Minggu, 03 Februari 2019

“YOU SHOULD TAKE OFF YOUR SCARF, MA’AM”


Journey to Uighur-Xinjiang #8


Id Kah Mosque atau Eidgar Mosque. Masjid Agung kota Kahsgar. Di sini saya diminta melepas hijab kalau ingin masuk ke dalam masjid.


I am separated from my husband,” kata saya sambil menunjukkan bording pass dan sedikit panik melihat antrean penumpang mulai bergerak masuk ke dalam pesawat. Berharap petugas di boarding gate itu bisa berbahasa Inggris.


Ia sepertinya paham, lalu memberi isyarat meminta saya menunggu di depan meja boarding. Dihubunginya seseorang melalui penyeranta komunikasi yang digenggamnya. Jangan bayangkan berkomunikasi di bandara international ini seperti bandara international lainnya. Nyaris tak ada yang bisa berbahasa Inggris di sini. Sejak pemeriksaan tadi, saya sudah kesulitan gegara persoalan bahasa ini.


Sekali lagi saya edarkan pandangan, berharap Lambang muncul di antara lalu-lalang orang di ruang tunggu Ürümqi Diwopu International Airport.


Pagi ini kita harus terbang dari kota Urumqi ke kota Kashgar menggunakan penerbangan domestik selama kurang lebih 2 jam.


Kashgar atau Kashi dalam bahasa Mandarin adalah kota paling ujung barat China yang berbatasan langsung dengan negara Kirgizstan dan Tajikistan. Kota kuno ini memiliki jejak sejarah yang berlimpah karena merupakan gerbang Jalur Sutra dari Persia dan Asia Tengah.


Saya terpisah dengan Lambang karena pemeriksaan yang sangat ribet di bandara Urumqi. Di awali dengan pertanyaan, “What’s your religion?” di meja pemeriksaan passport yang membuat saya bengong sejenak.


Ini adalah kali pertama di bandara international saya ditanya tentang agama. “Apa hubungannya dengan perjalanan ini?” batin saya kesal. Ya, sedikitnya saya mulai jengkel karena sejak awal kedatangan, kerudung yang saya kenakan selalu dipermasalahkan oleh petugas.


I’m muslim. Alhamdulillah. I’m covering my head with scarf,” jawab saya mengulang kata-kata yang sama setiap ditanya pertanyaan yang sama. Ia hanya melihat sekilas, lalu dengan isyarat meminta saya melepasnya. Yang langsung saya jawab dengan gelengan kepala, “No,” kata saya tegas.


Dengan muka tetap dingin, ia memberi isyarat sekali lagi. Kali ini saya tarik sedikit kerudung ke belakang. Sekadar memastikan kalau alis saya tidak tertutupi. Karena hanya itu syarat saat pembuatan foto visa. Kerudung tetap boleh dikenakan, tapi alis kelihatan semua dan tanpa senyum.


Alhamdulillah, lolos. Petugas bermuka dingin itu lalu men-scan passport dan memotret saya. Berikutnya saya harus melewati pemindai orang dan barang. Sekali lagi petugas di pemindai memberi isyarat untuk melepas kerudung.


Karena menolak ia langsung meminta passport saya, “Passport,” katanya sambil memanggil seorang petugas lain. Petugas yang membawa passport itu lalu meminta saya mengikutinya.


Saya harus masuk ke ruangan kecil yang tertutup. Ada alat penindai orang yang bentuknya seperti alat untuk rontgen torax di RS. Bagian bawah ada pijakan yang bisa bergeser ke kiri-kanan. Saya diminta naik ke atas pijakan itu. Pelan-pelan alat itu bergeser ke kiri-kanan dua kali.


Lalu petugas itu berseru dalam bahasa China yang tidak saya mengerti. Saya melongok ke celah kecil yang ada di depan, “Finish?” Tanya saya yang dijawab dengan sodoran passport.


Nantinya, di setiap bandara saya harus masuk ke ruangan pemindai khusus itu. Jadilah pemeriksaan saya lebih lama, karena terkadang alat pemindainya juga harus antre. Itu yang menyebabkan saya terpisah dari Lambang.


Allahumma yassir wala tu'assir,” saya deraskan doa dalam hati, supaya Allah mudahkan semua. Bukan apa-apa, jadwal perjalanan ini sangat ketat, kalau sampai ketinggalan pesawat, pasti akan berantakan semua.


Tiba-tiba dari jauh saya melihat langkah Lambang yang sudah sangat saya kenal. Saya berteriak memanggilnya. Berlarian kita masuk dalam antrean boarding, tak lupa saya memberitahu petugas di boarding desk itu, “That’s him, over there. My husband,” seru saya sambil menunjuk Lambang.


