Selasa, 03 November 2020

 MERANGKUL SAUDARA BEDA WARNA



“Kalau dibiarkan tumbuh alami saja, Eropa nanti akan menjadi negeri Muslim.” Ungkapan menarik itu disampaikan oleh Syeikh Yusuf Qaradhawi.
Bagaimana bisa?
Penelitian yang dilakukan tiga orang pakar sosiologi, yakni Profesor Sosiologi Dudley Poston dari Texas A&M University, Profesor Kenneth Johnson dari University of New Hampshire, dan Profesor Layton Field dari Mount St. Mary's University, bisa menjawab pertanyaan itu.
Mereka telah menyelesaikan studi komprehensif mengenai kependudukan di Eropa dan Amerika Serikat. Hasilnya, 58 persen dari 1391 negara di Eropa, memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka kelahiran.
Kelompok usia produktif di Eropa sudah “tidak berminat” punya anak, karena dianggap merepotkan. Dan kelak setelah lanjut usia, anak-anak itu akan mengirim orangtuanya ke panti jompo. Jadi punya atau tidak punya anak tidak ada bedanya dalam anggapan mereka.
Selain itu legalitas hubungan sejenis juga makin menurunkan angka natalitas di Eropa.
Sementara itu penelitian lain mengungkapkan, rata-rata perempuan Muslim di Eropa akan melahirkan 2,6 anak. Sedangkan perempuan Eropa rata-rata hanya melahirkan 1,6 anak. Sehingga secara kasat mata pertumbuhan Muslim di Eropa hampir dua kali lipat.
Muslim berada di tanah Eropa adalah sebuah konsekuensi dari gelombang kolonialisme yang dilancarkan Barat pada masa lalu.
Mereka mengirimkan pasukan ke negeri-negeri Muslim untuk merampok kekayaan alamnya, sehingga negeri itu menjadi miskin dan terjadilah gelombang migrasi. Seperti yang terjadi di Afrika Utara akibat penjajahan Prancis.
Menariknya, sekalipun gelombang imigran ini telah beranak pinak beberapa generasi di Eropa, namun masyarakat Eropa tetap menganggapnya sebagai “pekerja tamu”, sedang mereka adalah “tuan rumah”. Selamanya masyarakat Muslim dianggap “yang berbeda” di Eropa.
Walaupun tak sedikit yang telah berjasa bagi negaranya. Seperti prestasi yang ditorehkan pesepakbola Zinedine Zidane.
Bahkan tercatat ada 15 pemain di skuat Prancis pada Piala Dunia 2018 yang lahir dari rahim imigran. Tanpa mereka, bisa jadi Prancis tak akan pernah merasakan kebanggaan menggenggam piala kemenangan.
Penelitian berjudul "Sebuah Ancaman Bagi Barat? Membandingkan Nilai Manusia Imigran Muslim, Kristen, dan Non-Religius Pribumi di Eropa Barat" yang dilakukan Christian S Czymara dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Goethe dan Marcus Eisentraut dari Institut Leibniz untuk Ilmu Sosial, membuktikan hal tersebut.
Bibit rasisme, merasa paling superior, lebih unggul dari ras bangsa lain adalah bagian dari kehidupan masyarakat Eropa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Sesuatu yang berhasil dilebur oleh Islam sejak empat belas abad lalu.
Rasulullah SAW menyontohkan bagaimana mempersaudarakan para pendatang, imigran kalau dalam bahasa sekarang, dari Mekkah dengan penduduk asli Madinah.
Tak sekadar menerima dengan tangan terbuka, bahkan mereka rela membagikan segala yang dimilikinya. Paling masyhur adalah kisah Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.
Teladan yang dicontohkan ini terus terbawa dalam diri Muslim. Para sahabat dan generasi sesudahnya bermigrasi, menyebar dan beranak-pinak ke seluruh penjuru bumi Allah yang luas. Yaman, Syam, anak benua India, bahkan hingga ke Nusantara.
Pada periode selanjutnya, tercatat nama-nama besar dalam sejarah Islam yang juga bermigrasi dari tempat kelahirannya dan diterima dengan tangan terbuka.
Salah satunya Abu Musa Al Khawarizmi, jenius penemu teori algoritma yang masih digunakan hingga hari ini. Ia lahir di Khawarizm, Uzbekistan sekarang, namun menetap dan memberikan sumbangsih yang tak ternilai harganya di pusat kosmopolitan dunia, Baghdad.
Begitupun penduduk Andalusia yang menyambut kedatangan saudara-saudaranya bangsa Barbar/Barber dari Afrika Utara, bangsa Arab dari Syam dan Hijaz, hingga bangsa Kaukasus dan Asia. Terbukti, warna-warni kulit itu membuat Andalusia menjadi negeri tempat segala hal hebat berawal.
Saat terjadi peristiwa reconquista atau pengusiran Muslim Andalusia oleh Ferdinand dan Isabel, penduduk Maroko, Tunisia, Aljazair membuka pintu rumah mereka lebar-lebar. Persis seperti kaum Anshar ketika menyambut sahabat Muhajirin. Semua dirangkul sebagai saudara, diberi tempat tinggal dan perlindungan.
Jadi, Emmanuel Macron dan para pemimpin Eropa tak perlu ketakutan. Kelak ketika secara alami jumlah Muslim di Eropa lebih banyak, mereka tak akan diperlakukan sewenang-wenang seperti yang mereka pertontonkan hari ini. Sejarah telah membuktikan.
N'ai pas peur, Macron! – tidak perlu ketakutan, Macron!

Jakarta, 3/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar