Senin, 02 November 2020

 PINDAH KEYAKINAN DI NEGERI JAJAHAN



“Saya bahkan memutuskan untuk kembali lagi (ke Mali). Tapi setelah mengajak keluarga dan orang yang saya cintai masuk Islam. Karena saya ingin mereka merasakan manisnya apa yang telah saya rasakan dari penyembahan kepada satu-satunya Tuhan, yang tidak memiliki tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, dan saya ingin mereka mendapat kebaikan dunia ini dan akhirat.
Saya juga mengundang Anda untuk masuk Islam dan mengetuk hati Anda dengan agama besar ini, yang merupakan pesan dari semua nabi dan rasul dari zaman Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW.”
Beredar di media sosial surat yang ditulis Sophie Petronin untuk Presiden Macron. Isinya adalah penjelasan mengapa ia memutuskan bersyahadat.
Salah satunya adalah interaksi yang intens dengan orang-orang Muslim yang ia temui. Kebaikan hati yang ditunjukkan, ketaatan beribadah, hingga ketenangan yang didapat saat mendengar Alqur’an dibacakan, membuat hatinya tergerak untuk mengucap dua kalimat syahadat.
Sengaja ia mengumumkan keislamannya setelah kembali ke Prancis, karena tidak ingin ada yang menganggap keputusan itu diambil di bawah todongan senjata para penculiknya.
Kisah Sophie yang kini menggunakan nama Islam Maryam bukan hal baru. Lebih dari 150 tahun lalu, pahlawan Prancis Napoleon Bonaparte dan pasukannya saat menjajah Mesir pernah mengalami hal serupa.
Tercatat dalam sejarah, salah satu jenderal kepercayaannya, Jenderal Jacques Menou, mendapat hidayah di Negeri Para Kinanah.
Kebaikan hati orang-orang Islam di Mesir, kumandang adzan yang terdengar syahdu, serta aktivitas di bulan Ramadhan, membuatnya jatuh hati.
Setelah bersyahadat ia menggunakan nama Islam Jenderal Abdullah-Jacques Menou dan menikahi seorang wanita Mesir bernama Siti Zoubeida.

Napoleon di Mesir

Bagaimana Napoleon mengizinkan jendral kepercayaannya berpindah keyakinan?
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
Jawaban mengejutkan ini termuat dari kutipan wawancaranya di Majalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
Jangankan sekadar mengizinkan jenderalnya berpindah keyakinan, bahkan dengan jelas Napoleon menyatakan bahwa dirinya seorang Muslim.
Jauh sebelum itu, harian resmi Prancis, Le Moniteur Universel (1789-1868) menyebutkan bahwa Napoleon resmi menjadi Muslim pada 1798.
Bukti lainnya adalah pembangunan Arc de Triomphe di Champs Elysees dengan patung kuda menghadap ke timur yang diperintahkan oleh Napoleon jika ditarik garis lurus Voie Triomphale atau jalur kemenangan Prancis ini mengarah ke arah Ka'bah.
Banyak pihak yang membantah kabar ini. Bagaimana mungkin seorang raja Prancis berpindah keyakinan di negeri jajahan. Yang selalu dijadikan bukti adalah upacara pemakaman Napoleon yang menggunakan tata cara Katholik.
Mana yang benar?
Urusan pemakaman adalah urusan orang yang hidup. Bukan orang yang telah mati. Hingga hari ini keislaman Napoleon masih menjadi kontroversi.
Namun sebagaimana kesaksian Sophie, mulianya akhlak Muslim membuatnya mantap berpindah keyakinan. Bukan tak mungkin hal serupa dirasakan Napoleon dan pasukannya. Jenderal Abdullah-Jacques Menou adalah buktinya.

Jakarta, 2/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Minggu, 03 Februari 2019

ORANG-ORANG DI PERSIMPANGAN JALAN


Journey to Uighur-Xinjiang #End




Orang-orang di persimpangan jalan yang saya temui sepanjang perjalan ke Uighur-Xinjiang (1)


Dalam setiap perjalanan saya selalu dipertemukan Allah dengan orang-orang yang memperkaya batin. Demikian halnya dengan perjalanan ke Uighur-Xinjiang kali ini.


Yang pertama adalah Mb Manal yang saya temui di Dubai. Suaminya, Mas Abdul dalah teman satu kantor Lambang sewaktu masih di Jakarta, sebelum bekerja sebagai ekspatriat di Dubai.


Dokter gigi cantik yang hidungnya mirip Dewi Sandra ini yang meminjamkan kerudung yang saya gunakan dalam penerbangan Dubai-Urumqi.


Di saat kritis, ia datang membantu, “Ini warnanya masuk Mb, ada hijau-birunya,” katanya ramah sambil menyodorkan satu lembar kerudung untuk saya kenakan (baca Journey to Uighur-Xinjiang #2 "YOUR BAGAGE THROUGH URUMQI, MADAME").


Lalu, Mr. Chang, local guide yang menemani selama di kota Urumqi dan Turpan. Saya menghargai kerja kerasnya untuk membuat saya dan Lambang tidak terkena banyak "masalah" selama di sana.


Seandainya situasi yang dihadapi tidak seperti sekarang, mungkin kita bisa lebih bersahabat.


Saat chargher handphone saya tertinggal di hotel di Turpan, ia berusaha mencarikan pengganti. Padahal handphone yang saya gunakan bukan jenis yang populer di China.


Mr. Kashimir, local guide di kota Kashgar. Pria Uighur yang selalu gelisah dan terperangkap dalam ketakutan yang diciptakan di negerinya.


Saya hanya bisa berdoa, semoga suatu hari nanti ia bisa "bernapas lega". Mengajak orang asing yang dipandunya gembira dan menikmati indah kota kelahirannya.


Akima. Satu nama yang setelah tulisan Journey to Uighur-Xinjiang #4 “AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”, saya unggah membuat gelisah.


Banyaknya doa baik yang dikirimkan padanya, saya aminkan sepenuh hati. Namun, di sisi lain saya juga khawatir, bagaimana nasibnya kini?


Ia tinggal di satu desa sepi yang sudah ditinggal penghuninya. Bukan hal sulit kalau mau membuatnya "kesulitan". Semoga Allah selalu menjaganya.


Orang-orang yang tak bersuara yang saya temui di sepanjang jalan. Perempuan penjual buah di Sunday Market. Pemilik kedai teh di Kashgar Old City. Perempuan penyapu jalan. Pria tua yang tertatih-tatih berjalan dengan tongkatnya. Penjual melon yang berbagi tungku pemanas tanpa berkata-kata. Pemilik toko kelontong yang menjual cokelat lokal Uighur.



Orang-orang di persimpangan jalan yang saya temui sepanjang perjalan ke Uighur-Xinjiang (2).


Seperti adegan film bisu di masa lalu. Meski tanpa suara, tatapan mata mereka telah menjelaskan semua.


Biidznillah, semoga suatu hari nanti Allah pertemukan kita kembali. Ketika hangat Cahaya hidayah telah menyelimuti negerimu lagi.


Pak Rustam pemilik Khalifah Tour yang menjadi jalan mewujudkan mimpi-mimpi saya. Menyusuri setiap jengkal bumi Allah. Mentafakurinya. Memunguti hikmah yang berserak dan membagikan pada siapa saja yang mau membacanya.


Mas Reggy Kartawidjaja, Manager Khalifah Tour yang berusaha mengakomodir semua kebutuhan perjalanan ini. Bukan destinasi yang mudah. Pun bukan waktu yang ideal. Namun, ia tetap bekerja keras untuk mewujudkannya.


"Xinjiang freezing, Bu. Suhunya (minus) -25 °C. Tapi saya tetap akan usahakan mencari mitra yang bisa membantu di sana," ucapnya yang akan selalu saya ingat.


Sahabat-sahabat saya Wisnu Aji, Mursid Widarsono Affandi, Sigit Triwahyu, Rizka S. Aji, Prita Apresianti, Frety Yuana Indriasari, Fannie Santoso, Ustadz Dedi Hariadi Hidayat, Mas Muhammad Subarkah. Adik-adik saya Faridtribun Unique, Laila-Anton A Irawan, Fatmawati Nurul Handayani, Kharisma Dian Ikawati, Yudha-Nana, Anis. Kepada mereka saya menittip pesan "Cariin kita kalau belum kembali ke Jakarta."


"Cinta tulus kalian membuat hati saya selalu hangat di perjalanan."


Dan satu nama yang paling penting dari semua: Mama, yang mengiringi setiap langkah saya dengan doa.


Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza


Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang berlimpah dan semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang terbaik.


Untuk semua yang berkenan membaca dan membagikan catatan perjalanan Journey to Uighur-Xinjiang #1-10, semoga setiap huruf yang terbaca memberi manfaat, berbuah pahala untuk kita semua. Syukron lakum.


Duhai Sang Pemilik Cahaya, izinkan aku terus melangkah menuju CahayaMu. Menyusuri lekuk bumiMu. Bersujud di sebanyak-banyak masjidMu. Menuliskan kisah, dan membagikan pada siapa saja yang mau membacanya.


Biidznillah...


Cokelat lokal Uighur. Nama brand dan seluruh keterangan ditulis dalam aksara Arab, China dan Inggris.


Jakarta, 9/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

NESTAPA UIGHUR TANGGUNG JAWAB SIAPA?


Journey to Uighur-Xinjiang #10


Air sungai yang membeku selama musim dingin di depan perkampungan tua muslim Uighur di kota Kashgar.


Setiap melakukan perjalanan ke negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, saya sangat bersyukur sebagai orang Indonesia. Kata “I’m from Indonesia,” akan bersambut pelukan hangat dan ucapan selamat datang sepenuh hati.


Di Palestine tahun 2012, Fatima, seorang petugas di Masjidil Aqsa memeluk saya erat dan mengatakan, “Kabarkan pada saudaramu untuk datang kemari. Mereka hanya memusuhi kami. Masjid ini aman. Masjidil Aqsa aman karena Allah yang menjaganya,” katanya tegas tanpa melepaskan pelukannya.


Di Bukhara, Uzbekistan, saya dan Lambang diajak foto bersama ala artis yang sedang jumpa penggemar. Di Old Madina, Fes, Maroko, saya mendapat barang dengan harga lebih murah disertai ucapan, “Because you’re my sister from Indonesia.”


Kabar kebaikan hati dan kedermawanan orang Indonesia untuk saudara-saudara muslimnya di dunia telah menyebar ke pelosok-pelosok negeri.


Tapi, ada yang berbeda dalam perjalanan saya kali ini. Jawaban, “I’m from Indonesia,” bersambut dengan tatapan mata yang sulit saya artikan. Tidak ada pelukan hangat dan ucapan selamat datang ke negerinya, seperti yang biasa saya terima.


Sebegitu parahkan perang psikologi yang dikondisikan sehingga membuat mereka betul-betul tercekam ketakutan. Ataukah larangan berbicara dengan orang asing membuat mereka memilih menahan diri?


Di Sunday Market, sewaktu memotret, seorang perempuan penjual buah berkali-kali mencuri pandang dan menatap saya. Saat saya dekati dan minta izin memotretnya, tiba-tiba ia berkata pelan, “Indonesia?” yang saya jawab dengan anggukan kepala.


Hanya itu sepenggal kalimat yang membuat saya tertegun. “Apa yang engkau harapakan dari kami, saudaraku?” bisik saya dalam hati. Apakah engkau sudah terlalu lama menunggu uluran tangan kami?


Prof. DR. Raghib As-Sirjani dalam bukunya “Palestina Kewajiban yang Terlupakan” menuliskan secara rinci apa kewajiban kita pada Palestina. Semua muslim di seluruh dunia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada tanah waqaf Palestine.


Saya merenung. Kewajiban yang sama harusnya juga berlaku untuk saudara-saudara muslim di seluruh dunia yang kini tengah dirundung duka. Di Uighur, mereka tidak membutuhkan bantuan dana, karena sistem komunis membuat semua penduduk mendapat jaminan kebutuhan sandang pangan sama rata.


Namun, kebutuhan dasar manusia untuk beragama dan dimanusiakan itu yang direnggut paksa. Haruskah kita diam saja?


Suarakan penderitaan mereka dengan suara lantang maupun doa dalam diam. Kuatkan hati mereka untuk menggenggam erat kalimat Tauhid di hatinya. Dengan segala risiko yang harus diterima.


Saya teringat perjalanan ke Uzbekistan akhir tahun 2017 lalu. Saya bertemu dengan beberapa imam muda. Melihat usianya yang masih di bawah saya dan Lambang, saya membayangkan para imam ini harus menyembunyikan agamanya di era Uni Soviet menguasai negerinya. Hafalan surat-surat yang dikuasainya, pastilah tidak terjadi dalam semalam.


Sepanjang pendudukan Uni Soviet, secara diam-diam, mereka dan keluarganya tetap mempertahankan Tauhid, mendaras bacaan Al-Qur’an dalam kesunyian. Setelah rezim komunis berlalu, mereka melanjutkan pendidikan ke negeri yang menjadi sumber-sumber Cahaya hidayah, menyerap ilmu, dan kini bisa membagikannya pada umat di sekitarnya. (baca Buku Journey to Samarkand –segera hadir).


Sungguh-sungguh saya deraskan doa, supaya mereka diberi kesabaran, hingga tiba waktunya. Hangat CahayaNya kembali menghangatkan negeri ini. Dan musim dingin bisa segera berganti.


Bangunan berhias kubah dan lengkung iwan khas arsitektur Islam mendominasi kota tua Kashgar. Bangunan kosong seperti ini seakan menegaskan nestapa yang dialami muslim Uighur.


Hari ini saya harus melangkahkan kaki meninggalkan negeri ini. Berat rasanya. Pagi ini menggunakan China Southern Airlines saya akan terbang dari Urimqi transit di Guangzhou, lalu dari Ghuangzhou ke Jakarta.


Setiba di Urumqi dari Kashgar semalam, saya kembali berjumpa dengan Mr. Chang. Saya katakan padanya, besok berangkat lebih pagi tidak apa-apa, karena pemeriksaan saya di bandara pasti lebih lama. Saya tidak mau terburu-buru.


Tepat pukul 7.30, yang di sana berarti sebelum Subuh, Mr. Chang sudah menjemput saya dan Lambang di lobby hotel. “Kita gantian shalat Subuh di mobil,” pesan saya pada Lambang yang duduk di kursi depan.


Menembus pekatnya pagi di musim dingin, saya bertakbir. Ada satu pinta yang saya panjatkan usai salam, “Izinkan saya menyaksikan orang menegakkan shalat di negeri ini, sekali saja ya Rabb.”


Saya yakin di kegelapan sana ada orang-orang yang saat ini sedang terbangun, bermunajad, membenamkan sujudnya dalam-dalam.


Di check-in desk, saya minta Mr Chang memastikan ada dua boarding pass yang kita terima. Urumqi-Guangzhou dan Guangzhou-Jakarta. Serta bagasi kita langsung ke Jakarta. Karena waktu transit di Guangzhou yang sempit, semua harus beres di sini.


Sekali lagi boarding pass Lambang bermasalah. Nama tengahnya tidak muncul. Tapi karena ada Mr. Chang, jadi bisa diselesaikan dalam 5 menit. Kita diminta menuju salah satu konter, lalu nama tengah Lambang dituliskan menggunakan bolpen dan distempel. Beres!


Padahal kemarin di Kashi Airport, saat mengalami masalah serupa kita kalang kabut bukan main. Karena tidak ada yang bisa menjelaskan masalahnya dan apa yang harus dilakuan dalam bahasa Inggris (baca Journey to Uighur-Xinjiang #9 NEGERI TANPA SENYUM).


Di mesin pemindai, karena tidak bersedia melepas kerudung, seperti biasa saya harus masuk ke ruang pemindai khusus. Tapi karena sudah beberapa kali, jadi saya sudah santai. Apalagi cukup waktu, sehingga tidak terburu-buru.


Saya berjalan pelan dengan Lambang menuju boarding gate. Sempat mampir di salah satu toko buku untuk membeli tempelan kulkas berbentuk peta Xinjiang. Bukan tak mungkin, peta ini kalau diikutkan 10 Year Challenge akan berubah 10 tahun lagi.


“Aku ke toilet terus ambil minum. Kamu mau?” Tawar saya ke Lambang yang dijawab dengan anggukan kepala.


Kebiasaan penduduk setempat di musim dingin seperti sekarang ini kemanapun pergi akan membawa termos kecil. Di bandara dan tempat-tempat umum lainnya banyak tersedia dispenser air panas gratis.


Mengapa air panas? Karena temperatur yang selalu di bawah 0 derajat di musim dingin membuat air dalam kemasan cepat sekali membeku. Saya pernah meninggalkan botol air mineral di mobil, sewaktu mau diminum bagian bawahnya sudah membeku.


Deg! Rasnya jantung saya seperti berhenti berdetak. Saya tersentak.


Di belakang mesin dispenser saya lihat seorang pria berwajah Timur Tengah, mengenakan hem biru dan syal kotak-kotak serupa kafayeh yang juga berwarna biru dililit ke lehernya, tampak menggelar sajadah untuk shalat Subuh.


Sudut mata saya terasa hangat. Hati saya gerimis. Allah langsung mengabulkan doa yang saya pinta usai shalat Subuh di dalam mobil dalam perjalanan ke bandara tadi.


Akhirnya, saya menyaksikan orang menegakkan shalat di negeri ini. Allahu akbar!


Sambil menyerahkan cup kertas berisi air panas ke Lambang, saya bisikkan pelan, “Pelan-pelan nolehnya. Arah jam 6 kamu ada orang lagi shalat. Jangan bikin gerakan ngagetin. Noleh pelan saja.”
 

Muslim food yang saya pesan dalam penerbangan kali ini yang paling kocak, karena dapatnya ubi rebus!

Penerbangan Urumqi-Guangzhou ditempuh dalam waktu 5 jam. Hampir sama dengan waktu tempuh Guangzhou-Jakarta. Menu muslim food yang kita request oline sejak dari Jakarta dihidangkan awak kabin, “Are you request muslim food?” tanyanya, yang saya jawab dengan anggukan kepala. Begitu dibuka, isinya ubi rebus, yang membuat saya dan Lambang tersenyum.


Dalam semua penerbangan ke luar negeri, kalau tidak menggunakan Garuda Indonesia atau maskapai Timur Tengah seperti Emirates dan Qatar Airways, kita selalu request muslim food secara online begitu dapat kode bookingnya. Namun, penerbangan kali ini yang paling kocak karena dapatnya ubi rebus!


Menjelang landing di Guangzhou, saya ke toilet. Tak sengaja saya antre di belakang pria yang tadi shalat Subuh di bandara. “Assalamualaykum, Brother,” sapa saya. Yang dijawab dengan senyum ramah, “Wa’alaykum salam.”


Where do you come from?” Tanya saya.
“Kuwait. And you?
“Indonesia,” jawab saya.
Aah, Indonesia. Beautiful country. Ahlan.”


Sekalipun bukan muslim Uighur yang menyambut, di atas ketiggian 35.000 kaki, akhirnya ada yang mengucapkan selamat datang. Saya ceritakan obrolan singkat itu ke Lambang yang dijawab dengan senyuman.


Dari jendela pesawat yang terlihat hanya awan putih. Entah berada di mana saat ini. Saya renungi perjalanan ini. Betapa banyak hikmah berserak yang bisa dipunguti.


Nikmat shalat tanpa tekanan dan rasa takut yang tak akan saya rasakan kalau tidak mengalaminya di negeri ini. Betapa iman yang sudah tertanam di hati harus digenggam erat. Jangan pernah terlepas sekalipun. Hangat Cahaya hidayah menyusup ke relung hati. Mata saya basah. Hati saya apalagi!


"Akan aku kabarkan keadaanmu saudara-saudaraku. Akan aku tuliskan kisahmu..."


Saya bulatkan tekad, “Akan aku kabarkan keadaanmu saudara-saudaraku. Akan aku tuliskan kisahmu. Akan aku bagikan pada siapa saja yang mau membacanya. Akan aku sorongkan doa-doa terbaik ke pintu langit supaya pertolongan Allah segera datang ke negerimu.”


Seluruh hatiku bersamamu, saudaraku!



Jakarta, 8/1/2019

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

NEGERI TANPA SENYUM


Journey to Uighur-Xinjiang #9



Kashgar adalah kota yang sangat indah. Sebagai gerbang Jalur Sutra dari Persia dan Asia Tengah, ia menawarkan pesona yang luar biasa.


"Dari mana saja?" Suara saya tidak bisa menutupi kekesalan karena menunggu lebih dari 30 menit di depan pintu kamar hotel.


Ekspresi muka Lambang yang kebingungan membuat saya menyadari sesuatu pasti telah terjadi. "Aku pikir kamu diculik," jawabnya pelan yang seketika membuat saya bengong!


Tadi setelah sarapan, kita bertemu Mr. Kashimir di lobby hotel.
"We'll going up to take our luggage first," pamit saya.
Hari ini kita sekalian check-out, karena nanti sore harus mengejar penerbangan kembali ke Urumqi.


Sambil ngobrol, saya sibuk mengetik tulisan di handphone. Saya ikuti langkah Lambang tanpa memperhatikan situasi. Sampai di depan kamar, kunci tidak berfungsi. Berkali-kali di-tap, pintu tetap tidak bisa dibuka.


Lambang menduga Mr. Kashimir sudah membereskan urusan check-out sehingga pintu kamar tidak bisa dibuka lagi.
"Kamu tunggu di sini saja, aku urus kunci ke bawah." Saya hanya mengangguk dan tetap sibuk menulis.


Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Sampai pegal kaki saya berdiri, Lambang belum muncul juga. Pasti ada yang tidak beres, batin saya.


Segera saya putuskan untuk menyusul ke bawah. Di depan lift saya terkejut, karena di angka 20 pintu lift terbuka. Padahal kamar kita di lantai 22. Mengertilah saya kenapa kunci tidak berfungsi. Karena salah lantai. Saya tidak memperhatikan karena sibuk menulis dari tadi.


Rupanya Lambang kembali ke lantai 22 dan tidak menemukan saya. Tiga kali ke atas-ke bawah, tidak bertemu juga. Segera dia melapor ke Mr. Kashimir kalau saya "hilang".


Mr. Kashimir tak kalah panik. Ia segera melapor ke manajer hotel yang kemudian memeriksa CCTV. Saya tidak terlihat di lantai 22 sejak tadi.


Saya diculik! Itu yang ada di pikiran Lambang.


Sejak sebelum berangkat, bermacam isu keamanan memborbardir kita. Sebagai jurnalis, saya dilatih untuk menghadapi perang psikologis semacam ini. Sehingga tidak terlalu terganggu. Namun tidak dengan Lambang. Ia "parno" dengan berita tentang penculikan.


"Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir. Aku akan share semua tulisan setelah sampai Jakarta. Kita pastikan bisa balik ke Jakarta dulu. InsyaAllah aman," kata saya sebelum berangkat.


Suasana "mencekam" sepertinya sengaja dihembus-hembuskan. Sehingga semua orang ketakutan. Beberapa hari melakukan perjalanan dengan Mr. Kashimir, sebenarnya saya "prihatin" dengan ketangguhan mentalnya. Ia terlihat selalu gelisah. Irit bicara. Mengalihkan perhatian bila saya sudah menyinggung hal sensitif.


Dan yang paling parah, ia ketakutan menerima telepon dari nomer internasional. Sementara, profesinya adalah local guide yang mengharuskannya berhubungan dengan orang asing.


Sebenarnya, saya ingin sekali menggali kisah lebih dalam dari muslim Uighur. Tidak sekadar apa yang saya saksikan di sana. Berkali-kali saya pancing, ia selalu berkelit dan menutup diri.


Melihat dirinya, saya jadi membandingkan dengan Jamal, local guide yang menemani saya dan Lambang saat ke Palestine tahun 2012 lalu. Situasi keduanya mirip. Sama-sama tumbuh di negeri terjajah. Namun, Jamal bisa menunjukkan "ketangguhannya" sebagai orang Palestine.


Saya coba merenung, pastilah Mr. Kashimir punya alasan mengapa membiarkan dirinya terperangkap dalam ketakutan berkepanjangan yang sengaja diciptakan itu.


Sejak pertama menginjakkan kaki di sini, saya seperti mendarat di negeri tanpa senyum. Sulit sekali menemukan orang yang tersenyum, apalagi tertawa bahagia. Kalaupun ada yang tersenyum, selalu bergurat duka.


Sejatinya, Kashgar adalah kota yang sangat indah. Sebagai gerbang Jalur Sutra dari Persia dan Asia Tengah, ia menawarkan pesona yang luar biasa.




Suasana kota tua Kashgar melemparkan kita ke Persia dengan segala kemolekannya. Seakan Putri Jasmine dan Aladin sedang bermain dengan karpet terbangnya di sana.


Kemarin sore saat berkeliling kota tua, saya seperti terlempar ke Persia dengan segala kemolekannya. Rumah-rumah tua berbata merah, labirin sempit, lengkung iwan khas arsitektur Islam, lentera yang tergantung di ujung-ujung gang, gerbang kayu dengan gerendel khas. Ah!


Seakan Putri Jasmine dan Aladin sedang bermain dengan karpet terbangnya di sana.


Saya dan Lambang sempat mampir dan menyesap teh di sebuah kedai teh berumur seratus tahun. Melihat muslim Uighur berkumpul dan saling berbagi cerita.


Para tetua berbagi cerita di kedai teh.


Tak lama seorang mengambil oud dan rebana. Musik mulai ditabuh. Irama serupa irama padang pasir terdengar memenuhi ruangan. Meski suasana riang, namun terasa hampa, karena tak ada yang tersenyum di sana.


Sebagai penikmat sejarah Islam, saya terlena. Eksotisme dan jejak sejarah kota kuno ini sungguh luar biasa. Hanya, kini ada percikan luka. Entah berapa lama dan siapa yang bisa menyembuhkannya.


Di Sunday Market, pasar tradisional yang masih eksis sejak zaman Jalur Sutra, saya melihat aneka ternak diperdagangkan: kuda, unta, yak, keledai, sapi, kambing. Yang tidak ada hanya babi! Persis seperti ribuan tahun silam. Ini adalah bukti. Ini negeri muslim.


Sore ini kita harus kembali ke Urumqi. Di Kashi Airport boarding pass Lambang bermasalah. Nama tengahnya tidak tercetak, sehingga berbeda dengan tiket dan passport.


Nahasnya, di bandara ini tidak ada orang yang bisa menjelaskan dalam bahasa Inggris. Sehingga kita tidak mengerti apa yang terjadi. Padahal waktu boarding semakin mepet.


"Anyone can speak English?" Saya sampai berteriak karena tidak ada yang bisa membantu. Mr. Kashimir yang berulang ditelepon Lambang tidak mengangkat teleponnya. Alhamdulillah, akhirnya ada seorang penumpang dengan bahasa Inggris yang terbata-bata menjadi penerjemah.


Bahasa menjadi kendala, bisa dimengerti. Jangankan bicara dalam bahasa asing, ada peraturan yang melarang muslim Uighur untuk berbicara dengan orang asing. Di titik ini saya mencoba memaklumi mengapa Mr. Kashimir tidak mengangkat teleponnya.


Belum selesai. Meski dikejar waktu, lagi-lagi petugas di mesin pemindai meminta saya melepas kerudung. "Allahu rabbi," desis saya sambil menunjukkan boarding pass yang waktunya tinggal 10 menit lagi. Melihat muka saya yang mungkin sudah tidak karuan, petugas itu akhirnya meloloskan.


Sambil berlari, saya tenteng sepatu boots yang tak sempat dipakai lagi. Untungnya bandara ini tidak terlalu luas. Tepat di depan boarding gate, terdengar pengumuman melalui pengeras suara kalau pesawat yang akan membawa kita kembali ke Urumqi segera boarding.


Di kursi pesawat, sambil mengatur napas yang masih terengah-engah, saya pejamkan mata mengulang memori di kota ini.


Takdir sejarah membuat wilayah yang secara geografis lebih dekat ke Damaskus ketimbang ke Beijing ini harus menjadi bagian dari negara China. Padahal secara tradisi dan budaya semua berbeda. Secara ideologi dan religi.... ah, apalagi!


Catatan sejarah membuktikan, negeri-negeri yang pernah menjadi bagian dari Daulah Islam terjamin keamanan penduduknya, sekalipun berbeda agama.


Piagam Madinah adalah awal sekaligus bukti. Bagaimana sebuah pranata masyarakat madani seharusnya dibangun. Menjamin keadilan untuk semua warganya. Enam abad sebelum Magna Charta yang dianggap kitab suci dibuat manusia.



Kashgar, 6/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com