berhasil mempertahankan jabatannya di House of Representative.
Tentu tidak mudah bagi mereka mendapatkan posisi itu. Butuh kemampuan diplomasi yang luar biasa untuk meyakinkan publik Amerika memilih seorang Muslimah. Dan mereka berhasil melakukannya.
Kemampuan diplomasi ulung juga dimiliki pahlawan perempuan Indonesia. Ia adalah Laksamana Keumalahayati. Laksamana perempuan pertama di dunia.

Laksamana Keumalahayati

Berkat kepiawaiannya ia berhasil menekan Laksamana Jacob van Neck dari Belanda untuk membayar ganti rugi kapal-kapal Aceh yang dibajak oleh Van Caerden sebesar 50 ribu Gulden.
Namun, bukan itu prestasi terhebatnya. Suatu hari pada Juni 1599, kapal Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman memasuki pelabuhan Aceh.
Pertempuran sengit tak terelakan. Laksamana Keumalahayati dan pasukan Inong Balee berhasil merangsek masuk ke atas geladak kapal de Houtman.
Dalam duel satu lawan satu di atas kapal Van Leeuw, Laksamana Keumalahayati berhasil menikam de Houtman dengan rencongnya hingga tewas.
Saya selalu membayangkan alangkah heroiknya laksamana perempuan hasil didikan sekolah militer Utsmani ini. Sendirian melawan laki-laki yang secara fisik pasti lebih besar dan kuat, namun ia berhasil memenangkan pertarungan itu.
Allahu akbar! Perempuan Aceh memang hebat.
Bicara tentang kehebatan perempuan Aceh tentu tak bisa lepas dari sosok Cut Nyak Dien. Belanda dibuat babak belur oleh pasukannya di tanah rencong.

Penangkapan Cut Nyak Dien

Hingga ia berhasil ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Selama di pengasingan, ia ditempatkan di sebuah rumah milik KH Ilyas, tak jauh dari Masjid Agung Sumedang.
Di rumah itu Cut Nyak Dien menghabiskan waktunya dengan mengajar membaca Alqur’an dan bahasa Arab. Penduduk Sumedang menyapanya dengan hormat sebagai Ibu Prabu atau Ibu Suci.
Hari ini, 6 November 1908, Cut Nyak Din menghadap RabbNya. Seorang pejuang tetaplah pejuang. Kalau di tanah kelahirannya ia bertaruh nyawa, di tanah pengasingan ia berjuang menyebarkan cahaya hidayah.
Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afihi wa’fu anha wakrim nuzulaha.
Jumuah Mubarak, everyone! Jangan lupa baca QS Al Kahfi.

Jakarta, 6/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Kamis, 05 November 2020

 #JourneytoBaitullah

SEPERTI KERINDUAN PANGERAN DIPONEGORO

PADA TANAH SUCI




Bila tidak ada halangan, InsyaAllah umrah perdana jamaah dari Indonesia akan dilaksanakan pukul 19.30 malam ini. Rerata jamaah yang berangkat pada 1 November adalah para pemilik atau petugas dari travel umrah.
Seperti diketahui, sekalipun telah memasuki kota Makkah sejak 3 hari lalu, namun jamaah tidak bisa langsung melaksanakan umrah.
Semua harus menjalani karantina selama 3 hari di hotel. Juga melakukan swab ulang untuk memastikan jamaah dalam keadaan sehat, negatif COVID.
Usai umrah, jamaah kembali harus menjalani karantina selama 2 hari di hotel. Tidak ada agenda ziarah sebagaimana umrah sebelum pandemi.
“Durasi waktu di Madinah juga lebih pendek, Mb. Hanya 2 hari,” jelas Pak
Rustam Sumarna Yahya
dari
Khalifah Tour
dalam diskusi dengannya siang ini.
Sepertinya tidak mudah memang melaksanakan umrah di tengah pandemi ini. Selain persyaratan usia yang terbatas dan biaya yang lebih mahal, juga protokol kesehatan ketat yang harus dijalankan.
Namun semua itu tak mengurangi kerinduan Muslimin di seluruh penjuru dunia untuk segera menginjakkan kaki lagi di Tanah Suci.
Apalagi hari ini beredar foto-foto Makkah yang tengah diguyur hujan deras. Rasanya rindu sampai ke ujung sendi.
Kalau sebelum pandemi, rasanya “kapan saja” kita bisa berangkat umrah, mungkin kini tidak lagi. Jarak Tanah Suci rasanya tak “sedekat” dulu lagi.
Mungkin, angan-angan seperti itu pula yang menggelayut dalam pikiran Mujahid tanah Jawa, Pangeran Diponegoro, seratus sembilan puluh tahun lalu.

Dalam perjalanan ke pengasingan, Pangeran Diponegoro selalu menanyakan tentang Tanah Suci

“Kapan kita akan berlabuh di Jeddah? Berapa lama perjalanan kapal ini menuju Jeddah?” Tanyanya berulang-ulang pada ajudan militer Van den Bosch yang bernama Knoerle dari atas kapal.
Dalam bukunya “Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855”, sejarawan Inggris Peter Carey menuliskan, Sang Pangeran secara khusus menyatakan diri ingin menunaikan haji ke Tanah Suci.
Bahkan tak sekadar pergi haji, ia ingin tinggal menetap di tanah suci hingga akhir hayatnya. Keinginan itu mulai dinyatakan Pangeran Diponegoro pada masa akhir perang Jawa, yakni di akhir tahun 1829.
Impian itu begitu membuncah seperti yang dicatat komandan tentara De Stuers. Pangeran Diponegoro saat berangkat menuju pengasingan mengenakan pakaian haji.
Ia sempat meminum air zam-zam yang diberikan kepadanya di Magelang oleh seorang haji yang baru kembali dari Tanah Suci.
Setelah pengkhianatan Belanda yang menjebaknya di Magelang, tak ada yang lebih diinginkan selain menghabiskan sisa usianya di rumah Allah.
Selama perjalanan menuju tanah pengasingan, di atas kapal dari Semarang ke Jakarta, Pangeran Diponegoro selalu menuntut hak atas kepastian di mana ia akan diasingkan.
“Orang tahu aku ingin mendapat kepastian mengenai hak-hak legalku, apakah akan dikirim ke Makkah atau ke tempat lain?"
Bahkan saat melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Manado, ia menegaskan pada Knoerle sesampainya di Manado ia akan meminta kapal kepada Gubernur Jendral untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Selama di atas kapal, acap kali Pangeran mengungkapkan keinginannya pergi ke Makkah pada nahkoda kapal dengan meminta ditunjukkan letak pulau-pulau yang dilalui sekaligus jalur kapal menuju Jeddah.
Bahkan, uang tunjangan hidup selama di pengasingan yang ditanggung pihak Kraton Yogya sebagian disisihkan guna keperluan itu. Hingga jumlah simpanannya mencapai f 1.762,50.
Belanda khawatir uang simpanan itu digunakan untuk mengobarkan kembali jihad fi sabilillah, maka tunjangan hidup yang diberikan dipotong.
Dari awalnya f 600 per bulan, menjadi f 300, dan terakhir hanya menjadi f 200 per bulan. Jumlah yang jauh dari cukup untuk membiayai keluarga besarnya di pengasingan.
Di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sang Pangeran memandang pilu ke tengah lautan, sambil membayangkan Tanah Suci yang tak pernah berhasil dijangkaunya hingga menutup mata.
Semoga Allah mudahkan semua jamaah dari Indonesia hari ini untuk melaksanakan rukun wajib umrah dan mendapatkan kemabruran sekembali dari Tanah Suci.

Jakarta, 5/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Rabu, 04 November 2020

 SANG IMAM BERBAJU PENGEMIS



Beberapa hari ini viral foto anak yang berteduh di Jl Braga, Bandung. Sambil jongkok ia membuka mushaf kecilnya, membaca Alqur’an. Karung yang biasa dibawa pemulung ada di pangkuannya.
Banyak yang menitikkan air mata melihat foto itu. Merasa tertampar, karena dengan segala keterbatasannya, anak itu tak melupakan Tuhannya.
Anak itu bernama Akbar. Umurnya 16 tahun. Berasal dari Garut, berjalan kaki menuju Bandung sejauh 50 km untuk mencari kerja.
Karena tak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya ia putuskan menjadi pemulung untuk menyambung hidup. Dari lokasi foto yang viral, ia sudah berjalan jauh lagi dan ditemukan di daerah Lembang.

Foto Akbar yang viral. Membaca Alqur'an menanti hujan reda dii Jl Braga

Pertama kali melihat foto itu tetiba saya membayangkan Imam Baqi bin Makhlad Al-Andalusi. Ia adalah salah satu imam besar dari Andalusia.
Ia melakukan perjalanan yang sangat jauh dari Andalusia menuju Baghdad dengan berjalan kaki. Tujuannya hanya satu, menemui Imam Ahmad bin Hambal untuk berguru padanya.
Kisahnya tercantum dalam kitab “Al-Manhajul Ahmad fi Tarajim Ashhabil Imam Ahmad" karya Al-Ulaimi.
Nahas, sesampai di Baghdad, Imam Ahmad bin Hambal sedang dicekal oleh penguasa dan tidak boleh mengajarkan ilmunya.
Tak putus asa Imam Baqi bin Makhlad mencoba mencari cara untuk menemui Imam Ahmad. Diketuknya pintu rumah Sang Guru. Dijelaskan maksud kedatangannya untuk berguru.
“Engkau tentu telah mendengar, aku tidak diizinkan untuk mengajar lagi di majelis ilmu,” kata Imam Ahmad bin Hambal.
“Betul, aku mendengarnya. Tapi aku datang dari negeri yang sangat jauh,” jawab Imam Baqi bin Makhlad meminta pengertian.
“Apakah engkau datang dari Trobus (Tripoli, Libya)?”
“Bahkan untuk sampai Trobus aku masih harus menyeberangi lautan,” jawabnya untuk menjelaskan betapa jauh negeri Andalusia dari Baghdad.
Setelah berbincang muncullah ide, Imam Baqi bin Makhlad akan datang dengan menyamar sebagai pengemis setiap hari.
Keesokan paginya, Imam Baqi bin Makhlad datang dengan pakaian compang-camping layaknya pengemis. Kertas dan tinta untuk menulis disembunyikannya di balik baju.
“Pahala, semoga Allah merahmati kalian,” teriaknya menirukan ucapan para peminta-minta di Baghdad.
Imam Ahmad bin Hambal lalu membukakan pintu. Satu dua hadis diajarkan padanya. Tidak bisa berlama-lama, karena khawatir orang akan curiga.
Begitu terus setiap hari hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai tiba hari ketika penguasa berganti dan Imam Ahmad bin Hambal diperbolehkan kembali mengajar di majelis ilmu.
Suatu waktu Imam Baqi bin Makhlad jatuh sakit. Imam Ahmad bin Hambal meluangkan waktu untuk menengoknya. Ramailah orang membicarakan, bagaimana “pengemis” ini bisa didatangi seorang Imam besar.
Dalam setiap kesempatan, Imam Ahmad bin Hambal selalu memuji keteguhan hati dan kesabaran muridnya itu dalam mencari ilmu.
“Apakah ini yang kalian sebut mencari ilmu? Seandainya kalian melihat apa yang dilakukan Baqi bin Makhlad, niscaya kalian akan malu menyebut diri sebagai pencari ilmu.”
Sekembalinya ke Andalusia, Imam Baqi bin Makhlad menjadi imam besar dan ulama terpandang yang majelisnya selalu dipadati para pencari ilmu.
Semoga suatu hari kelak, Allah muliakan Akbar sebagaimana Allah muliakan Imam Baqi bin Makhlad. Menjadi orang berilmu tersebab ayat-ayat Alqur’an yang dibacanya di antara rintik hujan dan dinginnya kota Bandung. Jalan Braga akan menjadi saksinya di akhirat kelak. Aamiin YRA.

Jakarta, 4/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Selasa, 03 November 2020

 MERANGKUL SAUDARA BEDA WARNA



“Kalau dibiarkan tumbuh alami saja, Eropa nanti akan menjadi negeri Muslim.” Ungkapan menarik itu disampaikan oleh Syeikh Yusuf Qaradhawi.
Bagaimana bisa?
Penelitian yang dilakukan tiga orang pakar sosiologi, yakni Profesor Sosiologi Dudley Poston dari Texas A&M University, Profesor Kenneth Johnson dari University of New Hampshire, dan Profesor Layton Field dari Mount St. Mary's University, bisa menjawab pertanyaan itu.
Mereka telah menyelesaikan studi komprehensif mengenai kependudukan di Eropa dan Amerika Serikat. Hasilnya, 58 persen dari 1391 negara di Eropa, memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka kelahiran.
Kelompok usia produktif di Eropa sudah “tidak berminat” punya anak, karena dianggap merepotkan. Dan kelak setelah lanjut usia, anak-anak itu akan mengirim orangtuanya ke panti jompo. Jadi punya atau tidak punya anak tidak ada bedanya dalam anggapan mereka.
Selain itu legalitas hubungan sejenis juga makin menurunkan angka natalitas di Eropa.
Sementara itu penelitian lain mengungkapkan, rata-rata perempuan Muslim di Eropa akan melahirkan 2,6 anak. Sedangkan perempuan Eropa rata-rata hanya melahirkan 1,6 anak. Sehingga secara kasat mata pertumbuhan Muslim di Eropa hampir dua kali lipat.
Muslim berada di tanah Eropa adalah sebuah konsekuensi dari gelombang kolonialisme yang dilancarkan Barat pada masa lalu.
Mereka mengirimkan pasukan ke negeri-negeri Muslim untuk merampok kekayaan alamnya, sehingga negeri itu menjadi miskin dan terjadilah gelombang migrasi. Seperti yang terjadi di Afrika Utara akibat penjajahan Prancis.
Menariknya, sekalipun gelombang imigran ini telah beranak pinak beberapa generasi di Eropa, namun masyarakat Eropa tetap menganggapnya sebagai “pekerja tamu”, sedang mereka adalah “tuan rumah”. Selamanya masyarakat Muslim dianggap “yang berbeda” di Eropa.
Walaupun tak sedikit yang telah berjasa bagi negaranya. Seperti prestasi yang ditorehkan pesepakbola Zinedine Zidane.
Bahkan tercatat ada 15 pemain di skuat Prancis pada Piala Dunia 2018 yang lahir dari rahim imigran. Tanpa mereka, bisa jadi Prancis tak akan pernah merasakan kebanggaan menggenggam piala kemenangan.
Penelitian berjudul "Sebuah Ancaman Bagi Barat? Membandingkan Nilai Manusia Imigran Muslim, Kristen, dan Non-Religius Pribumi di Eropa Barat" yang dilakukan Christian S Czymara dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Goethe dan Marcus Eisentraut dari Institut Leibniz untuk Ilmu Sosial, membuktikan hal tersebut.
Bibit rasisme, merasa paling superior, lebih unggul dari ras bangsa lain adalah bagian dari kehidupan masyarakat Eropa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Sesuatu yang berhasil dilebur oleh Islam sejak empat belas abad lalu.
Rasulullah SAW menyontohkan bagaimana mempersaudarakan para pendatang, imigran kalau dalam bahasa sekarang, dari Mekkah dengan penduduk asli Madinah.
Tak sekadar menerima dengan tangan terbuka, bahkan mereka rela membagikan segala yang dimilikinya. Paling masyhur adalah kisah Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.
Teladan yang dicontohkan ini terus terbawa dalam diri Muslim. Para sahabat dan generasi sesudahnya bermigrasi, menyebar dan beranak-pinak ke seluruh penjuru bumi Allah yang luas. Yaman, Syam, anak benua India, bahkan hingga ke Nusantara.
Pada periode selanjutnya, tercatat nama-nama besar dalam sejarah Islam yang juga bermigrasi dari tempat kelahirannya dan diterima dengan tangan terbuka.
Salah satunya Abu Musa Al Khawarizmi, jenius penemu teori algoritma yang masih digunakan hingga hari ini. Ia lahir di Khawarizm, Uzbekistan sekarang, namun menetap dan memberikan sumbangsih yang tak ternilai harganya di pusat kosmopolitan dunia, Baghdad.
Begitupun penduduk Andalusia yang menyambut kedatangan saudara-saudaranya bangsa Barbar/Barber dari Afrika Utara, bangsa Arab dari Syam dan Hijaz, hingga bangsa Kaukasus dan Asia. Terbukti, warna-warni kulit itu membuat Andalusia menjadi negeri tempat segala hal hebat berawal.
Saat terjadi peristiwa reconquista atau pengusiran Muslim Andalusia oleh Ferdinand dan Isabel, penduduk Maroko, Tunisia, Aljazair membuka pintu rumah mereka lebar-lebar. Persis seperti kaum Anshar ketika menyambut sahabat Muhajirin. Semua dirangkul sebagai saudara, diberi tempat tinggal dan perlindungan.
Jadi, Emmanuel Macron dan para pemimpin Eropa tak perlu ketakutan. Kelak ketika secara alami jumlah Muslim di Eropa lebih banyak, mereka tak akan diperlakukan sewenang-wenang seperti yang mereka pertontonkan hari ini. Sejarah telah membuktikan.
N'ai pas peur, Macron! – tidak perlu ketakutan, Macron!

Jakarta, 3/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Senin, 02 November 2020

 PINDAH KEYAKINAN DI NEGERI JAJAHAN



“Saya bahkan memutuskan untuk kembali lagi (ke Mali). Tapi setelah mengajak keluarga dan orang yang saya cintai masuk Islam. Karena saya ingin mereka merasakan manisnya apa yang telah saya rasakan dari penyembahan kepada satu-satunya Tuhan, yang tidak memiliki tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, dan saya ingin mereka mendapat kebaikan dunia ini dan akhirat.
Saya juga mengundang Anda untuk masuk Islam dan mengetuk hati Anda dengan agama besar ini, yang merupakan pesan dari semua nabi dan rasul dari zaman Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW.”
Beredar di media sosial surat yang ditulis Sophie Petronin untuk Presiden Macron. Isinya adalah penjelasan mengapa ia memutuskan bersyahadat.
Salah satunya adalah interaksi yang intens dengan orang-orang Muslim yang ia temui. Kebaikan hati yang ditunjukkan, ketaatan beribadah, hingga ketenangan yang didapat saat mendengar Alqur’an dibacakan, membuat hatinya tergerak untuk mengucap dua kalimat syahadat.
Sengaja ia mengumumkan keislamannya setelah kembali ke Prancis, karena tidak ingin ada yang menganggap keputusan itu diambil di bawah todongan senjata para penculiknya.
Kisah Sophie yang kini menggunakan nama Islam Maryam bukan hal baru. Lebih dari 150 tahun lalu, pahlawan Prancis Napoleon Bonaparte dan pasukannya saat menjajah Mesir pernah mengalami hal serupa.
Tercatat dalam sejarah, salah satu jenderal kepercayaannya, Jenderal Jacques Menou, mendapat hidayah di Negeri Para Kinanah.
Kebaikan hati orang-orang Islam di Mesir, kumandang adzan yang terdengar syahdu, serta aktivitas di bulan Ramadhan, membuatnya jatuh hati.
Setelah bersyahadat ia menggunakan nama Islam Jenderal Abdullah-Jacques Menou dan menikahi seorang wanita Mesir bernama Siti Zoubeida.

Napoleon di Mesir

Bagaimana Napoleon mengizinkan jendral kepercayaannya berpindah keyakinan?
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
Jawaban mengejutkan ini termuat dari kutipan wawancaranya di Majalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
Jangankan sekadar mengizinkan jenderalnya berpindah keyakinan, bahkan dengan jelas Napoleon menyatakan bahwa dirinya seorang Muslim.
Jauh sebelum itu, harian resmi Prancis, Le Moniteur Universel (1789-1868) menyebutkan bahwa Napoleon resmi menjadi Muslim pada 1798.
Bukti lainnya adalah pembangunan Arc de Triomphe di Champs Elysees dengan patung kuda menghadap ke timur yang diperintahkan oleh Napoleon jika ditarik garis lurus Voie Triomphale atau jalur kemenangan Prancis ini mengarah ke arah Ka'bah.
Banyak pihak yang membantah kabar ini. Bagaimana mungkin seorang raja Prancis berpindah keyakinan di negeri jajahan. Yang selalu dijadikan bukti adalah upacara pemakaman Napoleon yang menggunakan tata cara Katholik.
Mana yang benar?
Urusan pemakaman adalah urusan orang yang hidup. Bukan orang yang telah mati. Hingga hari ini keislaman Napoleon masih menjadi kontroversi.
Namun sebagaimana kesaksian Sophie, mulianya akhlak Muslim membuatnya mantap berpindah keyakinan. Bukan tak mungkin hal serupa dirasakan Napoleon dan pasukannya. Jenderal Abdullah-Jacques Menou adalah buktinya.

Jakarta, 2/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang