Kamis, 24 Januari 2019

"YOUR BAGGAGE THROUGH URUMQI, MADAME"


Journey to Uighur-Xinjiang #2


Boarding CZ 6070


"Your baggage cheked through urumuqi, Madame. Nothing can do, unless you cancel the ticket," jawab petugas cantik di bagian baggage claim Dubai Int'l Airport yang seketika membuat saya lemas.

Tadi sewaktu di Jeddah, ada petugas dari Khalifah Tour yang mengurus check-in. Saya dan Lambang menunggu di ruang tunggu, tidak ikut check-in. Sehingga tidak bisa mastikan kalau bagasi seharusnya ikut keluar dulu di Dubai.

Bukan apa-apa, beberapa hari lalu, Mas Reggy Kartawidjaja dari Khalifah Tour memforward email yang isinya membuat saya gelisah: aturan memakai penutup kepala di Xinjiang. Bila tidak sesuai, saya harus melepas hijab yang saya kenakan. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Dan saat ini, karena baru meninggalkan Madinah, saya memakai coat yang menyerupai gamis panjang serta kerudung lebar sampai betis. Meski warnanya bukan hitam atau putih, dua warna yang secara tegas dilarang dalam aturan tersebut, namun tetap saja saya khawatir akan muncul masalah.

"Aku nanti minta Abdul bawain scarf istrinya. Kalau sampai enggak ketemu toko yang jual hijab, sementara bisa pakai itu," kata Lambang menyebut nama temannya yang bekerja sebagai ekspatriat di Dubai dan akan kita temui siang nanti.

Pesawat yang membawa kita ke Xinjiang memang harus transit di Dubai, karena tidak ada direct flight dari Jeddah. Begitu tahu harus transit, sejak dari Jakarta kita putuskan sekalian urus visa Dubai supaya bisa keluar dari bandara dan bertemu dengan teman-teman di sini.

Sebelum mendapat email tentang aturan penutup kepala, lebih dulu saya diingatkan untuk tidak membawa mushaf Alqur'an. Meski di handphone saya ada aplikasi Muslim Pro yang juga ada Alqur'an 30 juz di dalamnya, namun tetap saja saya merasa tidak nyaman pergi menginap tanpa membawa mushaf.

Ini adalah kali kedua perjalan saya menuju negara yang mempermasalahkan mushaf. Sebelumnya, tahun 2012 lalu saat akan ke Palestine, saya harus melintas border Israel dari Jordan.

Meski tidak ada larangan tertulis, namun cerita perempuan dari Singapore yang duduk di sebelah saya di Masjid Nabawi tak urung membuat saya mempertimbangkan banyak hal.

Waktu itu ia masuk bersamaan dengan rombongan dari Malaysia. Ternyata ada satu peserta yang membawa mushaf di kopernya. Jadilah seluruh rombongan tertahan di border sampai 7 jam. Dengan berbagai pertimbangan, karena waktu itu saya pergi bersama rombongan, daripada menyusahkan yang lain, saya putuskan mushaf saya masukkan ke koper yang ditinggal di Jordan.

Kali ini mushaf saya pun sudah ikut terbang dengan koper umrah pulang ke Jakarta lebih dulu. Satu masalah sudah bisa diantisipasi, muncul masalah lain. Hijab saya mungkin terlalu menyolok dan tidak sesuai dengan aturan mereka.


Pemandangan Burj Al Arab dari Souk Madinat Jumeirah, Dubai


Alhamdulillah, di Dubai Abdul dan Manal Alhaddad, istrinya, datang membawakan scarf dan mengajak kita ke Madinat Souq untuk makan siang. Menyenangkan sekali bertemu mereka berdua, mendengar banyak cerita tentang kehidupannya sebagai ekspatriat di Dubai, serta "bayangan" orang Indonesia tentang ekspatriat di Dubai.

Saya sungguh terkejut mendengar cerita betapa sulitnya mendapat SIM Dubai serta besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Sekitar 2000 Diram UEA/paket (sekitar Rp8 juta) dan minimal mereka harus mengambil 6 paket untuk bisa sampai ujian. Wah, kalau saya, sudah pasti tidak akan lolos.... selamanya!


Jadwal penerbangan dari Dubai International Airport yang sangat padat.


Dubai International Airport yang super besar membuat kita tak bisa berlama-lama jalan-jalan di pusat kota Dubai. Kita harus segera check-in.

Sebelum berangkat, sahabat saya Mas Kaji Wisnu Aji sempat bertanya, "Sudah pernah terbang dengan maskapai China?" Begitu saya jawab belum, "siap-siap bawa headset saja. Berisik sekali" lanjutnya.

Dan benar saja, sejak antrean check-in CZ 6070 Dubai-Urumqi, kehebohan sudah terjadi. Semua orang dalam antrean bicara dengan suara keras seakan tak ada orang lain di situ. Kalau hanya satu-dua orang, pastilah tidak masalah. Tapi kalau seratusan orang secara bersamaan? Saya yang sudah lelah hanya bisa menutup mata.

Kejutan berikutnya, semua orang membawa barang ke cabin dalam jumlah yang sangat banyak. Sepertinya tidak ada aturan tas cabin hanya 1 buah. Bermacam gembolan mereka tenteng. Dan surprisenya, barang bawaan itu berbungkus tas-tas kresek besar. Saya jadi inget belanjaan kalau pulang dari Tanah Abang.

Kehebohan kembali terjadi saat mereka berebut tempat di kompartemen pesawat untuk menaruh barang-barangnya. Karena semua membawa banyak barang, jadilah kompartemen yang ada tidak cukup. Tapi sepertinya awak cabin sudah sangat paham. Dengan cekatan mereka mengatur tas-tas bawaan itu sehingga kompartemen bisa ditutup.

Penerbangan Dubai-Urumqi ditempuh dalam waktu 7 jam. Saya betul-betul dibuat takjub dengan kemampuan bicara mereka yang seakan tidak ada berhentinya. Semua orang bicara dengan suara keras. Bersahut-sahutan. Berisik sekali.

Saya yang sudah lelah karena melakukan perjalanan tanpa henti, dari Madinah-Jeddah-Dubai-Urumqi, akhirnya betul-betul ketiduran. Dalam lelap, saya melihat gerbang kota Kashgar yang menanti.


Assalamualaykum Urumqi


Urumqi, 2/1/2019

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti


XINJIANG YANG DIRUNDUNG MALANG


Journey to Uighur-Xinjiang #1




Setelah menyelesaikan ibadah umrah dan berziarah ke Madinah, Januari 2019 ini saya meneruskan langkah ke Urumqi, Turpan dan Kashgar. Ketiga kota itu berada di Xinjiang province, China.

Nama Xinjiang mungkin tidak begitu familiar di Tanah Air. Namun kalau menyebut Uighur, hampir semua orang tahu. Uighur adalah salah satu etnis muslim yang tinggal di wiliyah Xinjiang. Ibaratnya, Xinjiang adalah provinsi Jawa Tengah, kota Urumqi adalah ibu kota provinsi, seperti halnya Semarang, dan Uighur adalah etnis Jawa yang mayoritas tinggal di daerah tersebut.

Mengapa Xinjiang? Selain saya ingin bertemu dan menyapa saudara-saudara muslim Uighur di tanah kelahirannya, tempat ini adalah rute penting pada periode Silk Road atau Jalur Sutra. Perjalanan ini juga akan menjadi bagian dari buku ke-4 Serial Jelajah Tiga Daulah: Journey to Silk Road. InsyaAllah.

Mengatur perjalanan ke Xinjiang tidaklah mudah. Adalah Pak Rustam Ade Rustam, pemilik Khalifah Tour yang membantu mewujudkan mimpi-mimpi saya menyusuri kota-kota dengan jejak sejarah Islam. Termasuk perjalanan ke Xinjiang kali ini.

Di awal, Mas Reggy Kartawidjaja yang ditugaskan untuk membantu saya menginformasikan kalau saya tidak bisa berangkat Desember ini, “Freezing, Bu, suhunya minus 25 di sana,” infonya. “Tapi saya tetap akan usahakan. Saya akan carikan mitra di sana yang bisa membantu,” lanjutnya.

Berikutnya adalah isu keamanan. Xinjiang sedang tidak aman. Ramainya pemberitaan tentang muslim Uighur membuat kunjungan ke kota ini tidak direkomendasikan. Kalaupun tetap akan melakukan perjalanan, akan berakibat pada tingginya biaya insurance keamanan.

Waktu terus berjalan dan semakin mepet dengan jadwal umrah, saya sempat memberikan alternatif destinasi, “Kalau tidak bisa masuk Xinjiang, tolong diatur untuk ke Esfahan.”

Alhamdulillah, awal Desember ada titik terang, “Ini ada mitra di Beijing yang bersedia operate, Bu,” kabar Mas Reggy sembari meminta saya segera melengkapi dokumen yang dibutuhkan untuk pengurusan visa.

Biidznillah, dengan izin Allah, akhirnya saya bisa melangkahkan kaki di Xinjiang. Menyusuri kota Urumqi, Turpan, Kashgar dan menyapa saudara-saudaramuslim Uighur di tanah kelahirannya.

Banyak hal tak terduga, haru biru, seru, juga lucu yang terjadi sepanjang perjalanan. Termasuk, ini adalah kali pertama saya mendapat pertanyaan “What's your religion?” saat pemeriksaan di bandara di luar negeri. Serta permintaan, “Madame, you should take off your scarf.” Iya, permintaan melepas hijab. Lambang juga pernah panik setengah mati gegara mengira saya diculik.

Catatan perjalanan ini bisa diikuti di blog saya www.uttiek.blogspot.com dan di akun media sosial saya @uttiek_mpanjiastuti, serta foto-foto yang akan saya posting di akun IG @uttiek.herlambang.


Mari saya temani memunguti hikmah yang berserak sepanjang perjalanan ini.


Kb Jeruk, 10/1/2019

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti
------------------------------------------------------------

AKU INGIN MENYAPAMU SAUDARAKU





I understand that, according to Chinese law, applicant may be refused entry into China even if a visa is granted.

Saya baca sekali lagi tulisan kecil yang tercetak di bagian bawah lembaran Visa Application Form of the People’s Republic of China. Notifikasi itu menegaskan, apa pun bisa terjadi sekalipun visa sudah tertempel di passport. “Bismillah. Allahumma yassir wa la tuassir,” bisik saya sebelum membubuhkan tanda tangan.

Setiap akan melakukan perjalanan di akhir tahun usai umrah, bagian yang paling membuat deg-degan adalah pengajuan visa. Seperti tahun lalu, visa Uzbekistan baru keluar sehari menjelang keberangkatan. Bahkan di tahun 2016 sekalipun sudah mengantongi manifes visa Mesir dari Jakarta, namun manisfes visa itu tetap ditolak di Bandara King Abd Azis, Jeddah.

Perjalanan akhir tahun kali ini istimewa, karena setelah umrah saya akan meneruskan langkah ke Urumqi, Turpan dan Kashgar di Xinjiang-China. InsyaAllah, saya akan bertemu dan menyapa saudara-saudara Muslim Uighur di sana.

Bertemu dengan saudara Muslim Uighur di negerinya sudah lama saya rindukan. Rasanya hampir sama sewaktu saya akan melakukan perjalan ke Palestine tahun 2012 lalu. Ada kerinduan yang tak bisa dijelaskan. Saya tidak mengenal mereka, pun mereka tidak mengenal saya. Namun ikatan Tauhid menyatukan hati kita.

Saya sungguh ingin melihat apa yang terjadi. Tentu, saya tidak bisa membasuh luka yang mereka alami. Namun, uluran tangan, pelukan hangat dan doa tulus yang akan saya bisikkan, semoga bisa menguatkan mereka.

"La takqaf wa la tahzan. Innallaha ma ana. Jangan takut dan jangan besedih saudaraku, sesungguhnya Allah bersama kita."

"Xinjiang sedang tidak aman. Kamu tidak khawatir?" Tanya seorang sahabat saat mendengar jawaban saya akan meneruskan langkah ke Xinjiang usai umrah.

Sekelebat bermunculan berita-berita yang terus saya ikuti beberapa hari terakhir ini. Kalau sebelumnya hanya sosial media yang dibatasi, kini akses internet pun diputus seiring meningkatnya sorotan media asing tentang situasi di sana.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir
Cukup Allah pelindungku, dan Allah sebaik-baik pelindung.

"Makanya, cariin kita, ya, kalau nanti belum kembali," jawab saya.

Sahabat, doakan saya dan Lambang, semoga Allah berkahi dan mudahkan perjalanan ini.



Pd Gede, 20 Desember 2018

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti

MENYUSURI LANGKAH, MEMUNGUTI HIKMAH YANG BERSERAK






Saya sudah sering menulis betapa saya sangat kagum dengan kitab Ar-Rihlah yang berisi memoar perjalanan Sang Pengelana Ibn Bathutah.

Tak terbayangkan sulitnya melakukan perjalanan sejauh itu di zaman alat transportasi hanya ada kuda dan hewan tunggangan lainnya. Alat navigasi pun masih sangat terbatas hanya mengandalkan bintang di langit.

Manusia modern tentu tak bisa membayangkan perjalanan tanpa bantuan GPS dan semacamnya.

Satu lagi yang membuat saya percaya bahwa bahasa Arab pernah menjadi bahasa Internasional kelompok intelektual dibuktikan dengan grand journey Ibn Bathutah ini.

Betapa tidak, dari nun jauh di dusun Tangier, Maroko, ia menyusuri rute yang berlipat dari perjalanan Marcopolo. Tanpa adanya bahasa yang menyatukan tempat-tempat yang disinggahinya, mustahil ada catatan perjalanan sepanjang miliknya.

Beberapa kali saya on-off-on-off kursus bahasa Arab, salah satu tujuannya adalah untuk membaca kitab Ar-Rihlah dalam bahasa aslinya. Karena kosa kata bahasa Arab sangat kaya, pasti tulisan aslinya jauuuh lebih indah dari terjemahannya.

Seperti halnya Ibn Bathutah yang memulai langkah dari Baitullah. Hari ini pun saya akan meneruskan perjalanan setelah menyelesaikan umrah dan menuntaskan kerinduan di tanah Madinah.

Saya akan menyusuri Xinjiang-Urumqi-Turpan dan Khasgar untuk menyapa saudara-saudara Uighur di sana.

Doakan perjalanannya lancar. Banyak hikmah berserak yang bisa saya punguti di sepanjang rute yang dilalui. Yang akan saya tuliskan untuk siapa saja yang mau membacanya. Dengan berbagai pertimbangan, cerita perjalanan ini akan saya bagikan setelah kembali ke Jakarta.



King Abd Azis Int'l Airport, Jedah, 1/1/2019

Uttiek
Follow me on IG@uttiek.herlambang |FB @uttiek_mpanjiastuti

Minggu, 27 Maret 2016

Pendar Mozaik di Blue Mosque


Lelaki tua warga negara Prancis keturunan Maroko itu terlihat bersungut-sungut. Saat ia beriktikaf di masjid, anak laki-lakinya pulang dalam keadaan mabuk. Mereka beradu mulut. "Saya harus menunggu kamu berdoa. Di luar dingin, jadi saya minum sedikit," kilah si anak.

Adegan itu adalah penggalan film berjudul "Le Grand Voyage", sebuah film yang diputar pada pembukaan Festival Film Prancis di Jakarta sekian tahun lalu. Ceritanya tentang pria tua dari Prancis yang akan pergi haji melalui jalan darat dan meminta anak laki-lakinya menyupiri. Si anak ini memiliki gaya hidup hedonis yang jauh berbeda dengan ayahnya yang sholeh. Banyak pesan kemanusiaan terselip sepanjang film. Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah adegan di masjid Sultan Ahmed, Istanbul, atau yang lebih dikenal sebagai Blue Mosque.

Masjid itu terlihat indah dengan minaret yang unik. Saat menyaksikan adegan dalam film itu, terselip doa di hati, semoga Allah izinkan saya untuk pergi ke Baitullah melalui jalan darat. Dan satu lagi, shalat di Masjid Biru itu. Alhamdulillah, Allah izinkan saya mendapatkan salah satunya hari ini.

------------------------------------------

Guyuran salju kian lebat. Saya memastikan coat dan sarung tangan terpasang rapat. Syal yang melingkar di leher saya kenakan di kepala, melapisi hijab. Sambil sedikit membungkuk, kita berjalan menembus salju. Jarak Topkapi Sarayi ke Blue Mosque tidak terlalu jauh, namun lebatnya hujan salju membuat jalan kita menjadi lambat.

Beberapa turis dari Timur Tengah terlihat berlarian gembira. Mereka bermain snow war, alias lempar-lemparan salju. Saya tersenyum kecil, membayangkan mereka yang setiap hari harus merasakan panasnya udara gurun, tentulah berada di tengah hujan salju seperti ini menjadi pengalaman yang menyenangkan. Bahkan beberapa perempuan yang mengenakan abaya hitam tampak santai tanpa coat tebal.

Dari kejauhan mulai terlihat Blue Mosque yang putih tertutup salju. Sebenarnya masjid ini dari luar memang tidak berwarna biru. Namun, mozaik di dalamnya yang semua berwarna biru, membuat masjid yang aslinya bernama Sultan Ahmed ini dikenal dengan nama Blue Mosque. Mozaik yang terpasang tak terhitung jumlahnya dan rapi sekali, pastilah ini hasil karya tangan-tangan terampil.

Di depan pintu, terlihat antrean wudhu untuk laki-laki. Saya lirik Lambang sekilas, ia menoleh dan langsung berkata, "Aku tayamum ya. Enggak kuat dinginnya," jawabnya. Di Turki, masyarakatnya tidak mengenal wudhu dengan air hangat. Sekalipun suhu di bawah nol derajat, dengan guyuran salju dan terpaan angin dingin yang kencang, mereka tetap berwudhu menggunakan air dingin.

Ingin tahu seperti apa rasanya wudhu dengan air dingin di tengah salju? Air ini kalau kena muka seperti menampar-nampar pipi. Sedikit pedih. Lalu pipi seperti dikerubuti ribuan semut, dan beberapa di antaranya menggigit, hingga terasa perih!

Nalan lalu memberi tahu arah tempat wudhu dan shalat untuk perempuan, serta menunjuk tempat janjian kita usai shalat. Seperti beberapa masjid besar di Turki, di gerbang masjid tersedia plastik yang bisa digunakan untuk membungkus sepatu, kemudian kita harus meletakkannya di rak penyimpanan di dalam ruangan. Di musim dingin seperti ini, semua orang ke masjid menggunakan sepatu boots, tidak ada yang memakai sandal, karena harus berjalan menembus salju.

Umumnya gerbang masjid di Turki ditutup dengan semacam kerai yang terbuat dari kulit dan terpal berwarna hijau yang sangat tebal. Fungsinya untuk menghalau angin dingin dari luar, sekaligus sebagai penanda bahwa itu pintu menuju tempat shalat. Berbeda dengan di Indonesia, masjid di Turki umumnya boleh dimasuki orang-orang non muslim, namun mereka menggunakan pintu yang berbeda. Pintu berwarna hijau khusus bagi yang akan shalat. Saat adzan berkumandang, semua masjid tertutup bagi turis, hingga selesai waktu shalat.

Saya menyibak kerai warna hijau yang berat itu dan melangkah perlahan ke tempat shalat perempuan. Subhanallah. Mozaik biru yang menutup dinding dalam masjid ini indah sekali. Tidak terhitung jumlahnya.  Di tengah masjid juga tak terlihat pilar-pilar untuk menyangga kubah yang sangat besar. Seperti halnya Masjid Selimiye di Edirne yang saya saksikan kemarin, mereka menggunakan hidden pillar. Dengan arsitek yang cantik, pilar kokoh berdiameter 5 meter itu seakan tidak terlihat.

Saya dongakkan kepala, kubah besar itu dikelilingi dengan kubah-kubah kecil di sekitarnya. Dari bawah, kumpulan kubah itu bentuknya menyerupai kelopak bunga. Tak hanya dari sisi estetika, sejatinya kubah-kubah kecil itu fungsinya untuk mengurangi “beban” kubah besar yang ada di tengah. Sungguh sebuah ide jenius yang menggabungkan antara kekuatan dan keindahan dalam sebuah karya arsitektur.

Dalam bukunya “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, Prof. DR. Raghib A-Sirjani menyebutkan, peradaban Islam telah mencapai kemajuan dalam membangun kubah-kubah besar. Secara keseluruhan kubah adalah bangunan yang membutuhkan perhitungan matematika yang rumit. Maha karya itu, di antaranya, kubah Ash-Shakrah (dome of rock) di Baitul Maqdis, Palestine, kubah masjid  Astanah di Kairo, bangunan-bangunan di Andalusia, dan rangkuman dari seluruh karya besar itu adalah masjid Sultan Ahmed atau Blue Mosque di Istanbul.

Beberapa buah chandelier yang sangat besar tergantung di bawah kubah. Istimewanya, saat itu mereka masih menggunakan minyak untuk penerangan, tapi tak ada sedikitpun jelaga yang membuat kubah terlihat menghitam. Dengan cara yang sangat "canggih", asap dan jelaga itu ditampung dalam satu wadah, lalu dengan menggunakan cairan kimia tertentu, diolah menjadi tinta yang digunakan untuk menulis kitab. Subhanallah.

Masjid ini memiliki 6 minaret, padahal umumnya masjid di Turki hanya memiliki 4 minaret. Ini terkait dengan menara di Masjidil Haram yang kala itu baru berjumlah 6, sehingga Sultan memutuskan, tidak boleh ada masjid yang melebihinya.

"Kesalahan" terjadi kala Sultan Ahmed menginginkan minaret masjid yang terbuat dari emas, namun dipahami oleh arsiteknya sebagai enam. Kata emas dan enam dalam bahasa Turki terdengar mirip. Jadilah masjid ini sebagai satu-satunya masjid yang memiliki enam minaret di Turki.

Tak berhenti pada penciptaan kubah-kubah besar, namun juga seni lengkung bangunan yang menjadi ciri arsitektur Islam. Di awali dengan pembuatan lengkung Manfukh di Masjid Umawi, Damaskus, pada tahun 706, lalu menyebarlah ke seluruh dunia. Beragam bentuk lengkungan tercipta, seperti lengkung Al-Mudabbabah, Ash-Shama, dan  Al-Munfarij. Nama terakhir itu baru dikenal di Inggris abad ke-16 dengan nama Tudor Arch.

Salah satu pencapaian yang paling spektakuler adalah ilmu suara atau akuistik. Tanpa menggunakan pengeras suara, suara imam dapat didistribusikan ke seluruh masjid dengan sangat jernih. Para arsitek muslim telah mengenal bahwa suara memantul dari atap-atap cekung dan berkumpul di cekungan tertentu. Seperti halnya hukum cahaya yang memantul dari kaca cekung. Atap dan tembok masjid dirancang dengan bentuk cekung yang terbagi di beberapa pojok masjid secara detail dengan perhitungan yang rumit.

Kalau dunia mengenal nama Wallace Sabine, fisikawan dari Harvard, sebagai penemu ilmu suara bangunan di tahun 1900, sesungguhnya para ilmuwan muslim lah yang menciptakannya, berabad sebelumnya. Ini dibuktikan pada masjid Isfahan kuno, masjid Al-Adiliyah di Halab, serta masjid-masjid Daulah Abbasiyah di Baghdad, masjid-masjid di Andalusia, dan masjid-masjid Daulah Utsmani di Turki.

Yang menarik, dari beberapa masjid yang kita singgahi, umumnya imamnya masih muda, berusia sekitar empat puluhan, dengan wajah yang ganteng-ganteng khas pria Euroasia. Sebagai gambaran, bayangkan para Vladimir, mengenakan jubah imam yang indah dan penutup kepala khas. Bacaan mereka sangat tartil, umumnya mereka hafiz. Kalau di beberapa masjid di Indonesia, sebelum dan sesudah shalat ada shalawatan, di Turki juga ada, dan lebih panjang lagi yang mereka baca.

Nalan sempat mengenalkan kita dengan salah satu imam di Masjid Selimiye, Edirne, kemarin. Sang imam dengan senyum ramahnya menyambut saya dan Lambang, ia terlihat berbinar begitu tahu kami dari Indonesia. Dalam bahasa Turki, yang diterjemahkan Nalan, ia mengucapkan selamat datang, memuji orang Indonesia sebagai muslim yang ramah, serta mengirimkan salam untuk saudara-saudara muslim di Indonesia. Sudut mata saya hangat menyambut salam ini, persaudaraan dalam satu akidah selalu menggetarkan hati.

------------------------------------

Tempat shalat perempuan dipisah dengan batas partisi dari kayu, namun tetap bisa melihat arah mihrab. Saya segera mengambil posisi di shaf perempuan. Selesai shalat, saat berdoa, saya melihat jari lentik yang memakai cincin indah, terulur mengambil tasbih yang posisi gantungannya tepat di depan saya. Penasaran, saya menoleh. Alangkah terkejutnya, perempuan cantik berjari lentik itu sangat mirip dengan Dewi Sandra!

Usai shalat, kami saling berjabat tangan sambil mengucapkan salam. Melihat banyaknya jamaah siang ini, hati terasa hangat. Mustafa Kamal Attaturk boleh saja mencabut panji-panji Islam dan menjadikan negara ini sekuler, namun Allah Sang Pemilik Hidayah, tetap akan membuka hati mereka untuk memakmurkan masjidNya.


Istanbul, 31 Desember 2015

Uttiek Herlambang


Jumat, 25 Maret 2016

Topkapi Sarayi Pelipur Lara


Setahun lalu saat melakukan perjalanan ke Andalusia seusai umrah, saya merasakan kesedihan yang mendalam. Andalusia adalah senandung kepedihan. Semua diambil dari kita, tanpa ada yang disisakan. Rasa sedih berkepanjangan itu yang membuat tulisan-tulisan tentang Andalusia tak kunjung selesai, hingga berganti tahun.

Namun, Allah selalu punya rencana rahasia yang pasti sempurna. Saya yang seharusnya berada di Mesir, kini atas izinNya berbelok ke Turki dengan cara yang tidak terduga.

Rupanya ini adalah caraNya untuk menghapus kesedihan itu. Jejak sejarah Islam di Turki adalah dendang kemenangan. Manusia terbaik, dengan pasukan terbaik, berhasil mewujudkan nubuwat Rasulullah akan penaklukan Konstantinopel. Sebuah imperium yang sepertinya tak tersentuh kala itu. Perjuangan ini berlangsung dari generasi ke generasi, hingga terpilihlah sang Al-Fatih.

Getar itu masih saya rasakan saat melihat kalimat Allah tegak tergurat di atas gerbang Topkapi Sarayi atau Istana Topkapi. Laa Illa hailallah Muhammad darusulullah...

--------------------------------------------
“Wah, hujan salju!” seru saya pada Lambang saat membuka tirai jendela kamar hotel. Terlihat butiran putih yang berhamburan di udara. Meski ini bukan kali pertama saya melihat salju, tapi membayangkan akan menyusuri jejak Al Fatih dan shalat sebanyak mungkin di masjid yang kita jumpai hari ini di bawah guyuran salju, pastilah akan menjadi kenangan tak terlupakan.

Lambang yang pada dasarnya memang tidak tahan dengan udara dingin, menatap ke jendela sambil meringis seperti menahan dingin. “Sebentar, aku pakai satu lapis baju lagi,” katanya sambil mengenakan sweater, sebelum memakai coat tebalnya, mengalungkan syal, serta memasang sarung tangan.

Keluar dari kamar, terlihat taman dari balik kaca yang seluruhnya telah berwarna putih. “Wah, tebal sekali saljunya,” ujar Lambang. Pagi itu ketebalan salju sekitar 20-30 cm. Saya menatap sepatu boots yang baru kemarin dibeli di Edirne Bazaar, sambil membatin, alhamdulillah, kemarin sempat membelinya, karena saya memang tidak mempersiapkan perjalanan untuk bertemu salju. Apa jadinya kalau harus berjalan menembus salju setebal ini tanpa memakai sepatu boots?  

Hotel Hilton Garden Inn tempat kita menginap posisinya di atas. Karena jalanan tertutup salju, mobil tidak bisa naik. Jadilah Nalan mengajak kita untuk turun ke bawah, ke tempat mobil menunggu. Seorang pegawai hotel menemani, untuk memastikan kami turun dengan selamat. Beberapa kali saya terpeleset, karena jalan yang tertutup salju licin sekali.   

Pagi itu dingin terasa mengingit, karena salju turun kian lebat. Saya agak terkejut, ternyata guyuran salju tidak membuat kita basah seperti halnya kalau kehujanan. Dengan sekali kibas, salju yang menempel di coat akan berjatuhan, tanpa ada sisa air yang menempel.  

Setelah hampir 30 menit berkendara, sampailah kita di area kota tua. Saya, Lambang dan Nalan, harus turun dari mobil kurang lebih setengah kilometer dari lokasi parkir, karena jalanan stuck akibat tertutup salju. Jalan yang licin, membuat saya lagi-lagi nyaris terpeleset beberapa kali. "Aku lewat tengah salju sajalah, licin kalau lewat jalan yang saljunya sudah dibersihkan dengan taburan garam," kata saya pada Lambang.

Jalan yang kita lalui terus mendaki. Topkapi Sarayi berada di atas bukit. Ada tujuh bukit di seluruh Istanbul, salah satunya adalah lokasi ini. Dipilihnya tempat di atas ketinggian, tentu bukan tanpa alasan. Dari sini, setiap pergerakan di Selat Bosphorus dan Laut Marmara dapat terlihat dengan jelas.

Semua rasa lelah, ngos-ngosan karena berjalan jauh, mendaki di bawah guyuran salju, seketika hilang saat terlihat gerbang yang sangat terkenal itu. Di sinilah Muhammad Al-Fatih mengibarkan panji kemenangan, lalu menyebarkan cahaya Islam ke dua per tiga wilayah di dunia, selama lebih dari enam ratus tahun. Subhanallah, tak terasa sudut mata saya terasa hangat.

Topkapi Sarayi kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan peninggalan sejarah tak ternilai harganya. Bukan karena banyaknya barang yang terbuat dari emas maupun berbalut batu mulia, tapi karena jejak sejarah yang ditinggalkannya.

Gerbang pertama yang kita masuki adalah Bab Al Humain. Saya agak terkejut sebenarnya melihat sarayi atau istana "penguasa" dunia "sesederhana" ini. Saya pernah menyaksikan istana Al Hambra yang luar biasa indahnya, padahal Granada hanyalah sebuah keemiran kecil sekaligus yang terakhir di Andalusia, sangat jauh dibanding kekuasaan Daulah Utsmani.

Tak banyak ornamen di dalam istana. Motif geometris maupun gambar-gambar bunga sebagai dekorasi pun terlihat sangat sederhana. Tidak serumit di Al Hambra. Inikah bentuk ketawadhuk-an Al Fatih? Atau mungkinkah menciptakan bangunan yang megah bukan prioritas? Mereka lebih memilih menciptakan alat-alat perang yang belum pernah digunakan manusia sebelumnya?

Ada yang khas dari istana ini, yakni banyaknya air mancur. Selain difungsikan sebagai hiasan, sumber air ini sekaligus digunakan sebagai tempat wudhu. Di pintu istana terdapat satu tonggak untuk menancapkan bendera. Pada masa itu digunakan sebagai penanda, apakah sultan sedang berada di istana atau sedang berjihad.

Pada kesempatan tertentu, kalau sedang beruntung, pengunjung bisa menyaksikan upacara pasukan Jeniseri (Inkisyariyah). Sekalipun saat ini pasukan kebanggaan itu sudah tidak ada, dan upacara ini sekadar pertunjukan budaya, namun tak kurang kegemilangannya masih dirasakan oleh mereka yang melihat. Di abad ke-15, pasukan Utsmani adalah pasukan tempur yang paling modern dan terorganisir. Terdiri dari divisi infanteri Jeniseri, kavaleri Sipahi, pasukan ireguler Akinci, militer sukarela Bashi-bazouk.  Dan tak ada yang dapat menandingi kehebatan Jeniseri pada masa itu.

Sejarah mencatat, pasukan elite ini dibentuk pada masa Murad I dan Bezayid, di akhir abad ke-14. Tidak seperti kebiasaan pasukan Eropa yang membunuh para tawanan perang dan laki-laki yang mereka temui di daerah taklukan, Sultan Murad I mempunyai ide jenius dengan memanfaatkan anak-anak laki-laki Kristen dari wilayah yang berhasil dibebaskan.

Anak-anak ini dididik dengan disiplin yang luar biasa sehingga terbentuklah armada militer yang tangguh. Tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam, meski akhirnya hampir seluruhnya mendapat cahaya hidayah setelah menyaksikan keadilan dan keagungan agama Tauhid ini.

Pasukan ini dipimpin oleh seorang jenderal yang disebut Aga yang memimpin beberapa brigade; brigade Cemaat (pasukan depan), brigade Boluk (pengawal sultan), dan brigade Sekban. Masing-masing brigade terdiri dari beberapa orta atau batalion yang dipimpin seorang Corbaci atau kolonel. Pada saat membebaskan Konstantinopel, jumlah pasukan Jeniseri kurang lebih 165-196 orta atau sekitar 10.000-12.000 pasukan.

Muhammad Al-Fatih acap kali mengimami pasukan ini shalat berjamaah. Dalam khubah Jumatnya, ia selalu mengingatkan akan nubuwat Rasulullah akan kemuliaan pasukan yang bisa membebaskan Konstantinopel. Sultan juga menempatkan para ulama di setiap barak untuk menjaga lurusnya niat dan kedekatan pada Yang Maha Memberi Kemenangan. Pengondisian seperti ini tak ayal membuat pasukan Jeniseri tak ada yang menandingi.

Kemenangan demi kemenangan yang ditorehkan pasukan Utsmani tak hanya karena ketangguhan pasukannya. Tapi, juga kehebatan senjata yang berhasil mereka ciptakan. Salah satu ahli senjata itu bernama Orban. Ia berhasil menciptakan meriam sepanjang 8 m, berdiameter lebih dari 0,7 m, dengan tebal bibir meriam 20 cm, yang terbuat dari logam padat. Di ujung moncong meriam, Sultan memerintahkan untuk mengukirnya dengan tulisan “Tolonglah ya Allah. Sultan Muhammad Khan bin Murad.” Betapapun hebatnya senjata ini pada zamannya, Al-Fatih tetap berkeyakinan bahwa pertolongan Allah lah yang akan menghantarkannya pada kemenangan.

Sebagai bayangan betapa besarnya senjata ini, seorang pria dewasa dapat masuk ke meriam ini dengan berlulut di dalamnya. Peluru yang digunakan seberat 700 kg. Meriam inilah yang akhirnya, atas izin Allah, dapat menjebol tembok kokoh Konstantinopel. Seolah menjawab penantian panjang, jihad yang terus dikobarkan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, sejak masa Muawiyah mengirim pasukannya di tahun 669 hingga kemenangan itu diperoleh tahun 1453, atau 784 tahun!

-----------------------------

Hari ini Topkapi Sarayi sejauh mata memandang terlihat putih berselimut salju. Nalan mengajak kita masuk ke bagian lain dari museum yang menyimpan benda-benda bersejarah, seperti pedang yang digunakan Rasulullah dan para sahabat, rambut dan jubah Rasulullah, gamis yang dikenakan Fatimah, bahkan benda-benda dari zaman Nabi Ibrahim. Hati saya tergetar waktu melihat pedang Khalid ibn Walid, benda inikah yang digunakan berjihad sehingga membuatnya digelari Syaifullah atau pedang Allah?

Peninggalan Daulah Ustmani diletakkan di ruang terpisah. Ada berlian 86 carat (!), yang kilauannya sangat menyilaukan, juga pedang yang digunakan Al Fatih yang di tengahnya terdapat ukiran ayat-ayat jihad.

Di bagian lain, terdapat ruangan yang digunakan untuk audiensi dengan rakyat maupun para duta besar. Lagi-lagi saya terkesan dengan kesederhanaan bangunan ini. Keluar dari ruangan, terdapat taman yang luas. Di dekat pagar pembatas terlihat gazebo kecil. Di gazebo inilah sultan menanti adzan Maghrib berkumandang di bulan Ramadhan. Indah sekali pemandangan dari tempat ini. Bayangkan minum seteguk zam-zam untuk menghapus dahaga setelah puasa seharian sambil menatap senja yang lindap di atas Selat Bosphorus.

Hati saya terasa ringan. Sejarah Utsmani adalah kegemilangan. Saat melangkah keluar dari Topkapi Sarayi, terdengar kumandang adzan Dzuhur dari kejauhan. "Shall we go to Blue Mosque now?" Tanya saya. "Sure," jawab Nalan.

Kalimat, "Hayya 'ala sholah..."  terdengar sangat indah, di bawah guyuran salju, di depan Istana Topkapi. Allah selalu punya cara untuk membuat bunga tulip kembali bermekaran di hati saya...



Istanbul, 31 Desember 2015


Uttiek Herlambang

Minggu, 20 Maret 2016

Edirne, Kota Kelahiran Sang Al Fatih


"Al-Azhar di Mesir adalah tempat orang-orang paling pintar menuntut ilmu." Ucap Papi saat saya masih sangat belia. Sejak itu tertanam di hati, kalau mau pintar, harus bersekolah di Al-Azhar, atau setidaknya pernah berada di sana. Merasakan dan menyerap semangat para pencari ilmu.

Sudah selangkah menuju gerbang Al-Azhar, takdir Allah membawa saya harus berbelok lebih dulu ke tanah Al-Fatih, Istanbul. Tapi rencana Allah selalu paling sempurna. Mesir adalah bumi Allah, begitu pun Turki.

--------------------------------------------------
Menjelajah bumi Allah dan shalat di sebanyak-banyak masjidNya adalah impian yang sedang saya dan Lambang wujudkan. Dan perjalanan hari ini dimulai dari Edirne, kota indah bekas ibu kota salah satu periode Daulah Utsmani. Dari tempat ini Sang Al Fatih mengatur strategi dan menyiapkan pasukannya untuk membebaskan Konstantinopel.

Badan masih terasa sedikit penat, karena semalam kita baru mendarat di Istanbul.  Rasanya masih tidak percaya, saya kini berada di Benua Eropa, padahal kalau sesuai rencana, harusnya pagi ini saya terbangun di Benua Afrika. Nalan meminta kita bertemu di restoran hotel pukul 6.30. Jangan bayangkan pukul 6.30 seperti di Indonesia, karena di Istanbul, jam segitu hanya berselang beberapa menit setelah adzan Subuh berkumandang.

Di hari pertama ini, Lambang mencoba shalat Subuh di masjid terdekat. Setelah menembus dinginnya udara di musim salju, berjalan menanjak menaiki tangga dengan kemiringan 30 derajat, sampailah ia di masjid yang ternyata tutup karena sedang direnovasi! Saya terheran, dia sudah sampai lagi di hotel saat saya baru mengucapkan salam usai shalat Subuh. “Masjidnya tutup. Lagi direnovasi,” katanya sambil membenamkan muka ke bantal untuk menghalau dingin.

Setelah bersiap, kami segera turun. Nalan rupanya sudah menunggu di pintu restoran. Saya menyapanya dan memujinya karena on time. Dengan memasang muka serius, ia mengatakan kalau ia selalu siap 15-30 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Oh, baiklah. Dengan sedikit malu, dalam hati saya membatin, sebagai orang Jakarta, saya masih menganggap on time adalah prestasi.  

Mobil bergerak perlahan meninggalkan hotel. Suasana masih terlihat sepi sepagi ini. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan tol. Kita melintasi jembatan yang menghubungkan wilayah Turki yang berada di Benua Eropa dengan Turki yang berada di Asia, atau yang sering disebut Anatolia.

Gedung-gedung tinggi, rel kereta, semakin menghilang di kejauhan, berganti dengan ladang gandum dan perkebunan chery. Beberapa kali terlihat di kejauhan gundukan tanah menyerupai bukit kecil yang tertutup rumput. Dari cerita Nalan, gundukan tanah seperti itu adalah makam kuno. Banyak para pemburu harta karun yang menggali dan menemukan kepingan uang emas, tembikar dan barang-barang berharga lainnya. Makam kuno itu peninggalan era Byzantium atau sebelumnya.

Tiba-tiba Nalan berseru, “Lihat signboard hijau itu, itu arah ke desa saya. Orangtua saya masih tinggal di sana,” serunya dengan gembira. Ia lalu menceritakan kehidupannya di desa yang menyenangkan, sebelum ia merantau ke Izmir untuk kuliah dan pindah ke Istanbul setelah menikah. Saya tertawa geli waktu ia bercerita tentang neneknya yang takjub melihat turis yang dipandunya tidak shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan. “Apakah mereka manusia?” tanya sang nenek. Sekalipun Republik Turki berhaluan sekuler, namun bagi generasi tua, terutama yang masih hidup di desa-desa, menjalankan syariat Islam adalah satu-satunya haluan hidup yang mereka pahami dan pegang teguh hingga akhir hayat.  

Memasuki kota Edirne, pemandangan kian menawan. Perbukitan yang menghijau, ladang yang tertata rapi, sungai dengan air yang jernih, jembatan tua bergaya Roman, minaret-minaret masjid yang menjulang.  Tak heran kalau Habiburrahman El Shirazy atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Abik memilih kota ini sebagai salah satu setting novelnya yang berjudul  Api Tauhid.

Di kota ini pula Muhammad Al Fatih dilahirkan pada 29 maret 1432. Konon menjelang kelahirannya, Sang ayah, Sultan Murad II sedang menderas Alquran dan sampai pada Surat al-Fath, yang berisi janji Allah akan kemenangan kaum muslimin. Qadarullah, sebutan Al Fatih lalu tersemat di belakang namanya.

Muhammad Al Fatih tak pernah diproyeksikan menjadi pengganti ayahnya, karena ia mempunyai dua kakak laki-laki, Ahmed dan Ali. Seperti putra-putra sultan sebelumnya, di usia 2 tahun ia dan Ahmed kakaknya dikirim ke kota Amasya untuk belajar. Di usia 6 tahun, ia diangkat menjadi gubernur Amasya menggantikan Ahmed  yang meninggal mendadak.

Dua tahun memimpin Amasya, ia bertukar tempat dengan kakak keduanya, Ali, untuk meminpin kota Manisa. Takdir Allah, Ali kemudian terbunuh. Peristiwa ini sangat memukul Murad II, karena Ali adalah anak kesayangan yang digadang-gadang akan menggantikannya kelak. Itu pula yang menjadi salah satu penyebab, ia memilih mundur dari posisinya sebagai sultan, untuk lebih banyak berkhalwat dengan Allah, dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada Muhammad Al Fatih di usianya yang masih 11 tahun.

Diangkatnya sultan yang masih sangat belia ini membuat Paus Eugene IV membujuk Ladislas menghianati perjanjian damai selama 12 tahun yang telah disepakati bersama Sultan Murad II. Keadaan menjadi kacau dan membuat Muhammad Al Fatih menuliskan surat yang sangat terkenal itu, seperti yang dikutip Ust Felix Siauw dalam bukunya Muhammad Al-Fatih 1453.

“Siapakah yang menjadi sultan saat ini, saya atau ayahanda? Bila ayahanda yang menjadi sultan, datanglah kemari dan pimpin pasukanmu. Tapi bila ayahanda menganggap saya sebagai sultan, dengan ini saya meminta ayahanda segera kemari dan memimpin pasukan saya.”

Demikianlah sejarah mencatat. Setelah Sultan Murad II berhasil mengalahkan musuh, ia kembali didaulat menjadi sultan Utsmani dan Muhammad Al Fatih kembali menjadi gubernur di Manisa. Ia baru kembali ke Edirne saat sang ayah, Sultan Murad II, mangkat. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki yang tersisa. Kepindahannya ke Edirne pada 18 Februari 1451 ini untuk memangku jabatan sultan kali kedua.

Kota indah ini awalnya berhasil dibebaskan oleh kakek buyutnya, Sultan Murad I pada tahun 1361. Kota yang sebelumnya bernama Adrianopel ini kemudian diganti namanya menjadi Edirne. Nama yang masih digunakan hingga saat ini. Sejak itu pula, Sultan Murad I menjadikan kota Edirne sebagai basis untuk menaklukkan Eropa dan menjadikan kota Bursa untuk mengatur pemerintahan di Asia dengan Selat Dardanela sebagai penghubung keduanya.  

Tak banyak peninggal masa Murad II maupun Muhammad Al Fatih di kota ini. Karena setelah membebaskan Konstantinopel, ia memindahkan ibukota kerajaan ke kota yang sekarang bernama Istanbul. Tujuan pertama kita adalah kompleks Sultan II Bayezid Kulliyesi Saglik Muzesi. Tempat ini dulunya adalah madrasah atau sekolah dan rumah sakit. Di tempat ini terlihat jelas bagaimana ilmu pengetahuan sudah sangat maju kala itu. Di saat Barat masih menganggap penderita gangguan jiwa adalah penyihir yang harus dibakar hidup-hidup, di sini sudah ada rumah sakit khusus untuk mereka. Selain menggunakan obat-obatan, Al Farabi juga melakukan penyembuhan menggunakan terapi musik, aromatherapi, bahkan diet makanan tertentu. Berabad kemudian, teknik ini masih digunakan.

Masjid di dalam kompleks ini tidak terlalu besar, namun berarsitektur cantik khas Utsmani. "Ini belum waktunya shalat, kan?" Tanya Nalan melihat saya dan Lambang bersiap untuk shalat. "Ya, saya akan shalat Tahiyatul Masjid. Saya ingin shalat sebanyak mungkin di masjid-masjid yang saya jumpai." Ruangan di dalam masjid terasa hangat dibanding suhu di luar yang minus satu derajat.

Tiba waktu Dzuhur, saya dan Lambang sudah berada di masjid berikutnya, yakni Ezki Mosque. Masjid ini kental dengan nuansa "mistik-nya", karena Islam di Turki mengenal banyak tarekat dan "menyukai" hal-hal seperti itu. Syahdan diceritakan Nalan, kalau Nabi Khidir masih sering shalat di sini. "Coba kamu lihat baik-baik orang yang shalat di sebelah kamu ya," pesan saya pada Lambang.

Usai shalat Dzuhur, kita menikmati makan siang di salah satu restoran yang menyajikan hidangan khas Edirne yang sangat terkenal: Hati sapi goreng atau tava ciger dalam bahsa Turki. Sebelumnya Nalan memastikan apakah kita mau makan hati sapi, sebab kalau tidak, kita bisa memilih menu yang lebih “aman”, yakni olahan daging sapi. Ah, andai dia tahu, orang Solo memakan semua bagian dari tubuh sapi. Jangankan hati, otak dan mata pun kita makan!

Tava ciger ini berupa potongan hati sapi yang diiris tipis memanjang, dibumbui tepung sebelum digoreng kering. Hidangan ini aslinya disajikan dengan roti, namun karena tahu kita dari Indonesia, Nalan sengaja memesankannya dengan nasi. Rasanya…hhmmm, lumer di lidah.

Di musim dingin seperti sekarang, hari sudah gelap sekitar pukul 16.00. Sehingga adzan Dzuhur pukul 12.30, masuk waktu Ashar pukul 14.38, hanya berselang 2 jam saja. Alhamdulillah, Allah izinkan saya shalat Ashar di masjid yang diarsiteki oleh si jenius Mimar Sinan. Masjid Selimiye yang termahsyur itu. Secara konstruksi, arsitektur dan desain interiornya, bangunan ini sangat mencengangkan. Bahkan hal ini diakui oleh orang-orang Jepang modern yang sangat paham dengan konstruksi bangunan tahan gempa. Lokasi masjid ini dan wilayah Turki pada umumnya adalah daerah rawan gempa. Namun berabad lamanya masjid ini masih utuh sekalipun diguncang gempa berkali-kali.

Subhanallah. Nikmat ini tidak terkira. Sekalipun Allah belum izinkan saya shalat di Masjid Al-Azhar, Kairo, namun Allah ganti dengan yang lebih banyak masjid yang bisa saya shalati hari ini.


Alhamdulillah...


Edirne, 30 Desember 2015


Sabtu, 13 Februari 2016

Assalamualaikum Istanbul


“Eh, tiket kita business class,” kata Lambang mengejutkan.
Saya hentikan langkah dan melihat tiket yang terselip di dalam passport. Betul, ada tulisan business class di situ. Kita saling berpandangan dan tersenyum lebar. Alhamdulillah, sebuah kejutan awal yang menyenangkan.

Tak berhenti di situ, perjalanan lanjutan usai umrah yang seharusnya ke Mesir, ternyata atas izin Allah harus berbelok ke Istanbul. Dan lagi-lagi, saya dikejutkan dengan tiket business class Saudi Arabia Airlines, Jeddah-Istanbul.

Ah, kejutan demi kejutan, membuat perjalanan umrah akhir tahun 2015 ini menjadi perjalanan yang penuh warna.
_____________________

Udara dingin menyambut kedatangan saya di Atatürk International Airport, Istanbul. Sambil mendorong koper-koper besar yang berat, saya dan Lambang celingak-celinguk mengamati deretan para penjemput yang menanti di balik ralling besi.

Seorang perempuan muda berkacamata membawa kertas bertuliskan Mr. Herlambang. “Itu…,” seru saya sambil menunjuk ke arahnya. Saya lemparkan senyum dan melambaikan tangan. “Hi, I’m Herlambang,” kata Lambang, yang disambut perempuan itu dengan ramah, “Bagaimana penerbangan kalian?”

Setelah lebih dekat, baru terlihat kalau perempuan ini memiliki kecantikan khas Turki Eropa. Kulitnya putih, rambutnya kemerahan, wajahnya mungil, perawakannya sedang. Sekilas tampak seperti artis Nikita Willy. “My name is Nalan…,” katanya memperkenalkan diri. Ia jelaskan kalau seharusnya kita makan malam di sebuah Chinese restaurant, tapi karena sudah lewat pukul 21.00 malam, sepertinya waktunya tidak keburu.
“Is it halal?” potong saya setelah mendengar kata Chinese food.
“Off course,” jawab Nalan, seperti bingung mendengar pertanyaan itu. Nanti, setelah melakukan perjalan beberapa hari di Turki, barulah saya tahu jawabnya.

Nalan lalu mengajak kita ke Simit Sarayi, sebuah franchise bakery yang sangat terkenal di Turki. Bahkan saya juga sempat melihatnya di Grand Zam-Zam, Mekkah. Makanan yang paling populer di sini namanya Taptaze simitler, semacam pretzel yang empuk. Lambang memilih itu, sedang saya meminta sandwich dan secangkir teh panas.

Malam ini kita langsung ke hotel Hilton Garden, tempat kita menginap, yang berada di Golden Horn. Nalan meminta kita segera beristirahat, karena besok pagi akan melakukan perjalanan darat ke Edirne, sejauh 240 km,  yang memakan waktu kurang lebih tiga jam.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel, saya melihat hiruk pikuk Istanbul yang modern. Gedung-gedung tinggi, manusia yang sibuk, jalanan yang macet, serta warna-warni signboard mengepung kota. Mendekati selat Bosphorus, Nalan menunjukkan beberapa bangunan kuno, seperti tembok Konstantinopel. “Besok, kalian bisa melihatnya lebih jelas,” katanya

Istanbul adalah kepingan sejarah yang tercatat dengan tinta emas. Daulah Ustmani menorehkannya selama lebih dari 600 tahun. Usman Bey sang pemula, dengan gagah berani  menghancurkan pasukan Tartar. Ditaklukkannya Bursa di tahun 1317, lalu satu per satu negeri-negeri di sekelilingnya.

Perjuangan Usman Bey dan keturunannya: Orkan I, Murad I, Bayazid, Muhammad I, Murad II, semuanya untuk mewujudkan nubuwat Rasulullah. Tercatat dalam tarikh, di perang Khandak, Rasulullah menghentakkan tembilangnya pada sebuah batu. Benturan keras antara besi dan batu itu memancarkan cahaya sebanyak tiga kali. Sebanyak itu pula manusia mulia itu bertakbir, hingga para sahabat yang menyaksikan bertanya, “Ada apa gerangan?” Dijawab, bahwa pada percikan cahaya yang pertama dilihatnya negeri Yaman, percikan kedua Kisra di Persia dan yang ketiga adalah istana Konstantinopel. “Sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan yang akan menaklukkan Konstantinopel.”

Nubuwat itu menjadi pelecut semangat bagi siapa saja untuk mewujudkannya. Sejak para sahabat, yang dibuktikan oleh Abu Ayub Al Anshari yang berjihad hingga tembok Konstantinopel, sampai Usman Bey dan keturunannya. Sejengkal demi sejengkal negeri di sekitar Konstantinopel berhasil ditaklukkan. Hingga datanglah Sang Al-Fatih, Muhammad II Sang Penakluk. Bersama pasukan terbaiknya, setelah mengepung dari hari Jumat, 6 April 1453 hingga Selasa, 29 Mei 1453, akhirnya ia berhasil mewujudkan nubuwat itu.

Tak berhenti sampai di situ. Mereka adalah keturunan darah Turan, bangsa pengembara yang perkasa, tak gentar panas, tak takut salju. Perlahan, satu per satu negeri-negeri yang jauh disatukannya. Mesir, Hijaz (Mekkah-Madinah), Yaman, Irak, Palestine, Maroko, Tunisia, Aljazair, Bulgaria, Hongaria, Polandia, bahkan Sultan Sulaiman Al-Qonuni dua kali mengirim pasukannya hingga batas kota Wina, Austria.

Dua per tiga wilayah di dunia tunduk pada Daulah Ustmani. Kekuasaannya ke Timur sampai Malaka dan Nusantara. Aceh berulang mendapat bantuan dari pasukan Turki Ustmani saat mengusir Portugis. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, menuliskan, pengaruh Daulah Usmani itu sangat terasa. Bahkan sampai sekarang, di dusun-dusun di Ulu Palembang, Tanah Bugis, Minangkabau, terutama di Aceh, masih banyak yang menggantung gambar-gambar Sultan Turki dan para pahlawannya, seperti Anwar Pasha dan Ibrahim Adham Pasha.

Lebih mengejutkan lagi, kalau sungguh-sungguh mencari, pada khutbah kedua shalat Jumat (Na’at) di surau-surau di kampung-kampung itu, masih banyak yang mendoakan khalifah Ustmani! Bahkan salah satu lambang kerajaan Minangkabau adalah sebuah cap Daulah Ustmani yang bernama Thaghraii. Benda itu masih disimpan oleh anak cucu kerabat kerajaan di Pagaruyung.

Kegemilangan demi kegemilangan yang telah ditorehkan, harus berakhir di tangan anak bangsa sendiri. Mustafa Kemal Atatürk, pada tanggal 29 Oktober 1923 mendirikan Republik Turki yang berhaluan sekuler. Mencabut panji-panji Islam yang pernah menggetarkan dunia dan menghapus segala hal yang berbau syariat Islam. Melarang perempuan-perempuan mengenakan hijabnya ke sekolah atau gedung pemerintahan, mengganti adzan menggunakan bahasa Turki, menutup madrasah-madrasah, dan sederet peristiwa memilukan lainnya.

Apakah Islam hilang dari Turki? Tidak! Saya menyaksikan hangatnya cahaya Illahi di tanah Al-Fatih hari ini.

Assalamualaikum Istanbul


Istanbul, 29 Desember 2015