“Dari mana saja?” Tanya saya. Rupanya Lambang mencari saya karena tidak melihat lagi setelah saya mengikuti petugas yang membawa passport tadi. Kita bersepakat, nanti kalau terpisah lagi di bandara, karena pasti pemeriksaan saya lebih ribet, titik temunya adalah di boarding desk. Tidak perlu saling mencari kesana-kemari. Siapa yang selesai lebih dulu menunggu di situ.


Sampai di Kashi Airport, lagi-lagi saya disambut dengan pertanyaan, “What’s your religion?” oleh petugas yang memeriksa passport.


Tadinya saya pikir baru akan kena masalah gegara kerudung di Amerika atau di negara mana. Ternyata di Xinjiang, wilayah yang penduduknya 80% muslim, justru kerudung saya bolak-balik dipermasalahkan.


Saya pernah berada di Eropa dua hari setelah kejadian penembakan di kantor redaksi Charlie Hebdo. Saat itu sentimen anti Islam sedang tinggi-tingginya di Eropa. Namun, kerudung saya tidak dipermasalahkan. Di Madrid-Barajas Adolfo Suárez Airport pemeriksaannya wajar saja seperti di bandara pada umumnya.


“Apa yang mereka cari dari balik kerudung saya?” batin saya tak habis pikir dengan para petugas bandara ini. Atau sekadar prejudice karena kerudung yang saya kenakan adalah adalah simbol Islam? Entahlah!


Di pintu keluar bandara, seorang pria berbadan tinggi tegap terlihat menunggu sambil membawa kertas berlogo Khalifah Tour dan nama kita. Segera saya dan Lambang menghampirinya. Untuk alasan keamanan, saya menyebutnya Mr Kashimir.


Mr Kashimir ini seorang pria Uighur berumur awal 30-an yang akan menjadi local guide selama di Kashgar. Sesuai postur tubuhnya, suaranya juga terdengar “menggelegar”. Ia sudah delapan tahun menjadi local guide dan seringkali menjadi mountain guide ke Everest maupun tracking di perlintasan gurun-gurun yang ada di Kashgar ini.


What’s that? Accident?” Tanya saya melihat mobil-mobil berhenti di tengah jalan.
No Ma’am. That’s check poin,” jawabnya singkat sambil menegaskan tidak boleh memotret di check poin, polisi maupun tentara yang sedang bertugas.


Sekalipun sudah beberapa hari di Xinjiang dan “terbiasa” dengan banyaknya check poin, tak urung yang di kota Kashgar ini masih mengejutkan saya. Bagaimana tidak, check poin itu digelar di tengah jalan. Mobil-mobil berderet parkir di tengah jalan, lalu orang-orang nampak berbaris mengantre diperiksa. Saya jadi teringat adegan di film-film berlatar perang dunia, yang juga menampilkan adegan seperti ini.


Saat saya berada di Kashgar rupanya bebarengan dengan kedatangan beberapa lembaga internasional yang akan melakukan investigasi keberadaan kamp-kamp reedukasi. Jadilah suasana di kota ini sensitif sekali.


Setelah beres urusan check-in hotel, menaruh koper, dan shalat di-jama’ Dzuhur-Ashar, kita segera menuju restoran untuk makan siang. Di tengah makan, saya dikejutkan dengan pertanyaan Mr Kashimir, “If they ask you to take off your scarf, are you willing to do it?” yang spontan langsung saya jawab dengan tegas, “No,” sambil menggelengkan kepala.


Raut wajah Mr. Kashimir langsung berubah. Suasana menjadi tidak nyaman. “Is it randomly?” Tanya Lambang yang justru memperkeruh suasana.
I am not comfortable with that question,” jawabnya menutup pembicaraan.


What are the consequences if I disobey?” kejar saya
You are not allowed to enter …,”
It’s okay,” potong saya cepat.


Sudahlah, kalaupun saya tidak bisa masuk ke destinasi yang dituju, toh Lambang tetap bisa masuk. Saya akan tunggu di luar saja. Saya masih coba berargumen kalau saya adalah warga negara asing, pemegang passport Indonesia, sehingga tidak seharusnya saya mengikuti regulasi untuk warga lokal. Namun sepertinya Mr Kashimir tidak ingin membahasnya lagi.


Benar saja. Di depan Id Kah Mosque atau Eidgar Mosque yang merupakan masjid agung kota Kashgar, polisi tidak mengizinkan saya masuk kecuali saya melepaskan hijab.


Innalillahi wa innailaihi rojiun….


Ini di rumah Allah, tapi peraturan mengharuskan membuka aurat. Hati saya menangis pilu. Kemana perginya para mujahid yang harusnya membela tanah Uighur ini?


No,” saya tatap polisi itu dan menjawab dengan suara mantap. Saya ingin Allah menyaksikan keteguhan hati saya.


“Kamu foto sebanyak-banyaknya deh di dalam. Bikin video juga, biar aku bisa dapat gambaran untuk tulisan nanti,” pesan saya pada Lambang.


Can I wait here? It's cold out there,” tawar saya minta diterjemahkan Mr. Kashimir ke petugas yang berjaga.
Tanpa merubah ekspresi muka petugas itu hanya menunjuk pintu gerbang. Pertanda saya harus menunggu di lapangan luar. Semoga ini yang terakhir kali, seorang muslim diusir petugas saat akan memasuki masjid.


Saya anggukkan kepala, “Enggak apa-apa. Aku tunggu di luar. Kamu harus masuk. Lihat di dalam ada apa?” tegas saya, setelah sesaat Lambang mulai ragu.


Mr. Kashimir terlihat sangat tidak enak hati. Ia mengantarkan saya sampai ke gerbang dan menunjuk salah satu bangunan tak jauh dari situ.
You want to go to toilet? There’s toilet and the place is warmer,” katanya seperti memohon maaf.
“Saya mau ke masjid, bukan ke toilet,” jawab saya dalam hati. “No. It’s okay. I will wait here,” kata saya meyakinkan.


Id Kah Mosque didirikan pada 862 H/1442 dan telah mengalami renovasi beberapa kali. Daya tampung masjid berikut lapangannya sekitar 200.000 jamaah. Dahulunya selain sebagai masjid, juga terdapat bangunan yang difungsikan sebagai madrasah di dalamnya.


Rupanya di dalam masjid pun Lambang tidak bisa melakukan apa-apa, karena di dalam masjid dijaga polisi dan tidak diperbolehkan untuk shalat.


Id Kah Square, sore itu bersuhu (minus) -12°C. Patung karavan unta banyak menghiasi kota yang pernah menjadi gerbang Jalur Sutra dari Asia Tengah dan Persia ini. 


Di pinggir Id Kah Square yang sore itu suhunya (minus) -12°C, saya menatap anak-anak kecil yang bermain dan berlarian mengejar burung merpati. Merpati putih adalah simbol perdamaian, yang ironisnya setiap hari harus menyaksikan umat Islam terusir dari masjidnya.


“Nak, suatu hari nanti, kamu harus berjuang membebaskan negerimu dari penguasa lalim ini."


“Nak, suatu hari nanti, kamu harus berjuang membebaskan negerimu dari penguasa lalim ini,” bisik saya yang semoga terbawa angin dan sampai ke telinga anak-anak itu. 


Doa seorang musyafir ijabah. Semoga penduduk langit aminkan doa saya sore ini.



Kashgar, 5/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

PERANG OPINI KALAHKAN KETAKUTAN DI GRAND BAZAAR URUMQI


Journey to Uighur-Xijiang #7



Masjid di Grand Bazaar-Urumqi yang sudah tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat lagi.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Seuntai doa yang sangat indah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian.


Bila doa yang indah itu kini menjadi sumber ketakutan saat mengucapkannya, maka saat itulah pendulum sejarah akan berputar arah.


Setelah gagal melaksanakan shalat Jumat di masjid di Grand Bazaar Urumqi, karena masjidnya tidak boleh digunakan untuk shalat lagi (baca Journey to Uighur-Xinjiang #5 EMIN MINARET DAN SHALAT JUMAT YANG HILANG). Sementara shalat Jumat tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus berjamaah di masjid.


“Jadi bagaimana? Kita shalat di mana?” Tanya saya pada Lambang
Lambang tidak langsung menjawab. Kita sedang berada di area publik. Tepatnya, di International Grand Bazaar Urumqi. Di tengah pasar. Tidak mudah menemukan tempat yang bisa digunakan untuk shalat.
“Nanti pas kita makan di restoran saja. Kita coba di situ,” jawabnya.


Minaret yang menjadi landmark Grand Bazaar Urumqi. Desainnya menyerupai Kalyan Minaret di Bukhara, Uzbekistan.


International Grand Bazaar Urumqi merupakan pasar seluas 4.000 m². Salah satu landmarknya adalah minaret setinggi 80 meter. Bentuknya dibuat menyerupai Kalyan Minaret di Bukhara, Uzbekistan. Namun, latar belakang sejarahnya tentu saja tidak bisa menyamai keagungan Kalyan Minaret yang membuat Jangis Khan menahbiskan rasa hormat dan takzimnya (baca Buku Serial Jelajah Tiga Daulah: Journey to Samarkand -segera hadir).


Pasar ini juga dilengkapi dengan panggung terbuka untuk menggelar beragam pertunjukan. Berderet-deret restoran dan food court siap menghidangkan aneka masakan lezat khas Uighur yang dijamin halal.


Masjid yang ada di Grand Bazaar sejatinya menjadi bagian penting dari pasar. Namun, seperti yang saya saksikan tadi, masjid ini telah ditutup. Tidak boleh dipergunakan untuk shalat lagi.



Aneka barang yang tersedia di Grand Bazaar-Urumqi. Dari kebutuhan sehari-hari, hingga aneka kerajinan khas Uighur.


International Grand Bazaar menyediakan aneka rupa barang. Dari kebutuhan sehari-hari, hingga aneka kerajinan khas Uighur, seperti alat musik tradisional rebana dan oud (gitar yang biasa digunakan untuk bermain musik gambus), topi khas Uighur yang disebut dopa, dan beragam souvenir.


Salah satu komoditi laris dari daerah ini adalah buah yang dikeringkan. Lapak-lapak penjual aneka buah kering terlihat berderet dari pintu depan. Kismis dari berbagai jenis anggur, plum, aprikot, kurma, teh dari bunga kering, dan sebagainya.


Sebagai penggemar teh, saya membeli beberapa jenis teh dari aneka bunga yang dikeringkan. Aromanya wangi. Sedap betul. Rasanya, teh seperti ini tidak ada di Indonesia.


Sebagai salah satu destinasi turis, harga yang ditawarkan berlipat. Kismis yang dijual Akima di Tuyoq Valley sekilo hanya 30 CNY (setara Rp60.000) (baca Journey to Uighur-Xinjiang #4 “AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”), di pasar ini ditawarkan mulai 75 CNY.


Tentu saja semua barang bisa ditawar. Jangan khawatir terkendala bahasa, karena mereka menyediakan kalkulator yang bisa digunakan untuk tawar menawar.


Saya berhasil menawar satu kilo kurma kering dari harga 180 CNY menjadi 80 CNY (setara Rp160.000). “You are good at bidding,” puji Mr. Chang senang melihat kemampuan menawar saya. Cara makan kurma kering ini dipotong-potong tipis. Jadi semacam sale pisang kalau di sini. Rasanya enak sekali.


Setelah lelah berputar kesana- kemari mengelilingi pasar, Mr. Chang mengajak kita makan. Saya langsung memberi kode ke Lambang untuk bergantian shalat nanti.


Ini adalah kali pertama saya dan Lambang harus shalat di tempat umum. Sebelumnya kita selalu bisa mengatur waktunya untuk shalat di hotel atau di mobil.


Mr. Chang tidak pernah secara eksplisit mengatakan kita tidak boleh shalat. Seperti halnya secara tegas ia mengulang-ulang larangan untuk memotret check poin, polisi dan tentara yang sedang bertugas.


Pun saya yakin dia juga tahu saya dan Lambang beberapa kali bergantian shalat di dalam mobil. Hanya, kita sama-sama tidak ingin saling “menyulitkan”. Dia tutup mata saat kami melakukannya. Saya juga tidak ingin membuatnya mendapat kesulitan karena shalat di tempat umum.


Saya mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul saat Lambang shalat. Sehingga perhatiannya teralihkan. Usai Lambang shalat, saya mau ke toilet dulu. Rupanya toilet tidak berada di dalam restoran. Ada toilet umum di dekat deretan restoran itu.


Di depan toilet ada pelataran yang tertutup tembok yang tidak terlalu tinggi. Tadi sewaktu saya datang ada beberapa orang berdiri merokok di situ. Semacam tempat untuk merokok sepertinya.


“Wah, saya bisa shalat di sini,” batin saya sambil masuk toilet.
Keluar dari toilet, orang-orang yang tadi merokok sudah tidak ada. Segera saya menyempil di salah satu pilar dan mengangkat takbir. Tiba-tiba ada tiga orang polisi berpatroli di depan tembok rendah itu.


Merasa tidak tenang, saya membatalkan shalat dan bergeser ke pilar berikutnya yang lebih tersembunyi. Baru dapat setengah rekaat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara, “What are you doing?”


Rupanya Mr. Chang menyusul ke toilet. Mungkin ia menyangka saya kebingungan arah untuk kembali ke restoran. Akhirnya saya batalkan shalat dan mengikutinya kembali ke restoran.


Dengan isyarat, saya minta Lambang mengajaknya bicara dan menonton video-video yang kita buat selama saya gantian shalat.


Allahu akbar…


Selesai salam, saya tundukkan kepala dalam-dalam. Saya deraskan istighfar sebanyak-banyaknya. Betapa selama ini kita tidak menyadari nikmatnya bisa melaksanakan shalat tanpa tekanan dan rasa takut sama sekali.


Masjid-masjid di Indonesia banyak yang sepi jamaah. Sementara di belahan dunia lain, orang harus sembunyi-sembunyi untuk membenamkan sujudnya.


Bahkan di negeri ini, orang sudah takut untuk menjawab salam. Padahal itu adalah doa keselamatan dan keberkahan (baca Journey to Uighur-Xinjiang #4 “AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”).


Begitupun saat beberapa kali saya menyebut nama Allah dengan suara agak keras. Seperti, sewaktu tersandung spontan berucap, “Innalillah.” Orang-orang di sekeliling langsung menatap saya dengan pandangan yang membuat saya bertanya dalam hati, “Saya salah apa?”


Beberapa kali saya menuliskan, apa yang terjadi di tanah Uighur ini serupa dengan yang terjadi di Palestine. Ketakutan coba diciptakan melalui perang opini. Hal yang seharusnya tak masalah, menjadi salah akibat ketakutan yang diciptakan.


Bedanya, perang opini tidak berhasil dilakukan pada para mujahid di Palestine, seperti yang saya saksikan di sana tahun 2012. Di negeri ini, entah apa yang terjadi, tapi rasa mencekam itu coba dihembus-hembuskan dengan berbagai cara. Dan tragisnya, sepertinya berhasil.


Dalam setiap perjalanan, tak ada yang lebih saya inginkan selain shalat di sebanyak mungkin di masjid Allah yang ada di setiap jengkal bumiNya.


Ingatan saya melayang, terlihat masjid-masjid yang pernah saya singgahi, dari Masjidil Haram di Mekkah; Masjid Nabawi di Madinah; Masjidil Al-Aqsa di Palestina; Masjid Al-Azhar di Kairo; Blue Mosque di Istanbul; Selimiye Camii di Edirne; Mezquita di Cordoba; Masjid Hassan di Maroko; Masjid Al-Qarawiyyin di Fes; hingga Masjid Bolo Haouz dan Masjid Imam Bukhari di Uzbekistan.


Sore ini, di tengah riuhnya Grand Bazaar Urumqi, saya selipkan doa di dalam hati. Semoga suatu hari nanti saya dan muslim Uighur di negeri ini bisa shalat di Masjid Grand Bazaar Urumqi tanpa rasa khawatir sama sekali.


Biidznillah…



Urumqi, 4/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

KAREZ IRRIGATION BUKTI TINGGINYA PERADABAN ISLAM DI UIGHUR


Journey to Uighur-Xinjiang #6



Dalam bahasa Uighur, masyarakat setempat menyebut sistem irigasi ini Miyim Haji Karez atau Karez Irrigation dalam bahasa Inggris.


Islam lekat dengan ilmu pengetahuan. Tak terkecuali teknologi. Banyak penemuan terkait fisika, fisika mekanik yang sekarang disebut robotik, teknik sipil, arsitektur yang bersumber dari peradaban Islam.


Salah satunya adalah teknologi membendung aliran air dan membuat kincir air sebagai sumber energi. Pada masa Daulah Abbasiyah, pembangunan bendungan yang sekaligus dimanfaatkan sebagai kincir air telah mengadaptasi teknologi teknik sipil yang tinggi.


Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: an Ilusstrated History mengungkapkan, tahun 370 H/960 M, Buwayyah Amir Adud Al-Daulah telah berhasil membuat proyek hidrolik raksasa di Sungai Kur, Iran.


Di Cordoba, Andalusia, yang sekarang masuk wilayah Spanyol, jejak sejarahnya masih saya saksikan di Sungai Guadalquivir saat mengunjunginya tahun 2014. Adalah Al-Idrisi, geografer Muslim abad ke-12 yang menjadi saksi sejarah. Dalam catatannya, bendungan ini dibangun dengan batu-batu yang didatangkan dari Mesir.


Membendung aliran air dan memanfaatkannya sebagai sistem irigasi maupun sumber energi memberi dampak yang sangat signifikan bagi suatu negeri. Pertanian akan mendapat pasokan air cukup, sumber energi bisa dimanfaatkan untuk penggilingan gandum, sekaligus bendungannya bisa mengendalikan banjir.


Tak hanya di kota-kota pusat peradaban Islam seperti Baghdad, Cordoba atau Samarkand yang menguasai teknologi ini. Di wilayah yang kini bernama Turpan, Xinjiang, pun muslim Uighur telah berhasil membangun sistem irigasi sejak tahun 1700.


Dalam bahasa Uighur, masyarakat setempat menyebut sistem irigasi ini Miyim Haji Karez atau Karez Irrigation dalam bahasa Inggris. Teknologi yang digunakan sangat rumit dan cerdas. Caranya dengan mengalirkan salju abadi yang mencair dari Gunung Tianshan sejauh 5.000 km (3.106 mil).


Ada teknologi sumur vertikal, kanal bawah tanah, kanal di atas tanah, dan reservoir yang harus dilewati untuk mengalirkan air sampai ke kota Turpan. Jangan bayangkan kondisi geografis kota ini seperti Indonesia dimana air bisa didapat dengan mudah dan berlimpah.


Turpan berada di tengah Gurun Gobi. Wilayah dengan kondisi cuaca paling ekstrem di China. Suhu di musim panas mencapai 50° C, sedang di musim dingin sampai (minus) -25°C! Karenanya, jaminan ketersediaan air sepanjang tahun menjadi vital.


Mengapa mencari sumber air menjadi perhatian penting dalam peradaban Islam? Karena ada kebutuhan untuk berwudhu dan bersuci setiap hari. Tak heran kalau teknologi yang mendukung upaya pencarian sumber air berkembang pesat.

Prasasti yang berisi keterangan salah satu kanal vertikal Yengi Karez. 


Siang ini, saya menyaksikan jejak sejarah tingginya peradaban yang dimiliki muslim Uighur di sebuah kota kecil nun di tengah Gurun Gobi. Di pintu gerbang terlihat beberapa petugas keamanan berjaga. Pengunjung harus melewati penindai orang dan barang seperti yang ada di bandara, serta pemeriksaan passport untuk turis asing.


Dari pintu gerbang kita akan melewati ramp menurun yang terbuat dari bata-bata besar. Setelahnya ada taman yang luas dan patung perempuan Uighur di tepinya. Semula saya sangka patung Dewi dari mitologi Yunani, karena mengenakan gaun panjang dan penutup kepala. Ternyata itu adalah pakaian tradisional perempuan Uighur.

Lukisan kebahagiaan keluarga Uighur yang sedang berkumpul di salah satu dinding.


Di salah satu dindingnya dilukis keluarga Uighur yang sedang berkumpul. Ada yang menabuh rebana dan memainkan oud (gitar yang sering digunakan dalam musik gambus). Tak jauh dari lukisan itu ada patung-patung yang menggambarkan para pekerja saat membangun Karez Irrigation. Menariknya, patung itu digambarkan memakai kopeah khas Uighur, laki-lakinya berjenggot, berbadan besar dan berhidung mancung. Pastilah bukan penggambaran tipikal ras mongoloid yang bermata sipit dan bertubuh kecil.

Diorama pekerja saat membangun Karez Irrigation. Penggambaran patung-patung ini memakai kopeah khas Uighur, laki-lakinya berjenggot, berbadan besar dan berhidung mancung.


Dari taman kita masuk ke lorong bawah tanah yang gelap dan lembap. Di musim dingin seperti ini berada di dalam lorong rasanya lebih nyaman karena hangat. Ada beberapa percabangan di dalam lorong itu.


This way,” seru Mr. Chang sambil menyibak terpal yang menutup percabangan. Di depan terlihat lantai kaca di atas air yang mengalir. Karena gelap, cahaya yang dipantulkan dari lampu penerang jadi berwarna kebiruan.


You can try the water,” tawar Mr. Chang meminta saya mencoba air yang mengalir di bawah lantai kaca yang kita injak. Ada celah kecil untuk mengambil air itu.
Sejenak saya ragu. Saya tatap Lambang yang langsung mengangguk.
“Bersih enggak ya?” Tanya saya masih ragu.
“Bersih. Airnya kan mengalir,” lanjutnya.


Saya ambil sedikit menggunakan genggaman tangan lalu menghirupnya. Segar. Rasanya jauh lebih segar ketimbang air mineral dalam kemasan. Tapi, tidak ada jejak rasa manis seperti air pegunungan di Indonesia. “Mungkin karena sumber airnya dari salju abadi,” batin saya.


Karez Irrigation masih berfungsi hingga saat ini. Menjadi sumber pengairan utama untuk perkebunan anggur, melon, kapas, dan komoditas pertanian lainnya yang menjadi sumber pendapat kota Turpan.


Bahasa Uighur yang ditulis menggunakan aksara Arab di salah satu dinding.


Di tangga menuju pintu keluar, saya melihat aksara Arab yang ditulis di tembok batu. Saya hanya bisa membaca kata awalnya Karez, di belakangnya tidak bisa mengerti, karena menggunakan bahasa Uighur.


Saya tersenyum getir, alangkah ironisnya, saat ini muslim Uighur yang merupakan mayoritas penduduk Turpan (75%) terus mendapat tekanan untuk meninggalkan agama dan dicabut dari akar budayanya. Padahal sejarah membuktikan, kehidupan di kota ini masih terus berdenyut, salah satunya karena sumbangan peradaban Islam. Apa jadinya kota di tengah gurun ini bila tak memiliki pasokan air dari Karez Irrigation?



Turpan, 4/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

EMIN MINARET DAN SHALAT JUMAT YANG HILANG


Journey to Uighur-Xinjiang #5



Masjid Emin Minaret yang sudah ditutup dan tidak difungsikan lagi untuk shalat.


“Muslim…. Muslim…,” tanya petugas keamanan itu sambil mengitari saya. Entah apa maksudnya.
Sejenak kaget, sebelum saya jawab, “Alhamdulillah. Sure. I’m covering my head with scarf,” jawab saya pelan namun tegas sambil memegang ujung hijab yang saya kenakan.


Untuk kesekian kalinya kerudung saya jadi masalah di negeri ini. Kali ini di depan pintu gerbang Emin Minaret.


Pagi ini, destinasi pertama adalah Emin Minaret yang berada 2 km dari pusat kota Turpan. Emin Minaret merupakan bangunan peninggalan sejarah muslim Uighur yang masih bisa disaksikan hingga kini.


Menara dan masjid ini dibangun tahun 1777 untuk menghormati kemenangan Jenderal Emin Khoja, yang kemudian diangkat menjadi penguasa setempat, setelah berhasil memadamkan pemberontakan Junggar. Menara setinggi 44 m, berdiameter 10 m ini merupakan bangunan asli yang masih kokoh berdiri. Sedang masjidnya telah direnovasi karena bangunan aslinya hancur akibat gempa.


Selain masjid dan menara, di kompleks ini juga ada pemakaman Islam. Bentuk nisannya khas pemakaman di Asia Tengah. Saya menyaksikan banyak pemakaman serupa di Uzbekistan. Sesungguhnya, kompleks ini sangat luas, dahulunya ada istana yang sekarang masih bisa disaksikan reruntuhannya.


Patung Sulaeman Emin yang bergamis dan berserban bukti bahwa muslim Uighur memiliki akar sejarah yang berbeda dengan bangsa China.


Di depan masjid berdiri patung Sulaeman Emin yang merupakan anak Emin Khoja. Sosok itu mengenakan gamis dan serban, bukan pakaian kebesaran seperti yang dipakai jendral-jendral Tiongkok. Sekali lagi ini adalah penegasan bahwa muslim Uighur memiliki akar sejarah yang berbeda dengan bangsa China.


Mr. Chang tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang sejarah bangunan ini, pun siapa itu Emin Khoja maupun anaknya. Pemerintah kota ini sepertinya setengah hati menggarap destinasi wisata yang terkait dengan Islam.


Sesungguhnya, Turpan sangat kaya dengan jejak sejarah Islam pada periode Jalur Sutra. Kota kuno ini menjadi perlintasan para kabilah yang masih eksis hingga kini. Sayangnya, sentimen anti Islam yang begitu tinggi membuat jejak sejarah yang luar biasa itupun coba dihapuskan.


Mr. Chang lalu mengajak kita ke plaza di depan masjid yang sangat luas. Dari ceritanya, lokasi ini digunakan untuk festival setelah Ramadhan alias perayaan Idul Fitri.
“Mereka shalat Ied di sini?” Tanya saya penasaran.
“Dulu iya. Sekarang tidak lagi. Hanya digunakan untuk festivalnya saja,” jawabnya.


Di gerbang masjid saya membeku. Bukan karena udara dingin minus 12 hari itu. Tapi ingatan saya melayang ke Mezquita di Cordoba, Spayol, yang saya saksikan 5 tahun lalu. Mezquita adalah Masjid Agung Cordoba yang kini difungsikan sebagai katedral. Nama Mezquita yang berarti masjid menunjukkan kalau bangunan itu dulunya adalah masjid (baca Buku Journey to Andalusia).


Mihrab di Mezquita masih berdiri tegak bertulis kalimat Tauhid di atasnya. Namun, kini berbatas terali besi dan polisi-polisi yang bertugas menghalau siapa saja yang berusaha shalat di depannya.


Pagi ini saya menyaksikan hal serupa di belahan bumi yang berbeda. Di depan terlihat karpet merah membentang menutup lantai dan mihrab masjid yang dibatasi tali dan dijaga polisi. Pertanda tidak boleh dilintasi.

Mihrab yang gelap dan berdebu menangis sendirian dalam kesunyian. Semoga hangat CahayaNya segera kembali hangatkan tempat ini.


Mihrab yang gelap dan berdebu itu tampak menangis sendirian dalam kesunyian. Saya tergugu. Sekali lagi saya harus menyaksikan luka sejarah. Masjid-masjid yang tidak boleh lagi digunakan untuk bersujud dan menderaskan namaNya.


Polisi yang berjaga nampak mulai gelisah dan makin sering mondar-mandir di belakang saya yang masih saja terpaku memegang tali pembatas dan menatap mihrab di depan sana. Saya tundukkan kepala dalam-dalam dan sorongkan segala pinta ke pintu langit, “Ya Rabb, izinkan tempat ini kembali hangat dengan CahayaMu.”


Suara Mr. Chang memecah kesunyian mengajak saya dan Lambang ke bagian masjid yang lain, yakni tangga menuju minaret. Saya tanya, “Di mana tempat yang dulunya digunakan untuk berwudhu?” Ia menatap saya sejenak sebelum menjawab, “I have no idea,” jawabnya dengan muka polos.


Minaret yang tetap kokoh berdiri itu kini tidak boleh dinaiki lagi, karena telah lapuk dimakan usia. Saya membayangkan pastilah dulunya minaret ini digunakan para muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat lima waktu.


Pemakaman Islam di dalam kompleks Masjid Emin Minaret.


Dari plaza di depan minaret Mr. Chang menunjuk kompleks pemakaman Islam yang ada di bagian kiri masjid. Nisan berbentuk gundukan yang terbuat dari tanah merah terlihat memenuhi area itu. Jumlahnya sekitar lima puluhan. Ada satu-dua yang dinaungi bangunan di atasnya. Kalau orang Jawa menyebutnya cungkup.


Tidak jelas siapa yang dimakamkan di sana, karena semua nisan tak bernama. Tidak ada keterangan apa pun di kompleks pemakaman itu. Namun saya yakin, siapapun yang dikuburkan di sana pasti menangis pilu menyaksikan masjid ini sekarang mangkrak, tidak boleh digunakan untuk shalat dan dijaga ketat.


Mr. Chang mengajak kita segera melanjutkan perjalan, karena harus kembali ke kota Urumqi siang ini. Sebelumnya kita akan singgah dulu ke Karez Irrigation (kisah ini akan saya lanjutkan di Journey to Uighur-Xinjiang #6 KAREZ IRRIGATION BUKTI TINGGINYA PERADABAN ISLAM DI UIGHUR). 


Hari ini hari Jumat. Saat sarapan tadi saya sempat mendiskusikan dengan Lambang akan shalat Jumat di Masjid Grand Bazaar di Urumqi. Perjalanan dari Turpan ke Urumqi memakan waktu sekitar 3 jam. Cukup waktu untuk mengejar shalat Jumat di Urumqi.


Secara fikih, mazhab Syafi’i tidak mewajibkan perempuan mengikuti salat Jumat, melainkan melaksanakan salat Dzuhur. Di Jakarta, saya jarang mengikuti salat Jumat karena memang mayoritas muslim Indonesia bermazhab Syafi’i sehingga tidak banyak masjid yang menyediakan shaf salat Jumat untuk perempuan.


Namun, setiap kali ke luar negeri dan bertepatan dengan hari Jumat, saya pasti akan ikut salat Jumat di masjid-masjid setempat. Kali ini pun saya ingin merasakan shalat Jumat bersama muslim Uighur.


Sampai di tempat parkir Grand Bazaar terlihat masjid besar di seberang jalan. Saya bertanya pada Mr. Chang, “Mengapa masjid itu sepi? Bukankah hari ini hari Jumat? Tidak ada shalat Jumat di sana?” Tanya saya.
“Sesuai peraturan pemerintah yang baru, tidak diperbolehkan lagi untuk shalat,” jawabnya singkat.


Innalillahi wa innailaihi rojiun


Tadinya saya berpikir masjid-masjid besar yang ada di pusat kota masih dibuka untuk shalat Jumat atau shalat Ied. Di Tuyoq Valley dan Turpan bisa jadi ditutup karena merupakan kota kecil. Tapi di Urumqi, yang merupakan ibu kota provinsi, saya pikir masih ada masjid yang difungsikan. Tentu saja dengan kontrol ketat dari pemerintah setempat.


Ternyata, shalat Jumat pun sudah tidak lagi didirikan di sini. Saya bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi di negeri ini? Kemana para mujahid yang harusnya membela agama Allah? Bila shalat sebagai tiang agama tak ada lagi yang bisa menyangga, tak perlu menunggu lama sampai bangunan negeri ini akan rubuh dengan sendirinya.


Sejarah adalah peristiwa yang berulang. Apa yang terjadi hari ini pernah terjadi di masa sebelumnya, sebagai ibrah bagi orang-orang yang berpikir. Prof. DR. Raghib As-Sirjani dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Andalusia menuliskan: Apa yang terjadi di Andalusia 600 tahun lalu adalah apa yang terjadi di Palestine hari ini.


Kalimat itu sekarang bertambah menjadi: Apa yang terjadi di Andalusia 600 tahun lalu adalah apa yang terjadi di Palestine hari ini. Dan bukan tidak mungkin akan terjadi di Uighur esok hari.


Allahumma ‘a-izzal islama wal muslimina
Allahummanshur ikhwananal musliminal mujahidina fi Uighur
Allahumma tsabbit imanahum wa anzilis-sakinata ‘ala qulubihim wa wahhid shufufahum


Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, tolonglah kaum Muslimin dan Mujahidin di Uighur.
Ya Allah, teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di dalam hati mereka dan satukanlah barisan mereka.


Urumqi,4/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com