Selasa, 08 Mei 2012

Seharusnya Kita Bicara Satu Bahasa


Pukul 02.30 dini hari. Sekilas saya lihat jam penunjuk waktu sholat tak jauh dari tempat saya duduk. Saya tutup Al-Qur'an setelah menandai sampai juz berapa yang telah saya baca. Menggerakkan punggung ke kiri-kanan dan luruskan kaki untuk menghilangkan pegal. Dini hari ini saya baru selesai mengerjakan umroh dengan mengambil miqat di Dzul Hulaifah yang juga sering disebut Abyar 'Ali atau Bir Ali, dalam perjalanan dari Madinah ke Mekah.

Sudah menjadi kebiasaan saya dan Lambang, selesai umroh pertama kami tidak kembali ke hotel. Sebab biasanya umroh dimulai selepas sholat Isya’ dan barus selesai lewat tengah malam. Dini hari Masjidil Haram tidak terlalu padat, kita bisa sholat Tahajud sepuasnya di depan Multazam, tempat dimana doa diijabah. Membaca Al-Qur'an sembari menanti kumandang adzan subuh. Sungguh sangat nikmat.

Serombongan remaja perempuan berkerumun di dekat tempat saya duduk. Sepertinya mereka pelajar menilik pakaiannya yang seragam. Kerudung putih menjuntai sampai lantai masjid. Seorang wanita sepuh memimpin membaca doa, mungkin itu gurunya, batin saya. Tiba-tiba kerumunan itu heboh. Salah seorang dari mereka menangis. Dari hidungnya terus mengucur darah. Ah, mimisan, rupanya. Teman-temannya sibuk mengeluarkan tisu dan menenangkannya. Tapi darah semakin banyak dan anak gadis itu tambah sesenggukan.

Saya coba baca tanda pengenal mereka yang ditulis dalam huruf Arab: Syuriah. Alhamdulillah, sekalipun negerinya sedang bergolak, anak-anak sekolah ini tetap bisa melaksanakan ibadah umroh. Mungkin anak itu kecapekan. Mungkin udaranya dingin sehingga ia mimisan. Seorang wanita dewasa akhirnya membawa anak itu meninggalkan teman-temannya yang bersiap hendak melaksanakan tawaf.

------------

Satu, dua, tiga, ...,  akhirnya kanan kiri saya sesak oleh jama'ah. Waktu subuh semakin dekat. Langit di atas Ka’bah masih gelap. Saya tidak terlalu memperhatikan karena masih membaca Al-Qur'an saat seorang wanita berteriak ribut. Teriakannya memancing orang untuk menengok. Ia menyuruh wanita yang duduk di sebelahnya berdiri. Terlihat ada bercak darah menempel di gamisnya. Wanita yang disuruh berdiri itu sepertinya tidak merasa dirinya sedang haid. Keduanya ribut dalam bahasa Parsi. Mungkin keduanya dari Irak atau Iran.

Orang-orang yang melihat sibuk berkomentar dalam bahasanya sendiri-sendiri. Wanita yang gamisnya terkena bercak darah itu akhirnya meninggalkan tempat itu, sepertinya ia mau memastikan apakah sedang haid atau tidak. Awalnya saya tidak ingin nimbrung, tapi karena makin ribut, saya coba katakan kalau itu darah mimisan, bukan darah haid.

"Anyone speak English?" tanya saya.
"Yes, I am," jawab seorang wanita.
"That’s nosebleed ," kata saya. "Can you speak Arabic? Please tell them," imbuh saya.
Ternyata wanita itu juga tidak bisa berbahasa Arab.
Saya coba berikan bahasa isyarat bahwa darah itu keluar dari hidung bukan darah haid. Sebagian sepertinya mengerti, sebagian tetap ribut. Wanita berbahasa Parsi itu masih terus berkomentar sendiri.

Ah, saya mendesah pelan. Saya merasa miris menyaksikan kejadian ini. Ini sudah saya rasakan lama. Tiap kali harus mengatakan, “Can you speak English?” sebelum memulai perbincangan dengan seseorang di rumah Allah membuat saya sedih. Saya dan jama'ah wanita yang ada di tempat ini seharusnya bicara dalam satu bahasa. Bahasa Arab. Bahasa Al-Qur'an. Bahasa yang sama yang membuat kita bisa memahami maksud satu dengan yang lainnya. Allah sudah turunkan bahasa itu untuk menyatukan kita, memudahkan kita, tapi tidak semua umat Islam bisa menggunakannya. Termasuk saya.

Sebenarnya bukan tanpa usaha, saya dan Lambang bersama beberapa teman, Alee, Novi, Dedeh, dan beberapa nama lagi pernah ikut kelas Bahasa Arab di Universitas Al-Azhar, Jakarta. Sampai jilid 5 tidak berlanjut karena kelas ditutup, jumlah pesertanya tidak memenuhi quota. Yang saya sesalkan, saya tidak terlalu bersungguh-sungguh waktu ikut kursus itu. Tidak ada target harus bisa. Padahal tak kurang yang mengajar adalah seorang doktor Ilmu Bahasa Arab lulusan University of Khartoum-Sudan, yang sudah sangat berbaik hati meluangkan waktunya –syukron laka, yaa ustadz-. Saya harus memulainya lagi. Harus!

Kemampuan berbahasa Arab inilah yang pernah menyatukan seluruh umat Islam di dunia dalam muktamar akbar: ibadah haji. Tranfer ilmu agama dan pengetahuan menjadi efektif karena kesatuan bahasa. Tak heran pemerintah Kolonial Belanda sangat takut dengan orang-orang Nusantara yang pergi haji. Di tanah suci mereka bertemu dengan orang dari seluruh penjuru dunia. Ide tentang kemerdekaan. Ide melawan kafir Belanda, muncul dari situ. Tak heran selama 22 tahun, dari 1911 sampai 1933, jamaah haji Nusantara begitu kembali dari tanah suci dikarantina terlebih dahulu di Pulau Onrust. Alasan Belanda untuk pemeriksaan kesehatan, setelah berbulan-bulan di atas kapal dikhawatirkan mereka membawa penyakit. Namun lebih dari itu Belanda harus mempunyai data lengkap para khafilah haji ini, jika suatu saat ada pergolakan di daerah, para haji inilah yang ditangkap lebih dahulu. Selama di Pulau Onrust mereka juga dicuci otak, terutama terhadap ide-ide tentang kemerdekaan.

Jauh sebelum itu, pada periode keemasan Dinasti Abbasiyah, para pemimpinnya sudah menyadari betul kekuatan bahasa. Karena perluasan wilayah Islam membuat Bahasa Arab berkembang sesuai dialek setempat. Hingga akhirnya saling tidak paham sekalipun sama-sama berbahasa Arab. Keprihatinan ini mendorong digunakannya kembali Bahasa Arab Fushah, bahasa yang sesuai Al-Qur’an. Dan sejarah mencatat kegemilangan masa itu, selama lebih dari lima abad (750-1258 M), peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya. Perpustakaan yang disebut Baitul Hikmah mengoleksi tak kurang dari 2 juta buku. Ilmu pengetahuan berkembang pesat karena kekuatan bahasa.

Semua kehebohan itu berakhir saat adzan Subuh berkumandang. Darah mimisan remaja dari Syuriah tadi ditutup tisue. Shaf kami jadi terputus, karena tempat itu tidak bisa digunakan sholat. Ah, seandainya tadi semua bisa mengerti…


Laa budda an takuuna lughotunaa waahidah; Seharusnya kita bicara satu bahasa.


Uttiek Herlambang,
Masjidil Haram, Mekah, 2012

Sabtu, 05 Mei 2012

Pohon Gharqad Yang Terlupa


Handuk besar berwarna putih itu saya bentangkan di depan koper. Dinginnya lantai hotel membuat kaki serasa berdiri di atas balok es. Subuh ini saya harus berkemas, tak terasa sudah tiba waktunya meninggalkan Palestine. Ah, rasanya sungguh berat, seperti waktu haji tahun 2007, rasanya begitu berat waktu meninggalkan Mekah untuk pertama kalinya.
Satu persatu barang bawaan saya kemasi: baju kotor, peralatan mandi, oleh-oleh.
Ya Rabb, izinkan saya untuk datang dan datang lagi ke tempat mulia ini, negeri para Nabi, juga adik-adik saya, juga umat Muslim seluruh dunia.

Koper kecil itu mulai terlihat sesak. Saya buka tas kain yang setiap hari dipakai ke masjid, cangkir- cangkir keramik bertulis Masjidil Aqsa, jam dinding  berkaligrafi Surat Al Israh, tempelan kulkas, semua barang dari keramik ini tidak bisa masuk koper karena takut pecah. Ah, jeruk Jericho, yang ini jangan sampai tertinggal, batin saya sambil memasukkan satu per satu  ke dalam tas supaya tidak makan tempat. Kemarin Jamal wanti-wanti  kalau hari ini jam 7 pagi sudah harus berkumpul di loby hotel. Jangan sampai terlambat karena jadwal sangat padat. Kita harus menyeberang lagi ke Jordan, dari Jordan terbang ke Dubai, dengan waktu tempuh 6 jam, dari Dubai ke Jakarta terbang sekitar 11 jam. Dihitung dengan perbedaan waktu, sehari ini akan saya lewati selama 29 jam, melintas batas 4 negara.

 ------------

Bus mulai bergerak menuju perbatasan. Melewati jalan yang sama dengan yang kita lewati waktu datang. Masuk check point Israel, Jamal dan Abu Ismail turun, mereka melepas ikat pinggang karena harus melewati penindai. Tentara berseragam lengkap memperlakukan mereka dengan tidak ramah. Selesai melewati pemeriksaan, mereka berdua diberi semacam stiker seukuran foto 2R, berwarna orange terang dengan tulisan huruf Hebrew. Saya sudah pernah melihat sebelumnya waktu baru datang. "What's that, Jamal?" tanya saya. Jamal hanya mengangkat bahu sambil membuka kedua telapak tangannya. Dari ekspresi Jamal saya bisa menangkap kegetiran karena perlakuan diskriminatif yang merendahkan itu. Ah, hati jadi miris, saya teringat sapi-sapi yang harus mendapat cap dari Departemen Pertanian sebelum disembelih di rumah penjagalan.

Gara-gara stiker diskriminatif itu, saya jadi lupa untuk menanyakan satu hal penting. Ini yang masih saya sesali sampai sekarang. Saya ingin melihat wujud pohon gharqad! Pohon inilah yang di akhir zaman nanti akan menjadi tempat persembunyian yahudi, seperti yang diriwayatkan dalam satu hadist, "Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin memerangi yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu akan berkata: Wahai Muslim! Wahai hamba Allah! Ini yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, maka itu adalah dari pohon-pohonnya yahudi." [HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lulu' wal-Marjan III/308] 

Dari informasi yang saya cari sebelumnya, pohon gharqad (Nitraria Retusa) adalah tanaman sejenis semak, berdaun kecil-kecil namun lebat dengan ranting banyak. Setelah besar, batangnya cukup kokoh dengan daun lebat yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Sampai tahun 2007, sudah lebih dari 220 juta batang pohon gharqad yang ditanam yahudi di tanah Palestine. Untuk menggalakkan penanaman pohon ini, bahkan Israel menjualnya secara online seharga USD 18/batang. Dengan melihat langsung rupa pohonnya, setidaknya saya tahu kalau-kalau pohon ini tiba-tiba muncul di Indonesia.

----------

Saya benar-benar lupa bertanya tentang pohon gharqad itu sampai bus masuk ke wilayah Jordan. Di border King Husein Bridge, Osama, local guide yang mengantarkan rombongan ke Petra dan selama di Jordan sudah menunggu. Melihat senyum ramah Osama, pikiran saya kembali melayang ke Jamal. Membandingkan Jamal dengan Osama seperti bumi dan langit. Usia mereka seharusnya tidak terpaut jauh. Osama adalah anak muda energik, murah senyum, selalu terlihat optimis dan bersemangat. Sehari-hari ia memakai celana jeans, t-shirt, menyandang ransel, topi serta kacamata sport merk terkenal. Ia anak muda yang terlahir di negara makmur (sebagai ilustrasi mata uang Jordan, yakni Dinar Jordan nilainya setara dengan Euro), tak heran kalau selalu terlihat gembira, tidak seperti Jamal yang gugup dan gelisah.

The Hashemite Royal Family merupakan keturunan Bani Hasyim (keluarga yang menurunkan Rasulullah SAW), pendiri kerajaan Jordan ini sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Hampir semua penduduk Jordan berpendidikan tinggi. Menurut cerita Osama, bahkan penduduk desa pun bersekolah tinggi serta mampu berbahasa Inggris dengan baik. Osama salah satunya, ia lahir dan besar di  suatu desa sekitar 30 km dari Ibu Kota Amman. Tak hanya untuk kesejahteraan rakyatnya, renovasi serta pendanaan Masjidil Aqsa  yang saat ini dibawah The al-Aqsha Foundation for Waqf and Heritage (Yayasan Wakaf Al Aqsa) dananya sebagian besar juga dari Kerajaan Jordan.

Bus yang dikemudikan Maher meninggalkan border menuju Dead Sea (laut mati), tempat dimana umat Nabi Luth dan Kaum Sodom ditenggelamkan. Sepanjang perjalanan terlihat tanah Jordan yang subur, hijau, sejauh mata memandang terlihat perkebunan anggur dan zaitun. Kontur tanahnya naik turun, dengan udara sejuk  di tepian Mediterania. Sangat  berbeda dengan suasana di Palestine, meski jaraknya hanya selemparan batu. Semoga Allah segera berikan kedamaian di tanah Palestine, seperti yang terlihat di sini.

Sebelum sampai Dead Sea, rombongan sempat menziarahi makam Nabi Syuaib. Tempat ini dulunya bernama Negeri Madyan, Nabi Syuaib diutus untuk kaum yang suka berlaku curang dalam timbangan dan perniagaan. Jadi teringat kondisi Indonesia saat ini, perilaku korup, suap, perniagaan penuh riba, ah, semoga Allah tidak turunkan azab seperti yang terjadi pada Negeri Madyan.

Di sepanjang sisi Dead Sea, baik yang di wilayah Jordan maupun di wilayah Palestine yang diduduki Israel, banyak didirikan resort-resort mewah dan jaringan hotel internasional. Rombongan berhenti di salah satu resort untuk makan siang. "Jadi, kita tidak sempat berenang nih, Pak?" tanya seorang teman pada Pak Rustam. "Iya, waktunya mepet sekali, tidak memungkinkan untuk berenang," jawabnya. Beberapa orang terlihat kecewa. Saya bertanya pada Lambang, "Emang kamu juga mau berenang?" "Nyelupin kaki aja, enggak berenang," jawabnya. Saya jadi teringat cerita ibu-ibu dari Singapura yang duduk sebelahan di Masjid Nabawi, kaki suaminya yang berendam di Dead Sea tiga hari berwarna pink, setelah itu berubah jadi kehitaman, baru kembali normal setelah sampai Mekah.

Sejak awal saya memang tidak ingin menyentuh air Dead Sea, sekalipun lumpurnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit, membuat awet muda, bahkan produk-produk dari Dead Sea laris untuk spa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Alasannya, bahkan mahluk hidup pun tidak ada yang mau tinggal di tempat itu karena tempat itu telah dilaknat Allah (penelitian ilmiah membuktikan bahwa kadar garam yang sangat tinggi membuat tidak ada satu mahluk hidup pun bisa bertahan di situ). Ulah kaum Luth, penduduk Kota Sodom dan Gomorah, sudah kelewat batas, sehingga tanah tempat mereka tinggal dibalik oleh Allah dan mereka ditenggelamkan di dasar laut mati. Teringat perkataan Presiden Iran Ahmadinejad yang terkenal itu, "Hapus Israel dari peta bumi. Biarkan mereka tinggal di atas laut mati." Setuju!

Rombongan bergegas masuk restoran. Makan siang disajikan secara buffet alias prasmanan. Nasi, aneka olahan daging, ayam, roti, pasta, boleh ambil sepuasnya, tapi minumnya bayar sendiri, seperti kebanyakan restoran All You Can Eat di Jakarta. Udara Dead Sea di bulan Maret masih sangat nyaman, sejuk, tidak terlalu dingin, sudah ada sinar matahari namun belum menyengat. Buat mereka yang tidak tahan gerah dan menyukai udara dingin seperti saya, mengunjungi negara-negara di Timur Tengah saat musim dingin (November-Maret) akan terasa sangat nyaman dengan suhu di bawah 15C.

Dari Dead Sea harusnya masih ada satu tujuan yakni Gua Ashabul Kahfi, namun karena terjebak kemacetan parah, akhirnya diputuskan untuk langsung ke Bandara supaya tidak tertinggal pesawat. Lokasi Gua Ashabul Kahfi ini masih diperdebatkan, apakah yang di Jordan atau yang di Damaskus. Karena tidak jadi mengunjungi yang di Jordan, saya berdoa semoga Allah izinkan untuk mengunjungi yang di Damaskus lain waktu. Amin.

Saat transit di Dubai menunggu penerbangan ke Jakarta, antara lelah sangat dan kantuk, saya baru teringat, ah, saya belum sempat bertanya pada Jamal seperti apa pohon gharqad itu?

----------

"Jadi, seperti apa pohon gharqad itu?" tanya Alee, sahabat saya  dan Lambang di food court Plaza Senayan, saat kami bertiga bertemu untuk melihat foto-foto perjalanan ke Aqsa.
"Itu dia Lee, aku nyesel banget, sampe pulang kelupaan terus nanya rupa pohon gharqad itu. Baru inget sudah di Dubai," jawab saya penuh sesal. "Mungkin ini rencana Allah, supaya kita bisa umroh, ke Aqsa lagi, dan melihat pohon gharqad bersama-sama," lanjut saya.

Kalau selama ini saya hanya berdoa supaya bisa kembali dan kembali lagi ke Baitullah dan menziarahi makam Rasulullah SAW, kini doa itu saya lengkapi: Yaa Rabb, izinkan saya untuk kembali dan kembali lagi ke Masjidil Aqsa, tanah Palestine, bumi para nabi...

Untuk Alee,


Uttiek Herlambang
Palestine-Jordan-Dubai-Jakarta, 2012

Kamis, 26 April 2012

Que Viva Intifada




Sekali lagi saya membuka koper merah berukuran besar itu. Sewaktu membelinya untuk umroh tahun 2009, Lambang sempat bertanya apa koper itu tidak terlalu besar? “Sekalian saja beli koper besar untuk ke Aqsa nanti, jadi enggak usah beli-beli lagi,” jawab saya waktu itu. Dan benar saja, koper merah bermerk Delsey ini yang kita bawa untuk umroh dan ke Aqsa tiga tahun kemudian.

Kain ihram, kerudung, baju, sendal karet... Satu per satu saya centang notes kecil berisi catatan apa saja yang harus saya bawa. Tas hitam kecil itu saya buka, lakban, karet, spidol kecil, spidol besar. Ah, ini penting, jangan sampai tertinggal, batin saya sambil merapikan lagi tas kecil itu dan memasukkan ke dalam koper. Setelah yakin tidak ada yang terlupa, nomer kombinasi saya acak. Gembok tambahan terpasang. Bismillahirrohmannirrohim.

----------

“Betul di tempat itu ada, Pak?” tanya saya
“Seingat saya iya ada. Di depan salah satu restoran tempat makan siang kita,” jawab Pak Rustam.
Grafiti. Itu yang saya cari.
Selain sholat dan mendengar kumdandang adzan dari Masjidil Aqsa, saya juga ingin melihat benteng Salahudin Al Ayyubi dan grafiti. Simbol perlawanan rakyat Palestine. Ketika mereka tidak punya senjata, ketika hanya batu dan pena yang tersisa, grafiti menunjukkan pada dunia, rakyat Palestine akan terus berjuang. Tidak pernah ada kata menyerah, sampai datang takdir Allah, seluruh tanah Palestine terbebaskan dari penjajah yang dzalim.

Grafiti pertama yang saya lihat ada di dinding suatu sekolah saat berjalan kaki dari makam Rabi'ah Al-Adawiyah ke makam Salman Al Farisi di sekitar Mt Olive. Bergambar bendera Palestine dengan tulisan Arab, Filistin. Setelah itu berturut-turut ada beberapa grafiti lainnya, banyak yang menuliskan kalimat Allahu Akbar: Allah Maha Besar. Semua saya foto. Supaya tidak tertinggal rombongan, saya tidak membaca lagi apa tulisannya, yang penting ada grafiti saya foto dulu. Foto-foto grafiti di lokasi ini ada yang membuat saya tertawa setelah melihatnya lagi di Jakarta. Rupanya tanpa sadar saya memotret tulisan tentang tata cara sholat jenazah! Tulisan ini sengaja dibuat di dinding Masjid Salman Al-Farisi, mungkin lokasi itu memang sering dijadikan tempat sholat jenazah.

---------

Reporter dari channel TLC itu berjalan bergegas, dengan cepat ia melaporkan apa yang dilihatnya. Tepat saat berhenti di depan sebuah dinding, ia mengatakan, “Tembok penuh coretan ini simbol penindasan,” katanya. Tembok itu terlihat sangat tinggi. Bercat abu-abu dengan kawat berduri yang melintang di atasnya.

Dari dalam bus yang bergerak menuju Bayt Lahym saya melihatnya. Benar. Tembok itu seperti yang saya lihat di teve. Ternyata lebih tinggi dari yang saya kira. Tembok itu lebih tinggi dari atap-atap bangunan yang ada di seberangnya. Rombongan berjalan masuk ke restoran untuk makan siang. Saya dan Lambang berjalan cepat untuk memotret dulu. Tembok ini sangat panjang. Sejauh mata memandang masih terlihat warna abu-abu yang penuh grafiti dengan kawat berduri melintang di atasnya. Konon kawat itu beraliran listrik. Sebuah grafiti membuat langkah saya berhenti. Que Viva Intifada. Hidup Intifada, dalam Bahasa Spanyol.

Saya bergantian dengan Lambang berfoto di depannya. Ah, tiba-tiba saya teringat, spidol besar yang sudah saya siapkan itu, ternyata tidak terbawa. Grafiti itu ditulis dalam berbagai bahasa, supaya siapa yang datang kemudian bisa menyaksikan dan membaca bahwa mereka mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestine, seperti Que Viva Intifada, kalimat dalam Bahasa Spanyol itu. Saya ingin menulis beberapa kalimat dalam Bahasa Indonesia, sehingga siapa pun orang Indonesia yang berkesempatan melihatnya, akan tahu bahwa mereka tidak sendiri mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestine.

Intifada. Kata itu begitu lekat dalam benak saya. Teringat sekitar tahun 2003, salah seorang adik saya, Anis, sedang menyusun skripsi yang mengangkat tema tentang Palestine. Beberapa kali saya mengantarkannya ke lembaga-lembaga yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan Palestine untuk mengambil data. Saya ingat, di salah satu lembaga yang kita datangi, terpajang banyak foto anak-anak Palestine. Ada yang membawa bendera, ada yang melempar batu di depan tank, ada wajah suci yang syahid dengan darah yang belum mengering. Dalam perbincangan yang panjang, saya sempat menanyakan mengapa anak-anak itu tidak diadopsi saja oleh keluarga-keluarga di Indonesia atau setidaknya dibawa sementara ke sini untuk bersekolah. Sambil tersenyum, seorang pria yang saya tidak ingat namanya menjawab, “Mereka memang harus berada di tanah Palestine. Untuk meneruskan perjuangan ayahnya, kakeknya, pamannya...”

“Palestine adalah tanah waqaf, tidak boleh berkurang se-inchi pun. Seluruh umat Islam berkewajiban menjaganya,” kalimat itu diucapkan Syech Ahmad Yassin, pendiri Hamas. Intifada adalah bukti perjuangan mereka yang diamanahi menjaga tanah waqaf itu. Intifada secara bahasa artinya melepas diri atau perlawanan. Intifada pertama terjadi antara tahun 1987-1993. Seorang bocah Palestine syahid ditembak tentara Israel pada tanggal 9 Desember 1987, peristiwa itu memicu perlawanan atas segala kekejian yang dilakukan Israel. Tua, muda, bahkan anak-anak turun ke jalan.

Hanya berbekal batu (intifada juga sering diterjemahkan sebagai perang batu) mereka berjuang mempertahankan setiap jengkal tanah waqaf yang diamanahkan. Selama 6 tahun itu 1.100 orang Palestine syahid, tercatat 13.000 anak-anak di penjara, nyaris tanpa melalui proses pengadilan. Israel gentar dengan militansi mereka, para pemuda ini menyongsong kesyahidannya dengan senyum. Tahun 1993 mereka meminta perjanjian damai yang ditandatangi di Oslo, atau dikenal dengan nama Perjanjian Oslo. Dan seperti yang telah tercatat dalam sejarah, berkali-kali yahudi-yahudi itu menghianati perjanjian yang mereka minta sendiri.

Intifada seperti ruh yang masuk dalam tiap sanubari rakyat Palestine. 7 tahun setelah ditandatanganinya Perjanjian Oslo, untuk kesekian kalinya Israel kembali berulah. Kali ini Perdana Menteri Ariel Sharon dan 1.000 tentara bersenjata lengkap masuk ke lingkungan Masjidil Aqsa. Tempat yang terlarang bagi mereka. Panggilan jihad kembali berkumandang, 29 September 2000 meletuslah Intifada kedua. Para syuhada itu, saya jadi teringat buku “Jalan Jihad Sang Dokter” yang menceritakan perjalanan dr. Joserizal Jurnalis di Gaza. Bagaimana ruangan berisi ratusan korban bersimbah darah yang sama sekali tidak berbau anyir. Seorang pejuang yang sedang dioperasi dalam keadaan dibius total, mulutnya masih bisa melantunkan ayat-ayat tentang jihad. Subhanallah... Intifada kedua terus berlangsung sampai 8 Februari 2005.

Selesai mengambil beberapa gambar, saya dan Lambang bergegas masuk ke restoran. “Ketemu, Mbak, yang dicari?” tanya Pak Rustam sambil tersenyum. “Iya, Pak, seperti yang saya lihat di teve,” jawab saya. Makanan Asia yang terhidang di depan saya seharusnya sangat lezat, tapi entah mengapa di mulut terasa hambar mengingat perjuangan saudara-saudara kita di Palestine. Apa yang sudah saya lakukan untuk meringankan perjuangan mereka? Kewajiban menjaga tanah waqaf ini adalah kewajiban bersama. Seperti isi surat yang ditulis Syech Ahmad Yassin untuk para pemimpin Liga Arab, beberapa hari sebelum syahid diserang 3 roket Israel di atas kursi rodanya seusai sholat subuh, 22 Maret 2004. “Aku akan berjuang bersama saudaraku ketika mereka merampas rumahnya. Aku tidak melawan yahudi karena mereka yahudi. Aku melawan karena mereka merampas tanah kami. Mereka menyampakkan rakyatku pada kesengsaraan yang berkepanjangan.”

Bus bergerak perlahan meninggalkan restoran, saya mendengar semangat mereka meneriakkan, “Ihna Kulluna Ahmad Yassin. Ihna Kulluna Ahmad Yassin. Kami semua Ahmad Yassin sekarang. Kami semua Ahmad Yassin sekarang.” Yaa Rabb, izinkan kami menjadi bagian dari mereka.





Uttiek Herlambang

Bayt Lahym, Palestine, 2012





Sabtu, 21 April 2012

Selembar Syal Dan Senyum Jamal

"This is my card. If there is anything I can help, just send me an email." 
"Thank you, Sister," jawab Jamal sambil tersenyum.
Ini senyum Jamal yang kedua yang pernah saya lihat selama di sini, meski tidak secerah senyum pertamanya.

Namanya Rezeq Salfity Jamal,  kita memanggilnya Jamal, profesinya sebagai  local guide di Palestine mengantarkan saya bertemu dengannya. Sejak pertama melihatnya saya merasa ia selalu terlihat gelisah dan gugup (baca tulisan: Mereka Rampas Tanah dan Pohon Jeruk Kami). Setelah beberapa hari melakukan perjalanan bersama, tahulah saya kenapa.

---------  

"Look the right side, Brother and Sister," seru Jamal dalam perjalanan menuju Masjid Ibrahimi Al Khalil (Hebron). Saya selalu merasa senang mendengar sapaan brother and sister saat berada di luar negeri. Sapaan itu biasanya saya dengar ketika masuk ke masjid. Menunjukkan  ukuwah dan indahnya persaudaraan dalam Islam. Saya menoleh ke kanan, terlihat bangunan yang cukup besar, tadinya saya pikir itu sekolah. Ternyata dugaan saya salah. Dari penjelasan Jamal, bangunan itu adalah Museum Rockefeller. Setelah perang 1967, bangunan itu digunakan sebagai penjara. Banyak pemuda Palestine yang ditangkap dan dipenjara di sana tanpa melalui proses pengadilan. Tak semua bisa keluar selamat, perlakuan yang kejam membuat  banyak dari mereka yang syahid membela tanah airnya, termasuk ayah Jamal!

Sepanjang perjalanan Jamal menceritakan bagaimana kondisi kehidupan di Palestine. Sekalipun itu tanah air mereka, tapi mereka hanya mempunyai semacam izin tinggal yang harus diperbaharui setiap tiga tahun. Kalau selama tiga tahun itu mereka meninggalkan Palestine, misalnya untuk sekolah atau berobat ke luar negeri, maka izin tinggalnya itu akan hilang. Kalau akan melakukan perjalanan ke luar negeri, seperti haji atau umroh, mereka menggunakan paspor sementara Jordan.

Bangsa Palestine yang pada dasarnya cerdas-cerdas juga dipersulit untuk mendapat pendidikan. Mereka yang bisa sekolah sampai S2 atau S3, tidak mendapat akses untuk bekerja secara layak. Kondisi ini sengaja diciptakan Israel supaya akhirnya mereka memilih bekerja di luar negeri. Setelah itu dengan gampang izin tinggalnya dicabut.  Orang-orang Palestine yang terdidik lama-lama akan habis dan tujuan Israel melakukan pembodohan dan pemiskinan bisa berjalan. Sebagai perbandingan untuk pekerjaan yang sama, saudara-saudara Palestine kita hanya mendapat upah 10-25 Dollar/hari, sementara yahudi Israel akan mendapat 80 Dollar/hari. Kondisilah yang memaksa mereka menerima perlakuan tidak adil itu.

Mereka yang berusaha berdagang pun dihambat dengan segala cara. Mulai perizinan yang sulit, pajak yang tinggi, hingga distribusi yang tidak lancar. Akhirnya barang-barang dari Palestine, sekalipun kualitasnya lebih istimewa, menjadi tidak kompetitif di pasaran. Saya teringat upaya  Dompet Dhuafa  tahun 2009 yang merevitalisasi pabrik roti di Jabaliyah. Pabrik ini mampu memproduksi 10 ribu roti perhari. Terbayang berapa banyak orang yang mendapat kesempatan kerja. Tahun berikutnya dibangun 2 instalasi sumber air bersih di daerah Khanyunis dan perairan bagi 300 hektar perkebunan sayur dan buah-buahan untuk saudara-saudara di Gaza. Bantuan seperti ini sangat efektif karena bisa menggerakkan perekonomian Palestine, baik yang di Tepi Barat maupun di Gaza.

Dengan segala kekejian yang dilakukan Israel, saya jadi emosional, "Kenapa kamu tidak berperang saja seperti saudara-saudara kita di Gaza?" tanya saya ke Jamal. Panjang alasan yang dikemukakan Jamal, salah satunya mereka tidak punya senjata seperti saudara-saudara di Gaza. Marah, kesal, gemas, rasanya campur aduk. Ah, tapi saya yakin mengapa Allah memilih Bangsa Palestine untuk berada di tanah suci ketiga ini, pasti karena mereka adalah orang-orang yang kuat dan amanah. Perjuangan tidak pernah sebentar. Perang Tabuk yang dipimpin Rasulullah SAW sesungguhnya adalah pembuka jalan menuju tanah Palestine, dilanjutkan Abu Bakar dan baru berhasil pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Begitu pula perjuangan Imadudin, Nurudin dan baru berhasil pada masa Salahuddin Al Ayyubi.

Setelah percakapan itu saya baru mengerti mengapa Jamal selalu terlihat gelisah dan gugup. Ia generasi yang lahir ketika negerinya sudah dicengkeram penjajah yang dzalim, ayahnya syahid di penjara, setiap hari ia harus menyaksikan kekejian demi kekejian dan diperlakukan tidak adil. Saya sangat miris mendengar cerita, sehari ia bisa melepas ikat pinggangnya sampai sepuluh kali karena melewati check point Israel. Ya Allah, mudahkanlah saudara saya ini.

------

Setelah sholat Dzuhur-Ashar di Masjidil Aqsa, Jamal mengajak kita menyusuri Old City. Menyenangkan sekali menghabiskan senja di sini. Melewati Al Wad Rd di Quarter Muslim,  keluar masuk labirin di Souk Al Dabbagha (souk dalam Bahasa Arab artinya pasar),  rasanya seperti terlempar ke masa silam. Saya bisa mencium bau harum aneka roti yang baru keluar dari oven, pedagang rempah-rempah yang membuat bentuk Kubah Al Sakrah dari bubuk  rempah dagangannya, aneka karpet, buah, sayur, keriuhan orang menawar, pria-pria berkafayeh yang saling berjabat tangan dan mengucapkan salam. Indah. Subhanallah, indah sekali.

Jamal memenuhi janjinya mengantarkan saya ke toko souvenir yang menjual syal khas Palestine seperti yang sering dikenakan Khaled Mashaal,  Ismail Haniya, serta pemimpin Hamas lainnya. Mata saya berbinar begitu dari jauh melihat selembar kain bermotif kotak-kotak hitam putih dengan garis hijau di pinggirnya, di ujung ada tulisan huruf Arab, Al Quds Lana: Al Quds adalah milik kita. Ya, Al Quds adalah milik kita, hak kita! teriak saya dalam hati, sambil memilih 4 lembar syal seharga USD 3. Abu Muhammad, si pedagang, sangat ramah dan bersahabat seperti orang Palestine pada umumnya. Dia memasang fotonya bersama Alm. Yaser Arafat.  Saya kalap melihat gantungan kunci, pin, serta simbol-simbol Palestine lainnya. Bahkan saya tidak ingin menawar untuk apa pun yang saya beli. Sebagai bonus, saya meminta bendera Palestine kecil yang dipasang di meja kasir. "May I have it as a bonus," pinta saya, Abu Muhammad tersenyum sambil mengangguk.

Kalau saja saya tidak pergi bersama rombongan, tentu saya masih ingin belama-lama menyusuri pasar itu. Tiba-tiba Jamal menghentikan langkah di depan gerobak sayur. Ia membeli sekantung entah buah, entah sayur, yang bentuknya seperti kacang kapri tapi ini kulitnya tebal dan ada bulu halusnya. "What's that, Jamal?" tanya kami sambil berkerumun. Jamal mengambil satu lalu mengunyahnya. "Try, this," jawabnya sambil mengedarkan kantong itu. Dengan sedikit heran, saya ambil satu dan mulai mengunyah. Pahit. Sepat. Getar. Entah bagaimana mendefinisikannya. Untuk pertama kalinya, di Souk Al Dabbagha, sambil mengunyah entah apa ini, saya melihat Jamal tersenyum! Tertawa lebih tepatnya. Matanya berbinar cerah. Ia terus berjalan sambil mengunyah belanjaannya itu.

"Wah, kita dikerjain Jamal nih, apaan sih ini?" komentar mulai bermunculan. Ternyata bukan hanya saya yang merasakan makanan ini aneh. "Iya, nih, Jamal nih, awas aja kalau kita sakit perut," sahut yang lain. Jamal terus saja mengunyah sambil tersenyum. Ah, Jamal, mendengar ceritamu, penderitaan saudara-saudaramu, rasanya saya rela menghabiskan entah buah, entah sayur yang rasanya aneh ini, asal bisa menghiburmu, membuatmu tersenyum, batin saya. Tak jauh dari situ seorang teman berinisiatif membeli stoberi berwarna merah menyala yang terlihat sangat segar. Satu kotak plastik harganya 10 sekhel atau 3 USD. Semua langsung berebut mengambil satu untuk menghilangkan rasa sepat di mulut. Rasa stroberi ini sungguh manis dan segar. Saya menyesal kenapa tadi tidak ikut membeli. "Pasti penjual kacang yang aneh tadi belum pernah mencicipi dagangannya. Kalau sudah pernah, pasti dia memilih jualan stroberi," komentar Pak Hani. Saya terbahak-bahak mendengarnya.

Rombongan terus berjalan, sampai di sebuah gerbang. Damascus Gate. Saya membaca papan petunjuk yang ada di sebelah kanan. Ah, ini Damascus Gate, hati saya bersorak. Dari sini sang pahlawan Salahuddin Al Ayyubi memasuki kota yang berhasil dibebaskannya. Tiba-tiba saya merasa heroik. Berada di Damascus Gate sambil membawa kantong plastik berisi syal bermotif sama dengan Ismail Haniya dan bendera Palestine.


Uttiek Herlambang
Damaskus Gate, Al Quds (Yerusahlaim), Palestine, 2012

Kamis, 19 April 2012

Darah Syuhada Mengalir Di Al Khalil

"Allahu Akbar..." takbir yang menandai sujud terakhir rekaat kedua baru berkumandang di subuh yang dingin. Jama'ah bersujud. Tiba-tiba terdengar desingan peluru yang memekakkan telinga, membabi-buta, menembaki siapa saja yang ada. Hari itu, Subuh, 15 Ramadhan 1414H bertepatan dengan 25 Februari 1994, darah  syuhada mengalir membasahi Masjid Ibrahimi Al Khalil (Hebron). 40 orang syahid, ratusan terluka. Seorang yahudi laknatullah bernama Baruch Kappel Goldstein datang dari arah Kiryat Arbaa, dengan perlindungan tentara, menenteng senjata, menjadi pembunuh di dalam masjid, saat jamaah sedang sujud, di bulan suci Ramadhan. Innalillahi wa innailaihi roji'un.

-------

Hari masih pagi, sebelum berangkat kita diingatkan lagi untuk tidak membawa benda- benda yang terbuat dari logam, senjata tajam, bahkan sekadar gunting kuku. Jamal juga memastikan paspor jangan sampai tertinggal. Saya mendesah perlahan, ini perjalanan ke masjid, tapi kita dikondisikan seperti ini. Bus berangkat sepagi mungkin, mengingat kota Al Khalil (Hebron) tidak selalu dibuka. Nama Al Khalil dalam Bahasa Arab berarti sahabatNya, diambil dari kata Ibrahim Al Khalil, karena ketaatan dan keikhlasannya, Ibrahim mendapat gelar Al Khalil: sahabat Allah. Perjalanan sejauh 30 km harus melewati beberapa check point. Untuk mempersingkat rute, beberapa kali bus harus keluar-masuk Israeli settlement atau pemukiman yahudi.  

"Your passports please," seru Jamal. Abu Ismail memperlambat laju bus yang dikendarainya, lalu berhenti. Seorang tentara berseragam militer, terlihat masih muda sekitar 25 tahunan, memakai kippa, dengan menenteng senjata di depan dada, melompat masuk ke dalam bus. Ia mengedarkan pandangannya, menyelidik, entah apa yang dicarinya. Saya kembali membuang muka. Tiap kali melihat orang-orang memakai kippa, ada sesuatu yang bergolak  di dalam dada. Jamal sempat mengatakan sesuatu, tapi sepertinya tidak digubris. Ia langsung melompat turun tanpa berkata- kata. Mereka selalu bersikap semena-mena tergantung mood: mau memeriksa secara acak, satu per satu atau tidak memeriksa sama sekali, seperti yang dilakukan tentara itu barusan.

Setelah sebelumnya hanya melihat dari jauh, untuk pertama kalinya saya melintas di dalam Israeli settlement. Rumah-rumah berderet rapi. Jalanan di dalam kompleks cukup lebar dengan taman di kiri-kanannya. Mobil-mobil keluaran terbaru berderet terparkir di pinggir jalan. Sesekali anak-anak muda memakai kippa berjalan melintas. Tentara terlihat di ujung-ujung perempatan. Lokasi settlement ini cukup luas, berkali-kali bus berbelok ke kiri dan ke kanan. Keluar dari settlement, pemandangan sungguh menyesakkan dada. Rumah-rumah tua, banyak yang terlihat kosong ditinggal penghuninya mengungsi, lingkungan yang kumuh, anak-anak memakai sweater lusuh bermain di pinggir jalan. Sudut mata saya terasa hangat.

Bus berhenti di mulut gang, jalanan di depan terlihat menanjak. Abu Ismail membuka pintu tanda kita harus turun di sini. Dua orang pria menyalami Jamal, sepertinya mereka saling mengenal. Saya sangat suka dengan persahabatan dan sikap hangat orang Palestine, mereka selalu terlihat berjabat tangan, saling mengucapkan salam, memberikan pelukan hangat dan cium pipi khas pria Arab, seperti yang diperlihatkan Jamal dan teman-temannya pagi itu

Di depan terlihat 3 x-ray yang dijaga tentara. Mereka dalam posisi siaga, ransel di sandang di punggung dengan senjata pada posisi on dan tatapan mata penuh curiga. Kita harus melewati penindai itu untuk masuk ke dalam masjid. Ini rupanya yang membuat Jamal  berulang-ulang mengingatkan supaya tidak membawa senjata tajam. Ah, bagaimana mungkin kami membawa senjata untuk menghadap Allah?

 "This way, Mam," seorang pria mununjukkan arah tempat wudhu perempuan. Ada tangga ke atas menuju tempat wudhu. Kran-kran berjejer di kiri-kanan, toilet terletak di belakang tembok kran. Seorang wanita memakai abaya hitam dan kerudung sederhana menyambut dengan senyumnya. Dengan sopan ia mengucapkan salam. Namanya Suha, ia bekerja sebagai petugas kebersihan di situ. Untuk ukuran penjaga toilet Bahasa Inggrisnya cukup bagus. Dari percakapan ringan, saya mendapat informasi kalau suaminya syahid berjuang mempertahankan tanah airnya, ia kini sendirian menghidupi ketiga anaknya. Sehari-hari ia tinggal di kamp pengungsi yang cukup jauh dari Masjid ini. Namun dari tutur katanya terlihat ketegaran dan keikhlasan. "Allah bersama kami, Allah bersama kami," katanya berulang-ulang.

Posisi Masjid Ibrahimi ada di atas, kita harus menaiki 20-an anak tangga. Di pintu masjid terlihat beberapa tentara berjaga. Terbersit pertanyaan, adakah tentara ini ada yang mendapat hidayah Allah karena setiap hari mendengar kumandang adzan? Semoga, karena Rahmat Allah diberikan pada siapa saja yang dikehendakiNya. Ruangan dalam masjid terlihat tua, dindingnya terlihat kusam dengan karpet yang tak lagi berwarna cerah, rak-rak untuk menyimpan sandal ada di kanan selasar.

Setelah sholat Tahiyatul masjid dan Dhuha, Jamal memulai penjelasannya. Awalnya di dalam kompleks masjid ini ada 6 makam; Nabi Ibrahim AS dan Sarah, Nabi Iskak dan Rifka istrinya, serta Nabi Ya' kub dan istrinya. Setelah peristiwa keji pembantaian subuh 1994 itu, dengan berbagai dalih Israel mengokupasi makam Nabi Ya'kub dan istrinya. Merampas separo bangunan masjid dan mendirikan sinagog di atasnya. Innalillahi wa innailaihi roji'un. Makam-makam itu sebenarnya ada di dalam gua di bawah masjid. Namun sekarang gua itu ditutup, tidak dapat dimasuki lagi karena sudah terlalu tua dan berbahaya. Dua buah pilar didirikan untuk menandai jalan masuk ke dalam gua, sebuah lubang kecil di lantai masjid bisa digunakan untuk melihat ke bawah. Saat ini ada 4 memorial, semacam peti batu yang sangat besar berselubung kain hijau, di dalam masjid untuk menandainya. Khusus untuk memorial Nabi Ibrahim dan Sarah diberi pagar berteralis besi.

Di samping tempat imam terdapat  mimbar Salahudin Al Ayyubi yang masih asli. Mimbar ini awalnya ada 2, yang satu diletakkan di Masjidil Aqsa, namun yang di Masjidil Aqsa sudah tidak ada lagi karena dibakar yahudi pada 21 Agustus 1969 yang akhirnya menyebabkan kebakaran di dalam masjid. Mimbar di Masjid Ibrahimi ini masih kokoh sekalipun sudah sangat tua. Di bagian atas terdapat lambang bulan sabit yang digunakan pasukan Salahudin Al Ayyubi saat membebaskan Al Quds (Yerusahlaim), lambang itu pula yang membuat gentar lawan-lawannya, dan ratusan tahun kemudian masih membuat saya bangga saat melihatnya.

Di sinilah sejarah itu bermula. Nabi Ibrahim SA sang pembawa agama yang hanif menetap setelah meninggalkan Irak utara tanah kelahirannya. Di sini pula ia berdakwah mengajak umatnya men-Tauhid kan Allah. Lahir Nabi Iskak, lalu Nabi Ya'kub. Israel mengklaim lebih berhak atas tempat ini karena mereka adalah anak turun Ya'kub. Klaim itu jelas tidak mendasar. Bagaimana mungkin seorang nabi yang mulia menurunkan manusia-manusia dzalim seperti mereka, batin saya. Kekhawatiran menyusup di hati, jangan- jangan upaya sistematis yang mereka lakukan saat merampas Masjid Ibrahimi di Al Khalil (Hebron) akan mereka lakukan juga di Masjidil Aqsa.

Ya Rabb, sungguh Engkau yang akan menjaga dan melindungi masjid ini, tempat dimana Ibrahim Al Khalil  dibaringkan bersama keluarganya. Saat melintas gerbang masjid untuk pulang, sekali lagi saya menoleh ke belakang, tercium bau harum, harum darah para syuhada.


Note: Goldsteinism, merujuk pada Baruch Kappel Goldstein si pelaku teror, saat ini digunakan sebagai kosakata untuk mengungkapkan sikap kebencian dan anti Palestine.


Uttiek Herlambang
Al Khalil (Hebron), Palestine, 2012

Selasa, 17 April 2012

Secangkir Chamomile Tea Sehangat Persahabatan

Dari kejauhan lampu kuning itu terlihat hangat. Buku-buku tertata rapi. Dari etalase kaca terlihat kursi-kursi nyaman berwarna putih diletakkan di atas loteng menghadap ke arah jalan. Sebuah mesin pembuat capucino mengepulkan asap. Perpaduan sempurna untuk cuaca dingin yang menggigit tulang seperti sore ini.

Betul. Begitu pintu terbuka udara hangat langsung menerpa.
"What time you'll be closed?"
"At 8, Sir,"
jawabnya sopan.
Ah, sepertinya tidak keburu kalau hari ini. Selesai jama'ah Isya', toko ini pasti sudah tutup.
"Ya, kalau tidak keburu hari, besok juga masih ada waktu," kata Pak Rustam.

------
"Jadi? Ngopi?"
"Di mana?"
"Ada toko buku di dekat situ, ada coffee shop-nya."
"Ayo."
"Oke, saya menyusul ya, saya harus ke hotel dulu."
"Sip, di tempat yang kemarin, ya, Pak."

Toko buku yang ada coffee shopnya ini sudah mencuri perhatian kita sejak kemarin. Tertulis namanya Educational Bookshop. Selain tokonya terlihat baru dan modern, berbeda dengan toko-toko lain yang ada di sekitarnya, sepertinya juga menawarkan tempat ngobrol yang mengasyikkan. Lokasinya tak jauh dari Hotel National, tempat saya menginap, di kawasan Arab Palestine, alamatnya tertulis: 22 Salah Eddin Street, Yerusahlaim 91540. Beragam buku dijual di sini, mulai buku-buku politik tentang Palestine, Hamas, PLO, buku-buku sastra seperti Rubayyat Umar Khayam, buku-buku arsitektur kota tua, buku wisata Al-Quds (Yerusahlaim) dan sekitarnya, peta, post card, hingga pin bergambar bendera Palestine.

"I repeat, Sir, one hot chocolate, one chamomile tea, one hot cappuccino, and one pastry."
"Oke."

"How much is this?"
tanya saya sambil menunjuk deretan post card di depan kasir.
Post card ini gambarnya bagus-bagus; saya mengambil satu yang bergambar seorang pemuda berwajah Arab, memakai peci di antara kerumunan tentara. Matanya menggelorakan semangat, La takhof wa la tahzan, Innallaha ma ana: jangan takut dan jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita; saya ambil satu lagi post card bergambar seorang anak kecil, pandangan matanya begitu polos tanpa dosa, ia memegang tangan ibunya persis di depan bayonet tentara; saya ambil satu lagi yang bergambar ilustrasi kota tua dengan kubah Al Sakrah dan seorang tentara memakai baju zirah, saya membayangkan itu salah seorang tentara Salahudin Al Ayyubi yang menjaga gerbang kota; masih belum puas, saya ambil satu lagi yang bergambar ilustrasi bendera Palestine, burung merpati yang membawa ranting zaitun serta dua jari mengacung membentuk tanda kemenangan.
"Each 10 shekel, Mam," jawabnya membuyarkan lamunan saya.
"Can I pay in USD?"
"Sure,"
jawabnya sambil tersenyum. Pandangan mata kita bersiborok seakan mempunyai pikiran yang sama: mau dibayar dengan shekel atau dollar, keduanya sama-sama menjajah kami.

"Bukunya bagus-bagus, Mbak?" pertanyaan itu mengagetkan saya.
"Oh, iya Pak, tapi saya beli post card saja, biar enggak ribet bawanya."
"Sudah pesan minum?"

------
Secangkir chamomile tea, secangkir hot chocolate, secangkir hot cappuccino, secangkir black coffee, dan sepotong pastry menemani perbincangan yang mengasyikkan sore itu.

Pak Rustam, si pemesan black coffee,  adalah pemilik Khalifah Tour, travel yang membawa saya umroh dan ke Aqsa kali ini. Sungguh suatu kebetulan Pak Rustam sendiri yang menjadi tour leader, karena sahabatnya sejak kecil, Pak Hani, si pemesan hot chocolate dan pastry, ngotot memintanya menemani umroh dan ke Aqsa.  Selain bersahabat sejak kecil, mereka berdua juga pernah sama-sama menjadi penyiar radio terkenal saat remaja di Bandung.

Keduanya adalah sosok yang menyenangkan, meski usia saya dan Lambang terpaut jauh dengan keduanya.
Pak Rustam adalah anak ITB yang pengetahuannya sangat luas. Sebagai mantan aktivis Salman, pemahaman keagamaannya sangat kritis.
Pembawaannya yang luwes, mau mendengarkan, membuat orang mudah bersahabat dengannya.

Pak Hani adalah direktur salah satu bank terkemuka di Indonesia. Awalnya saya melihat dia sebagai sosok yang kaku. Namun setelah berhari-hari melakukan perjalanan bersama ternyata dia orang yang sangat kocak. Celetukan-celetukannya selalu membuat saya terbahak-bahak, meski diucapkan dengan gaya yang sangat cool.

Perbincangan sore itu sangat mengesankan. Kita seperti teman lama yang bertemu kembali, setidaknya itu menurut saya. Kita tertawa bersama mengingat kejadian Pak Hani yang menjadi tour leader dadakan karena Pak Rustam tertahan di border Jordan. Lalu, pendeta yang marah-marah karena saya, Lambang dan Pak Rustam, mengikuti cara Umar bin Khatab berjalan mundur masuk ke Bayt Lahym. Terbayang waktu Pak Hani mengatakan,  "Ya, enggak usah mundur juga kali, Tam, miring saja," sarannya sambil memeragakan jalan miring. Ah, menyenangkan sekali.

Diskusi berubah menjadi serius saat Pak Hani berbagi informasi tentang senjata-senjata yang digunakan tentara Israel, sebagai penikmat olahraga menembak, pengetahuannya tentang jenis-jenis senjata tidak diragukan. Saya sangat tertarik dengan informasi tentang gaya arsitektur Sinan dan kejayaan pada masa Sulaiman Al Khonuni atau Sulaiman the Magnificent yang disampaikan Pak Rustam. Bahkan sepulang dari toko buku itu, semalaman saya sibuk browsing tentang keduanya di kamar hotel. Dari perbincangan sejarah, berganti jadi aksi debt collector di Indonesia, pengalaman haji, tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, hingga perbandingan fiqih dari beberapa mahdzab. Sungguh, obrolan yang lengkap.

Chamomile tea pesanan saya yang disajikan dengan sepotong biskuit kecil beraroma ginger, terasa sangat sedap. Pelan-pelan isinya mulai berkurang. Hingga akhirnya tandas. Begitu pula tiga cangkir lain yang ada di meja. Malam semakin larut, sepertinya toko buku ini juga bersiap untuk tutup. Saat membayar di kasir, Pak Rustam berbaik hati mentraktir kami bertiga.
Syukron laka, Pak.

"Do you have a bookstore like this in Malaysia, Mam?" tanya si kasir.
"I'm from Indonesia. Yes, we have. Many," jawab saya.
"How do you think about this store?"
"Nice. Very nice. I get a lot of friends here. I get a lot of friends in Palestine."
"Ma'asalamah. Please come again,"


Ah, secangkir chamomile tea, sehangat persahabatan.


Untuk Pak Rustam dan Pak Hani,

Uttiek Herlambang
22 Salah Eddin Street, Al Quds (Yerusahlaim), Palestine, 2012

Jumat, 13 April 2012

Seluruh Kompleks Haram Al Syarief Adalah Tempat Suci

Yayasan Pemeliharaan Masjid Al-Aqsa Foundation melaporkan, puluhan Umat Yahudi dan tentara Israel tanpa izin memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa, Rabu (11/4) waktu setempat. Alasan warga Yahudi Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa untuk melakukan ritual ibadah Yahudi di beberapa situs Bait Suci dekat dengan masjid. Penjaga keamanan kompleks masjid tidak mampu menahan puluhan warga Yahudi Israel yang merangsek masuk ke dalam kompleks masjid. [Republika, 11/4]

Twitt itu saya baca setelah kembali ke Jakarta. Geram. Marah. Tapi tak bisa melakukan apa-apa, selain me-retwitt  berita itu supaya dibaca banyak orang. Terbayang orang-orang yang memakai setelan warna hitam, topi ala pesulap tapi tidak terlalu tinggi, serta godek ikal yang dipanjangkan hingga bawah telinga. Dengan arogan mereka merangsek masuk, dikawal tentara bersenjata. Padahal sudah ada perjanjian, selain umat Islam dilarang masuk ke dalam kompleks Masjidil Aqsa. Seluruh kompleks, tidak hanya masjidnya saja!

Peristiwa itu mengingatkan saya akan pertanyaan seorang teman sekian tahun silam, saat saya memasang foto kubah Al-Sakrah untuk profile picture di fb. "Itu kan bukan Masjidil Aqsa, kenapa itu yang kamu pasang?" "Seluruh kompleks Haram Al Syarief adalah tempat suci," jawab saya. Meski begitu foto itu lalu saya ganti dengan masjid yang berkubah keabu-abuan sampai saat ini. Mungkin banyak yang bingung, atau lebih tepatnya dibingungkan dengan informasi yang beredar saat ini. Mana sebenarnya yang dimaksud Masjidil Aqsa? Apakah yang kubahnya berwarna emas atau yang berwarna keabu-abuan? Jawabnya: SELURUH KOMPLEKS HARAM AL-SYARIEF ADALAH TEMPAT SUCI. 

Seluruh Kompleks Haram Al Syarief adalah Kompleks Al Aqsa atau Masjidil Aqsa karena saat turun Surat Al Israh ayat pertama [Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat] bangunan yang kita sebut sebagai masjid sesuai terminologi  masjid sekarang (bangunan yang berkubah, bermimbar, berkarpet) itu belum ada. Namun kita mengaimani perjalanan Isra' Mi' raj Rasulullah SAW melewati tempat suci ini. Selama berabad-abad seluruh kompleks Haram Al Syarief ini disebut Masjidil Aqsa, baru pada sekitar abad ke-16, masa kesultanan Utsmaniyah, kompleks ini disebut Haram Al Syarief, yang secara bahasa artinya tempat suci yang mulia. Sedang masjid yang dibangun Khalifah Umar bin Khatab di dalam kompleks ini disebut Jami' Al Aqsa atau Masjidil Aqsa. Ah, alangkah baiknya kalau kita kembalikan penyebutan ini seperti sebelumnya, seluruh Kompleks Haram Al Syarief sebagai Masjidil Aqsa. Supaya tidak membingungkan umat Islam.

Luas kompleks Haram Al Syarief sekitar 150.000 m2, di dalamnya terdapat beberapa bangunan seperti Kubah Al-Sakrah yang menaungi batu yang dipercaya sebagai pijakan Rasulullah SAW Mi'raj ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah sholat. Di bawah batu itu ada semacam "gua" yang cukup lebar. Ada beberapa informasi yang menyesatkan yang beredar di internet bahwa batu itu melayang, konon batu itu ingin ikut Rasulullah SAW tapi tidak diperbolehkan. Itu semua tidak benar. Posisi batu yang melengkung membuat ada ruang kosong di dalamnya. Ruangan itu biasa digunakan untuk sholat atau pengajian dalam kelompok kecil. Berkarpet merah dengan dinding batu yang masih asli. Bangunan masjid yang berbentuk oktagonal dengan kubah emas  murni itu dibangun pada masa kekhalifahan Abd al Malik. Beberapa kali  bangunan ini rusak diguncang gempa dan direnovasi, saat ini kubahnya sudah bukan lagi emas murni, melainkan hanya dilapisi emas.

Masjid yang dibangun Khalifah Umar bin Khatab,  yang sekarang dikenal sebagai Masjidil Aqsa, kubahnya berwarna keabu-abuan berlapis timah, lokasinya kalau menghadap kubah Al -Sakrah  di sebelah kanan. Khalifah Umar bin Khatab mempercayai kalau di tempat inilah Rasulullah SAW sholat sebelum Mi'raj, karenanya didirikan masjid di lokasi ini. Posisi masjid ada di bawah, terdapat pilar-pilar berlengkung peninggalan Dinasti Mamluk sebelum anak tangga untuk turun. Di ujung tangga, ada plaza yang cukup luas dengan air mancur yang sekaligus difungsikan sebagai tempat wudhu di sekelilingnya. Di kanan- kiri plaza berjejer pohon cemara yang tumbuh subur. Tempat ini pastilah dulunya berupa perbukitan karena konturnya yang naik turun, namun sekarang sudah dilengkapi dengan tangga/undakan  untuk menuju bangunan lain di dalam kompleks. 

------

Gambar di teve itu cukup mengejutkan. Tentara bersenjata merangsek masuk, memukuli siapa saja yang menghalangi langkahnya. Sementara dari dalam masjid, laki-laki, perempuan, tua, muda, berusaha mempertahankan diri dengan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya, kursi plastik, sendal, kain, topi, apa saja... Takbir terus bergema. Tiba-tiba gambar bergoyang hebat. Sepertinya kameramennya terdorong hingga jatuh. Terlihat karpet masjid berwarna merah. Sepatu tentara menginjak-injak karpet masjid.

Deg! Karpet merah itu. Begitu melihat karpet merah ini ingatan saya langsung melayang pada berita penyerbuan ke dalam Masjidil Aqsa yang saya lihat di teve sekian waktu lalu.  Alhamdulillah ya Rabb, saya akhirnya menginjakkan kaki di sini. Ruangan masjid nampak luas, meski tidak seluas Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Dari pintu masuk, posisi mihrab langsung terlihat karena segaris lurus dengan pintu. Pilar-pilar dari marmer putih berjejer rapi di kiri-kanan. Seluruh ruangan dilapisi karpet merah, beberapa lampu gantung menghiasi bagian dalam masjid. Mozaik yang menghiasi plafon dan bagian dalam kubah tampak indah. Suasana terlihat redup namun tidak mengurangi kesakralannya. Di dekat imam ada replika mimbar Salahudin Al Ayyubi, mimbar aslinya dibakar seorang yahudi yang akhirnya menyebabkan kebakaran di dalam masjid pada tanggal 21 Agustus 1969. Semoga Allah melaknat pelakunya, doa saya setelah mendengar informasi itu. Mimbar Salahudin Al Ayyubi sebenarnya ada dua, yang satu diletakkan di dalam Masjidil Aqsa, satu lagi masih utuh sampai sekarang di Masjid Ibrahim-Hebron Al Khalili.

Masjidil Aqsa memiliki lantai basement, untuk menuju ruangan itu kita harus keluar dulu dari bangunan utama masjid, posisi tangga ada di sebelah kanan. Langit- langit basement tampak rendah, tersusun dari batu-batu yang kokoh. Sekali lagi saya mengagumi arsitektur dan konstruksi seluruh Kompleks Haram Al Syarief ini, semuanya sangat unik, cerdas dan kokoh. Burj Al Khalifa di Dubai yang saat ini merupakan bagunan tertinggi di dunia, yang sempat saya saksikan seminggu sebelumnya, lewat! Jauh! Kompleks Haram Al Syarief sampai sekarang masih sangat mengagumkan, terbayang bagaimana orang-orang Islam sekian abad silam sudah mampu membuat bangunan secanggih ini. Subhanallah. 

Yahudi terus menerus merongrong bangunan ini dengan mengklaim adanya peninggalan Haikal Sulaiman di bawah masjid, jadilah mereka berupaya segala cara untuk merobohkan masjid dan menggantinya dengan tempat peribadatan mereka. Banyak alasan dikemukakan untuk menutupi ulahnya itu,  salah satunya penggalian arkeologi, padahal banyak pihak mencurigai itu sebagai upaya untuk merobohkan pondasi masjid. Sebuah kolom tua ada di basement masjid, menurut Jamal, kolom itulah yang terus diklaim yahudi sebagai pintu masuk ke Haikal Sulaiman. Omong kosong, saya tidak percaya dengan segala klaim dan bualan mereka. Tempat itu sekarang adalah masjid, digunakan untuk sholat, itu yang harus kita pertahankan. Titik. Ah, jangan salahkan saya kalau bersikap antipati pada mereka, sebelumnya saya hanya membaca dan mendengar bagaimana mereka memperlakukan saudara-saudara kita di Palestine dan tempat suci ini, setelah menyaksikannya sendiri, kenyataannya sungguh menyesakkan dada. Ya Azis, Yang Maha Adil, bahkan Engkau telah melaknat mereka dalam Al Qur'an.

Pada masa Kekhalifahan Islam, lazim didirikan masjid untuk menandai suatu peristiwa atau tempat bersejarah. Masih di dalam Kompleks Haram Al Syarief, ada sebuah tempat yang diberi nama Masjid Buraq. Dipercaya Malaikat Jibril meletakkan Buraq, kendaraan yang digunakan untuk membawa Rasulullah Isra' dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di tempat ini. Namun sekarang tempat itu sudah tidak difungsikan sebagai masjid lagi. Hanya ada lambang bulan bintang dan tulisan Arab; Masjid Buraq untuk menandainya. Dahulunya ada pintu gerbang di dekat Masjid Buraq ini, namun kemudian ditutup untuk menghindari kemusyrikan. Saya tersenyum mendengar penjelasan Jamal, kalau di tanah Jawa, pastilah tempat ini sudah dikeramatkan dan banyak orang ngalap berkah di sini.

Sekitar lima puluh meter dari Masjid Buraq ada Madrasah khusus untuk wanita. Madrasah seperti ini banyak didirikan pada masa Dinasti Mamluk di dalam Kompleks Haram Al Syarief. Semua yang bersekolah di situ dibebaskan dari biaya alias gratis. Sumber dananya didapat dari pasar yang didirikan di luar kompleks masjid. Sungguh sebuah ide brilian. Rakyat diberi tempat untuk berdagang, sebagai gantinya mereka harus membiayai madrasah, semua orang bisa bersekolah tanpa biaya. Efeknya: perekonomian bergerak, rakyat pintar, negara maju. Subhanallah! Tanda kemajuan lainnya, pada masa itu baik laki- laki maupun perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan. Tak  heran kalau Islam mengalami kegemilangan yang luar biasa, karena kualitas keimanan dan ilmu pengetahuan ada dalam genggaman. Ya Allah, izinkanlah generasi kami kembali mengulang masa kejayaan itu. Amin.

Banyak lagi alasan yang menjadikan seluruh Kompleks Haram Al Syarief adalah tempat suci selain Rasulullah SAW Mi'raj dari sini, dan tempat ini pernah menjadi kiblat pertama sebelum turun perintah untuk sholat menghadap Ka' bah. Nabi Adam setelah meninggikan Ka'bah berada di sini untuk beribadah pada Allah. Hampir seluruh nabi, selain Nabi Adam, Ismail dan Rasulullah SAW, pernah berada di negeri ini untuk berdakwah mengajak umatnya men-Tauhidkan Allah. Di sini pula Rasulullah SAW pernah mengimami para nabi untuk sholat berjama'ah. 

Ah, menikmati senja di dalam kompleks Haram Al Syarief, Subhanallah indahnya. Lokasinya yang luas membuat suasananya tenang, hiruk-pikuk di luar tembok nyaris tak terdengar. Tak heran banyak anak-anak pulang sekolah duduk-duduk di situ. Sambil mengerjakan PR atau belajar kelompok, mungkin. Anak-anak kecil bermain bola dengan riang. Seluruh kekejian yang dilakukan Israel seakan tak berbekas di dalam Kompleks Haram Al Syarief. Sungguh, janji Allah yang menjadikan Masjidil Aqsa sebagai tempat yang diberkahi, saya saksikan sore itu.


Uttiek Herlambang
Kompleks Haram Al Syarief, Palestine, 2012