Kamis, 05 November 2020

 #JourneytoBaitullah

SEPERTI KERINDUAN PANGERAN DIPONEGORO

PADA TANAH SUCI




Bila tidak ada halangan, InsyaAllah umrah perdana jamaah dari Indonesia akan dilaksanakan pukul 19.30 malam ini. Rerata jamaah yang berangkat pada 1 November adalah para pemilik atau petugas dari travel umrah.
Seperti diketahui, sekalipun telah memasuki kota Makkah sejak 3 hari lalu, namun jamaah tidak bisa langsung melaksanakan umrah.
Semua harus menjalani karantina selama 3 hari di hotel. Juga melakukan swab ulang untuk memastikan jamaah dalam keadaan sehat, negatif COVID.
Usai umrah, jamaah kembali harus menjalani karantina selama 2 hari di hotel. Tidak ada agenda ziarah sebagaimana umrah sebelum pandemi.
“Durasi waktu di Madinah juga lebih pendek, Mb. Hanya 2 hari,” jelas Pak
Rustam Sumarna Yahya
dari
Khalifah Tour
dalam diskusi dengannya siang ini.
Sepertinya tidak mudah memang melaksanakan umrah di tengah pandemi ini. Selain persyaratan usia yang terbatas dan biaya yang lebih mahal, juga protokol kesehatan ketat yang harus dijalankan.
Namun semua itu tak mengurangi kerinduan Muslimin di seluruh penjuru dunia untuk segera menginjakkan kaki lagi di Tanah Suci.
Apalagi hari ini beredar foto-foto Makkah yang tengah diguyur hujan deras. Rasanya rindu sampai ke ujung sendi.
Kalau sebelum pandemi, rasanya “kapan saja” kita bisa berangkat umrah, mungkin kini tidak lagi. Jarak Tanah Suci rasanya tak “sedekat” dulu lagi.
Mungkin, angan-angan seperti itu pula yang menggelayut dalam pikiran Mujahid tanah Jawa, Pangeran Diponegoro, seratus sembilan puluh tahun lalu.

Dalam perjalanan ke pengasingan, Pangeran Diponegoro selalu menanyakan tentang Tanah Suci

“Kapan kita akan berlabuh di Jeddah? Berapa lama perjalanan kapal ini menuju Jeddah?” Tanyanya berulang-ulang pada ajudan militer Van den Bosch yang bernama Knoerle dari atas kapal.
Dalam bukunya “Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855”, sejarawan Inggris Peter Carey menuliskan, Sang Pangeran secara khusus menyatakan diri ingin menunaikan haji ke Tanah Suci.
Bahkan tak sekadar pergi haji, ia ingin tinggal menetap di tanah suci hingga akhir hayatnya. Keinginan itu mulai dinyatakan Pangeran Diponegoro pada masa akhir perang Jawa, yakni di akhir tahun 1829.
Impian itu begitu membuncah seperti yang dicatat komandan tentara De Stuers. Pangeran Diponegoro saat berangkat menuju pengasingan mengenakan pakaian haji.
Ia sempat meminum air zam-zam yang diberikan kepadanya di Magelang oleh seorang haji yang baru kembali dari Tanah Suci.
Setelah pengkhianatan Belanda yang menjebaknya di Magelang, tak ada yang lebih diinginkan selain menghabiskan sisa usianya di rumah Allah.
Selama perjalanan menuju tanah pengasingan, di atas kapal dari Semarang ke Jakarta, Pangeran Diponegoro selalu menuntut hak atas kepastian di mana ia akan diasingkan.
“Orang tahu aku ingin mendapat kepastian mengenai hak-hak legalku, apakah akan dikirim ke Makkah atau ke tempat lain?"
Bahkan saat melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Manado, ia menegaskan pada Knoerle sesampainya di Manado ia akan meminta kapal kepada Gubernur Jendral untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Selama di atas kapal, acap kali Pangeran mengungkapkan keinginannya pergi ke Makkah pada nahkoda kapal dengan meminta ditunjukkan letak pulau-pulau yang dilalui sekaligus jalur kapal menuju Jeddah.
Bahkan, uang tunjangan hidup selama di pengasingan yang ditanggung pihak Kraton Yogya sebagian disisihkan guna keperluan itu. Hingga jumlah simpanannya mencapai f 1.762,50.
Belanda khawatir uang simpanan itu digunakan untuk mengobarkan kembali jihad fi sabilillah, maka tunjangan hidup yang diberikan dipotong.
Dari awalnya f 600 per bulan, menjadi f 300, dan terakhir hanya menjadi f 200 per bulan. Jumlah yang jauh dari cukup untuk membiayai keluarga besarnya di pengasingan.
Di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sang Pangeran memandang pilu ke tengah lautan, sambil membayangkan Tanah Suci yang tak pernah berhasil dijangkaunya hingga menutup mata.
Semoga Allah mudahkan semua jamaah dari Indonesia hari ini untuk melaksanakan rukun wajib umrah dan mendapatkan kemabruran sekembali dari Tanah Suci.

Jakarta, 5/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar