Senin, 17 Agustus 2015

Jatuh Cinta di Alhambra


Laa haula wa laa quwwata illa billaah; tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah.
Hati berdesir, kalimat dzikir yang saya puja itu tertatah dengan indah di setiap sudut, pilar, dinding pualam yang mengelilingi seluruh istana, serupa dengan bordiran halus pada sehelai kain sutra. Subhanallah, bagaimana tangan-tangan terampil itu mengerjakannya, tujuh ratus tujuh puluh tahun yang lalu?

--------------------------------------------------------

Namanya Rodrigo, usianya awal 50-an, badannya tinggi, mengenakan coat panjang dan topi fedora, penampilannya mengingatkan saya pada Inspector Gadget yang diperankan Matthew Broderick. Ia adalah local guide yang akan menemani perjalanan di istana Alhambra pagi ini. Rodrigo meminta kami untuk berkumpul di samping antrean orang-orang yang membeli tiket masuk. Setelah memperkenalkan diri dengan suaranya yang berat dan bahasa Inggris beraksen Spanyol, Rodrigo membagikan earphone, yang nanti akan kita gunakan untuk mendengarkan penjelasannya.

Lambang terlihat merapatkan jaketnya. Ya, hari memang masih pagi, kita meninggalkan hotel pukul 07.00. Pagi hari di musim dingin seperti ini, udara terasa menusuk, apalagi kita berada di alam terbuka. Saya membaca peta yang terletak di depan pintu masuk, terlihat tulisan La Alhambra. Di kejauhan semburat matahari berwarna jingga, perlahan langit mulai terang.

Rodrigo meminta kami berjalan masuk ke gerbang dan menyusuri taman yang jalannya menanjak. Di kanan-kiri terlihat rimbun pepohonan dan parit kecil yang airnya terdengar gemericik. Setelah melalui jalan setapak yang berkelok, sampailah kita di suatu titik yang agak tinggi. Napas saya mulai ngos-ngosan karena jalanan yang menanjak. Rodrigo menunjuk satu tempat dan meminta kita untuk melihatnya. “Subhanallah,” saya terpekik kecil saat di depan mata terhampar istana yang berdiri menjulang, bentengnya yang kokoh berwarna kemerahan. Istana Alhambra, “Alhamdulillah,” batin saya.

Istana Alhambra adalah bagian dari kerajaan Granada, daulah Islam terakhir di bumi Andalusia. Diberi nama Alhamra, yang kemudian dilafalkan oleh orang Spanyol sebagai Alhambra, mengambil nama dari Sultan Muhammad bin Al-Ahmar, pendiri dinasti Al-ahmar. Nama Alhamra juga diambil dari bahasa Arab; hamra’, bentuk jamak dari ahmar yang berarti merah. Saat langit temaram, tembok istana ini memang terlihat berwarna kemerahan, seperti yang saya saksikan pagi itu.

Suara Rodrigo hilang-timbul, tapi saya sudah tidak terlalu memerhatikan penjelasannya. Hati saya terasa ciut menyaksikan keindahan ini. Banyak lengkungan arcade dengan pahatan motif geometris yang menakjubkan di sepanjang jalan yang kita susuri. Patio-patio dengan air yang mengalir adalah refleksi dari keindahan taman surga, yang menjadi ciri landscape taman-taman dalam istana daulah Islam. “… seperti surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya…” Air ini sangat penting karena terkait dengan ritual wudhu yang harus dilakukan sebelum shalat. Tak heran kalau istana-istana kerajaan Islam selalu dilengkapi dengan air mancur atau kolam air yang sekaligus dijadikan tempat wudhu. Di istana Alhambra, air ini diperoleh dari salju abadi yang ada di puncak pegunungan Sierra Nevada. Dialirkan melalui pipa-pipa yang sangat panjang dan ditampung di dam-dam yang dibangun di beberapa tempat. Sungguh konstruksi bangunan yang sangat canggih, dengan perhitungan matematika dan fisika yang sangat rumit, bahkan untuk ukuran sekarang pun, karena setelah 8 abad, saluran air itu masih berfungsi!

Rodrigo terus menjelaskan bangunan-bangunan yang kita lewati. Cara bicaranya betul-betul mengingatkan saya pada Inspector Gadget. Hingga sampailah kita di bangunan utama yang disebut The Nasrid Palace. Di dalam bangunan ini terdapat paviliun yang digunakan sebagai tempat tinggal istri sultan, aula tempat menerima duta besar, dan sebagainya. Bangunan ini sangat-sangat indah. Sepertinya ini adalah bangunan tercantik yang pernah saya saksikan. Yang membuat hati bergetar adalah dinding pualam dan pilar-pilarnya yang berhias kaligrafi Laa haula wa laa quwwata illa billaah; tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sudut mata saya terasa hangat, sungguh manusia sangat kerdil, tak ada yang bisa kita lakukan tanpa pertolonganNya.

Alhambra adalah puncak dari teknologi, arsitektur, dan seni yang paripurna. Semua terangkai dalam mahakarya yang sangat indah. Konon Marie Antoinette menginginkan istana serupa saat membangun château de Versailles atau Istana Versailles yang terkenal itu, namun ia tidak mendapatkan yang diinginkannya. Jauh sebelum itu, Charles V, salah satu raja Spanyol mencoba membuat istana yang mirip Alhambra, lokasinya pun dekat sekali, bahkan bisa dikata bersebelahan, namun alih-alih bisa menyamai Alhambra, bangunan itu bahkan tak pernah diselesaikannya sampai ia meninggal, dan pemerintah Spayol merampungkannya di tahun 1990.

Di setiap sudut saya mengambil gambar, Lambang sampai kesal gara-gara saya kebanyakan foto dan tertinggal dari rombongan. Keluar dari bangunan istana The Nasrid Palace, kita berada di The Court of the Myrtles (Patio de los Arrayanes), taman dengan kolam air sepanjang 34 meter. Dari kolam ini kita bisa menyaksikan pantulan istana di dalam air dengan posisi yang presisi. Seakan bangunan istana ini ada dua. Tanpa perhitungan fisika yang rumit, mustahil keindahan itu bisa kita saksikan. Perasaan berdebar-debar menyaksikan keindahan ini membuat saya laiknya orang yang sedang jatuh cinta. Ya, saya, jatuh cinta pada Alhambra!

Istana Alhambra dikelilingi taman yang dinamakan Generalife. Taman ini dulunya adalah kebun sayur. Ada jalan pintas yang menghubungkan istana dengan taman ini. Konon Sang Sultan suka berkuda menikmati keindahan taman. Dari sini saya bisa melihat dengan lebih jelas bangunan istana Alhambra, lengkap dengan bastion yang menjulang. Di bastion itulah Sultan Boabdil, sultan terakhir dari kerajaan Granada menyaksikan pasukan Isabella dan Ferdinand mengepung bentengnya. Tidak ada pilihan lain, ia terpaksa menyerahkan kunci gerbang kota dengan jaminan tidak ada pembunuhan atas rakyatnya dan mereka tetap boleh mempertahankan keimanannya.

Tentu saja janji itu dikhianati oleh Isabella dan Ferdinand yang sejak awal memang berniat menghancurkan umat Islam di Andalusia. Hanya dalam waktu 6 tahun, hampir tak ada yang tersisa. Ada 3 pilihan yang ditawarkan; tetap Islam dan dibunuh, dimurtadkan, atau diusir dari Granada. Mereka yang tebal keimanannya, memilih syahid sebagai syuhada. Para oportunis memilih dimurtadkan asal masih bisa hidup. Dan puluhan ribu lainnya harus dievakuasi ke Maroko, Tunisia dan daerah Afrika Utara lainnya untuk mempertahankan kalimat Tauhid. Pengusiran yang disertai pembunuhan keji, perampasan harta, itu menjadi tragedi yang akan terus tercatat dengan tinta hitam dalam sejarah. Bukan saja sejarah Islam, tapi juga sejarah kemanusiaan.

Sejatinya umat Islam di Granada tak serta-merta menyerah. Kehancuran akibat pertikaian sesama umat membuat daulah Islam di Andalusia yang pernah menyinari dunia dengan peradaban dan pengetahuan tercerai-berai. Satu persatu wilayah berhasil dicaplok pasukan Isabella dan Ferdinand, menyisakan kerajaan-kerajaan kecil yang terpecah belah. Pada kondisi seperti itulah Granada terkepung. Selama tujuh bulan terus terjadi pertempuran. Banyak syuhada yang sahid, namun korban luka dan tewas dari pasukan Isabella dan Ferdinand lebih banyak lagi. Pasukan muslim tetap bersabar sambil berjuang dan berharap pertolongan Allah.

Kondisi ini tidak sama dengan yang dituliskan dalam sejarah Barat, di mana kejatuhan Andalusia digambarkan dengan bobroknya keluarga kerajaan, yang memilih bermaksiat ketimbang memikirkan rakyatnya. Seperti penjelasan Rodrigo, kalau di dalam istana yang indah ini begitu banyak intrik, “Ada salah satu istri sultan yang membunuh puluhan keluarga kerajaan demi mendapat kekuasaan.” Ah, hati kembali perih mengingat Andalusia adalah sejarah yang dibajak dan ditulis semaunya oleh mereka.

Puncak dari perjuangan itu adalah datangnya musim dingin yang berkepanjangan. Umat Islam yang terkepung dalam benteng tidak bisa keluar untuk mendapat suplai makanan. Rakyat kelaparan, banyak yang meninggal karena beratnya musim dingin tanpa pasokan makanan yang cukup. Pada saat itulah qadarullah terjadi, Sultan Boabdil memilih menyerahkan Granada untuk mengakhiri kesengsaraan rakyatnya.

--------------------------------------------------------------

Dari atas bukit, saya melihat jalanan yang berkelok-kelok menuju pegunungan Sierra Nevada. Jalanan itu adalah The Last Moor’s Sigh. Tempat terakhir Sultan Boabdil memandang Alhambra dengan kepedihan yang tak terlukiskan. Dia terpekur sambil berdoa, sampai ibunya yang mendampingi perjalanannya mengeluarkan perkataan yang terkenal itu, “… jangan kau tangisi seperti perempuan untuk sesuatu yang tidak bisa kau pertahankan laiknya laki-laki.”

Qadarullah wama sya'a fa'ala; takdir Allah adalah apa yang dikehendaiNya, dan itu pasti terjadi.

Alhambra, Granada, 5 Januari2015


Minggu, 17 Mei 2015

Berjumpa Antonia di Malaga




... Menginjakkan kaki di Andalusia,
Mulai merasai sederet kepedihan,
Di Malaga, bertemu Antonia, "Tidak ada satu pun masjid yang tersisa. Semua sudah dihancurkan."
Di Granada, melihat bir yang dinamai Alhambra Mezquita (Masjid Al Hambra) dijual seharga €3.
"Ummati...Ummati… -Umatku, umatku-," kata Rasulullah jelang ajal. Mungkin ini yang diresahkannya.
Sungguh, saya gelisah...

-------------------------------------------------------------

Saya hirup dinginnya udara Eropa dalam-dalam. Terasa sejuk dan segar. Kota Tarifa hanya kita lintasi untuk urusan imigrasi dan makan siang. Setelah itu bus kembali melaju membelah jalan beraspal mulus sejauh 152 km, dengan kincir angin berderet di sepanjang kiri-kanan jalan. Sesekali terlihat apartemen-apartemen bercat putih yang tertata rapi. Lalu-lintas terlihat sepi siang itu. Orang Spanyol mempunyai kebiasaan istirahat siang yang disebut siesta. Kebiasaan itu masih berlangsung hingga sekarang. Tak heran kalau waktu istirahat siang jalanan terasa lengang.

Malaga adalah kota tujuan pertama. Kota yang tertulis dalam memoar Ibn Batutah saat melakukan perjalanan ke Andalusia ini dulunya adalah pelabuhan penting bagi Kesultanan Granada. Posisinya berbatasan langsung dengan Cordoba di sebelah utara dan Granada di timur. Menjelang sore kita tiba di Calle Marqués de Larios, salah satu pusat perbelanjaan yang ada. Sepotong jalan yang ramai ini dipenuhi café dan butik-butik brand ternama.  Juan, supir bus yang menemani selama perjalanan di Spanyol, dengan bahasa Inggris terpatah-patah menjelaskan kalau local guide yang bernama Antonia akan menemui kita di ujung perempatan.

Lima menit berlalu, Juan terlihat gelisah memandang handphone-nya. Ia hanya bisa menghentikan bus tak lebih dari lima menit di pinggir jalan itu. Saya memandang keramaian dari dalam bus. Terlihat beberapa patung yang berdiri gagah di kiri-kanan jalan. Spanyol, seperti halnya kota- kota di Eropa lainnya, banyak memajang patung di sepanjang jalan. Senja mulai lindap, kota kelahiran seniman Pablo Picasso ini terlihat cantik.

Perempuan gemuk berambut pirang itu tergopoh-gopoh berlari menuju bus. Juan membuka pintu hidrolik dan membiarkannya masuk. Setelah bicara dengan cepat ke Juan dan dijawab, “Si…si –ya, ya,” berulang kali, ia memperkenalkan diri dan meminta kita segera turun dari bus. “Anyone want to toilet?” Tanyanya memulai percakapan. Hampir semua menjawab, ”Yes.” Ia lalu menunjuk salah satu café yang ada di ujung jalan dan meminta kita untuk ke lantai duanya, di sana ada toilet yang bisa digunakan.

Sambil menunggu yang lain berkumpul, Antonia memulai penjelasannya. Suaranya ceria, mimik mukanya ikut bergerak mengikuti intonasi suaranya. Sesekali ia mengangkat tangan, menggerakkan bahunya untuk mempertegas sesuatu. Diawali dengan sejarah kota Malaga, para tokohnya, sampai kemudian Daulah Umayyah Andalusia. Saya terkesiap ketika mendengar ia mengatakan, Abdurahman I karena dendamnya pada Bani Abbasiyah lalu membuat kiblat Masjid Cordoba tidak menghadap ke Ka’bah yang ada di kota Mekkah, melainkan agak menyerong, supaya tidak sama dengan yang dilakukan Daulah Abbasiyah di Baghdad.

Saya langsung angkat suara dan mendebatnya. Tidak seperti itu sejarahnya. Ketika masjid itu dibangun, ada gereja kecil di dekatnya. Bila seluruh bangunan akan dibuat menghadap ke arah Mekkah, maka gereja itu harus dihancurkan. Abdurrahman Ad-Dakil tidak menginginkan itu. Ia membiarkan gereja itu tetap di tempatnya. Meskipun bangunan masjid dari luar tidak lurus ke arah Mekkah, namun mihrab maupun shaf di dalamnya tetap menghadap kiblat. Abdurrahman Ad-Dakil atau Abdurrahman I adalah pemimpin yang adil. Bahkan, sekalipun Islam dengan segala cara coba dilenyapkan dari Spanyol, tapi masyarakat di sana mempunyai satu perayaan untuk menghormati Abdurrahman I yang masih diselenggarakan hingga kini.

“Enggak asyik ah, orang ini, memberikan informasi banyak yang salah,” kata saya pada Lambang.
Semakin saya pancing dengan beragam pertanyaan, semakin banyak jawaban Antonia yang tidak sesuai. “Sepertinya kamu banyak tahu tentang Daulah Umayyah,” cetus Antonia.
“Kalau tentang arah kiblat Masjid Cordoba, ini bukan sekadar tentang sejarah Daulah Umayyah, tapi ini masalah prinsip. Kami tidak mungkin salat menghadap bukan ke arah Ka’bah. Itu prinsip,” tegas saya.

Rombongan terus berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di belakang pusat perbelanjaan. Rupaya di balik bangunan-bangunan modern itu tersembunyi kota tua. Beberapa peninggalan bersejarah, sejak zaman Romawi hingga masa Islam ada di sana.
It was a mosque,” seru Antonia pada rombongan.
Deeengg… Deengg
Langkah saya terhenti. Jantung saya berdegup kencang. Saya mendongak ke atas, menatap ke minaret di mana lonceng itu berdentang. Hati terasa perih. Dulu, dari atas minaret itu pastilah sang muadzin mengumandangkan adzan lima kali sehari.
“Ada berapa masjid di sini, Antonia?” Tanya saya.
“Tak ada satupun. Semua sudah dihancurkan atau digunakan sebagai gereja, seperti yang ada di depan kita,” jawabnya.

-----------------------------------------------

“Kapan kita bisa belanja?”, “Rebajas itu sale, kan?” Satu dua rombongan mulai bersuara. Antonia lalu memberi waktu untuk berbelanja dan menunjuk satu tempat sebagai meeting point. Sekaligus ia mengingatkan rombongan untuk on time, karena Juan nanti akan menjemput di pinggir jalan, dan bus tidak bisa berhenti lama di tempat itu. Semua berpencar. Saya sudah kehilangan selera. Bersama Antonia saya tetap berdiri di depan tembok sisa bangunan masa Islam yang di bawahnya adalah reruntuhan bangunan Romawi.

I knew you’re journalist,” katanya tiba-tiba, “Your husband told me,” lanjutnya saat melihat saya mengerutkan dahi. Saya tersenyum.
Dia pasti tahu, banyak hal yang saya tidak sepaham dengan penjelasannya. Dari sini pula saya mulai mengerti bahwa sejarah Andalusia secara sistematis dibelokkan. Informasi yang diterima Antonia adalah informasi yang diterima orangtuanya, kakek-neneknya, buyutnya, dan seterusnya. Itu yang ia tahu, dan itu yang ia sampaikan pada orang-orang, pada anaknya, cucunya, mungkin buyutnya. Informasi itu pula yang akhirnya sampai pada generasi muda muslim. Tanpa coba menggali, lalu dipercaya sebagai kebenaran. Oh, Andalusia…

“Saya percaya, Tuhan tidak menyuruh manusia untuk saling memusuhi. Itu kerjaan manusia saja yang membuat permusuhan di sana-sini,” katanya lagi, seperti mengerti suasana hati saya yang tidak nyaman.
Saya tersenyum, “Kamu beragama, Antonia?” Tanya saya.
“Saya percaya Tuhan, tapi saya tidak memilih satu agama pun,” jawabnya. “Selama saya berbuat baik, saya yakin Tuhan pasti mengerti.”

Sekali lagi saya tertegun. Perbincangan dengan Antonia ini mengingatkan saya pada salah satu adegan di film “99 Cahaya di Langit Eropa” saat Rangga mencoba mendamaikan temannya, Steven yang ateis dengan Khan, seorang muslim yang taat. “Yang kalian butuhkan adalah dialog. Saling bicara. Coba mengerti,” katanya. Sepertinya kata-kata Rangga itu pas betul untuk situasi saya dengan Antonia. Lalu saya mengulang kalimat itu, “What we need is dialog, understanding each other and we’ll living in harmony,” cetus saya.
Yes, I’m agree, Dear,” jawabnya.

Matahari sudah beranjak ke peraduan, ketika Antonia meminta rombongan segera bergegas menuju meeting point untuk menunggu bus. Saya berjalan bersisihan dengannya. Obrolan dan perdebatan membuat saya dan Antonia menjadi akrab. Ia lalu bercerita tentang pengalamannya membawa turis dari berbagai negara. Turis Korea selalu terburu-buru melakukan semua hal, namun tak pernah lupa mengucapkan “Ahnyong haseo” sambil berlari-lari ke sana-ke mari. Atau turis Jepang yang selalu membatasi semua kegiatan dalam waktu 5 menit. Ia menceritakannya dengan gaya yang sangat kocak. Saya dibuatnya tertawa terbahak-bahak.

Ia lalu berhenti di tukang kacang yang berjualan di pinggir jalan. Diambilnya dua kantong. Salah satunya disodorkan pada saya sambil mengatakan, “Almond bersalut gula ini adalah tradisi Bangsa Moors (sebutan untuk Bangsa Arab di Andalusia). Mereka mewariskan pada kami bagaimana memasak yang enak dan banyak hal lainnya. Beberapa bahkan masih terus digunakan sampai saat ini. Seperti cara mengolah almond ini,” katanya. Saya menerima kantong kacang darinya sambil mengucapkan, “Gracias.” Saya tersenyum, sepertinya Antonia tak sekadar menawarkan kacang, tapi juga pertemanan.

“Antonia, saya punya buku tentang Andalusia yang sangat lengkap. Apa yang ditulis di buku itu banyak yang tidak sama dengan penjelasanmu. Kalau saya menemukan terjemahannya dalam Bahasa Inggris, saya akan mengirimkannya untukmu. Mungkin bisa menjadi pembanding. Boleh saya minta alamat e-mailmu?”
Sure,” jawabnya sambil menuliskan alamat e-mail di notes yang saya sodorkan.

Maka, saya akan terus menulis tentang Andalusia. Bukan sekadar mencatat perjalanan ini, namun informasi ini harus terus ada yang menuturkannya.


Malaga, 4 Januari 2015

Uttiek Herlambang

Sabtu, 21 Maret 2015

Assalamualaikum Andalusia

Nama Thariq ibn Ziyad selalu dikaitkan dengan peristiwa pembakaran kapal-kapal di Jabal At-thariq (Gunung Thariq) yang kemudian dilafalkan menjadi Gibraltar. Syahdan setelah berlabuh, kapal-kapal yang membawa pasukannya ia perintahkan untuk dibakar. Hanya ada dua pilihan untuk pasukannya; tenggelam di lautan yang ada di belakangnya, atau menghadapi pasukan musuh yang ada di depan. Peristiwa yang tidak pernah terjadi itu dituturkan dari generasi ke generasi sehingga dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

---------------------------------------------
Setahun lebih saya mempersiapkan perjalanan ke Andalusia ini. Tepatnya sepulang dari umrah Ramadhan, saya mulai membaca banyak buku sebagai referensi. Ada satu kebiasaan saat mencari bahan tentang sejarah Islam. Saya selalu memulainya dengan buku “Sejarah Umat Islam” karya Prof. DR. Buya Hamka. Buku setebal 961 halaman ini menurut saya adalah magnum opus Buya, setelah Tafsir Al-Azhar yang termasyur itu. Konon berpeti-peti kitab digunakannya sebagai bahan penulisan. Buku ini ditulis selama 22 tahun, dimulai di Maninjau tahun 1939 dan diselesaikan di Jakarta tahun 1961, selama itu pula peti-peti kitab itu selalu dibawa ke manapun Buya berpindah-pindah tempat.

Sebenarnya saya agak bingung setelah membaca bab Andalusia di buku itu. Bukan saja Buya hanya menulisnya sebanyak 12 halaman, untuk sejarah panjang yang lebih dari 8 abad, tapi tulisannya terasa seperti surat seorang yang sedang “patah hati”. Mindset saya tentang Andalusia adalah negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Tapi mengapa membacanya di buku ini terasa sangat miris? Nanti setiba di Andalusia, barulah saya temukan jawabnya.

Saya bersyukur, di Islamic Book Fair tahun 2014, saya sempat membeli buku “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia”, karya DR. Raghib As-Sirjani. Buku setebal 879 halaman ini, seperti sepotong tiramisu yang sayang kalau langsung dihabiskan. Hampir setiap malam, sepulang dari kantor, saya tenggelam membaca berlembar-lembar halaman, sambil menandai dengan stabilo bagian-bagian yang penting. Rasanya dulu waktu mengerjakan skripsi pun saya tidak seserius ini. Saya sangat bersyukur mendapat referensi yang sangat detail dari buku itu.

Perjalanan ke Andalusia sejatinya adalah mengonfirmasi sejarah. Banyak umat Islam, terutama generasi muda, tidak paham bahwa Islam pernah menyinari dengan cahaya terang di wilayah yang sekarang bernama Spanyol, Portugal dan sebagian Prancis. Informasi yang beredar, terutama di internet, banyak yang isinya sampah, alias menyesatkan. Semangat itu semakin terlecut kala membaca bukunya Hanum, “99 Cahaya di Langit Eropa”, “… Kalau ada waktu, wakililah Bapakmu ini menyaksikan Cordoba dan Granada.” Sudut mata saya terasa hangat setiap membaca bagian itu, kalau bisa terucap, mungkin kalimat yang sama akan disampaikan Papi pada saya.   

----------------------------------------------------------

Tak terasa ini adalah hari terakhir di benua Afrika. Pagi ini, setelah menyaksikan pertemuan laut Mediterania dan Samudera Atlantik dari mercusuar, bus melaju perlahan menuruni bukit menuju pelabuhan. Jalanan berkelok-kelok melewati vila-vila cantik dengan deretan pohon pinus di kiri-kanan jalan. Saya membayangkan dari atas bukit itu pula Musa bin Nushair dan Thariq ibn Ziyad mengatur strategi untuk mendaratkan pasukannya di seberang lautan.

Bus berhenti di tempat parkir pelabuhan. Azis menjelaskan beberapa hal sebelum kita melintas di batas imigrasi. Dermaga ini terlihat tidak terlalu luas, kurang lebih seperti Marina-Ancol. Ada beberapa kapal cepat bersandar. Bangunan yang paling besar diperuntukkan sebagai ruang imigrasi, loket penjualan tiket, ruang tunggu, dan café. Ada juga money changer dan toilet umum di dekatnya. Waktu masih cukup longgar, saya dan Lambang memutuskan menunggu di café sambil menyesap teh Maroko.

Rombongan menyeberang dari Tanger menggunakan feri cepat menuju pelabuhan Tarifa. Kita tidak bisa mendarat persis di Gibraltar, karena saat ini Gibraltar berada dalam kekuasaan Inggris. Butuh visa yang berbeda dengan visa Schengen yang saya pegang. Visa Schengen hanya berlaku untuk masuk ke negara-negara Eropa kecuali Inggris. Tapi bukan berarti kota Tarifa ini tidak penting. Pasukan pembuka yang dikirim Musa bin Nushair pertama kali mendarat di tempat ini. Pemimpinnya adalah Tharif bin Malik, namanya diabadikan untuk menandai kota ini hingga sekarang: Tarifa.  

Koper-koper besar disimpan di lambung kapal. Di dalam feri penumpang boleh memilih tempat duduk sendiri. Tidak ada nomer kursi. Saya memilih duduk di dekat jendela. Lambang berbagi tempat duduk dengan serombongan anak muda Maroko. Mereka berbincang dalam bahasa Arab amiah yang sulit diikuti, karena bercampur dengan logat Prancis. Belum lama duduk, masing-masing dari mereka mengeluarkan uang koin dari kantongnya, lalu satu orang mengumpulkannya di atas koran. Jumlah koinnya lumayan banyak. Saya sampai membatin, apa mereka ini semacam "Pak Ogah" atau tukang parkir, kok, punya koin sebanyak itu. Sepertinya uang itu dikumpulkan untuk jajan.

Di dalam feri tersedia cafe yang menjual kopi, teh, soft drink dan aneka camilan. Semua dibanderol dalam Euro. Muffin dan donat dijual €3, sandwich €5,75. Sekalipun belum beranjak dari pelabuhan Tanger, namun mata uang Dirham Maroko sudah tidak bisa digunakan. Tersedia pula business lounge dengan membayar €9. Tak berapa lama terdengar peluit panjang, tanda kapal segera berlayar. Sebelum beranjak, disampaikan instruksi keselamatan dalam bahasa Spanyol, Prancis dan Inggris.

Sepanjang perjalanan terbentang laut yang tenang, makin lama perbukitan yang mengelilingi kota Tanger makin samar terlihat. Saya menikmati pemandangan itu dari jendela kapal. Sekalipun tadi pagi suhu udara di bawah 5 derajat, namun siang ini udara terasa hangat. Awalnya saya berencana minum Antimo, karena biasanya saya mabuk laut. Namun entah kenapa saya tidak merasa mual. Mungkin karena lautnya tidak terlalu berombak, atau hati saya yang sedang riang? Di kejauhan mulai terlihat bayangan perbukitan Gibraltar.

Mungkin pemandangan seperti ini pula yang disaksikan Thariq ibn Ziyad dan pasukannya dari atas kapal. Jumlah mereka sebenarnya tak terlalu banyak, hanya sekitar 12.000. Karenanya Barat membutuhkan pembenaran, bagaimana pasukan yang hanya 12.000 bisa mengalahkan mereka yang berjumlah 100.000, di negeri yang sama sekali asing, dengan kondisi geografis yang sangat berbeda. Tak ada yang lebih tepat dari menghembuskan “dongeng” pembakaran kapal itu, sehingga terasa alamiah sekali kalau pasukan Thariq ibn Ziyad akhirnya menang; karena memang tak punya pilihan!

Padahal sejak kapan para syuhada membutuhkan “penyemangat” seperti itu? Tak ada yang lebih mereka inginkan selain syahid di jalan Allah. Kala itu panggilan jihad layaknya panggilan shalat Jumat. Semua laki-laki berbondong-bondong menyambut seruan itu tanpa keraguan sedikitpun. Mereka adalah manusia-manusia terpilih, di siang hari mereka bertempur seakan tidak ada setitikpun rasa takut. Di malam hari mereka menjelma menjadi ahli ibadah, khusuk bermunajad dalam rekaat-rekaat yang panjang di setiap Tahajudnya. Komandan pasukan yang pertama kali bertemu dengan pasukan Thariq ibn Ziyad dalam suratnya pada Roderic, penguasa Spanyol pada saat itu menuliskan, “Apakah pasukan ini berasal dari penduduk bumi atau penduduk langit?”

Mereka tak pernah berpikir ada pasukan perang sebaik itu, sangat berdisplin, mempunyai kemampuan militer yang andal, namun sangat beradab. Tak seperti penjajah yang pernah dijumpai sebelumnya. Pasukan ini sama sekali tidak merampas atau mengambil kekayaan, tidak menyerang wanita, orangtua dan anak-anak. Tujuannya hanya satu, menegakkan kalimat Lā ʾilāha ʾillā-Allāh, Muḥammadun rasūlullāh. Ketika cahaya terang itu mereka tolak, ditawarkan untuk membayar jizyah dan mereka tetap bisa hidup tenang dengan harta dan keyakinannya. Jizyah tidak sama dengan pajak atau upeti. Jizyah hanya berlaku untuk laki-laki dewasa dan yang mampu. Wanita, anak-anak, orangtua dan orang miskin tidak berkewajiban. Jumlahnya pun jauh lebih kecil dari kewajiban zakat umat Islam yang besarnya 2,5% dari kekayaan yang telah mencapai nisab dan haul. Aturan mulia itulah yang membuat pasukan Thariq ibn Ziyad disambut sebagai pembebas, karena dinilai lebih adil ketimbang penguasa mereka yang lalim.

Setelah terombang-ambing selama 35 menit, kapal mulai mengurangi kecepatan, dan akhirnya berhenti. Saya lemaskan otot kaki sebelum antre keluar. Pelabuhan Tarifa tidak lebih besar dari Pelabuhan Tanger, namun sedikit lebih ramai. Antrean di imigrasi cukup panjang. Berbeda dengan perjalanan di Asia maupun di Afrika, di Eropa kita harus “mandiri”. Tak ada porter di pelabuhan ini, koper-koper besar harus dibawa sendiri sampai ke bus.

Alhamdulillah, akhirnya saya hirup udara Eropa. Rasanya berdebar-debar tak sabar ingin segera memulai perjalanan ini. Apakah Cordoba masih berpendar cahaya? Seperti apa Mezquita? Semolek apa istana Alhambra?

Assalamualaikum Andalusia...



Tanger-Tarifa, 4 Januari 2015

Senin, 02 Maret 2015

Tanger Kota Sang Pengelana

Dari kota ini perjalanan Sang Pengelana Ibn Batutah dimulai: Tanger. Titik tolaknya adalah Kota Suci Mekkah. Terus melangkah hingga melewati Hindustan dan singgah di Samudra Pasai-Aceh. Dalam perjalanannya, beberapa kali ia kembali ke Mekkah. Semua tertuang dalam kitab fenomenal Ar-Rihlah. Perjalanan yang ditempuhnya berkali lipat dari rute Marcopolo. Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, dari tempat ini pula Sang Panglima Thariq ibn Ziyad dilahirkan. Kota ini penuh jejak sejarah. Bahkan Tintin pun sempat mampir ke Tanger.

-------------------------------------------------

Wuuusss… Hembusan udara dingin langsung terasa begitu pintu hidrolik bus terbuka. Malam belum larut, namun gelap telah pekat sempurna. Suara debur ombak terasa sangat dekat. “Sepertinya di depan itu laut, deh, suara ombaknya deket banget,” cetus saya pada Lambang. Perjalanan darat dari Fes ke Tanger cukup melelahkan, hampir lima jam melalui jalan bebas hambatan. Tanger dalam bahasa Prancis, Spanyol dan Portugis, atau Tanjah dalam bahasa Arab, dan Tangier dalam bahasa Inggris, adalah kota terakhir di Afrika yang akan kita lalui sebelum menyeberang ke Eropa melalui selat Gibraltar.

Satu per satu rombongan turun dari bus. Semua merapatkan jaket sambil berlari kecil masuk ke dalam hotel. Di lobby hotel udara terasa hangat. Di sudut lobby ada lemari pajangan yang membuat saya sedikit terkejut, isinya semua hal tentang Tintin. Komik karya Georges Remi (1907–1983) yang dituliskan menjadi RG (dibaca Hergé dalam bahasa Perancis) ini dalam salah satu ceritanya sempat mampir ke Tanger. Tintin à Tanger, judulnya dalam bahasa Prancis. Pastilah kota ini istimewa, batin saya.

Karena sudah lapar, saya dan Lambang memutuskan untuk makan malam dulu sebelum masuk ke kamar. Makanan yang saya suka selama di Maroko adalah roti khubs, semacam roti gandum, tak beragi, bentuknya gepeng bulat besar. Saat digigit terasa renyah, namun setelah dikunyah barulah lembut di lidah. Khubs adalah makanan pokok, ibarat nasi bagi orang Indonesia. Biasanya dihidangkan dengan cara dipotong-potong menjadi beberapa bagian dengan potongan menyerupai pizza. Dimakan begitu saja, tanpa lauk apa pun, rasanya sudah nikmat, apalagi disantap selagi hangat. Hhhmmm… Tak terasa beberapa potong roti khubs beserta pelengkapnya telah berpindah ke perut. Saya harus segera beristirahat karena esok pagi akan melanjutkan perjalanan yang cukup jauh.

-----------------------------------------

Dugaan saya semalam ternyata benar, persis di depan hotel terhampar laut yang biru. Pagi ini sedikit berkabut, dengan udara dingin yang menggigit, sehingga suasana sedikit dramatis. Tanger adalah kota bersejarah. Banyak orang-orang hebat yang berasal dari tempat ini. Termasuk Sang Pengelana Ibn Batutah. Sepanjang hayatnya, putra saudagar kaya ini menghabiskan waktunya dengan berkelana, menjelajah banyak negeri.

Saya membayangkan, enam ratus tahun yang lalu, tepatnya tahun 1325, di pagi yang sedingin ini, di balik kabut itu Ibn Batutah memulai perjalanannya. Meninggalkan negeri dan orang-orang yang dicintainya. Tujuan utamanya adalah kota suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah itu kakinya terus melangkah, tak kurang 44 negara disinggahinya. Dari Mesir, Syam (Syria-Palestine sekarang), Hijaz, Persia, Turkistan, Hindustan, Tiongkok, hingga Samudra Pasai-Aceh. Total  27 tahun waktu yang dihabiskannya. Semua itu tertuang dalam kitab Tuhfah An-Nuzhzhaar fi Graraa’ib Al Amshaar wa ‘Ajaa’ib Al-Asfaar atau yang dikenal sebagai Ar-Rihlah. Sejatinya bukan ia sendiri yang menuliskan catatan perjalanan itu, namun ia mendiktekan kisahnya pada Muhammad Ibn Juzai Al-Kalbi.

Banyak hal-hal ajaib yang dikisahkannya. Deskripsinya tentang negeri-negeri yang dilalui sangat fantastis. Meski sudah membaca buku terjemahannya setebal 610 halaman, saya masih penasaran dengan kitab aslinya. Saat kursus bahasa Arab di Universitas Al-Azhar Indonesia, salah satu tujuan saya, selain tentu saja bisa bercakap dalam bahasa Arab, saya ingin membaca kitab Ar-Rihlah dalam bahasa aslinya. Saya tak bisa membayangkan, pada masa itu ada seseorang yang bisa menjelajah sedemikian jauhnya. Untuk ukuran sekarang pun, rute yang yang dilaluinya sangat luar biasa. Buat saya, perjalanan ke Maroko ini sangat jauh, padahal naik pesawat. Saya juga pernah ke Aceh, bahkan dari Jakarta pun menurut saya sudah jauh. Dan enam abad yang lalu Ibn Batutah bertualang dari Maroko sampai ke Aceh! Subhanallah…

Tak hanya Ibn Batutah, Sang Pahlawan Thariq ibn Ziyad juga berasal dari Tanger. Ia lahir tahun 670, sebagai putra pemimpin suku Berber. Beberapa literatur menyebutkan, Thariq berparas rupawan, badannya tinggi tegap, berkulit putih bersih dan bermata biru. Laiknya gambaran pria Spanyol sekarang. Namun yang terpenting adalah semangatnya untuk berjihad di jalan Allah. Dia adalah panglima yang memiliki gabungan antara rasa takut pada Allah, sikap wara’,  kecerdasan menyusun strategi militer, dan keinginan untuk syahid di jalan Allah. Tak salah bila Musa bin Nushair memilihnya sebagai panglima pembebaskan Andalusia.

Kemenangan demi kemenangan yang diperolehnya di tanah asing yang sama sekali belum pernah dikenalnya, tak membuatnya lalai akan tujuan semula. Ide untuk membebaskan Andalusia sebenarnya sudah dimulai sejak masa Utsman bin Affan sebagai jalan menuju penaklukan Konstantinopel. Sekalipun telah berhasil mengepungnya, namun Allah belum izinkan Islam mengibarkan benderanya di sana. Konstantinopel tidak bisa ditaklukkan dari laut. Andalusia adalah salah satu jalan yang bisa diretas.

Dalam perjalanan panjang, satu per satu negeri berhasil dibebaskannya, dari Ecija, Granada, Cordoba, Alboera, Malaga, Zaragosa, dan banyak lagi. Pasukan Thariq ibn Ziyad makin lama makin besar dan kuat. Jumlahnya terus berlipat. Namun semua itu tak mengikis kesetiaannya pada Khilafah Ummayah di Damaskus. Saat pasukannya telah mencapai Prancis Barat, Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik meminta Musa bin Nushair dan Thariq kembali ke Damaskus. Penarikan pasukan ini bukan tanpa alasan, sebab sang Khalifah mendengar rencana setelah membebaskan seluruh wilayah Eropa, pasukan ini akan melangkah ke Itali, lalu ke Yugoslavia, Rumania, Bulgaria, sampai Konstantinopel dari arah barat. Pergerakan ini terlalu membahayakan, karena bila terjadi sesuatu, bala bantuan dari Damaskus maupun Maroko terlalu jauh untuk menyusul mereka. Sekalipun tidak sampai menaklukkan Konstantinopel, namun percapain mereka telah terukir dalam sejarah dengan tinta emas.

Saya tersadar dari lamunan saat sayup-sayup mendengar suara Azis yang meminta rombongan segera masuk ke dalam bus. Tujuan pertama kita adalah mercusuar di atas bukit untuk menyaksikan batas bertemunya laut Mediterania dan Samudera Atlantik yang memiliki kadar garam yang berbeda, namun keduanya tidak tercampur. Sungguh Allah menunjukkan kekuasanNya pagi itu, batas kedua laut itu terlihat jelas  seperti yang  tertuang dalam QS. Ar-Rahman:19, Dia biarkan air dua laut mengalir, sedang keduanya pula bertemu.

Dari tempat saya berdiri, hamparan birunya laut terlihat sangat tenang. Seakan saya bisa menyaksikan kapal-kapal pasukan Thariq ibn Ziyad membuang sauh menuju Andalusia. Derap kaki kuda, gema takbir yang bertalu-talu, lantunan shalawat yang menderas, rapatnya barisan seperti rapatnya shaf salat. Sudut mata saya terasa hangat. Sungguh saya ingin berada di sana, berada di antara pasukan terbaik itu…


Tanger, 4 Januari 2015


Uttiek Herlambang 

Selasa, 03 Februari 2015

Benderang dari Kota Fes

Di sebuah dusun, nun jauh di satu titik di Benua Afrika, benderang itu muncul. Al Qarawiyyin, nama dusun itu. Sejak tahun 859 telah berdiri universitas yang menawarkan gelar kesarjanaan, sebuah sistem pendidikan yang masih dipergunakan hingga saat ini. Tak kurang hebat, pendirinya pun seorang perempuan. Anak saudagar kaya bernama Fatimah Al Fikhri yang mendermakan sebagian kekayaannya untuk mengongkosi universitas yang didirikannya. Seratus tahun kemudian Universitas Al-Azhar yang termasyur di Mesir baru berdiri, dan tiga abad kemudian, Universitas Oxford di Inggris baru mengikuti.

-------------

Kumandang adzan Dzuhur terdengar nyaring. Setengah berlari rombongan keluar dari toko kain dan bergegas menyusuri labirin Old Madina yang riuh. Sesekali bersenggolan dengan orang-orang di jalan sempit. Madina dalam bahasa Arab berarti kota, Old Madina adalah kota tua. Di situlah dulu denyut kehidupan kota Fes terpusat. Perumahan penduduk, pasar, masjid, madrasah,  semuanya di sana. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok didesain untuk keamanan penduduknya. Siapa saja yang tidak mengenal medan, pastilah akan tersesat dan tidak bisa keluar, termasuk para penjahat. Bahkan sampai saat ini, pengunjung yang datang ke Old Madina haruslah menggunakan jasa local guide sebagai penunjuk arah. Kalau tidak, dipastikan tidak bisa keluar dari dalam labirin itu.

Bangunan di dalam Old Madina rata-rata terdiri dari dua lantai. Bagian bawah digunakan sebagai tempat usaha dan di atasnya untuk tempat tinggal, mirip konsep ruko zaman sekarang. Bangunan yang relatif tinggi dan jalanan yang sempit sengaja dirancang khusus, mengingat matahari di Afrika pada musim panas sangat menyengat. Jadilah jalan-jalan itu ternaungi bayangan bangunan di sisi kanan-kirinya, sehingga lebih teduh untuk dilalui. Sungguh konsep arsitektur kota yang cerdas.

Old Madina terbagi dalam beberapa bagian, seperti area perajin kayu, perajin tembaga, pedagang kain, rempah-rempah, sayuran, daging. Di salah satu los, saya sempat dikejutkan dengan deretan pedagang ayam. Mereka menjual ayam hidup, bila ada pembeli, ayam itu diambil dan ditimbang. Setelah sepakat, langsung disembelih di depan pembeli dan ayam-ayam dagangan lainnya yang belum laku. Saya bayangkan ayam-ayam yang menanti giliran itu pastilah stres. Di kios daging, pedagang menjual kepala kambing dan sapi dengan cara menggantungnya di bagian depan. Azis bercerita dengan bangga bahwa kepala kambing dan sapi itu bisa diolah menjadi makanan yang lezat bagi orang Maroko. Sebagai orang Solo pemakan tengkleng, hal itu tentulah bukan prestasi.

Sebelum memasuki kota tua, Azis berpesan, kalau terdengar orang berseru, “Balak… balak,” kita harus menepi, karena akan ada keledai atau kuda yang sarat muatan lewat. Benar saja, beberapa kali saya mendengar orang berteriak, “Balak… balak,” dan tiba-tiba di lorong yang sempit itu muncullah keledai yang sangat dekat, bahkan dengus napasnya pun terasa menempel di telinga. Beberapa kali saya berteriak kaget, takut lebih tepatnya, karena terjepit di antara orang yang lalu lalang dan kuda sarat muatan.

Setelah beberapa kali berbelok, melewati suasana pasar yang menyenangkan, dan beberapa kali berhenti karena ada keledai atau kuda yang lewat, tiba-tiba jalan di depan tertutup kerumunan orang. Azis menyapa seseorang di dalam gerbang. Ia mengatakan sesuatu dalam bahasa Arab yang cepat. Konon dialek Arab Maroko paling sulit diikuti karena bercampur dengan bahasa Prancis. Tak lama pintu kecil di sebelah kanan dibuka. "This way, Madame," serunya sambil melambaikan tangan.

Saya segera melangkah masuk. Pria yang memakai jelaba (pakaian khas Maroko, berupa jubah panjang dengan capucone/hoods di kepala) yang tadi membukakan pintu mengambilkan rak sepatu. "Put your shoes here," katanya sambil menunjuk rak yang dibawanya. "That's way, Madame," lanjutnya sambil menunjuk ke bawah, tempat wudhu perempuan. “Merci,” jawab saya sambil tersenyum mendengarnya menyapa dengan sebutan Madame. Saya jadi teringat sekian tahun lalu ketika kursus bahasa Prancis di Centre Culturel Francais de Jakarta (CCF)-Salemba, semua saling menyapa dengan sebutan Madame dan Mademoiselle.

Melewati gerbang tempat orang-orang berkerumum tadi dari sisi dalam bangunan, mereka masih ada di sana. Selintas saya lihat kebanyakan bule. Rupanya orang-orang itu tidak diperkenankan masuk, karena masjid ini hanya untuk muslim, apalagi waktunya bertepatan dengan adzan Dzuhur. Seorang perempuan di ruang wudhu memberi isyarat supaya saya memakai sendal yang tersedia dan mengambil air wudhu di kolam yang tengahnya terdapat air mancur. Nyeeesss, airnya dingin sekali. Segera saya mengambil wudhu dan mengenakan kembali coat untuk menghalau dinginnya udara siang itu. Ia lalu menunjuk tempat salat perempuan yang terletak di mezanin.

Ada beberapa undakan untuk naik ke atas. Subhanallah. Dari tempat sholat perempuan itu saya baru menyadari betapa indahnya bangunan yang ada di depan. Sebuah plaza yang luas dengan tiga air mancur yang masing-masing berada di tengah, kiri dan kanan. Hampir seluruh lantai dan dindingnya tertutup mozaik yang sangat indah. Apalagi tempat wudhu yang ada di sisi kanan saya. Ada semacam gazebo kecil yang menaungi air mancur untuk wudhu itu, di belakanganya terlihat minaret yang menjulang. Indah sekali.

Lurus dari arah gerbang, terdapat tembok mozaik yang menawan. Rupaya mozaik itu yang membuat kerumunan turis di luar tak henti memotret. Ruang salat perempuan sangat unik. Letaknya di mezanin dengan bagian depan hanya berbatas pagar rendah, sehingga bisa menyaksikan dengan leluasa aktivitas di plaza utama. Layaknya rumah gadang di Padang, dengan jendela-jendelanya yang besar. Masjid ini mampu menampung 20.000 jamaah sekaligus.

Usai salat, saya berlama-lama menikmati keindahan itu. Tak terbayangkan bangunan kokoh ini telah berdiri lebih dari seribu tahun yang lalu dan menjadi sumber cahaya keilmuan di dunia. Universitas Al Qarawiyyin (Jami'ah Al Qarawiyyin) tercatat di Guinness Book of World Records sebagai universitas tertua di dunia. Pada masanya, mereka yang ingin kuliah di sini jumlahnya membludak, karenanya diberlakukan seleksi ketat. Setelah diterima, para mahasiswa ini diharuskan mempelajari seluruh isi Alquran dan menguasai bahasa Arab sebelum belajar ilmu-ilmu umum, seperti kedokteran, matematika, astronomi, kimia dan sebagainya.

Sungguh kurikulum yang sempurna, mengingat murid universitas ini berasal dari seluruh penjuru dunia. Banyak ilmuwan termasyur yang mencicipi pendidikan di sini, seperti Al Idrisi sang kartografer (pembuat peta), Ibn Khaldun, Al Arabi. Tak hanya orang Islam, Gebert of Aurillac, yang kelak dikenal sebagai Paus Sylvester II, hingga filsuf yahudi Maimonides, pernah mengenyam pendidikan di tempat ini.  Perpustakaan universitas ini pun menyimpan karya-karya fenomenal seperti salinan asli kitab Al-Ibar yang ditulis oleh Ibn Khaldun. Semua mahasiswa dibebaskan dari biaya pendidikan. Selama berabad-abad, sekalipun penguasa silih berganti, mereka selalu menjamin kelangsungan pendidikan di tempat ini.

"Madame... Madame," saya menoleh mendengar seruan itu. Melalui lambaian tangan, Azis memberi isyarat untuk segera meninggalkan tempat ini. Rasanya saya belum puas, bukan karena tempat ini indah, namun membayangkan menjadi bagian dari para pencari ilmu di sini membuat saya bangga sebagai orang Islam. Universitas Al Qarawiyyin adalah bukti pemahaman yang benar atas surat pertama yang turun. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmuyang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (pengetahuan). Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. [Q.S 'Al-Alaq 1-5]. Sebelum beranjak, sekali lagi saya menatap ke arah plaza di depan, seekor burung merpati terbang rendah, lalu hinggap di air mancur tempat wudhu. Burung itu mematukkan paruhnya ke dalam air untuk minum.

Ya, tempat ini bagaikan oase untuk semua mahluk. Oase pengetahuan yang menjadi obor penerang manusia.



Al Qarawiyyin-Fes, 3 Januari 2015

Uttiek Herlambang

Senin, 02 Februari 2015

Thé à la Menthe


“Kok enggak ada ya?”
“Ini mungkin, Mas, Thé à la Menthe.”
“Iya, kalau bahasa Prancisnya ini memang mint tea. Pesen aja dulu, kalau salah, ya nanti pesan lagi.”

-------------------------------------------------------------

Malam belum terlalu larut ketika saya, Lambang dan Pak Rustam janjian untuk ngopi bareng setiba di Cassablanca-Maroko. Ya, perjalanan ke Andalusia setelah umroh ini memang melintasi Maroko, karena saya ingin menapaktilasi jejak perjuangan Musa bin Nushair dan panglimanya Thariq ibn Ziyad saat menaklukkan semenanjung Iberia. Dari Madinah kami transit di Doha, lalu mendarat di Cassablanca. Dari kota ini perjalanan dilanjutkan menggunakan jalan darat menuju Rabat-Fes-Tangier. Dari Tangier baru menyeberang selat Gibraltar ke Tarifa, lalu masuk Andalusia.

Tadi sewaktu sholat Isya di masjid, Lambang dan Pak Rustam sudah berencana akan ngopi di salah satu coffee shop dekat Imperial Cassablanca, hotel tempat kami menginap. Tapi ternyata kedai kopi itu sudah tutup saat kita ke sana. Jadilah kita ngopi di kedai kopi seberang rel trem yang masih buka. Di sepanjang Cassablanca dan kota-kota lain di Maroko, sangat mudah menemukan kedai kopi, atau yang dalam bahasa Arab amiyah disebut makha. Menurut Azis, local guide selama saya di Maroko, nongkrong di kedai kopi sebenarnya bukan kebiasaan asli penduduk Maroko, namun tradisi yang ditinggalkan kolonial Prancis saat menjajah negeri-negeri Maghribi (Maroko, Tunisia, Aljazair). Hampir di sepanjang jalan di setiap kota yang saya lintasi, terlihat berderet kedai-kedai kopi tua nan cantik.

Thé à la menthe yang dipesan Lambang ternyata memang Maroccan mint tea yang dimaksud. Teh Maroko ini tidak dihidangkan menggunakan cangkir, melainkan memakai gelas yang agak besar, seukuran gelas es teh kalau di Indonesia. Tak seperti teh pada umumnya, penyajian Thé à la menthe cukup unik. Gelas besar itu dipenuhi dengan daun mint atau mereka menyebutnya daun na’na, baru kemudian disiram dengan seduhan air teh yang sangat panas. Tersedia gula batu sebagai pemanis. Karena daun mint-nya sangat banyak, jadilah aroma minuman ini terasa segar, rasanya pun tak lagi seperti teh, namun lebih kuat rasa mentholnya. Sangat cocok untuk menemani perbincangan di tengah udara dingin seperti ini.

Saya dan Pak Rustam memesan cappuccino. Sebenarnya saya bukan penikmat kopi. Asam lambung saya tak cukup ramah dengan aroma kopi. Saya hanya minum kopi saat berbincang seperti ini. Ngopi-ngopi cantik kalau istilah orang Jakarta. Karena khawatir perut akan perih, saya juga memesan omelette aux champignons, dadar telur dengan jamur champignons dan keju yang meleleh saat digigit. Saya tidak menyesali pesanan ini, benar-benar perpaduan yang pas.

Si mbak waitress cantik yang hanya bisa berbahasa Arab dan Prancis terlihat hilir mudik melayani pengunjung. Sungguh saya menikmati suasana seperti ini. Ini adalah kali ketiga saya dan Lambang traveling dengan Pak Rustam, pemilik Khalifah Tour, travel yang membawa saya umroh dan ke Andalusia kali ini. Saya jadi ingat beberapa bulan lalu, hampir saja tidak jadi berangkat karena peserta tidak memenuhi quota. Sebenarnya bukan masalah juga kalau saya dan Lambang tetap pergi sendiri ke Andalusia, tapi kami memang menginginkan melakukan perjalanan bersama Pak Rustam. Traveling dengannya selalu terasa menyenangkan, karena banyak obrolan dan diskusi yang kita lakukan. Perspektif keislaman kita jadi bertambah luas.

Saya sangat bersemangat berbincang tentang Andalusia. Bertukar pendapat dan menganalisa mengapa peradaban yang sangat besar ini bisa runtuh? Bagaimana Barat “mengakuisisi” kegemilangan itu tanpa menyebutkan, atau setidaknya menyamarkan, bahwa semua ini bersumber dari Islam. Andalusia adalah sejarah yang terampas. “Pak, nanti kita di sana akan dapat local guide yang memberikan penjelasan dari ‘sisi kita’, kan?” tanya saya. Terlihat Pak Rustam terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. “Biasanya memang local guide, sih, Mbak.” Jawaban itu membuat saya agak bimbang, dan barulah nanti di Andalusia saya menemukan jawabnya.

Obrolan lalu bergeser pada banyak hal, tentang sepak terjang dan keberanian walikota Surabaya, Bu Risma, yang kebetulan belum lama saya temui. Tentang PKL di kota Bandung dan walikotanya Kang Emil. Tentang seluk-beluk menjalankan bisnis travel umroh, tentang para ustaz yang banyak banyak godaannya. Seperti yang sudah-sudah, sangat menyenangkan.

Tak terasa jarum jam mulai bergeser ke angka 12, si mbak waitress mulai berbenah akan menutup kedainya. Setelah membayar, kita bertiga berjalan pelan menuju hotel sambil terus ngobrol. Sesekali berpapasan dengan anak-anak muda yang masih kelayapan di tengah malam.

Saya hirup dinginnya udara Afrika di bulan Januari sambil membayangkan perjuangan Musa bin Nushair saat menaklukkan negeri ini. Sejatinya sejak zaman Khalifah Umar ibn Khatab, cahaya Islam telah sampai negeri Maghribi. Namun penduduknya yang berasal dari suku Berber dengan cepat kembali murtad. Ketika Musa bin Nushair datang, bukan hanya pasukan yang ia bawa, melainkan juga para tabi’in dari Syam dan Hijaz untuk mengajarkan dan mengenalkan Islam pada mereka. Musa bin Nushair tak akan melangkah memperluas wilayah, kalau keimanan penduduknya belum benar-benar tegak. Hasilnya sungguh luar biasa, dari tempat ini lahir para prajurit-prajurit Islam yang kemudian menaklukkan Andalusia, termasuk sang panglima Thariq ibn Ziyad. Tak hanya itu, kekuatan iman yang telah tertancap kuat dari generasi ke generasi, membuat mereka tetap teguh dalam cahaya Allah, sekalipun pada masa kolonial, Prancis yang menjajah wilayah ini berusaha membuat mereka berpaling. Usaha itu tak pernah berhasil hingga kini.


Terima kasih, Pak Rustam, untuk perbincangan yang menyenangkan.

Cassablanca, 2 Januari 2015


Uttiek Herlambang 

Jumat, 30 Januari 2015

Journey to Andalusia


“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan agar sebagian kamu dijadikanNya gugur sebagai syuhada. [QS Ali Imron: 140]

------------------------------------------------------------------------------------

Semua berawal dari hal sederhana: Dongeng pengantar tidur.

Setiap malam menjelang tidur, papi selalu mendongengkan banyak kisah untuk saya dan adik-adik. Favorit saya adalah perjuangan Salahudin Al Ayyubi membebaskan Al Quds (Yerusahlaim). Bahkan saya sudah punya bayangan seperti apa benteng yang berhasil ditaklukannya jauh sebelum saya bisa membaca dengan lancar. Papi dapat menceritakan dengan sangat heroik, bagaimana pasukan berkuda Salahudin memasuki gerbang kota.

Cerita lain yang menarik buat saya adalah kecerdikan Abu Nawas dan bijaksananya Raja Harun Al Rasyid. Saya selalu tertawa terpingkal-pingkal dengan ulahnya. Sampai sekarang pun saya masih bisa mengingat detailnya. Sayup-sayup saya juga masih ingat beberapa kali papi bercerita tentang Andalusia, penaklukan semenanjung Iberia oleh Thariq ibn Ziyad, istana Alhambra, dan Cordoba. 

Dari kebiasaan sederhana itu muncullah satu mimpi: Suatu saat nanti saya ingin mengunjungi negeri-negeri itu. Melihat benteng Salahudin Al Ayyubi, istana Harun Al Rasyid, keindahan Cordoba, dan kemegahan Alhambra.

Tahun 2012 Allah izinkan saya mengunjungi tanah Palestine, bumi para nabi. Damascus Gate, gerbang kota yang dimasuki Salahudin Al Ayyubi saat membebaskan Al Quds (Yerusahlaim) masih berdiri kokoh. Tapi kita tak lagi leluasa memasukinya. Tentara Israel menjaganya sepanjang waktu, mencurigai setiap muslim yang melintas, dan merasa berhak mengintograsi siapa saja yang dikehendaki. Banyak hal menyakitkan yang saya saksikan, namun itu justru melecutkan semangat keislaman.

Impian berikutnya Andalusia. Negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Mengapa Andalusia? Islam pernah menyinari negeri itu dengan ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan selama 800 tahun (711-1492). Lebih dari 2/3 sejarah Islam ada di sana. Andalusia adalah sejarah yang paripurna, bagaimana para syuhada terbaik pilihan Allah menyuburkan tanahnya dengan darah mereka. Dimulai dari perjuangan Musa bin Nushair dan panglimanya Thariq ibn Ziyad memasuki negeri yang tidak dikenalnya sama sekali. Jalan jihad ini bukan untuk mencari harta rampasan perang apalagi kemasyuran, semua semata-mata untuk menegakkan kalimat Allah.  

Allah lalu tunjukkan bagaimana manusia-manusia terbaik itu membangun peradaban. Di saat Barat masih menganggap penyakit sebagai kutukan, dokter-dokter muslim di Andalusia telah berhasil melakukan pembedahan, mengklasifikasi penyakit berdasar symtoms (gejala), meracik obat, bahkan mendirikan rumah sakit. Di sisi lain, para geographer muslim berhasil membuat peta dunia yang rumit dan detail, mengukur radius bumi, menemukan istilah mil untuk menunjuk jarak yang masih digunakan hingga saat ini. Berkat globe yang mereka buat, beberapa abad kemudian kolonial Barat bisa menemukan sumber rempah-rempah dan emas di belahan bumi lain. Tak hanya itu, kalkulus, algoritma, trigonometri, aljabar, adalah hasil pemikiran ilmuwan muslim yang tak ternilai bagi kemajuan peradaban. Tanpa penemuan-penemuan di bidang matematika itu, tak akan ada revolusi digital yang kita nikmati saat ini.

 Delapan ratus tahun bukan waktu yang singkat. Perlahan benderang itu mulai memudar. Hingga akhirnya sirna seakan tak berbekas. Dunia Barat berhutang banyak pada Islam. Mereka “mencuri”pengetahuan dan peradaban itu tanpa pernah mengakui Islam sebagai sumbernya. "Bagaikan bulan yang cahayanya hasil meminjam dari umat Islam," tulis Stanley Lane Poole di bukunya The Moors in Spain.  Apa yang terjadi? Ketika manusia-manusia terbaik tergantikan mereka yang terlena dengan gemerlap dunia, ketika ayat-ayat Allah ditukar dengan dendang lagu dan tarian, ketika tadabur Alquran yang mengasilkan ilmu pengetahuan ditinggalkan, ketika shaf salat tak lagi rapat, apalagi jalan jihad? Saat itulah kehancuran terjadi. Ibarat fragmen, Andalusia adalah episode yang lengkap. Semua telah disaksikan di sana.

Ah, saya jadi ingat ketika berpamitan pada seorang teman dan mengatakan setelah umroh akan melanjutkan perjalanan ke Andalusia. “Andalusia itu di Turki ya?” tanyanya. Maka saya menuliskan perjalanan ini, bukan sekadar menjelaskan bahwa Islam pernah berada di Andalusia: Spanyol, Portugal, dan sebagian Prancis –bukan di Turki-, tapi juga mengingatkan bahwa benderang itu bersumber dari Islam.

Assalamualaikum Andalusia,


Madinah, 30 Desember 2014

Uttiek Herlambang