Kamis, 12 November 2020

 KUMANDANG ADZAN DI LANGIT EROPA



Setelah menunggu hampir dua abad lamanya, akhirnya kumandang adzan terdengar dari kota Athena, Yunani. Kota yang menjadi simbol peradaban Barat di masa lalu. Negeri di mana Socrates, Aristoteles, Pythagoras, Plato, dilahirkan.
Dengan dibukanya masjid di Athena pada Selasa (3/11) lalu, menandai berakhirnya status Athena sebagai satu-satunya kota besar di Yunani yang tidak memiliki masjid.
Tak mudah mewujudkan impian itu, karena adanya pertentangan yang kuat dari gereja Ortodoks serta kelompok nasionalis.
"Athena, akhirnya akan memiliki tempat ibadah bagi penduduk Muslimnya," kata Presiden Persatuan Muslim Yunani, Naim el Gadour, seperti dilansir English Alarabiya, Rabu (4/11). [Republika, 4/11]
Zaki Sidi Mohammed ditunjuk sebagai imam besar pertama masjid berkapasitas 350 jamaah itu. Namun dalam situasi pandemi, diatur hanya 10 orang secara bergantian yang bisa shalat berjamaah.
Tak kurang sekitar 650 ribu Musim tinggal di kota Athena. Selama ini mereka melaksanakan ibadah di tempat-tempat darurat, seperti menyewa basement, gudang dan apartemen.
Tak hanya Athena, kumandang adzan juga terdengar di langit kota Shusha, Nagorno-Karabakh, yang selama ini dipersengketakan hingga menyebabkan perang antara Azerbaijan dan Armenia.

Masjid Yukhari Govhar Agha

Hampir tiga dekade lamanya masjid itu mangkrak. Banyak beredar kabar masjid-masjid yang berada di daerah yang dikuasai Armenia dibiarkan terlantar dan digunakan sebagai kandang babi.
Dilansir dari laman Anadolu Agency pada Kamis (12/11), rekaman di media sosial menunjukkan seorang tentara Azerbaijan mengumandangkan adzan di Masjid Yukhari Govhar Agha.
"Setelah 28 tahun, adzan kembali terdengar di Shusha," kata Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev saat berpidato di depan rakyatnya.
Kabar baik juga terdengar dari Masjid Sahaba di jantung pinggiran kota kelas menengah Creteil di Paris. Bukan kumandang adzan, karena masjid ini masih terus aktif digunakan, melainkan lantunan kalimat syahadat.
Masjid ini merupakan simbol pertumbuhan Islam di Prancis. Tak kurang 150 orang bersyahadat di masjid ini setiap tahunnya.
Sekalipun terus ditekan dengan berbagai sentimen negatif dan Islamphobia, namun pertumbuhan Islam di Prancis sepanjang 30 tahun terakhir naik signifikan, hampir dua kali lipat angkanya.
Seperti yang dilaporkan harian La Croix. “Setidaknya ada 10 mualaf setiap hari,” jelas Kepala Biro Agama di Kementerian Dalam Negeri, Didier Leschi. Ini berarti, tak kurang sekitar 3.600 orang bersyahadat setiap tahunnya di seluruh Prancis.
Allahu akbar!
Kalaulah sekadar membayangkan mendengar kumandang adzan di langit Eropa membuat hati kita tergetar, bagaimana rasanya mendengar kumandang adzan pertama dari tempat-tempat yang disucikan di muka bumi ini.
Tersebutlah nama sahabat Bilal bin Rabbah yang mendapat kemuliaan itu. Ia adalah manusia pertama yang mengumandangkan adzan di Masjid Nabawi atas perintah langsung dari Rasulullah SAW.
Begitupun saat peristiwa agung Fathuh Makkah. Rasulullah SAW kembali memintanya mengumandangkan adzan dari atas Ka’bah.
Hingga Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, "Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi." Maksud Juwairiyah adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Masyhur riwayat sepeninggal Rasulullah SAW Bilal tak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Namun tercatat, saat khalifah Umar bin Khattab menerima kunci Baitul Maqdis dan hendak melaksanakan shalat pertama di masjid Al Aqsa, Bilal adalah muadzinnya.
Sungguh, Allah mengangkat derajat orang yang dikehendakiNya. Mantan budak berkulit hitam itu adalah orang yang mendapat kemuliaan mengumandangkan adzan pertama dari tiga masjid paling suci di muka bumi.
Hayya alash-shalah, Hayya 'alalfalaah. Marilah shalat, marilah menuju kemenangan.
Jakarta, 12/11/2020
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

1 komentar: