Minggu, 03 Februari 2019

PERANG OPINI KALAHKAN KETAKUTAN DI GRAND BAZAAR URUMQI


Journey to Uighur-Xijiang #7



Masjid di Grand Bazaar-Urumqi yang sudah tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat lagi.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Seuntai doa yang sangat indah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kalian.


Bila doa yang indah itu kini menjadi sumber ketakutan saat mengucapkannya, maka saat itulah pendulum sejarah akan berputar arah.


Setelah gagal melaksanakan shalat Jumat di masjid di Grand Bazaar Urumqi, karena masjidnya tidak boleh digunakan untuk shalat lagi (baca Journey to Uighur-Xinjiang #5 EMIN MINARET DAN SHALAT JUMAT YANG HILANG). Sementara shalat Jumat tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus berjamaah di masjid.


“Jadi bagaimana? Kita shalat di mana?” Tanya saya pada Lambang
Lambang tidak langsung menjawab. Kita sedang berada di area publik. Tepatnya, di International Grand Bazaar Urumqi. Di tengah pasar. Tidak mudah menemukan tempat yang bisa digunakan untuk shalat.
“Nanti pas kita makan di restoran saja. Kita coba di situ,” jawabnya.


Minaret yang menjadi landmark Grand Bazaar Urumqi. Desainnya menyerupai Kalyan Minaret di Bukhara, Uzbekistan.


International Grand Bazaar Urumqi merupakan pasar seluas 4.000 m². Salah satu landmarknya adalah minaret setinggi 80 meter. Bentuknya dibuat menyerupai Kalyan Minaret di Bukhara, Uzbekistan. Namun, latar belakang sejarahnya tentu saja tidak bisa menyamai keagungan Kalyan Minaret yang membuat Jangis Khan menahbiskan rasa hormat dan takzimnya (baca Buku Serial Jelajah Tiga Daulah: Journey to Samarkand -segera hadir).


Pasar ini juga dilengkapi dengan panggung terbuka untuk menggelar beragam pertunjukan. Berderet-deret restoran dan food court siap menghidangkan aneka masakan lezat khas Uighur yang dijamin halal.


Masjid yang ada di Grand Bazaar sejatinya menjadi bagian penting dari pasar. Namun, seperti yang saya saksikan tadi, masjid ini telah ditutup. Tidak boleh dipergunakan untuk shalat lagi.



Aneka barang yang tersedia di Grand Bazaar-Urumqi. Dari kebutuhan sehari-hari, hingga aneka kerajinan khas Uighur.


International Grand Bazaar menyediakan aneka rupa barang. Dari kebutuhan sehari-hari, hingga aneka kerajinan khas Uighur, seperti alat musik tradisional rebana dan oud (gitar yang biasa digunakan untuk bermain musik gambus), topi khas Uighur yang disebut dopa, dan beragam souvenir.


Salah satu komoditi laris dari daerah ini adalah buah yang dikeringkan. Lapak-lapak penjual aneka buah kering terlihat berderet dari pintu depan. Kismis dari berbagai jenis anggur, plum, aprikot, kurma, teh dari bunga kering, dan sebagainya.


Sebagai penggemar teh, saya membeli beberapa jenis teh dari aneka bunga yang dikeringkan. Aromanya wangi. Sedap betul. Rasanya, teh seperti ini tidak ada di Indonesia.


Sebagai salah satu destinasi turis, harga yang ditawarkan berlipat. Kismis yang dijual Akima di Tuyoq Valley sekilo hanya 30 CNY (setara Rp60.000) (baca Journey to Uighur-Xinjiang #4 “AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”), di pasar ini ditawarkan mulai 75 CNY.


Tentu saja semua barang bisa ditawar. Jangan khawatir terkendala bahasa, karena mereka menyediakan kalkulator yang bisa digunakan untuk tawar menawar.


Saya berhasil menawar satu kilo kurma kering dari harga 180 CNY menjadi 80 CNY (setara Rp160.000). “You are good at bidding,” puji Mr. Chang senang melihat kemampuan menawar saya. Cara makan kurma kering ini dipotong-potong tipis. Jadi semacam sale pisang kalau di sini. Rasanya enak sekali.


Setelah lelah berputar kesana- kemari mengelilingi pasar, Mr. Chang mengajak kita makan. Saya langsung memberi kode ke Lambang untuk bergantian shalat nanti.


Ini adalah kali pertama saya dan Lambang harus shalat di tempat umum. Sebelumnya kita selalu bisa mengatur waktunya untuk shalat di hotel atau di mobil.


Mr. Chang tidak pernah secara eksplisit mengatakan kita tidak boleh shalat. Seperti halnya secara tegas ia mengulang-ulang larangan untuk memotret check poin, polisi dan tentara yang sedang bertugas.


Pun saya yakin dia juga tahu saya dan Lambang beberapa kali bergantian shalat di dalam mobil. Hanya, kita sama-sama tidak ingin saling “menyulitkan”. Dia tutup mata saat kami melakukannya. Saya juga tidak ingin membuatnya mendapat kesulitan karena shalat di tempat umum.


Saya mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul saat Lambang shalat. Sehingga perhatiannya teralihkan. Usai Lambang shalat, saya mau ke toilet dulu. Rupanya toilet tidak berada di dalam restoran. Ada toilet umum di dekat deretan restoran itu.


Di depan toilet ada pelataran yang tertutup tembok yang tidak terlalu tinggi. Tadi sewaktu saya datang ada beberapa orang berdiri merokok di situ. Semacam tempat untuk merokok sepertinya.


“Wah, saya bisa shalat di sini,” batin saya sambil masuk toilet.
Keluar dari toilet, orang-orang yang tadi merokok sudah tidak ada. Segera saya menyempil di salah satu pilar dan mengangkat takbir. Tiba-tiba ada tiga orang polisi berpatroli di depan tembok rendah itu.


Merasa tidak tenang, saya membatalkan shalat dan bergeser ke pilar berikutnya yang lebih tersembunyi. Baru dapat setengah rekaat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara, “What are you doing?”


Rupanya Mr. Chang menyusul ke toilet. Mungkin ia menyangka saya kebingungan arah untuk kembali ke restoran. Akhirnya saya batalkan shalat dan mengikutinya kembali ke restoran.


Dengan isyarat, saya minta Lambang mengajaknya bicara dan menonton video-video yang kita buat selama saya gantian shalat.


Allahu akbar…


Selesai salam, saya tundukkan kepala dalam-dalam. Saya deraskan istighfar sebanyak-banyaknya. Betapa selama ini kita tidak menyadari nikmatnya bisa melaksanakan shalat tanpa tekanan dan rasa takut sama sekali.


Masjid-masjid di Indonesia banyak yang sepi jamaah. Sementara di belahan dunia lain, orang harus sembunyi-sembunyi untuk membenamkan sujudnya.


Bahkan di negeri ini, orang sudah takut untuk menjawab salam. Padahal itu adalah doa keselamatan dan keberkahan (baca Journey to Uighur-Xinjiang #4 “AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”).


Begitupun saat beberapa kali saya menyebut nama Allah dengan suara agak keras. Seperti, sewaktu tersandung spontan berucap, “Innalillah.” Orang-orang di sekeliling langsung menatap saya dengan pandangan yang membuat saya bertanya dalam hati, “Saya salah apa?”


Beberapa kali saya menuliskan, apa yang terjadi di tanah Uighur ini serupa dengan yang terjadi di Palestine. Ketakutan coba diciptakan melalui perang opini. Hal yang seharusnya tak masalah, menjadi salah akibat ketakutan yang diciptakan.


Bedanya, perang opini tidak berhasil dilakukan pada para mujahid di Palestine, seperti yang saya saksikan di sana tahun 2012. Di negeri ini, entah apa yang terjadi, tapi rasa mencekam itu coba dihembus-hembuskan dengan berbagai cara. Dan tragisnya, sepertinya berhasil.


Dalam setiap perjalanan, tak ada yang lebih saya inginkan selain shalat di sebanyak mungkin di masjid Allah yang ada di setiap jengkal bumiNya.


Ingatan saya melayang, terlihat masjid-masjid yang pernah saya singgahi, dari Masjidil Haram di Mekkah; Masjid Nabawi di Madinah; Masjidil Al-Aqsa di Palestina; Masjid Al-Azhar di Kairo; Blue Mosque di Istanbul; Selimiye Camii di Edirne; Mezquita di Cordoba; Masjid Hassan di Maroko; Masjid Al-Qarawiyyin di Fes; hingga Masjid Bolo Haouz dan Masjid Imam Bukhari di Uzbekistan.


Sore ini, di tengah riuhnya Grand Bazaar Urumqi, saya selipkan doa di dalam hati. Semoga suatu hari nanti saya dan muslim Uighur di negeri ini bisa shalat di Masjid Grand Bazaar Urumqi tanpa rasa khawatir sama sekali.


Biidznillah…



Urumqi, 4/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

KAREZ IRRIGATION BUKTI TINGGINYA PERADABAN ISLAM DI UIGHUR


Journey to Uighur-Xinjiang #6



Dalam bahasa Uighur, masyarakat setempat menyebut sistem irigasi ini Miyim Haji Karez atau Karez Irrigation dalam bahasa Inggris.


Islam lekat dengan ilmu pengetahuan. Tak terkecuali teknologi. Banyak penemuan terkait fisika, fisika mekanik yang sekarang disebut robotik, teknik sipil, arsitektur yang bersumber dari peradaban Islam.


Salah satunya adalah teknologi membendung aliran air dan membuat kincir air sebagai sumber energi. Pada masa Daulah Abbasiyah, pembangunan bendungan yang sekaligus dimanfaatkan sebagai kincir air telah mengadaptasi teknologi teknik sipil yang tinggi.


Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: an Ilusstrated History mengungkapkan, tahun 370 H/960 M, Buwayyah Amir Adud Al-Daulah telah berhasil membuat proyek hidrolik raksasa di Sungai Kur, Iran.


Di Cordoba, Andalusia, yang sekarang masuk wilayah Spanyol, jejak sejarahnya masih saya saksikan di Sungai Guadalquivir saat mengunjunginya tahun 2014. Adalah Al-Idrisi, geografer Muslim abad ke-12 yang menjadi saksi sejarah. Dalam catatannya, bendungan ini dibangun dengan batu-batu yang didatangkan dari Mesir.


Membendung aliran air dan memanfaatkannya sebagai sistem irigasi maupun sumber energi memberi dampak yang sangat signifikan bagi suatu negeri. Pertanian akan mendapat pasokan air cukup, sumber energi bisa dimanfaatkan untuk penggilingan gandum, sekaligus bendungannya bisa mengendalikan banjir.


Tak hanya di kota-kota pusat peradaban Islam seperti Baghdad, Cordoba atau Samarkand yang menguasai teknologi ini. Di wilayah yang kini bernama Turpan, Xinjiang, pun muslim Uighur telah berhasil membangun sistem irigasi sejak tahun 1700.


Dalam bahasa Uighur, masyarakat setempat menyebut sistem irigasi ini Miyim Haji Karez atau Karez Irrigation dalam bahasa Inggris. Teknologi yang digunakan sangat rumit dan cerdas. Caranya dengan mengalirkan salju abadi yang mencair dari Gunung Tianshan sejauh 5.000 km (3.106 mil).


Ada teknologi sumur vertikal, kanal bawah tanah, kanal di atas tanah, dan reservoir yang harus dilewati untuk mengalirkan air sampai ke kota Turpan. Jangan bayangkan kondisi geografis kota ini seperti Indonesia dimana air bisa didapat dengan mudah dan berlimpah.


Turpan berada di tengah Gurun Gobi. Wilayah dengan kondisi cuaca paling ekstrem di China. Suhu di musim panas mencapai 50° C, sedang di musim dingin sampai (minus) -25°C! Karenanya, jaminan ketersediaan air sepanjang tahun menjadi vital.


Mengapa mencari sumber air menjadi perhatian penting dalam peradaban Islam? Karena ada kebutuhan untuk berwudhu dan bersuci setiap hari. Tak heran kalau teknologi yang mendukung upaya pencarian sumber air berkembang pesat.

Prasasti yang berisi keterangan salah satu kanal vertikal Yengi Karez. 


Siang ini, saya menyaksikan jejak sejarah tingginya peradaban yang dimiliki muslim Uighur di sebuah kota kecil nun di tengah Gurun Gobi. Di pintu gerbang terlihat beberapa petugas keamanan berjaga. Pengunjung harus melewati penindai orang dan barang seperti yang ada di bandara, serta pemeriksaan passport untuk turis asing.


Dari pintu gerbang kita akan melewati ramp menurun yang terbuat dari bata-bata besar. Setelahnya ada taman yang luas dan patung perempuan Uighur di tepinya. Semula saya sangka patung Dewi dari mitologi Yunani, karena mengenakan gaun panjang dan penutup kepala. Ternyata itu adalah pakaian tradisional perempuan Uighur.

Lukisan kebahagiaan keluarga Uighur yang sedang berkumpul di salah satu dinding.


Di salah satu dindingnya dilukis keluarga Uighur yang sedang berkumpul. Ada yang menabuh rebana dan memainkan oud (gitar yang sering digunakan dalam musik gambus). Tak jauh dari lukisan itu ada patung-patung yang menggambarkan para pekerja saat membangun Karez Irrigation. Menariknya, patung itu digambarkan memakai kopeah khas Uighur, laki-lakinya berjenggot, berbadan besar dan berhidung mancung. Pastilah bukan penggambaran tipikal ras mongoloid yang bermata sipit dan bertubuh kecil.

Diorama pekerja saat membangun Karez Irrigation. Penggambaran patung-patung ini memakai kopeah khas Uighur, laki-lakinya berjenggot, berbadan besar dan berhidung mancung.


Dari taman kita masuk ke lorong bawah tanah yang gelap dan lembap. Di musim dingin seperti ini berada di dalam lorong rasanya lebih nyaman karena hangat. Ada beberapa percabangan di dalam lorong itu.


“This way,” seru Mr. Chang sambil menyibak terpal yang menutup percabangan. Di depan terlihat lantai kaca di atas air yang mengalir. Karena gelap, cahaya yang dipantulkan dari lampu penerang jadi berwarna kebiruan.


“You can try the water,” tawar Mr. Chang meminta saya mencoba air yang mengalir di bawah lantai kaca yang kita injak. Ada celah kecil untuk mengambil air itu.
Sejenak saya ragu. Saya tatap Lambang yang langsung mengangguk.
“Bersih enggak ya?” Tanya saya masih ragu.
“Bersih. Airnya kan mengalir,” lanjutnya.


Saya ambil sedikit menggunakan genggaman tangan lalu menghirupnya. Segar. Rasanya jauh lebih segar ketimbang air mineral dalam kemasan. Tapi, tidak ada jejak rasa manis seperti air pegunungan di Indonesia. “Mungkin karena sumber airnya dari salju abadi,” batin saya.


Karez Irrigation masih berfungsi hingga saat ini. Menjadi sumber pengairan utama untuk perkebunan anggur, melon, kapas, dan komoditas pertanian lainnya yang menjadi sumber pendapat kota Turpan.


Bahasa Uighur yang ditulis menggunakan aksara Arab di salah satu dinding.


Di tangga menuju pintu keluar, saya melihat aksara Arab yang ditulis di tembok batu. Saya hanya bisa membaca kata awalnya Karez, di belakangnya tidak bisa mengerti, karena menggunakan bahasa Uighur.


Saya tersenyum getir, alangkah ironisnya, saat ini muslim Uighur yang merupakan mayoritas penduduk Turpan (75%) terus mendapat tekanan untuk meninggalkan agama dan dicabut dari akar budayanya. Padahal sejarah membuktikan, kehidupan di kota ini masih terus berdenyut, salah satunya karena sumbangan peradaban Islam. Apa jadinya kota di tengah gurun ini bila tak memiliki pasokan air dari Karez Irrigation?



Turpan, 4/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

EMIN MINARET DAN SHALAT JUMAT YANG HILANG


Journey to Uighur-Xinjiang #5



Masjid Emin Minaret yang sudah ditutup dan tidak difungsikan lagi untuk shalat.


“Muslim…. Muslim…,” tanya petugas keamanan itu sambil mengitari saya. Entah apa maksudnya.
Sejenak kaget, sebelum saya jawab, “Alhamdulillah. Sure. I’m covering my head with scarf,” jawab saya pelan namun tegas sambil memegang ujung hijab yang saya kenakan.


Untuk kesekian kalinya kerudung saya jadi masalah di negeri ini. Kali ini di depan pintu gerbang Emin Minaret.


Pagi ini, destinasi pertama adalah Emin Minaret yang berada 2 km dari pusat kota Turpan. Emin Minaret merupakan bangunan peninggalan sejarah muslim Uighur yang masih bisa disaksikan hingga kini.


Menara dan masjid ini dibangun tahun 1777 untuk menghormati kemenangan Jenderal Emin Khoja, yang kemudian diangkat menjadi penguasa setempat, setelah berhasil memadamkan pemberontakan Junggar. Menara setinggi 44 m, berdiameter 10 m ini merupakan bangunan asli yang masih kokoh berdiri. Sedang masjidnya telah direnovasi karena bangunan aslinya hancur akibat gempa.


Selain masjid dan menara, di kompleks ini juga ada pemakaman Islam. Bentuk nisannya khas pemakaman di Asia Tengah. Saya menyaksikan banyak pemakaman serupa di Uzbekistan. Sesungguhnya, kompleks ini sangat luas, dahulunya ada istana yang sekarang masih bisa disaksikan reruntuhannya.


Patung Sulaeman Emin yang bergamis dan berserban bukti bahwa muslim Uighur memiliki akar sejarah yang berbeda dengan bangsa China.


Di depan masjid berdiri patung Sulaeman Emin yang merupakan anak Emin Khoja. Sosok itu mengenakan gamis dan serban, bukan pakaian kebesaran seperti yang dipakai jendral-jendral Tiongkok. Sekali lagi ini adalah penegasan bahwa muslim Uighur memiliki akar sejarah yang berbeda dengan bangsa China.


Mr. Chang tidak bisa menjelaskan terlalu banyak tentang sejarah bangunan ini, pun siapa itu Emin Khoja maupun anaknya. Pemerintah kota ini sepertinya setengah hati menggarap destinasi wisata yang terkait dengan Islam.


Sesungguhnya, Turpan sangat kaya dengan jejak sejarah Islam pada periode Jalur Sutra. Kota kuno ini menjadi perlintasan para kabilah yang masih eksis hingga kini. Sayangnya, sentimen anti Islam yang begitu tinggi membuat jejak sejarah yang luar biasa itupun coba dihapuskan.


Mr. Chang lalu mengajak kita ke plaza di depan masjid yang sangat luas. Dari ceritanya, lokasi ini digunakan untuk festival setelah Ramadhan alias perayaan Idul Fitri.
“Mereka shalat Ied di sini?” Tanya saya penasaran.
“Dulu iya. Sekarang tidak lagi. Hanya digunakan untuk festivalnya saja,” jawabnya.


Di gerbang masjid saya membeku. Bukan karena udara dingin minus 12 hari itu. Tapi ingatan saya melayang ke Mezquita di Cordoba, Spayol, yang saya saksikan 5 tahun lalu. Mezquita adalah Masjid Agung Cordoba yang kini difungsikan sebagai katedral. Nama Mezquita yang berarti masjid menunjukkan kalau bangunan itu dulunya adalah masjid (baca Buku Journey to Andalusia).


Mihrab di Mezquita masih berdiri tegak bertulis kalimat Tauhid di atasnya. Namun, kini berbatas terali besi dan polisi-polisi yang bertugas menghalau siapa saja yang berusaha shalat di depannya.


Pagi ini saya menyaksikan hal serupa di belahan bumi yang berbeda. Di depan terlihat karpet merah membentang menutup lantai dan mihrab masjid yang dibatasi tali dan dijaga polisi. Pertanda tidak boleh dilintasi.

Mihrab yang gelap dan berdebu menangis sendirian dalam kesunyian. Semoga hangat CahayaNya segera kembali hangatkan tempat ini.


Mihrab yang gelap dan berdebu itu tampak menangis sendirian dalam kesunyian. Saya tergugu. Sekali lagi saya harus menyaksikan luka sejarah. Masjid-masjid yang tidak boleh lagi digunakan untuk bersujud dan menderaskan namaNya.


Polisi yang berjaga nampak mulai gelisah dan makin sering mondar-mandir di belakang saya yang masih saja terpaku memegang tali pembatas dan menatap mihrab di depan sana. Saya tundukkan kepala dalam-dalam dan sorongkan segala pinta ke pintu langit, “Ya Rabb, izinkan tempat ini kembali hangat dengan CahayaMu.”


Suara Mr. Chang memecah kesunyian mengajak saya dan Lambang ke bagian masjid yang lain, yakni tangga menuju minaret. Saya tanya, “Di mana tempat yang dulunya digunakan untuk berwudhu?” Ia menatap saya sejenak sebelum menjawab, “I have no idea,” jawabnya dengan muka polos.


Minaret yang tetap kokoh berdiri itu kini tidak boleh dinaiki lagi, karena telah lapuk dimakan usia. Saya membayangkan pastilah dulunya minaret ini digunakan para muadzin untuk mengumandangkan panggilan shalat lima waktu.


Pemakaman Islam di dalam kompleks Masjid Emin Minaret.


Dari plaza di depan minaret Mr. Chang menunjuk kompleks pemakaman Islam yang ada di bagian kiri masjid. Nisan berbentuk gundukan yang terbuat dari tanah merah terlihat memenuhi area itu. Jumlahnya sekitar lima puluhan. Ada satu-dua yang dinaungi bangunan di atasnya. Kalau orang Jawa menyebutnya cungkup.


Tidak jelas siapa yang dimakamkan di sana, karena semua nisan tak bernama. Tidak ada keterangan apa pun di kompleks pemakaman itu. Namun saya yakin, siapapun yang dikuburkan di sana pasti menangis pilu menyaksikan masjid ini sekarang mangkrak, tidak boleh digunakan untuk shalat dan dijaga ketat.


Mr. Chang mengajak kita segera melanjutkan perjalan, karena harus kembali ke kota Urumqi siang ini. Sebelumnya kita akan singgah dulu ke Karez Irrigation (kisah ini akan saya lanjutkan di Journey to Uighur-Xinjiang #6 KAREZ IRRIGATION BUKTI TINGGINYA PERADABAN ISLAM DI UIGHUR). 


Hari ini hari Jumat. Saat sarapan tadi saya sempat mendiskusikan dengan Lambang akan shalat Jumat di Masjid Grand Bazaar di Urumqi. Perjalanan dari Turpan ke Urumqi memakan waktu sekitar 3 jam. Cukup waktu untuk mengejar shalat Jumat di Urumqi.


Secara fikih, mazhab Syafi’i tidak mewajibkan perempuan mengikuti salat Jumat, melainkan melaksanakan salat Dzuhur. Di Jakarta, saya jarang mengikuti salat Jumat karena memang mayoritas muslim Indonesia bermazhab Syafi’i sehingga tidak banyak masjid yang menyediakan shaf salat Jumat untuk perempuan.


Namun, setiap kali ke luar negeri dan bertepatan dengan hari Jumat, saya pasti akan ikut salat Jumat di masjid-masjid setempat. Kali ini pun saya ingin merasakan shalat Jumat bersama muslim Uighur.


Sampai di tempat parkir Grand Bazaar terlihat masjid besar di seberang jalan. Saya bertanya pada Mr. Chang, “Mengapa masjid itu sepi? Bukankah hari ini hari Jumat? Tidak ada shalat Jumat di sana?” Tanya saya.
“Sesuai peraturan pemerintah yang baru, tidak diperbolehkan lagi untuk shalat,” jawabnya singkat.


Innalillahi wa innailaihi rojiun…


Tadinya saya berpikir masjid-masjid besar yang ada di pusat kota masih dibuka untuk shalat Jumat atau shalat Ied. Di Tuyoq Valley dan Turpan bisa jadi ditutup karena merupakan kota kecil. Tapi di Urumqi, yang merupakan ibu kota provinsi, saya pikir masih ada masjid yang difungsikan. Tentu saja dengan kontrol ketat dari pemerintah setempat.


Ternyata, shalat Jumat pun sudah tidak lagi didirikan di sini. Saya bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi di negeri ini? Kemana para mujahid yang harusnya membela agama Allah? Bila shalat sebagai tiang agama tak ada lagi yang bisa menyangga, tak perlu menunggu lama sampai bangunan negeri ini akan rubuh dengan sendirinya.


Sejarah adalah peristiwa yang berulang. Apa yang terjadi hari ini pernah terjadi di masa sebelumnya, sebagai ibrah bagi orang-orang yang berpikir. Prof. DR. Raghib As-Sirjani dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Andalusia menuliskan: Apa yang terjadi di Andalusia 600 tahun lalu adalah apa yang terjadi di Palestine hari ini.


Kalimat itu sekarang bertambah menjadi: Apa yang terjadi di Andalusia 600 tahun lalu adalah apa yang terjadi di Palestine hari ini. Dan bukan tidak mungkin akan terjadi di Uighur esok hari.


Allahumma ‘a-izzal islama wal muslimina
Allahummanshur ikhwananal musliminal mujahidina fi Uighur
Allahumma tsabbit imanahum wa anzilis-sakinata ‘ala qulubihim wa wahhid shufufahum


Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, tolonglah kaum Muslimin dan Mujahidin di Uighur.
Ya Allah, teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di dalam hati mereka dan satukanlah barisan mereka.


Urumqi,4/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com

Kamis, 24 Januari 2019

“AKIMA, APAKAH ENGKAU MERINDUKAN SUARA ADZAN?”


Journey to Uighur-Xinjiang #4


Pohon-pohon meranggas di musim dingin yang beku di Turpan, Xinjiang


Pohon-pohon terlihat meranggas tanpa daun dan bunga, menyisakan pemandangan dramatis di sepanjang jalan yang saya lalui. Udara dingin terasa menggigit. Orang-orang berjalan cepat untuk menghalau dinginnya.

“Lihat, rumah-rumah di sini berbeda. Atapnya datar. Tidak seperti atap rumah khas Tiongkok,” jelas Mr. Chang memecah kesunyian.

Rumah di negara tropis umumnya beratap pelana seperti yang sering dilihat di Indonesia. Salah satu fungsinya adalah untuk mengalirkan air hujan. Bangunan di China umumnya juga beratap seperti itu dengan hiasan dan warna yang berbeda untuk menunjukkan status sosial.

Namun, rumah-rumah di Xinjiang berbeda. Deretan bangunan yang kita lewati lebih mirip arsitektur di Timur Tengah. Berbentuk kubus dan beratap datar. Rasanya seperti sedang berada di Jeddah ketimbang di China.



Rumah-rumah berbentuk kubus, beratap datar di Xinjiang. Lebih mirip bangunan di Timur Tengah ketimbang rumah-rumah di China.


“Itu bangunan apa?” Tanya saya pada Mr.Chang saat melihat bangunan menyerupai pabrik dengan cerobong asap.
“Itu pabrik,” jawabnya singkat.
“Pabrik apa?’ kejar saya.
“Pabrik kain.”

Jawaban singkat itu mengingatkan saya pada berita tentang penangkapan orang-orang Uighur dan setelah menyelesaikan “pendidikan” di kamp mereka dipekerjakan sebagai buruh pabrik kain dengan bayaran yang sangat murah.

Ah, jangan-jangan….

Mr. Chang sepertinya tidak ingin melanjutkan obrolan tentang pabrik itu dan mengalihkan pembicaraan tentang Tuyoq Valley. Sebuah desa yang menjadi pemukiman muslim Uighur sejak ratusan tahun lalu yang akan menjadi tujuan perjalanan selanjutnya.

“Ini memang sepi karena musim dingin atau desa ini memang sepi?” Tanya saya heran karena sedikitnya manusia yang terlihat lalu-lalang di jalan.

“Karena musim dingin dan karena penduduk desa ini sebagian besar sudah pindah ke pemukiman baru yang dibangun pemerintah,” jawabnya.

Mr. Chang lalu menjelaskan kalau rumah-rumah tua itu sudah tidak layak ditinggali, karena rawan rubuh serta korsleting listrik yang bisa menyebabkan kebakaran. Sebagai gantinya pemerintah menyediakan rumah-rumah baru dengan harga disubsidi sampai setengahnya.

“Ada di mana pemukiman baru itu?”
“Di sana,” tunjuknya. Yang entah di mana itu.

Saya tercenung sejenak. Benarkah penduduk desa yang mayoritas muslim Uighur ini pindah ke tempat lain? Ataukah berita itu benar, kalau sekitar satu juta muslim Uighur telah ditangkap dan dimasukkan ke kamp-kamp untuk menjalani “pendidikan”?

Banyak hal yang saya lihat di Xinjiang ini mengingatkan saya pada tanah Palestine. Rumah dan tanah yang dibeli. Perpindahan penduduk desa dalam jumlah masif. Persis seperti yang terjadi di sana.

Awalnya penduduk Palestine juga ditawarkan uang dalam jumlah tidak terbatas untuk menjual rumah dan tanah mereka pada Israel. Berapapun akan dibayar. Setelah tinggal sedikit yang tersisa, maka upaya represif berupa pemutusan listrik dan air mulai diberlakukan. Terakhir, kalau masih bertahan juga, bulldozer akan meratakan rumah itu dengan tanah. Akankah hal serupa terjadi di desa ini kelak?

“Boleh berhenti di sini sebentar? Saya ingin memotret,” pinta saya.
“Sure!” jawab Mr. Chan santai.

Saya dan Lambang lalu turun dan memotret beberapa bangunan kosong di desa yang telah ditinggal penghuninya itu. Tiba-tiba terdengar pengeras suara seperti menyiarkan sesuatu dalam bahasa China yang tidak saya mengerti.
“Apa itu?” Tanya saya.
“Itu seperti ajakan supaya orang-orang desa bersemangat bekerja,” jawab Mr. Chang. Propaganda seperti itu memang lazim di negara-negara komunis.

Selesai memotret, kita lanjutkan perjalanan. Tuyoq Valley berjarak sekitar 55 km dari pusat kota Turpan. Tak lama Mr. Chang menghentikan mobilnya di sebuah pekarangan yang diportal. Seorang petugas keamanan yang berjaga menanyakan sesuatu sebelum membuka portal itu. Turun dari mobil, saya dan Lambang harus melalui penindai orang dan barang seperti di bandara, juga pemeriksaan pasport.

Beres urusan pemeriksaan, Mr. Chang mengajak kita berjalan menyusuri jalan desa yang sempit. Desa ini telah ditempati muslim Uighur sejak tahun 1.700. Dari kejauhan terlihat Tuyog Mazar Aldi, masjid pertama yang dibangun di tempat ini. Penduduk setempat menyebutnya sebagai “little Mecca”.

Konon dalam tradisi setempat, sebelum berangkat haji, muslim Uighur harus menziarahi Tuyog Mazar Aldi lebih dulu. Masjid ini tidak difungsikan lagi karena bangunannya sudah terlalu tua.


Masjid yang sudah ditutup dan tidak boleh dipergunakan lagi di Tuyoq Valley, Turpan, Xinjiang.


Tak jauh dari Tuyog Mazar Aldi ada masjid yang lebih baru yang didirikan. Tapi pintu masjid itu juga tertutup rapat. “Kita tidak bisa masuk?” Tanya saya yang dijawab Mr. Chang dengan gelengan kepala.
“Sesuai peraturan baru pemerintah, masjid ini tidak lagi dipergunakan. Tapi kalau mau memotret di depannya, boleh.”

Innalillahi wa innailaihi rojiun…

Ini adalah informasi penutupan masjid yang pertama saya dengar. Ternyata kabar itu benar. Masjid-masjid di Xinjiang sudah tidak boleh lagi dipergunakan. (tulisan tentang masjid-masjid yang ditutup dan tidak boleh dipergunakan akan saya lanjutkan di tulisan berikutnya: Journey to Uighur-Xinjiang #5 EMIN MINARET DAN SHALAT JUMAT YANG HILANG).

Perempuan Uighur sedang membuat perapian dari ranting pohon anggur.


Saya dan Lambang hanya bisa saling pandang. Di depan masjid terlihat seorang perempuan tengah membuat perapian dari ranting pohon anggur. Saya lemparkan senyum yang disambutnya dengan senyum.

Setelah dekat, setengah berbisik supaya tidak terdengar yang lain, saya ucapkan salam, “Assalamualaykum.” Perempuan itu melihat saya sekilas dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Entah takut. Entah apa.

Tak lama ia keluar lagi dan menyelesaikan perapian yang tadi ditinggalkan dengan tergesa. Kita bertiga menumpang menghangatkan badan. Saya minta Mr. Chang menanyakan siapa namanya? Yang dijawab, “Akima.”

Rupanya Akima ini adalah pedagang kismis atau anggur yang dikeringkan. Dagangannya digelar di pengkolan dekat rumahnya. Mr. Chang lalu membeli beberapa kantong untuk anak laki-lakinya yang katanya sangat suka kismis. Kismis adalah salah satu produk unggulan Xinjiang yang terkenal sebagai sentra perkebunan anggur yang buahnya sangat manis.

Saat Akima menimbang kismis, saya menatapnya lama. “Akima, kalau kamu mendengar, saya ingin bertanya, apakah kamu merindukan suara adzan dari masjid di depan rumahmu?” Tanya saya dalam hati.

“Shall we go now?” Tiba-tiba suara Mr. Chang mengejutkan saya.
“Oke,” jawab saya sambil sekali lagi menatap Akima menunggu jawabannya. Ia mengangguk dan melempar senyum bergurat duka. Saya menganggap anggukan itu adalah jawaban pertanyaan saya.

Biidznillah, saudaraku. Dengan izin Allah, suatu saat nanti masjid itu akan dibuka lagi dan engkau akan kembali mendengar kumandang adzan dari sana.

Turpan, 3/1/2019

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang |FB @uttiek_mpanjiastuti


MELINTASI GURUN GOBI DAN CHECK POIN


Journey to Uighur-Xinjiang #3


Perjalanan Urumqi-Turpan melintasi Gurun Gobi.


Barisan pegunungan berselimut salju itu kian jelas terlihat. Bukan berwarna hijau seperti yang sering saya lihat dalam penerbangan di Indonesia. Tapi cokelat berlapis putih yang menyuguhkan pemandangan dramatis seperti yang sering muncul di majalah National Geographic.

Sesekali terasa goncangan. Sepertinya pesawat akan segera mendarat, karena terdengar pengumuman dari awak kabin dalam bahasa China yang tidak saya mengerti. Orang-orang berdiri membuka kompartemen yang membuat saya kembali terheran-heran. Mengapa penumpang pesawat ini suka heboh sendiri? (Baca: Journey to Xinjiang #2 "YOUR BAGGAGE THROUGH URUMQI, MADAME" ). Pramugari berteriak-teriak mengingatkan mereka supaya kembali duduk. Satu-dua ada yang berhasil mengambil coat yang disimpan di kompartemen. "Pastilah di luar sana dingin sekali," batin saya.

Benar saja. Dalam bahasa Inggris awak kabin menjelaskan kalau pesawat akan segera mendarat, dan suhu di luar sana -15 derajat! Saya dan Lambang saling pandang. Bukan apa-apa, karena bagasi tidak bisa keluar di Dubai, maka semua perlengkapan musim dingin kita masih ada di dalam koper. Lambang sudah memakai coat tebalnya. Sedang saya masih memakai pakaian untuk ke padang pasir dan sekarang harus berjumpa salju.

Kejutan berikutnya, karena bandara Urumqi ini tidak terlalu besar, penumpang tidak turun menggunakan garbarata melainkan tangga pesawat dan naik bus ke terminal kedatangan. Wuuusss.... udara dingin langsung menampar muka begitu keluar dari pesawat. Saya segera berlari menuruni tangga dan masuk ke dalam feeder bus untuk menghalau dingin.

Ruang imigrasi Urumqi Int'l Airport tidak seberapa luas. Langsung dipisahkan antrean untuk pemegang paspor China dan warga negara asing. Hanya ada 4 orang perempuan yang mengantre di line Foreigners. Dan saya satu-satunya yang mengenakan kerudung. "Bismillah," batin saya. "Lihat, kayaknya seruangan ini cuma aku yang berkerudung," kata saya ke Lambang yang hanya dijawab dengan senyum.

Antrean bergerak sangat lambat. Semua paspor warga negara asing diperiksa dengan sangat teliti. Selama ini saya agak khawatir kalau harus memeriksa sidik jari. Bukan apa-apa, sidik jari saya sering tidak terbaca. Sewaktu ke London pun saya harus menunggu di ruangan khusus di Heathrow International Airport untuk mengonfirmasi sidik jari. Di King Abdulazis Int'l Airport kemarin juga sama.

Segera saya oleskan hand body ke ujung-ujung jari. Karena sudah sering, jadi saya selalu mengantisipasi dengan membawa hand body ukuran travelling di tas. Paling sulit kalau datang untuk umrah dan sudah miqat (mengambil niat) di Yalamlam, karena sudah tidak bisa memakai hand body yang berpewangi lagi.

Alhamdulillah, sidik jari saya tidak bermasalah di sini. Saat ditanya mau ke mana? Dan saya jawab, "Urumqi, Turpan..." petugas imigrasi menanyakan sesuatu dalam bahasa China yang tidak saya mengerti. Sekali lagi saya ulangi perkataan saya lebih keras, yang disambutnya, "Tu-lu-fan... oo, tu-lu-fan." Rupanya pelafalan nama daerah di sini dalam bahasa Inggris dan China ada perbedaan. Nantinya saya juga baru tahu kalau orang Xinjiang tidak menyebut kota Kashgar dengan nama Kashgar.

Hampir terakhir saya dan Lambang keluar dari ruang imigrasi. Di samping conveyor belt tinggal tersisa beberapa koper yang belum diambil pemiliknya. "I want to take my coat. Can I open my lugage here?" Tanya saya pada petugas. Sepertinya dia tidak bisa berbahasa Inggris. Lalu seorang perempuan tinggi semampai yang berpakaian sangat ketat membantu menerjemahkannya dan memberikan jawaban kalau boleh membuka koper di situ. Dia menjawab kalau bekerja di Dubai Int'l Airport saat saya berterima kasih dan memujinya bisa berbahasa Inggris dengan baik.

Nyaris tak ada penumpang tersisa selain saya dan Lambang, perempuan yang bekerja di Dubai dan seorang pria warga negara Filipina. "Itu," kata Lambang sambil melambaikan tangan pada seorang pemuda umur 30-an yang membawa kertas bertuliskan logo Khalifah Tour dan nama kami. Untuk alasan keamanan saya akan menyebutnya Mr. Chang, nama lokal guide yang akan menemani perjalanan ini. Ia seorang China Han yang telah bekerja sebagai lokal guide selama 10 tahun.

"Kenapa kalian lama sekali keluar dari imigrasi? Apa ada masalah di dalam?" Tanyanya ramah setelah saya selesai mencuci muka, sikat gigi dan berganti kerudung di toilet. "Tidak. Antreannya memang lama sekali di dalam," jawab saya.

Mr. Chang lalu meminta saya dan Lambang menunggu di lobi. Ia akan memanaskan heater di mobilnya dulu, baru menjemput kita. Menurutnya, di dalam mobil akan dingin sekali kalau heater belum dinyalakan. Butuh waktu supaya ruang dalam mobil jadi hangat.

Pagi ini, dari bandara kita akan langsung jalan darat menuju kota Turpan sejauh 150 km, yang akan ditempuh selama 3,5 jam melewati jalan tol. Kita akan melintasi gurun Gobi yang menjadi rute utama Jalur Sutra di masa lalu. Bedanya, jalan ini sekarang sudah beraspal mulus. Gurun Gobi merupakan gurun terluas ketiga di Asia. Tak kurang luasnya mencapai 1,3 juta km persegi, membentang dari Asia Tengah, China hingga Mongolia bagian selatan.

Jalanan masih sepi. Di musim dingin seperti ini Subuh di kota Urumqi dan Turpan sekitar pukul 7.00, dan matahari baru akan bersinar terang menjelang pukul 10.00 pagi. Sesekali mobil kita berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut segala rupa. Geliat pertumbuhan ekonomi di China terasa sampai ke pelosok desa-desa. Kalau dulu rute ini ramai dengan caravan unta milik para kabilah yang membawa dagangan menuju Grand Bazaar, Istanbul, kini aneka truk dan kontainer sarat muatan yang membawa aneka rupa barang-barang produksi China ke seluruh dunia.

Di sepanjang rute Jalur Sutra yang sudah pernah saya singgahi dari Samarkand, Bukhara, di Uzbekistan, Istanbul di Turki, hingga Fes di Maroko, selalu ada jejak bangunan peninggalan sejarah berupa caravansarai, yakni tempat singgah para kabilah dagang (baca buku ke-3 Serial Jelajah Tiga Daulah: Journey to Samarkand, -segera hadir). Namun di sepanjang jalur Gurun Gobi ini saya tak melihatnya. Mr. Chang pun tidak mengetahui apa itu caravansarai dan apakah masih ada yang tersisa hingga ini.

Seketika saya merasa sedih. Caravansarai tidak sekadar bangunan peninggalan sejarah, melainkan bagian dari peradaban Islam. Bagaimana perdagangan lintas benua terjamin keamanan dan pasokan barangnya melalui fasilitas caravansarai yang dijamin oleh daulah-daulah yang memimpin negeri itu.

Di sini, mungkin segala hal yang berbau Islam harus dieliminir dalam upaya menghapus ingatan kolektif warga setempat atas tradisi, budaya dan agamanya. Yang terlihat sepanjang seratusan kilometer adalah pasir gurun berwarna cokelat yang berselimut salju di sana-sini. Mata saya menjadi berat, lalu terlelap.

Saya terbangun karena hempasan udara dingin dari kaca mobil yang dibuka. "Ada apa?" Tanya saya. "Check poin," jawab Mr. Chang singkat. Di depan terlihat semacam deretan gerbang pintu tol yang dijaga aparat bersenjata lengkap. Setiap mobil harus berhenti dan membuka jendela untuk diperiksa. Mr. Chang menjawab pertanyaan polisi dengan singkat, lalu mobil terus melaju. Dia tertawa sambil berkata, "Sepertinya polisi mengira kita semua warga lokal," seraya menambahkan kalau muka Lambang terlihat seperti orang China, karena matanya sipit.

"Keberuntungan" muka China Lambang ini berlanjut di dua check poin berikutnya. Di check poin keempat, polisi meminta kita turun dan memeriksa paspor. Beberapa pertanyaan standar diajukan yang dijawab Mr. Chang dalam bahasa China yang saya tidak mengerti. Lalu kita berdua bergantian difoto menggunakan handphone dan diminta nomer telepon yang digunakan.

Saya tersenyum karena ingat pesan seorang rekan wartawan yang pernah meliput ke Xinjiang sebelum berangkat, "Pokoknya loe diem aja Mbak. Diem aja. Sejak di pesawat. Semua awak kabin itu intel. Orang yang duduk di sebelah loe, bisa jadi intel juga. Lokal guide loe di sana, intel juga. Pokoknya loe diem aja." Waktu itu saya tertawa, "Dari tadi ngomongnya, loe diem aja melulu, jadi gw gak ngapa-ngapain dan gak kemana-mana dong. Kan, diem aja," balas saya bercanda.

Rupanya saran itu memang yang harus dilakukan. Selama pemeriksaan sebaiknya diam saja, kecuali menjawab sesingkatnya kalau ditanya. Tidak perlu beramah-tamah ala orang Indonesia. Karena polisi dan tentara yang berjaga semua memasang muka tegang laiknya seorang kamerad dari Korea Utara yang sering muncul di drama Korea.

Sebelum berangkat, saya sudah membaca dan mendapat informasi tentang banyaknya check poin di Xinjiang yang diberlakukan semenjak tragedi Xinjiang di 2014. Di semua tempat, polisi akan memeriksa, utamanya warga Uighur dan orang asing. Tak hanya identitas yang akan dicek, namun juga barang bawaan. Tak jarang mereka meminta membuka tas seperti di bandara. Beruntung, saya dan Lambang tidak pernah sampai diminta membongkar koper untuk diperiksa. Karena, pastilah akan merepotkan sekali. Apalagi saya membawa sajadah dan mukena travelling berwarna putih, yang secara tegas kerudung berwarna putih dilarang di sini.

Sepanjang Urumqi sampai Turpan ada 5 check poin yang kita lewati. Ada 3 check poin yang lolos begitu saja karena "muka China" Lambang, sedang 2 lainnya kita harus turun dan diperiksa. Pemeriksaan di check poin seperti ini sudah pernah saya alami sebelumnya saat ke Palestine tahun 2012 lalu. Bedanya, kalau di Palestine jelas siapa kawan dan lawan, sehingga kalau terjadi sesuatu tahu harus kemana, sedang di sini tidak. Semua terlihat sama.

Berkali-kali Mr. Chang mewanti-wanti, tidak boleh memotret check poin dan polisi atau tentara yang bertugas. Saya juga tidak ingin memotret check poin, secara kamera CCTV ada di mana-mana. Tapi kalau polisi atau tentara, satu-dua sih, dapatlah.

Setelah check poin terakhir, sampailah kita di pusat kota Turpan, "Guys, are you hungry?" Tanya Mr. Chang ramah, yang ternyata sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran terkenal bernama Harembag. Pemiliknya adalah seorang Uighur yang sukses. Restoran ini ada di beberapa kota, bahkan punya cabang di Amerika.



 Semua papan petunjuk jalan, nama toko, pengumuman apapun, bahkan daftar menu, ditulis dalam aksara Arab, China dan beberapa ada yang ditambah bahasa Inggris. 


Turun dari mobil saya edarkan pandangan ke sekeliling. Semua papan petunjuk jalan, nama toko, pengumuman apapun, bahkan daftar menu, ditulis dalam aksara Arab, China dan beberapa ada yang ditambah bahasa Inggris. Ironisnya, mereka tidak tahu kalau itu adalah aksara Arab. "No, this is not Arabic. This is Uighur's language," jawab Mr. Chang. Mereka tidak tahu kalau yang disebut aksara Uighur itu adalah aksara Arab berbahasa Uighur. Seperti kalau di Indonesia kita mengenal istilah Arab Pegon atau Arab Melayu, bahasa Melayu atau bahasa Jawa yang ditulis dalam aksara Arab.


Salah satu prasasti yang ditulis dengan aksara Arab berbahasa Uighur.


Mencabut akar suatu bangsa selalu diawali dari budayanya. Karena, bisa jadi agama terlalu sulit. Seperti keprihatinan yang disuarakan Buya Hamka sekian puluh tahun lalu saat anak-anak sekolah tak lagi diajarkan Arab Melayu atau Arab Pegon. Terbukti, belasan tahun kemudian angka buta aksara Alquran melonjak drastis. Di Xinjiang, mereka tidak tahu kalau aksara yang digunakan adalah aksara yang sama untuk menuliskan kalam Allah. Sehingga hampir bisa dipastikan, mereka pun telah berhasil dijauhkan dari Alquran. Innalillahi wa innailaihi rojiun.



Turpan, 3/1/2019


Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti