Kamis, 05 November 2020

 #JourneytoBaitullah

SEPERTI KERINDUAN PANGERAN DIPONEGORO

PADA TANAH SUCI




Bila tidak ada halangan, InsyaAllah umrah perdana jamaah dari Indonesia akan dilaksanakan pukul 19.30 malam ini. Rerata jamaah yang berangkat pada 1 November adalah para pemilik atau petugas dari travel umrah.
Seperti diketahui, sekalipun telah memasuki kota Makkah sejak 3 hari lalu, namun jamaah tidak bisa langsung melaksanakan umrah.
Semua harus menjalani karantina selama 3 hari di hotel. Juga melakukan swab ulang untuk memastikan jamaah dalam keadaan sehat, negatif COVID.
Usai umrah, jamaah kembali harus menjalani karantina selama 2 hari di hotel. Tidak ada agenda ziarah sebagaimana umrah sebelum pandemi.
“Durasi waktu di Madinah juga lebih pendek, Mb. Hanya 2 hari,” jelas Pak
Rustam Sumarna Yahya
dari
Khalifah Tour
dalam diskusi dengannya siang ini.
Sepertinya tidak mudah memang melaksanakan umrah di tengah pandemi ini. Selain persyaratan usia yang terbatas dan biaya yang lebih mahal, juga protokol kesehatan ketat yang harus dijalankan.
Namun semua itu tak mengurangi kerinduan Muslimin di seluruh penjuru dunia untuk segera menginjakkan kaki lagi di Tanah Suci.
Apalagi hari ini beredar foto-foto Makkah yang tengah diguyur hujan deras. Rasanya rindu sampai ke ujung sendi.
Kalau sebelum pandemi, rasanya “kapan saja” kita bisa berangkat umrah, mungkin kini tidak lagi. Jarak Tanah Suci rasanya tak “sedekat” dulu lagi.
Mungkin, angan-angan seperti itu pula yang menggelayut dalam pikiran Mujahid tanah Jawa, Pangeran Diponegoro, seratus sembilan puluh tahun lalu.

Dalam perjalanan ke pengasingan, Pangeran Diponegoro selalu menanyakan tentang Tanah Suci

“Kapan kita akan berlabuh di Jeddah? Berapa lama perjalanan kapal ini menuju Jeddah?” Tanyanya berulang-ulang pada ajudan militer Van den Bosch yang bernama Knoerle dari atas kapal.
Dalam bukunya “Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855”, sejarawan Inggris Peter Carey menuliskan, Sang Pangeran secara khusus menyatakan diri ingin menunaikan haji ke Tanah Suci.
Bahkan tak sekadar pergi haji, ia ingin tinggal menetap di tanah suci hingga akhir hayatnya. Keinginan itu mulai dinyatakan Pangeran Diponegoro pada masa akhir perang Jawa, yakni di akhir tahun 1829.
Impian itu begitu membuncah seperti yang dicatat komandan tentara De Stuers. Pangeran Diponegoro saat berangkat menuju pengasingan mengenakan pakaian haji.
Ia sempat meminum air zam-zam yang diberikan kepadanya di Magelang oleh seorang haji yang baru kembali dari Tanah Suci.
Setelah pengkhianatan Belanda yang menjebaknya di Magelang, tak ada yang lebih diinginkan selain menghabiskan sisa usianya di rumah Allah.
Selama perjalanan menuju tanah pengasingan, di atas kapal dari Semarang ke Jakarta, Pangeran Diponegoro selalu menuntut hak atas kepastian di mana ia akan diasingkan.
“Orang tahu aku ingin mendapat kepastian mengenai hak-hak legalku, apakah akan dikirim ke Makkah atau ke tempat lain?"
Bahkan saat melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Manado, ia menegaskan pada Knoerle sesampainya di Manado ia akan meminta kapal kepada Gubernur Jendral untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Selama di atas kapal, acap kali Pangeran mengungkapkan keinginannya pergi ke Makkah pada nahkoda kapal dengan meminta ditunjukkan letak pulau-pulau yang dilalui sekaligus jalur kapal menuju Jeddah.
Bahkan, uang tunjangan hidup selama di pengasingan yang ditanggung pihak Kraton Yogya sebagian disisihkan guna keperluan itu. Hingga jumlah simpanannya mencapai f 1.762,50.
Belanda khawatir uang simpanan itu digunakan untuk mengobarkan kembali jihad fi sabilillah, maka tunjangan hidup yang diberikan dipotong.
Dari awalnya f 600 per bulan, menjadi f 300, dan terakhir hanya menjadi f 200 per bulan. Jumlah yang jauh dari cukup untuk membiayai keluarga besarnya di pengasingan.
Di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sang Pangeran memandang pilu ke tengah lautan, sambil membayangkan Tanah Suci yang tak pernah berhasil dijangkaunya hingga menutup mata.
Semoga Allah mudahkan semua jamaah dari Indonesia hari ini untuk melaksanakan rukun wajib umrah dan mendapatkan kemabruran sekembali dari Tanah Suci.

Jakarta, 5/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Rabu, 04 November 2020

 SANG IMAM BERBAJU PENGEMIS



Beberapa hari ini viral foto anak yang berteduh di Jl Braga, Bandung. Sambil jongkok ia membuka mushaf kecilnya, membaca Alqur’an. Karung yang biasa dibawa pemulung ada di pangkuannya.
Banyak yang menitikkan air mata melihat foto itu. Merasa tertampar, karena dengan segala keterbatasannya, anak itu tak melupakan Tuhannya.
Anak itu bernama Akbar. Umurnya 16 tahun. Berasal dari Garut, berjalan kaki menuju Bandung sejauh 50 km untuk mencari kerja.
Karena tak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya ia putuskan menjadi pemulung untuk menyambung hidup. Dari lokasi foto yang viral, ia sudah berjalan jauh lagi dan ditemukan di daerah Lembang.

Foto Akbar yang viral. Membaca Alqur'an menanti hujan reda dii Jl Braga

Pertama kali melihat foto itu tetiba saya membayangkan Imam Baqi bin Makhlad Al-Andalusi. Ia adalah salah satu imam besar dari Andalusia.
Ia melakukan perjalanan yang sangat jauh dari Andalusia menuju Baghdad dengan berjalan kaki. Tujuannya hanya satu, menemui Imam Ahmad bin Hambal untuk berguru padanya.
Kisahnya tercantum dalam kitab “Al-Manhajul Ahmad fi Tarajim Ashhabil Imam Ahmad" karya Al-Ulaimi.
Nahas, sesampai di Baghdad, Imam Ahmad bin Hambal sedang dicekal oleh penguasa dan tidak boleh mengajarkan ilmunya.
Tak putus asa Imam Baqi bin Makhlad mencoba mencari cara untuk menemui Imam Ahmad. Diketuknya pintu rumah Sang Guru. Dijelaskan maksud kedatangannya untuk berguru.
“Engkau tentu telah mendengar, aku tidak diizinkan untuk mengajar lagi di majelis ilmu,” kata Imam Ahmad bin Hambal.
“Betul, aku mendengarnya. Tapi aku datang dari negeri yang sangat jauh,” jawab Imam Baqi bin Makhlad meminta pengertian.
“Apakah engkau datang dari Trobus (Tripoli, Libya)?”
“Bahkan untuk sampai Trobus aku masih harus menyeberangi lautan,” jawabnya untuk menjelaskan betapa jauh negeri Andalusia dari Baghdad.
Setelah berbincang muncullah ide, Imam Baqi bin Makhlad akan datang dengan menyamar sebagai pengemis setiap hari.
Keesokan paginya, Imam Baqi bin Makhlad datang dengan pakaian compang-camping layaknya pengemis. Kertas dan tinta untuk menulis disembunyikannya di balik baju.
“Pahala, semoga Allah merahmati kalian,” teriaknya menirukan ucapan para peminta-minta di Baghdad.
Imam Ahmad bin Hambal lalu membukakan pintu. Satu dua hadis diajarkan padanya. Tidak bisa berlama-lama, karena khawatir orang akan curiga.
Begitu terus setiap hari hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai tiba hari ketika penguasa berganti dan Imam Ahmad bin Hambal diperbolehkan kembali mengajar di majelis ilmu.
Suatu waktu Imam Baqi bin Makhlad jatuh sakit. Imam Ahmad bin Hambal meluangkan waktu untuk menengoknya. Ramailah orang membicarakan, bagaimana “pengemis” ini bisa didatangi seorang Imam besar.
Dalam setiap kesempatan, Imam Ahmad bin Hambal selalu memuji keteguhan hati dan kesabaran muridnya itu dalam mencari ilmu.
“Apakah ini yang kalian sebut mencari ilmu? Seandainya kalian melihat apa yang dilakukan Baqi bin Makhlad, niscaya kalian akan malu menyebut diri sebagai pencari ilmu.”
Sekembalinya ke Andalusia, Imam Baqi bin Makhlad menjadi imam besar dan ulama terpandang yang majelisnya selalu dipadati para pencari ilmu.
Semoga suatu hari kelak, Allah muliakan Akbar sebagaimana Allah muliakan Imam Baqi bin Makhlad. Menjadi orang berilmu tersebab ayat-ayat Alqur’an yang dibacanya di antara rintik hujan dan dinginnya kota Bandung. Jalan Braga akan menjadi saksinya di akhirat kelak. Aamiin YRA.

Jakarta, 4/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Selasa, 03 November 2020

 MERANGKUL SAUDARA BEDA WARNA



“Kalau dibiarkan tumbuh alami saja, Eropa nanti akan menjadi negeri Muslim.” Ungkapan menarik itu disampaikan oleh Syeikh Yusuf Qaradhawi.
Bagaimana bisa?
Penelitian yang dilakukan tiga orang pakar sosiologi, yakni Profesor Sosiologi Dudley Poston dari Texas A&M University, Profesor Kenneth Johnson dari University of New Hampshire, dan Profesor Layton Field dari Mount St. Mary's University, bisa menjawab pertanyaan itu.
Mereka telah menyelesaikan studi komprehensif mengenai kependudukan di Eropa dan Amerika Serikat. Hasilnya, 58 persen dari 1391 negara di Eropa, memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka kelahiran.
Kelompok usia produktif di Eropa sudah “tidak berminat” punya anak, karena dianggap merepotkan. Dan kelak setelah lanjut usia, anak-anak itu akan mengirim orangtuanya ke panti jompo. Jadi punya atau tidak punya anak tidak ada bedanya dalam anggapan mereka.
Selain itu legalitas hubungan sejenis juga makin menurunkan angka natalitas di Eropa.
Sementara itu penelitian lain mengungkapkan, rata-rata perempuan Muslim di Eropa akan melahirkan 2,6 anak. Sedangkan perempuan Eropa rata-rata hanya melahirkan 1,6 anak. Sehingga secara kasat mata pertumbuhan Muslim di Eropa hampir dua kali lipat.
Muslim berada di tanah Eropa adalah sebuah konsekuensi dari gelombang kolonialisme yang dilancarkan Barat pada masa lalu.
Mereka mengirimkan pasukan ke negeri-negeri Muslim untuk merampok kekayaan alamnya, sehingga negeri itu menjadi miskin dan terjadilah gelombang migrasi. Seperti yang terjadi di Afrika Utara akibat penjajahan Prancis.
Menariknya, sekalipun gelombang imigran ini telah beranak pinak beberapa generasi di Eropa, namun masyarakat Eropa tetap menganggapnya sebagai “pekerja tamu”, sedang mereka adalah “tuan rumah”. Selamanya masyarakat Muslim dianggap “yang berbeda” di Eropa.
Walaupun tak sedikit yang telah berjasa bagi negaranya. Seperti prestasi yang ditorehkan pesepakbola Zinedine Zidane.
Bahkan tercatat ada 15 pemain di skuat Prancis pada Piala Dunia 2018 yang lahir dari rahim imigran. Tanpa mereka, bisa jadi Prancis tak akan pernah merasakan kebanggaan menggenggam piala kemenangan.
Penelitian berjudul "Sebuah Ancaman Bagi Barat? Membandingkan Nilai Manusia Imigran Muslim, Kristen, dan Non-Religius Pribumi di Eropa Barat" yang dilakukan Christian S Czymara dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Goethe dan Marcus Eisentraut dari Institut Leibniz untuk Ilmu Sosial, membuktikan hal tersebut.
Bibit rasisme, merasa paling superior, lebih unggul dari ras bangsa lain adalah bagian dari kehidupan masyarakat Eropa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Sesuatu yang berhasil dilebur oleh Islam sejak empat belas abad lalu.
Rasulullah SAW menyontohkan bagaimana mempersaudarakan para pendatang, imigran kalau dalam bahasa sekarang, dari Mekkah dengan penduduk asli Madinah.
Tak sekadar menerima dengan tangan terbuka, bahkan mereka rela membagikan segala yang dimilikinya. Paling masyhur adalah kisah Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.
Teladan yang dicontohkan ini terus terbawa dalam diri Muslim. Para sahabat dan generasi sesudahnya bermigrasi, menyebar dan beranak-pinak ke seluruh penjuru bumi Allah yang luas. Yaman, Syam, anak benua India, bahkan hingga ke Nusantara.
Pada periode selanjutnya, tercatat nama-nama besar dalam sejarah Islam yang juga bermigrasi dari tempat kelahirannya dan diterima dengan tangan terbuka.
Salah satunya Abu Musa Al Khawarizmi, jenius penemu teori algoritma yang masih digunakan hingga hari ini. Ia lahir di Khawarizm, Uzbekistan sekarang, namun menetap dan memberikan sumbangsih yang tak ternilai harganya di pusat kosmopolitan dunia, Baghdad.
Begitupun penduduk Andalusia yang menyambut kedatangan saudara-saudaranya bangsa Barbar/Barber dari Afrika Utara, bangsa Arab dari Syam dan Hijaz, hingga bangsa Kaukasus dan Asia. Terbukti, warna-warni kulit itu membuat Andalusia menjadi negeri tempat segala hal hebat berawal.
Saat terjadi peristiwa reconquista atau pengusiran Muslim Andalusia oleh Ferdinand dan Isabel, penduduk Maroko, Tunisia, Aljazair membuka pintu rumah mereka lebar-lebar. Persis seperti kaum Anshar ketika menyambut sahabat Muhajirin. Semua dirangkul sebagai saudara, diberi tempat tinggal dan perlindungan.
Jadi, Emmanuel Macron dan para pemimpin Eropa tak perlu ketakutan. Kelak ketika secara alami jumlah Muslim di Eropa lebih banyak, mereka tak akan diperlakukan sewenang-wenang seperti yang mereka pertontonkan hari ini. Sejarah telah membuktikan.
N'ai pas peur, Macron! – tidak perlu ketakutan, Macron!

Jakarta, 3/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Senin, 02 November 2020

 PINDAH KEYAKINAN DI NEGERI JAJAHAN



“Saya bahkan memutuskan untuk kembali lagi (ke Mali). Tapi setelah mengajak keluarga dan orang yang saya cintai masuk Islam. Karena saya ingin mereka merasakan manisnya apa yang telah saya rasakan dari penyembahan kepada satu-satunya Tuhan, yang tidak memiliki tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, dan saya ingin mereka mendapat kebaikan dunia ini dan akhirat.
Saya juga mengundang Anda untuk masuk Islam dan mengetuk hati Anda dengan agama besar ini, yang merupakan pesan dari semua nabi dan rasul dari zaman Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW.”
Beredar di media sosial surat yang ditulis Sophie Petronin untuk Presiden Macron. Isinya adalah penjelasan mengapa ia memutuskan bersyahadat.
Salah satunya adalah interaksi yang intens dengan orang-orang Muslim yang ia temui. Kebaikan hati yang ditunjukkan, ketaatan beribadah, hingga ketenangan yang didapat saat mendengar Alqur’an dibacakan, membuat hatinya tergerak untuk mengucap dua kalimat syahadat.
Sengaja ia mengumumkan keislamannya setelah kembali ke Prancis, karena tidak ingin ada yang menganggap keputusan itu diambil di bawah todongan senjata para penculiknya.
Kisah Sophie yang kini menggunakan nama Islam Maryam bukan hal baru. Lebih dari 150 tahun lalu, pahlawan Prancis Napoleon Bonaparte dan pasukannya saat menjajah Mesir pernah mengalami hal serupa.
Tercatat dalam sejarah, salah satu jenderal kepercayaannya, Jenderal Jacques Menou, mendapat hidayah di Negeri Para Kinanah.
Kebaikan hati orang-orang Islam di Mesir, kumandang adzan yang terdengar syahdu, serta aktivitas di bulan Ramadhan, membuatnya jatuh hati.
Setelah bersyahadat ia menggunakan nama Islam Jenderal Abdullah-Jacques Menou dan menikahi seorang wanita Mesir bernama Siti Zoubeida.

Napoleon di Mesir

Bagaimana Napoleon mengizinkan jendral kepercayaannya berpindah keyakinan?
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
Jawaban mengejutkan ini termuat dari kutipan wawancaranya di Majalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
Jangankan sekadar mengizinkan jenderalnya berpindah keyakinan, bahkan dengan jelas Napoleon menyatakan bahwa dirinya seorang Muslim.
Jauh sebelum itu, harian resmi Prancis, Le Moniteur Universel (1789-1868) menyebutkan bahwa Napoleon resmi menjadi Muslim pada 1798.
Bukti lainnya adalah pembangunan Arc de Triomphe di Champs Elysees dengan patung kuda menghadap ke timur yang diperintahkan oleh Napoleon jika ditarik garis lurus Voie Triomphale atau jalur kemenangan Prancis ini mengarah ke arah Ka'bah.
Banyak pihak yang membantah kabar ini. Bagaimana mungkin seorang raja Prancis berpindah keyakinan di negeri jajahan. Yang selalu dijadikan bukti adalah upacara pemakaman Napoleon yang menggunakan tata cara Katholik.
Mana yang benar?
Urusan pemakaman adalah urusan orang yang hidup. Bukan orang yang telah mati. Hingga hari ini keislaman Napoleon masih menjadi kontroversi.
Namun sebagaimana kesaksian Sophie, mulianya akhlak Muslim membuatnya mantap berpindah keyakinan. Bukan tak mungkin hal serupa dirasakan Napoleon dan pasukannya. Jenderal Abdullah-Jacques Menou adalah buktinya.

Jakarta, 2/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Minggu, 03 Februari 2019

ORANG-ORANG DI PERSIMPANGAN JALAN


Journey to Uighur-Xinjiang #End




Orang-orang di persimpangan jalan yang saya temui sepanjang perjalan ke Uighur-Xinjiang (1)


Dalam setiap perjalanan saya selalu dipertemukan Allah dengan orang-orang yang memperkaya batin. Demikian halnya dengan perjalanan ke Uighur-Xinjiang kali ini.


Yang pertama adalah Mb Manal yang saya temui di Dubai. Suaminya, Mas Abdul dalah teman satu kantor Lambang sewaktu masih di Jakarta, sebelum bekerja sebagai ekspatriat di Dubai.


Dokter gigi cantik yang hidungnya mirip Dewi Sandra ini yang meminjamkan kerudung yang saya gunakan dalam penerbangan Dubai-Urumqi.


Di saat kritis, ia datang membantu, “Ini warnanya masuk Mb, ada hijau-birunya,” katanya ramah sambil menyodorkan satu lembar kerudung untuk saya kenakan (baca Journey to Uighur-Xinjiang #2 "YOUR BAGAGE THROUGH URUMQI, MADAME").


Lalu, Mr. Chang, local guide yang menemani selama di kota Urumqi dan Turpan. Saya menghargai kerja kerasnya untuk membuat saya dan Lambang tidak terkena banyak "masalah" selama di sana.


Seandainya situasi yang dihadapi tidak seperti sekarang, mungkin kita bisa lebih bersahabat.


Saat chargher handphone saya tertinggal di hotel di Turpan, ia berusaha mencarikan pengganti. Padahal handphone yang saya gunakan bukan jenis yang populer di China.


Mr. Kashimir, local guide di kota Kashgar. Pria Uighur yang selalu gelisah dan terperangkap dalam ketakutan yang diciptakan di negerinya.


Saya hanya bisa berdoa, semoga suatu hari nanti ia bisa "bernapas lega". Mengajak orang asing yang dipandunya gembira dan menikmati indah kota kelahirannya.


Akima. Satu nama yang setelah tulisan Journey to Uighur-Xinjiang #4 “AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”, saya unggah membuat gelisah.


Banyaknya doa baik yang dikirimkan padanya, saya aminkan sepenuh hati. Namun, di sisi lain saya juga khawatir, bagaimana nasibnya kini?


Ia tinggal di satu desa sepi yang sudah ditinggal penghuninya. Bukan hal sulit kalau mau membuatnya "kesulitan". Semoga Allah selalu menjaganya.


Orang-orang yang tak bersuara yang saya temui di sepanjang jalan. Perempuan penjual buah di Sunday Market. Pemilik kedai teh di Kashgar Old City. Perempuan penyapu jalan. Pria tua yang tertatih-tatih berjalan dengan tongkatnya. Penjual melon yang berbagi tungku pemanas tanpa berkata-kata. Pemilik toko kelontong yang menjual cokelat lokal Uighur.



Orang-orang di persimpangan jalan yang saya temui sepanjang perjalan ke Uighur-Xinjiang (2).


Seperti adegan film bisu di masa lalu. Meski tanpa suara, tatapan mata mereka telah menjelaskan semua.


Biidznillah, semoga suatu hari nanti Allah pertemukan kita kembali. Ketika hangat Cahaya hidayah telah menyelimuti negerimu lagi.


Pak Rustam pemilik Khalifah Tour yang menjadi jalan mewujudkan mimpi-mimpi saya. Menyusuri setiap jengkal bumi Allah. Mentafakurinya. Memunguti hikmah yang berserak dan membagikan pada siapa saja yang mau membacanya.


Mas Reggy Kartawidjaja, Manager Khalifah Tour yang berusaha mengakomodir semua kebutuhan perjalanan ini. Bukan destinasi yang mudah. Pun bukan waktu yang ideal. Namun, ia tetap bekerja keras untuk mewujudkannya.


"Xinjiang freezing, Bu. Suhunya (minus) -25 °C. Tapi saya tetap akan usahakan mencari mitra yang bisa membantu di sana," ucapnya yang akan selalu saya ingat.


Sahabat-sahabat saya Wisnu Aji, Mursid Widarsono Affandi, Sigit Triwahyu, Rizka S. Aji, Prita Apresianti, Frety Yuana Indriasari, Fannie Santoso, Ustadz Dedi Hariadi Hidayat, Mas Muhammad Subarkah. Adik-adik saya Faridtribun Unique, Laila-Anton A Irawan, Fatmawati Nurul Handayani, Kharisma Dian Ikawati, Yudha-Nana, Anis. Kepada mereka saya menittip pesan "Cariin kita kalau belum kembali ke Jakarta."


"Cinta tulus kalian membuat hati saya selalu hangat di perjalanan."


Dan satu nama yang paling penting dari semua: Mama, yang mengiringi setiap langkah saya dengan doa.


Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza


Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang berlimpah dan semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang terbaik.


Untuk semua yang berkenan membaca dan membagikan catatan perjalanan Journey to Uighur-Xinjiang #1-10, semoga setiap huruf yang terbaca memberi manfaat, berbuah pahala untuk kita semua. Syukron lakum.


Duhai Sang Pemilik Cahaya, izinkan aku terus melangkah menuju CahayaMu. Menyusuri lekuk bumiMu. Bersujud di sebanyak-banyak masjidMu. Menuliskan kisah, dan membagikan pada siapa saja yang mau membacanya.


Biidznillah...


Cokelat lokal Uighur. Nama brand dan seluruh keterangan ditulis dalam aksara Arab, China dan Inggris.


Jakarta, 9/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

NESTAPA UIGHUR TANGGUNG JAWAB SIAPA?


Journey to Uighur-Xinjiang #10


Air sungai yang membeku selama musim dingin di depan perkampungan tua muslim Uighur di kota Kashgar.


Setiap melakukan perjalanan ke negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, saya sangat bersyukur sebagai orang Indonesia. Kata “I’m from Indonesia,” akan bersambut pelukan hangat dan ucapan selamat datang sepenuh hati.


Di Palestine tahun 2012, Fatima, seorang petugas di Masjidil Aqsa memeluk saya erat dan mengatakan, “Kabarkan pada saudaramu untuk datang kemari. Mereka hanya memusuhi kami. Masjid ini aman. Masjidil Aqsa aman karena Allah yang menjaganya,” katanya tegas tanpa melepaskan pelukannya.


Di Bukhara, Uzbekistan, saya dan Lambang diajak foto bersama ala artis yang sedang jumpa penggemar. Di Old Madina, Fes, Maroko, saya mendapat barang dengan harga lebih murah disertai ucapan, “Because you’re my sister from Indonesia.”


Kabar kebaikan hati dan kedermawanan orang Indonesia untuk saudara-saudara muslimnya di dunia telah menyebar ke pelosok-pelosok negeri.


Tapi, ada yang berbeda dalam perjalanan saya kali ini. Jawaban, “I’m from Indonesia,” bersambut dengan tatapan mata yang sulit saya artikan. Tidak ada pelukan hangat dan ucapan selamat datang ke negerinya, seperti yang biasa saya terima.


Sebegitu parahkan perang psikologi yang dikondisikan sehingga membuat mereka betul-betul tercekam ketakutan. Ataukah larangan berbicara dengan orang asing membuat mereka memilih menahan diri?


Di Sunday Market, sewaktu memotret, seorang perempuan penjual buah berkali-kali mencuri pandang dan menatap saya. Saat saya dekati dan minta izin memotretnya, tiba-tiba ia berkata pelan, “Indonesia?” yang saya jawab dengan anggukan kepala.


Hanya itu sepenggal kalimat yang membuat saya tertegun. “Apa yang engkau harapakan dari kami, saudaraku?” bisik saya dalam hati. Apakah engkau sudah terlalu lama menunggu uluran tangan kami?


Prof. DR. Raghib As-Sirjani dalam bukunya “Palestina Kewajiban yang Terlupakan” menuliskan secara rinci apa kewajiban kita pada Palestina. Semua muslim di seluruh dunia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada tanah waqaf Palestine.


Saya merenung. Kewajiban yang sama harusnya juga berlaku untuk saudara-saudara muslim di seluruh dunia yang kini tengah dirundung duka. Di Uighur, mereka tidak membutuhkan bantuan dana, karena sistem komunis membuat semua penduduk mendapat jaminan kebutuhan sandang pangan sama rata.


Namun, kebutuhan dasar manusia untuk beragama dan dimanusiakan itu yang direnggut paksa. Haruskah kita diam saja?


Suarakan penderitaan mereka dengan suara lantang maupun doa dalam diam. Kuatkan hati mereka untuk menggenggam erat kalimat Tauhid di hatinya. Dengan segala risiko yang harus diterima.


Saya teringat perjalanan ke Uzbekistan akhir tahun 2017 lalu. Saya bertemu dengan beberapa imam muda. Melihat usianya yang masih di bawah saya dan Lambang, saya membayangkan para imam ini harus menyembunyikan agamanya di era Uni Soviet menguasai negerinya. Hafalan surat-surat yang dikuasainya, pastilah tidak terjadi dalam semalam.


Sepanjang pendudukan Uni Soviet, secara diam-diam, mereka dan keluarganya tetap mempertahankan Tauhid, mendaras bacaan Al-Qur’an dalam kesunyian. Setelah rezim komunis berlalu, mereka melanjutkan pendidikan ke negeri yang menjadi sumber-sumber Cahaya hidayah, menyerap ilmu, dan kini bisa membagikannya pada umat di sekitarnya. (baca Buku Journey to Samarkand –segera hadir).


Sungguh-sungguh saya deraskan doa, supaya mereka diberi kesabaran, hingga tiba waktunya. Hangat CahayaNya kembali menghangatkan negeri ini. Dan musim dingin bisa segera berganti.


Bangunan berhias kubah dan lengkung iwan khas arsitektur Islam mendominasi kota tua Kashgar. Bangunan kosong seperti ini seakan menegaskan nestapa yang dialami muslim Uighur.


Hari ini saya harus melangkahkan kaki meninggalkan negeri ini. Berat rasanya. Pagi ini menggunakan China Southern Airlines saya akan terbang dari Urimqi transit di Guangzhou, lalu dari Ghuangzhou ke Jakarta.


Setiba di Urumqi dari Kashgar semalam, saya kembali berjumpa dengan Mr. Chang. Saya katakan padanya, besok berangkat lebih pagi tidak apa-apa, karena pemeriksaan saya di bandara pasti lebih lama. Saya tidak mau terburu-buru.


Tepat pukul 7.30, yang di sana berarti sebelum Subuh, Mr. Chang sudah menjemput saya dan Lambang di lobby hotel. “Kita gantian shalat Subuh di mobil,” pesan saya pada Lambang yang duduk di kursi depan.


Menembus pekatnya pagi di musim dingin, saya bertakbir. Ada satu pinta yang saya panjatkan usai salam, “Izinkan saya menyaksikan orang menegakkan shalat di negeri ini, sekali saja ya Rabb.”


Saya yakin di kegelapan sana ada orang-orang yang saat ini sedang terbangun, bermunajad, membenamkan sujudnya dalam-dalam.


Di check-in desk, saya minta Mr Chang memastikan ada dua boarding pass yang kita terima. Urumqi-Guangzhou dan Guangzhou-Jakarta. Serta bagasi kita langsung ke Jakarta. Karena waktu transit di Guangzhou yang sempit, semua harus beres di sini.


Sekali lagi boarding pass Lambang bermasalah. Nama tengahnya tidak muncul. Tapi karena ada Mr. Chang, jadi bisa diselesaikan dalam 5 menit. Kita diminta menuju salah satu konter, lalu nama tengah Lambang dituliskan menggunakan bolpen dan distempel. Beres!


Padahal kemarin di Kashi Airport, saat mengalami masalah serupa kita kalang kabut bukan main. Karena tidak ada yang bisa menjelaskan masalahnya dan apa yang harus dilakuan dalam bahasa Inggris (baca Journey to Uighur-Xinjiang #9 NEGERI TANPA SENYUM).


Di mesin pemindai, karena tidak bersedia melepas kerudung, seperti biasa saya harus masuk ke ruang pemindai khusus. Tapi karena sudah beberapa kali, jadi saya sudah santai. Apalagi cukup waktu, sehingga tidak terburu-buru.


Saya berjalan pelan dengan Lambang menuju boarding gate. Sempat mampir di salah satu toko buku untuk membeli tempelan kulkas berbentuk peta Xinjiang. Bukan tak mungkin, peta ini kalau diikutkan 10 Year Challenge akan berubah 10 tahun lagi.


“Aku ke toilet terus ambil minum. Kamu mau?” Tawar saya ke Lambang yang dijawab dengan anggukan kepala.


Kebiasaan penduduk setempat di musim dingin seperti sekarang ini kemanapun pergi akan membawa termos kecil. Di bandara dan tempat-tempat umum lainnya banyak tersedia dispenser air panas gratis.


Mengapa air panas? Karena temperatur yang selalu di bawah 0 derajat di musim dingin membuat air dalam kemasan cepat sekali membeku. Saya pernah meninggalkan botol air mineral di mobil, sewaktu mau diminum bagian bawahnya sudah membeku.


Deg! Rasnya jantung saya seperti berhenti berdetak. Saya tersentak.


Di belakang mesin dispenser saya lihat seorang pria berwajah Timur Tengah, mengenakan hem biru dan syal kotak-kotak serupa kafayeh yang juga berwarna biru dililit ke lehernya, tampak menggelar sajadah untuk shalat Subuh.


Sudut mata saya terasa hangat. Hati saya gerimis. Allah langsung mengabulkan doa yang saya pinta usai shalat Subuh di dalam mobil dalam perjalanan ke bandara tadi.


Akhirnya, saya menyaksikan orang menegakkan shalat di negeri ini. Allahu akbar!


Sambil menyerahkan cup kertas berisi air panas ke Lambang, saya bisikkan pelan, “Pelan-pelan nolehnya. Arah jam 6 kamu ada orang lagi shalat. Jangan bikin gerakan ngagetin. Noleh pelan saja.”
 

Muslim food yang saya pesan dalam penerbangan kali ini yang paling kocak, karena dapatnya ubi rebus!

Penerbangan Urumqi-Guangzhou ditempuh dalam waktu 5 jam. Hampir sama dengan waktu tempuh Guangzhou-Jakarta. Menu muslim food yang kita request oline sejak dari Jakarta dihidangkan awak kabin, “Are you request muslim food?” tanyanya, yang saya jawab dengan anggukan kepala. Begitu dibuka, isinya ubi rebus, yang membuat saya dan Lambang tersenyum.


Dalam semua penerbangan ke luar negeri, kalau tidak menggunakan Garuda Indonesia atau maskapai Timur Tengah seperti Emirates dan Qatar Airways, kita selalu request muslim food secara online begitu dapat kode bookingnya. Namun, penerbangan kali ini yang paling kocak karena dapatnya ubi rebus!


Menjelang landing di Guangzhou, saya ke toilet. Tak sengaja saya antre di belakang pria yang tadi shalat Subuh di bandara. “Assalamualaykum, Brother,” sapa saya. Yang dijawab dengan senyum ramah, “Wa’alaykum salam.”


Where do you come from?” Tanya saya.
“Kuwait. And you?
“Indonesia,” jawab saya.
Aah, Indonesia. Beautiful country. Ahlan.”


Sekalipun bukan muslim Uighur yang menyambut, di atas ketiggian 35.000 kaki, akhirnya ada yang mengucapkan selamat datang. Saya ceritakan obrolan singkat itu ke Lambang yang dijawab dengan senyuman.


Dari jendela pesawat yang terlihat hanya awan putih. Entah berada di mana saat ini. Saya renungi perjalanan ini. Betapa banyak hikmah berserak yang bisa dipunguti.


Nikmat shalat tanpa tekanan dan rasa takut yang tak akan saya rasakan kalau tidak mengalaminya di negeri ini. Betapa iman yang sudah tertanam di hati harus digenggam erat. Jangan pernah terlepas sekalipun. Hangat Cahaya hidayah menyusup ke relung hati. Mata saya basah. Hati saya apalagi!


"Akan aku kabarkan keadaanmu saudara-saudaraku. Akan aku tuliskan kisahmu..."


Saya bulatkan tekad, “Akan aku kabarkan keadaanmu saudara-saudaraku. Akan aku tuliskan kisahmu. Akan aku bagikan pada siapa saja yang mau membacanya. Akan aku sorongkan doa-doa terbaik ke pintu langit supaya pertolongan Allah segera datang ke negerimu.”


Seluruh hatiku bersamamu, saudaraku!



Jakarta, 8/1/2019

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com