Minggu, 20 Maret 2016

Edirne, Kota Kelahiran Sang Al Fatih


"Al-Azhar di Mesir adalah tempat orang-orang paling pintar menuntut ilmu." Ucap Papi saat saya masih sangat belia. Sejak itu tertanam di hati, kalau mau pintar, harus bersekolah di Al-Azhar, atau setidaknya pernah berada di sana. Merasakan dan menyerap semangat para pencari ilmu.

Sudah selangkah menuju gerbang Al-Azhar, takdir Allah membawa saya harus berbelok lebih dulu ke tanah Al-Fatih, Istanbul. Tapi rencana Allah selalu paling sempurna. Mesir adalah bumi Allah, begitu pun Turki.

--------------------------------------------------
Menjelajah bumi Allah dan shalat di sebanyak-banyak masjidNya adalah impian yang sedang saya dan Lambang wujudkan. Dan perjalanan hari ini dimulai dari Edirne, kota indah bekas ibu kota salah satu periode Daulah Utsmani. Dari tempat ini Sang Al Fatih mengatur strategi dan menyiapkan pasukannya untuk membebaskan Konstantinopel.

Badan masih terasa sedikit penat, karena semalam kita baru mendarat di Istanbul.  Rasanya masih tidak percaya, saya kini berada di Benua Eropa, padahal kalau sesuai rencana, harusnya pagi ini saya terbangun di Benua Afrika. Nalan meminta kita bertemu di restoran hotel pukul 6.30. Jangan bayangkan pukul 6.30 seperti di Indonesia, karena di Istanbul, jam segitu hanya berselang beberapa menit setelah adzan Subuh berkumandang.

Di hari pertama ini, Lambang mencoba shalat Subuh di masjid terdekat. Setelah menembus dinginnya udara di musim salju, berjalan menanjak menaiki tangga dengan kemiringan 30 derajat, sampailah ia di masjid yang ternyata tutup karena sedang direnovasi! Saya terheran, dia sudah sampai lagi di hotel saat saya baru mengucapkan salam usai shalat Subuh. “Masjidnya tutup. Lagi direnovasi,” katanya sambil membenamkan muka ke bantal untuk menghalau dingin.

Setelah bersiap, kami segera turun. Nalan rupanya sudah menunggu di pintu restoran. Saya menyapanya dan memujinya karena on time. Dengan memasang muka serius, ia mengatakan kalau ia selalu siap 15-30 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Oh, baiklah. Dengan sedikit malu, dalam hati saya membatin, sebagai orang Jakarta, saya masih menganggap on time adalah prestasi.  

Mobil bergerak perlahan meninggalkan hotel. Suasana masih terlihat sepi sepagi ini. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan tol. Kita melintasi jembatan yang menghubungkan wilayah Turki yang berada di Benua Eropa dengan Turki yang berada di Asia, atau yang sering disebut Anatolia.

Gedung-gedung tinggi, rel kereta, semakin menghilang di kejauhan, berganti dengan ladang gandum dan perkebunan chery. Beberapa kali terlihat di kejauhan gundukan tanah menyerupai bukit kecil yang tertutup rumput. Dari cerita Nalan, gundukan tanah seperti itu adalah makam kuno. Banyak para pemburu harta karun yang menggali dan menemukan kepingan uang emas, tembikar dan barang-barang berharga lainnya. Makam kuno itu peninggalan era Byzantium atau sebelumnya.

Tiba-tiba Nalan berseru, “Lihat signboard hijau itu, itu arah ke desa saya. Orangtua saya masih tinggal di sana,” serunya dengan gembira. Ia lalu menceritakan kehidupannya di desa yang menyenangkan, sebelum ia merantau ke Izmir untuk kuliah dan pindah ke Istanbul setelah menikah. Saya tertawa geli waktu ia bercerita tentang neneknya yang takjub melihat turis yang dipandunya tidak shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan. “Apakah mereka manusia?” tanya sang nenek. Sekalipun Republik Turki berhaluan sekuler, namun bagi generasi tua, terutama yang masih hidup di desa-desa, menjalankan syariat Islam adalah satu-satunya haluan hidup yang mereka pahami dan pegang teguh hingga akhir hayat.  

Memasuki kota Edirne, pemandangan kian menawan. Perbukitan yang menghijau, ladang yang tertata rapi, sungai dengan air yang jernih, jembatan tua bergaya Roman, minaret-minaret masjid yang menjulang.  Tak heran kalau Habiburrahman El Shirazy atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kang Abik memilih kota ini sebagai salah satu setting novelnya yang berjudul  Api Tauhid.

Di kota ini pula Muhammad Al Fatih dilahirkan pada 29 maret 1432. Konon menjelang kelahirannya, Sang ayah, Sultan Murad II sedang menderas Alquran dan sampai pada Surat al-Fath, yang berisi janji Allah akan kemenangan kaum muslimin. Qadarullah, sebutan Al Fatih lalu tersemat di belakang namanya.

Muhammad Al Fatih tak pernah diproyeksikan menjadi pengganti ayahnya, karena ia mempunyai dua kakak laki-laki, Ahmed dan Ali. Seperti putra-putra sultan sebelumnya, di usia 2 tahun ia dan Ahmed kakaknya dikirim ke kota Amasya untuk belajar. Di usia 6 tahun, ia diangkat menjadi gubernur Amasya menggantikan Ahmed  yang meninggal mendadak.

Dua tahun memimpin Amasya, ia bertukar tempat dengan kakak keduanya, Ali, untuk meminpin kota Manisa. Takdir Allah, Ali kemudian terbunuh. Peristiwa ini sangat memukul Murad II, karena Ali adalah anak kesayangan yang digadang-gadang akan menggantikannya kelak. Itu pula yang menjadi salah satu penyebab, ia memilih mundur dari posisinya sebagai sultan, untuk lebih banyak berkhalwat dengan Allah, dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada Muhammad Al Fatih di usianya yang masih 11 tahun.

Diangkatnya sultan yang masih sangat belia ini membuat Paus Eugene IV membujuk Ladislas menghianati perjanjian damai selama 12 tahun yang telah disepakati bersama Sultan Murad II. Keadaan menjadi kacau dan membuat Muhammad Al Fatih menuliskan surat yang sangat terkenal itu, seperti yang dikutip Ust Felix Siauw dalam bukunya Muhammad Al-Fatih 1453.

“Siapakah yang menjadi sultan saat ini, saya atau ayahanda? Bila ayahanda yang menjadi sultan, datanglah kemari dan pimpin pasukanmu. Tapi bila ayahanda menganggap saya sebagai sultan, dengan ini saya meminta ayahanda segera kemari dan memimpin pasukan saya.”

Demikianlah sejarah mencatat. Setelah Sultan Murad II berhasil mengalahkan musuh, ia kembali didaulat menjadi sultan Utsmani dan Muhammad Al Fatih kembali menjadi gubernur di Manisa. Ia baru kembali ke Edirne saat sang ayah, Sultan Murad II, mangkat. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki yang tersisa. Kepindahannya ke Edirne pada 18 Februari 1451 ini untuk memangku jabatan sultan kali kedua.

Kota indah ini awalnya berhasil dibebaskan oleh kakek buyutnya, Sultan Murad I pada tahun 1361. Kota yang sebelumnya bernama Adrianopel ini kemudian diganti namanya menjadi Edirne. Nama yang masih digunakan hingga saat ini. Sejak itu pula, Sultan Murad I menjadikan kota Edirne sebagai basis untuk menaklukkan Eropa dan menjadikan kota Bursa untuk mengatur pemerintahan di Asia dengan Selat Dardanela sebagai penghubung keduanya.  

Tak banyak peninggal masa Murad II maupun Muhammad Al Fatih di kota ini. Karena setelah membebaskan Konstantinopel, ia memindahkan ibukota kerajaan ke kota yang sekarang bernama Istanbul. Tujuan pertama kita adalah kompleks Sultan II Bayezid Kulliyesi Saglik Muzesi. Tempat ini dulunya adalah madrasah atau sekolah dan rumah sakit. Di tempat ini terlihat jelas bagaimana ilmu pengetahuan sudah sangat maju kala itu. Di saat Barat masih menganggap penderita gangguan jiwa adalah penyihir yang harus dibakar hidup-hidup, di sini sudah ada rumah sakit khusus untuk mereka. Selain menggunakan obat-obatan, Al Farabi juga melakukan penyembuhan menggunakan terapi musik, aromatherapi, bahkan diet makanan tertentu. Berabad kemudian, teknik ini masih digunakan.

Masjid di dalam kompleks ini tidak terlalu besar, namun berarsitektur cantik khas Utsmani. "Ini belum waktunya shalat, kan?" Tanya Nalan melihat saya dan Lambang bersiap untuk shalat. "Ya, saya akan shalat Tahiyatul Masjid. Saya ingin shalat sebanyak mungkin di masjid-masjid yang saya jumpai." Ruangan di dalam masjid terasa hangat dibanding suhu di luar yang minus satu derajat.

Tiba waktu Dzuhur, saya dan Lambang sudah berada di masjid berikutnya, yakni Ezki Mosque. Masjid ini kental dengan nuansa "mistik-nya", karena Islam di Turki mengenal banyak tarekat dan "menyukai" hal-hal seperti itu. Syahdan diceritakan Nalan, kalau Nabi Khidir masih sering shalat di sini. "Coba kamu lihat baik-baik orang yang shalat di sebelah kamu ya," pesan saya pada Lambang.

Usai shalat Dzuhur, kita menikmati makan siang di salah satu restoran yang menyajikan hidangan khas Edirne yang sangat terkenal: Hati sapi goreng atau tava ciger dalam bahsa Turki. Sebelumnya Nalan memastikan apakah kita mau makan hati sapi, sebab kalau tidak, kita bisa memilih menu yang lebih “aman”, yakni olahan daging sapi. Ah, andai dia tahu, orang Solo memakan semua bagian dari tubuh sapi. Jangankan hati, otak dan mata pun kita makan!

Tava ciger ini berupa potongan hati sapi yang diiris tipis memanjang, dibumbui tepung sebelum digoreng kering. Hidangan ini aslinya disajikan dengan roti, namun karena tahu kita dari Indonesia, Nalan sengaja memesankannya dengan nasi. Rasanya…hhmmm, lumer di lidah.

Di musim dingin seperti sekarang, hari sudah gelap sekitar pukul 16.00. Sehingga adzan Dzuhur pukul 12.30, masuk waktu Ashar pukul 14.38, hanya berselang 2 jam saja. Alhamdulillah, Allah izinkan saya shalat Ashar di masjid yang diarsiteki oleh si jenius Mimar Sinan. Masjid Selimiye yang termahsyur itu. Secara konstruksi, arsitektur dan desain interiornya, bangunan ini sangat mencengangkan. Bahkan hal ini diakui oleh orang-orang Jepang modern yang sangat paham dengan konstruksi bangunan tahan gempa. Lokasi masjid ini dan wilayah Turki pada umumnya adalah daerah rawan gempa. Namun berabad lamanya masjid ini masih utuh sekalipun diguncang gempa berkali-kali.

Subhanallah. Nikmat ini tidak terkira. Sekalipun Allah belum izinkan saya shalat di Masjid Al-Azhar, Kairo, namun Allah ganti dengan yang lebih banyak masjid yang bisa saya shalati hari ini.


Alhamdulillah...


Edirne, 30 Desember 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar